Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Bukan Kita, Tapi Dia


__ADS_3

Seketika kedua mata Axelo berkaca-kaca, seperti tengah membendung kesedihan yang tiada akhirnya.


Nafasnya berat sekali, bahkan dadanya juga seperti tengah ditekan oleh besi yang membuatnya terasa tak sanggup untuk bernafas dengan lega.


Tak hanya itu, mendadak debaran jantungnya bertambah cepat, bergemuruh, dan sesekali seolah terasa seperti tertusuk panah runcing sampai menembus ke dalam hatinya.


Terlalu terluka, teramat terluka, dan sangat terluka. Entah mengapa ada ketidakrelaan yang menguasai hati kecilnya tatkala Valesha mengatakan jika dirinya ingin pergi dari sisi Axelo.


Remuk, hancur hatinya seperti kaca yang dijatuhkan di atas permukaan batu.


Namun wajah wanita di depannya terlalu sulit untuk dia tebak. Seolah dia tak pernah merasa bersalah dengan apa yang baru saja dia katakan, atau mungkin, Valesha hanya terlalu pandai saja untuk menyembunyikan perasaan bersalah di dalam hatinya.


Diam-diam kedua tangannya mengepal dengan erat. Kesedihan dan kehancuran mendadak melanda hatinya. Bagaimana bisa wanita di depannya ini malah membuat hatinya semakin kacau setelah dia memberikan ribuan penjelasan semalam?


Atau mungkin ini memang takdirnya, harus berpisah dan tidak lagi bersama dalam ikatan pernikahan?


Axelo memalingkan muka. Wajah perkasa dan gagah berwibawa, dengan ketegasan dan sikap arogan yang dimiliki dia selama dua puluh delapan tahun terkahir pada akhirnya tenggelam dalam pahitnya luka yang digoreskan oleh istri tercintanya itu.


Ia hanya memejamkan kedua matanya sekilas, dan kemudian menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Baiklah, pergi saja ke tempat ayah kamu, dan jangan pedulikan aku, anggap saja kita berdua tak pernah terikat oleh pernikahan."


Jelger!


Seketika hati Valesha yang semula keras dan kokoh bagai batu karang mendadak seperti dihancurkan oleh palu besi yang tak memberi ampun sama sekali.


Kedua mata yang sebenarnya hanya sedang menyiratkan sebuah kebohongan pada akhirnya harus membola dan terkejut mendengar perkataan Axelo barusan.


Namun dia sama sekali tak bertanya. Lidahnya serasa kelu, hatinya mendadak mematung, bahkan untuk beberapa saat dia tak bisa berbicara atau sekedar bergumam di dalam hati kecilnya.

__ADS_1


Ia hanya bisa menatapi pria di depannya berjalan membelakangi dirinya dan kemudian bersandar di kursi, dan meneguk segelas kopi yang dia buat sebelumnya.


Luka di hatinya mendadak semakin terasa pilu, melihat punggung yang tegak sebelumnya kini berubah seperti rapuh dan hampir tumbang di hadapannya. Mengapa bisa semuanya jadi begini?


Trang!


Tak terasa alat masak di tangan kanannya jatuh menciptakan irama nan mengejutkan kedua telinganya, hingga membangunkan hati dan otaknya yang tengah dilanda kematian sesaat.


"A."


Axelo menoleh, hanya bagian kepalanya saja yang terlihat menoleh dan kemudian mendapati alat masak di tangan istrinya yang sudah terjatuh di atas lantai berwarna putih tulang.


"Hufff!!"


Dia kemudian terlihat memposisikan kepalanya kembali seperti semula, dalam posisi membelakangi Valesha.


Tes!


Secepat itu air mata Valesha menitih, melukis sebuah luka yang terlanjur terlihat tampil dan menampilkan dirinya di hadapan Axelo.


Tahu tidak, betapa terlukanya berada di posisi Valesha. Dia yang tak ingin suaminya terus menerus membuat ayahnya terluka, namun dia yang tak sanggup berpisah dari seorang pria yang telah dia cintai selama hampir setahun lebih tersebut. Bagaimana dia akan membuat kebimbangan di dalam hatinya berakhir?


