Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Menegangkan


__ADS_3




Angjn terus berhembus dengan kencangnya. Mendadak air hujan berjatuhan menimpa kap mobil yang ditumpangi oleh Axelo dan Ashkan.


Kedua pria itu masih terlihat sibuk mengejar penculik itu, dan masih juga belum menemukan celah untuk menyerang penculik di depan sana.


Sementara kawanan mobil terlihat berjalan dari arah yang berlawanan, berada sekitar dua puluh lima meter di depan sana.


Meski jalanan lumayan sangat sulit untuk dilalui, tapi kawanan mobil hitam dengan senjata lengkap tersebut nampak terus melaju di jalanan tersebut tanpa peduli hambatan yang seringkali menghalau mereka.


Sepertinya jalan sempit tersebut mengarah pada sebuah tempat yang sudah dikenal dengan sangat baik oleh mereka. Entah siapa para penculik ini, namun, sepertinya Neil dan Sheilin punya hubungan dibalik semua yang terjadi.


"Aku tidak bisa melihat apapun di depan, kabut semakin tebal, sudah hujan juga, aku yakin sebentar lagi akan ada badai di sini." Ucap Ashkan seolah mengatakan pada saudara kandungnya kalau dia tengah merasa lelah.


"Jangan terlalu banyak merecoh, kamu sangat cerewet, aku jadi tidak bisa membidik dengan benar." Sahut Axelo sambil terus mengarahkan senjata apinya ke depan.


Dia bahkan hanya mendapat kesempatan beberapa kali untuk menembak saja. Bagaimana semua ini akan berakhir dengan kemenangan, kalau membidik saja dia benar-benar dalam kesulitan.


"Tembak saja kepalanya! katamu sudah berusaha berlatih selama enam bulan terakhir."


"Bukan enam bulan, tiga tahun lamanya." Sahut Axelo pada adiknya.


"Pertunjukkan tadi sangat memalukan untuk seseorang yang berlatih selama tiga tahun."


"Ck, diam saja lah kau! aku harus fokus!"


Axelo bahkan merasa hatinya tersakiti oleh ucapan adiknya barusan. Apa Ashkan sama sekali tidak mengerti bagaimana menghargai orang lain? Semisal menghargai bagaimana perjuangan keras seorang Axelo dalam berlatihnya selama ini?


Mengapa semua terasa mustahil?


Di dalam mobil di depan sana, tampak Valesha yang dengan diam terus memperhatikan gerak-gerik penculik di depan, sembari terus mencari bahan-bahan yang bisa dia jadikan alat untuk menyerang.


Meskipun di belakang sudah ada Axelo yang berusaha untuk menyelamatkan dirinya, tapi tentu saja dia juga harus melakukan sesuatu untuk menaklukan pria di depannya.


Dia melihat ke sekeliling, sembari terus mendengar ocehan dari pria di depan sana. Dia akhirnya menggenggam serpihan kaca belakang mobil yang berukuran lumayan besar.


Ia menggenggam dengan erat serpihan kaca itu pada tangan kirinya, hingga membuat sekujur tubuhnya bahkan merasa gemetar.


Namun saya itu tatapan matanya seolah berubah menjadi sebuah keberanian yang tidak pernah terlihat darinya.


Aku tidak boleh kalah! aku harus menaklukkan dirimu!


Hiyaaaa!!!


Bles!!

__ADS_1


"Arkh!"


Tangan yang Valesha angkat dengan tinggi-tinggi mencoba untuk menyerang pria tersebut.


Hasilnya sungguh tidak pernah mengecewakan. Serpihan kaca itu menembus jaket hitam yang digunakan oleh pria di depannya itu, bahkan sampai menyentuh kulitnya, merobek bagian punggungnya sampai mengeluarkan darah segar dari sana.


"Rasakan kamu!!"


"Arkh! dasar wanita sialan!!"


Dalam keadaan yang sangat gawat itu, si sopir pun tampak tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya. Dia tak bisa melajukan mobilnya dengan baik.


