
Matanya menatap dengan tajam manakala mendapati sang ayah yang tengah dipukuli dengan beringas oleh Tuan Wishnu di dalam kamar itu.
Hidungnya mengeluarkan banyak darah berceceran, bahkan mulutnya juga sama.
Sang wanita di antara mereka hanya bisa terus berteriak minta tolong pada seseorang yang bisa membantunya melerai pertarungan itu.
Namun apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur. Semuanya nyatanya memang amat terlambat. Dengan bergegas Tuan Wishnu Fotham mengambil sesuatu dari dalam laci di sebelah kanan tempat dia berdiri.
"Tolong!!!" Sementara teriakan keras masih saja dikeluarkan oleh Nyonya besar di rumah itu, sampai mengundang banyak manusia untuk mendekat. Sayang sekali, mereka semua adalah bagian dari para pegawai yang tinggal dan bekerja di kediaman Fotham, mereka tentu saja akan menutup mulut rapat-rapat.
Tuan Wishnu Fotham nampak semakin marah, dia yang gelap dan buta nampak mendekat lagi ke arah Aeslen di atas lantai yang sudah terkapar tidak berdaya dengan kubangan darah yang membasahi lantai beserta kasur putih di sebelahnya.
Sang istri yang melihat senjata api di tangan kanan suaminya merasa semakin was-was. Dia yang semula hanya bisa berteriak meminta bantuan, pada akhirnya harus turun tangan langsung untuk mencegah perbuatan bodoh yang bisa saja akan dilakukan oleh Wishnu Fotham.
"Tidak, Wishnu! Tidak! Jangan lakukan itu, jangan lakukan hal itu, Wishnu!" Teriak sang istri sambil terus mencegat langkah kaki sang suami.
Namun amarah telah menguasai hati Wishnu. Dia lupa akan segalanya, dia lupa akan jabatan dan masa depan dirinya. Setan telah berhasil mengendalikan dirinya, sampai akhirnya dia lempar saja tubuh sang istri menubruk meja berisi lampu, hingga terjatuhlah lampu itu bersamaan dengan tubuh istrinya yang juga limbung.
Prak!
Bruk!
"Arkh!" Pekik wanita itu, dari kepalanya mengucurlah darah segar yang keluar akibat terkena benturan hebat dengan meja di sampingnya. Kini tubuhnya pun jatuh, kesadaran sudah setipis tisu, namun pada detik-detik sebelum dia pingsan, ia melihat iblis itu merasuki pikiran suaminya.
Suaminya yang tampak semakin beringas, dengan tatapan mata tajam dan dingin, nampak menyodorkan senjata api di tangan kanannya ke arah kepala Aeslen.
Dan hal itu pun masih sempat disaksikan oleh Axelo.
Hingga pada beberapa detik kemudian, suara tragedi menakutkan itu pun harus terdengar.
"Selamat tinggal pengecut!"
__ADS_1
Dor!
Dor!
Dor!
Tiga suara tembakan terlepas mengarah kepada kepala dan jantung Aeselan hingga pecah sudah pembuluh di dalam otak dan jantungnya, menyebabkan tragedi kematian yang tak bisa lagi dihindari.
Prak!
Robot mainan di dalam genggaman tangan Axelo terjatuh, membuat bunyi yang semakin terdengar menyakitkan. Axelo yang pada saat itu masih sangat kecil, jelas menjadi sangat trauma setelah melihat runtutan kejadian pada hari itu.
"Ayah!!!" Ia bahkan masih sempat berteriak memanggil ayahnya manakala semua orang sudah melihat keberadaannya, dan itu sungguh memberi celah bagi Tuan Fotham untuk segera membunuhnya pula, membuat dirinya menyusul pada sang ayah yang telah pergi lebih dulu.
"Bunuh dia! Jangan sampai dia berbicara apapun tentang kejadian ini!" Ucap Wishnu pada semua anggotanya dengan suara yang amat dalam, tapi sungguh, suara itu terdengar lebih menakutkan dari apapun, membuat Axelo yang menyadari dirinya dalam bahaya pun akhirnya segera berlari dan meninggalkan robot kesayangannya di rumah itu.