"Baiklah!"


Wanita itu mengeraskan nada suaranya, sembari terlihat isak tangis mengiringi bicaranya yang sudah sesenggukan itu.


"Aku akan pergi! aku akan pergi dari hidup kamu! terima kasih atas penyiksaan yang kamu lakukan padaku, terima kasih juga untuk akhir yang mengecewakan ini!!"


Ditariklah celemek yang dia kenakan di tubuhnya, lalu dia buang begitu saja ke sembarang tempat.

__ADS_1


Dengan bergegas dia pun pergi dari rumah Axelo, meninggalkan Axelo di ruang makan sendirian, dengan hati yang kacau dan luka yang terlanjur tergores dengan dalam.


Air mata mengiringi langkah kakinya meninggalkan kediaman Axelo tersebut, hingga saat dia berpapasan dengan Ashkan, dia pun terhenti.


Bukan karena dia bimbang, tapi langkah kakinya benar-benar dicegat secara tidak langsung oleh Ashkan, hingga membuat dia tak bisa berkutik, tak bisa pergi dari sisi manapun.


"Awas! menyingkir dariku! aku mau pergi!!" ucap Valesha dengan kesal di hatinya.


Namun Ashkan tak beralih dari tempat dia berdiri. Bahkan hal itu dilihat secara langsung oleh Axelo dari arah meja makan. Kebetulan antara ruang tamu dan meja makan hanya disekat oleh satu kepungan sofa mewah yang dibeli khusus dari luar negeri.


Kejadian itu tak ayal membuat Axelo merasa bingung. Menatapi keadaan adik kandungnya yang bukannya memihak pada keputusannya, tapi malah membuat wanita itu tertahan di dalam rumahnya.


"Ashkan aku mohon! sudah muak aku di rumah ini! aku harus pergi pada ayahku!!" ucap Valesha sambil mengusap air mata yang luruh di pipi kanan dan kirinya.


"Pikirkan baik-baik, jika kau kembali ke ayahmu dalam keadaan dirimu yang sudah bercerai dari Axelo, apa yang akan terjadi padanya, ingat baik-baik, semua ini bukan hanya untuk kamu, tapi juga untuk ayah kamu, menurut aku bersama kami adalah satu-satunya cara supaya ayah kamu tetap aman!" ucap Ashkan sambil terus menghalangi jalan Valesha untuk pergi.


Tak lama berselang, datang Axelo dari arah dalam dan menghampiri kedua orang tersebut. Dia juga bingung dengan perkataan Ashkan barusan. Entahlah, untuk soal kecerdasan otak, dia memang agak di bawah kemampuan adik kandungnya tersebut.


"Minggir saja kamu! tak perlu banyak bicara! kita tidak bisa menahan seorang wanita di rumahku!!" ucap Axelo sambil meraih kerah kaus tipis yang dikenakan oleh adik kandungnya tersebut.


"Lepas!" ucap Ashkan sambil menangkis tangan Axelo dari kerah kausnya.


Seketika genggaman tangan Axelo pada kerah kaus adiknya pun lepas.


"Kau mungkin bisa memutuskan bagaimana kita akan melalui prosesnya, tapi kau harus tahu, tidak selamanya proses yang kau mau itu akan membuahkan hasil terbaik." Ucap Ashkan sekali ucap langsung membuat Axelo terdiam membisu.


Merasa dia menang dalam perang mulut dengan sang kakak, ia pun akhirnya kembali melanjutkan apa yang ingin dia katakan, "aku rasa targetnya bukan kita berdua, tapi Valesha, jika sebelumnya juga Tuan Wishnu, sekarang yang mereka mau hanyalah Valesha, jika bukan dia, mengapa ayahnya yang ada di rumah sakit aman tanpa mereka ganggu, sementara yang diculik oleh mereka malah Valesha, aku rasa mereka bukan datang untuk menjebak kita berdua, tapi mereka memang menginginkan Valesha, jika kau bisa membantu aku menemukan jawaban mengapa dia mengincar Valesha, mungkin kau bisa memberi aku julukan si bodoh!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2