
Sejenak Valesha terdiam, tidak berkata-kata apapun di depan suaminya, bahkan saat sang suami mendekatkan wajahnya hingga beradu dengan wajahnya. Rasanya sekujur tubuhnya menjadi kaku dan membeku seperti halnya berada di tengah-tengah lautan es, tidak bisa bergerak dan terjebak tidak sanggup untuk kemanapun.
Bukan tanpa alasan dia tak bergerak dari tempatnya, selain karena Axelo menahan dirinya untuk tidak beranjak dari sana, dia juga tak akan bisa lari dari pria ini. Semuanya hanya akan berakhir dengan percuma saja.
"Kenapa kamu diam? kenapa tidak dijawab?"
Pertanyaan Axelo tak juga membuat Valesha bergeming. Wanita itu bahkan memalingkan wajahnya dari tatapan Axelo, seolah benar-benar malas menghadapi pria yang satu ini.
"Jawab aku! jangan diam di depanku! aku tidak mau diacuhkan seperti ini." Ucap Axelo sembari meraih dagu Valesha, dan mencoba untuk menghadapkan Valesha ke arahnya.
Ya, entah mengapa sejak beberapa hari yang lalu dia memang merasa kehilangan sosok Valesha. Entah karena apa, yang pasti dia merasa ada sesuatu yang pergi darinya.
Dia mengingat lagi, kilas balik masa lalu yang indah sebelum hidup satu rumah bersama Valesha, sebelum dia mengikat hubungan mereka dengan lebih dalam lagi, agaknya hubungan dia dan Valesha tidaklah serumit saat ini, tapi sekarang, entah bagaimana seolah semuanya jauh, menjauh, dan akhirnya membuat dirinya merasa sesuatu, sesuatu yang lebih mirip seperti halnya, rindu.
"Valesha, aku tidak suka kau diam, aku juga tidak suka kau acuh padaku, apa kau tidak bisa menatap aku untuk sebentar saja?" tanya Axelo sambil terus mencoba membuat Valesha menatap ke arah dirinya.
Lelah terus dipaksa oleh Axelo, pada akhirnya wanita itu berakhir luluh. Dengan keterpaksaan yang muncul dan membuat dirinya kalah, ia pun tampak menatap ke arah Axelo, dengan kebencian yang tampak jelas pada sorot kedua matanya.
"Kenapa kalau aku diam? kamu tidak suka? kamu benci? terus apa kamu pernah berpikir kalau aku juga benci kamu perlakukan begini? kamu melampiaskan semua dendam kamu padaku, kamu tidak berpikir seberapa dalam aku pernah mencintai kamu, tapi kamu runtuhkan perasaan cintaku ini dengan semua fakta menyedihkan yang kamu jadi alasan untuk menikahi aku, perlukah aku menjelaskan tentang semua kekacauan dalam hati kecilku? perlukah aku menjelaskan lagi apa yang jadi alasan aku untuk diam? hah?"
Sekarang suasana mendadak sepi, hening bagai tak ada kehidupan. Tampak sangat jelas wajahnya hanya berada pada situasi kebingungan. Di luar diam, tapi di dalam hanya diisi dengan pikiran rumitnya tentang perkataan Valesha barusan.
Entahlah, dia sendiri merasa bingung. Padahal dia berniat untuk tidak lagi peduli pada semua hal tentang Valesha, termasuk juga kesedihan wanita itu.
Ia bahkan berpikir akan puas jika membuat Valesha bersedih, namun, dia tak pernah tahu, mengapa sekarang perasaan yang lain muncul begitu saja, seolah tak pernah bisa untuk tidak mengusik pemikiran Axelo.
__ADS_1
Pria itu tak lain hanya sedang dirundung kebingungan, bingung akan perasaannya sendiri, yang benci pada Valesha, dan ingin membalas semuanya tentang kematian ayah kandungnya, tapi dia juga punya perasaan yang tidak dia dapat jika tidak bersama Valesha, kerinduan dan kehangatan, dia tidak mendapat dua hal itu di tempat lain, selain pada Valesha.