Tak tak tak tak tak!
Dengan tangisnya yang semakin menjadi-jadi, ketakutan yang dia rasakan dalam hatinya, rasa pedih karena harus kehilangan ayahnya di depan kedua matanya sendiri. Ia bahkan mengerti dan sejak saat itu, dendam itu tak pernah hilang dari dirinya.
Ia semakin berjalan dengan cepat, sementara di belakang jarak sekitar tiga belas meter lebih, rombongan kelompok yang dikerahkan oleh Tuan Wishnu Fotham nampak terus mengejarnya. Mereka bahkan tidak segan-segan untuk melepaskan peluru mereka, berharap dengan segera bisa melumpuhkan Axelo kecil.
"Mama..." Teriak kecil dari Axelo memanggil mamanya membuat keadaan semakin terasa menyayat.
Dan tangisan itu bahkan sampai membuat matanya sembab, dan tidak bisa melihat keadaan jalan di depan dengan baik.
Sementara ia terus berjalan maju ke depan, dengan langkah kaki yang sudah lemas dan tidak lagi bertenaga.
Sampai akhirnya, kakinya terperosok ke dalam jurang, membuat tubuhnya juga ikut terseret masuk ke dalamnya, membuat dirinya harus berguling-guling dan terjatuh di atas bebatuan terjal.
Bruk!
__ADS_1
Bruk!
Blam!
Bayangkan saja, tubuh anak usia delapan tahun dibenturkan pada bebatuan, dan kemudian jatuh di dalam air.
Byur!!
Pastilah dia hancur lebur. Memang benar, tubuhnya dipenuhi luka dengan darah yang keluar dari pelipisnya semakin banyak, sampai akhirnya, dia tak sadarkan diri. Untunglah Tuhan masih melindungi dirinya dari kematian.
Sementara di atas sana, para pria berjas hitam dan berwajah garang itu hanya bisa melongok ke bawah, melihat tubuh Axelo yang telah dihantam pada bebatuan dan kemudian jatuh ke sungai.
Mereka terdiam untuk sementara.
Sampai akhirnya, salah seorang dari mereka mulai berbicara.
"Dia pasti sudah mati, anak sekecil itu jatuh ke dalam sana, tubuhnya pasti sudah remuk dan hancur." Ucap pria yang memimpin mereka semua, "baiklah, kita pulang saja, laporkan pada tuan kalau anak itu sudah tewas ke dalam jurang."
Mereka semua pergi, meninggalkan Axelo yang rupanya masih bernafas di dalam sana, meski nafasnya sempat terpenggal-penggal.
Anak itu pun terombang-ambing di sungai sampai tubuhnya dan juga lukanya membeku, hal itu terjadi selama semalaman penuh.
Sungguh naas yang harus terjadi pada Axelo kecil yang malang. Tubuh sekecil itu dan masih selemah itu harus menjadi korban kejahatan yang dilakukan oleh Tuan Wishnu Fotham dan segala keegoisan nya.
Namun Tuhan telah memilihnya, menakdirkan dirinya untuk menjadi pria tangguh semenjak kecil. Ia yang telah terjatuh dan terluka dengan parah nyatanya masih akan mendapat beragam kejutan di masa depan.
Kejutan itu bahkan akan semakin membuat dirinya tegar dan kuat, hingga ia harus hidup dalam bayang-bayang dendam di dalam hatinya. Karena sesungguhnya, semenjak kejadian pada hari itu dendam itu telah tumbuh di hatinya.
Masa depan yang panjang masih menantinya, menunggunya untuk dijemput. Dan nyawanya yang ajaib telah memaksa dirinya untuk bertahan pada posisi menyulitkan, terbawa arus sungai, dan kemudian terdampar di sebuah bebatuan terjal.
Tubuhnya tersangkut di bebatuan tepi sungai, dan tengah menanti seseorang yang datang untuk menyelamatkan dirinya. Namun entah takdir akan menyetujuinya atau tidak, yang pasti, dia hampir menuju kematian pada saat itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...