"Kenapa sekarang kamu yang diam? kenapa kamu tidak lagi bicara? sudah tahu alasan kenapa aku begini? sudah tahu jawabannya? hah?" tanya Valesha dengan tatapan tajamnya. Agaknya dia tak mau terus menerus jadi budak yang ditahan oleh suaminya sendiri.
Wanita itu melepas tangan Axelo dari wajahnya, dan dari pinggulnya, lalu beralih meraih tas di atas sofa.
Langkah kedua kakinya terlihat mantap untuk menuju ke pintu keluar, meninggalkan suaminya di sana dengan kondisi masih termenung.
"Aku mau pulang, aku tidak mau terus bertingkah aneh di rumah sahabat karibku sendiri." gerutu Valesha sembari berjalan lebih dulu keluar dari rumah Geshka.
Sejenak Axelo terdiam, termenung, dan masih tidak berkata-kata selepas kepergian Valesha.
Ia tampak lelah memikirkan kekacauan di dalam otaknya.
Hingga akhirnya dia membuat sebuah keputusan. Dia pun lekas tersenyum dengan songar, manakala sudah mendapati keputusan yang bijak di dalam otaknya.
Blam!
Dia masuk ke dalam mobilnya, dan mendapati sang istri yang terduduk jauh darinya, seolah masih saja memberi jarak antara mereka berdua, seolah tak ingin berada dekat bersamanya. Jelas saja hal tersebut melukai hatinya, membuat perasaannya yang membingungkan bertambah lara dan juga bertambah gusar.
Aku tidak suka kamu begini, tapi kamu tetap saja melakukannya, apa selama ini perasaan kamu saat di depanku, juga seperti ini?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Prak!
__ADS_1
Dia melempar beberapa kertas di atas meja kerja kakak kandungnya, hingga membuat pria yang dua tahun lebih tua darinya itu tampak tertegun sejenak, sebelum akhirnya dia mendongak, dan mendapati wajah Ashkan yang sudah setengah marah.
Axelo tak bertanya-tanya, hanya sedikit mengangkat alis kanannya dengan wajah penuh tanda tanya besar.
"Kau harus mengatakan sejujurnya padaku, kenapa aku bisa mendapati racun ini di ruang kerja kamu." Ucap Ashkan sambil menyodorkan racun yang tinggal sedikit itu dari dalam sakunya.
Sebentar Axelo melihat racun yang dimaksud oleh Ashkan, sampai akhirnya dia beralih posisi, dari yang semula bertopang dagu, dan akhirnya sekarang mulai menurunkan tangannya dari dagunya.
"Aku sudah memeriksa semuanya, kandungan dalam racun ini sama persis seperti yang ada pada tubuh Tuan Wishnu Fotham, kau bisa menjelaskan hal ini?" tanya Ashkan lagi, tak cukup memberondong kakaknya dengan satu pertanyaan.
Kakaknya menarik nafas yang dalam, dan mulai membuka berkas miliknya. Dia bahkan mengacuhkan kertas-kertas hasil tes laboratorium dari Ashkan.
"Heng! aku pikir kau masih anak kemarin sore, tak kusangka kalau kau malah satu langkah jauh di depanku."
Pria itu tak menoleh ke arah adiknya sama sekali. Hanya terlihat matanya yang terus menatapi semua berkas miliknya sembari mencoreng tanda tangan di pojok bawah, pada beberapa kertas.
Prak!
Namun Axelo terhenti. Dia mendapati tangan adiknya yang menggebrak meja dan membuat satu keadaan mengerikan di sana.
"Kau sudah berjanji untuk tidak macam-macam dengan keluarga Wishnu, kau bilang kau hanya akan balas dendam dengan mengambil harta keluarganya saja! jika begini, kamu sudah keluar dari jalur kita, aku tidak akan pernah setuju dengan ini!!"
"Kenapa jika Axelo berbuat seperti itu? apa hubungannya dengan kamu?"
Mendadak suara seorang wanita terdengar dari arah depan, membuat kedua pria di sana tampak terdiam, bahkan tertegun seketika.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...