"Aish, anak pintar, ternyata bisa diandalkan juga."


Gumam Axelo melihat musuh di depan sana tampak kalah telak oleh istrinya sendiri.


Dia pun segera melepas tembakan dengan serangan yang tepat mengenai sandaran jok yang diduduki oleh pria tersebut.


Dor!


Dor!!


Dor!!


"Arkh! dasar sialan! brengsek!" umpat penculik di depan Valesha yang masih terus berusaha untuk mencabut kaca dari bagian punggungnya.


Sayang sekali dia harus terlalu lama membuang waktu hanya untuk membuang serpihan kaca yang menancap di punggungnya tersebut.


Pria itu menyadari kalau Valesha tengah bersembunyi. Dia pun lekas mengambil ponsel dari tempatnya sebelumnya, dan kemudian lekas menghubungi seseorang dengan suara lirihnya..


Bip!


"Hello, aku terluka sangat parah sekarang, kalian sudah ada di mana? aku bisa mati dalam kondisi seperti ini." Gumam pria penculik itu pada seseorang yang kemungkinan besar adalah orang yang bekerja sama dengan dirinya.


Valesha membungkam mulutnya dengan sangat rapat. Entah kenapa dia melakukan hal tersebut. Padahal biasanya seseorang hanya akan merunduk saat bersembunyi.


Tapi apa gunanya jika yang melakukannya adalah Valesha? yang sudah jelas diketahui oleh si penculik.


Kecuali, dia melakukan suatu hal.


Ya, dia bahkan tengah sibuk melakukan sesuatu di bawah sana.



'Tenang saja, aku sudah akan berhasil, setelah ini, aku pastikan kau akan mati!!'


Gumam hati Valesha sembari melakukan sesuatu di bawah sana.


Dan akhirnya beberapa saat kemudian, dia kembali bangkit, setelah mendapati pria penculik itu rupanya masih sibuk saja dengan panggilan di seberang dan juga jalanan di depan.

__ADS_1


Dan sekarang adalah saat yang tepat.


Dengan cepat dia mengangkat kedua tangannya dan bersiap untuk memukul pria di depan sana.


"Rasakan ini!"


Hiyaaa!!!


Bukk!


Dan apa yang terjadi setelah itu? ternyata Valesha gagal. Dia mengira pria di depan sana tidak sadar dengan apa yang tengah dia perbuat di belakang sana.


Tapi ternyata dia salah. Pria ini jauh lebih cerdik dari yang dia kira. Pukulan dari besi yang tersemat pada kelima jarinya pada nyatanya harus berakhir mengecewakan, karena tangan pria itu telah berhasil menangkap tangan Valesha sebelum serangan Valesha mendarat di wajahnya.


"Heng! mau melawan aku?" pria itu bahkan terus menggenggam erat tangan Valesha.


"Lepaskan aku!!" berontak Valesha.


Pria itu menatapi lima pisau kecil di bagian jemari tangan Valesha. Entah darimana senjata semacam itu berasal. Bahkan pria itu sendiri tak begitu mempercayai kalau Valesha bisa sangat menyeramkan.


"Ouh, kau membawa senjata darimana ini? apa kau mewarisi keberanian dari suami kamu itu? dia memaksa untuk melakukan semua ini hanya untuk menyelamatkan dirimu ini? Heng, aku pikir dia terlalu romantis untuk orang seukuran Axelo."


"Lepaskan aku dasar pria gila!"


Valesha terus memberontak mencoba melepas genggaman tangan pria di depannya itu. Bahkan jalanan yang semakin buruk pun tak menyurutkan niat pria itu untuk menambah laju kendaraannya.


"Sayang, sayangku... dia bahkan hanya seorang pria yang menikahi kamu karena dendam, entah bagaimana kelak Tuan Wishnu, jika semua orang membongkar semua kejahatan suami kamu itu." Ucap pria itu pada Valesha, membuat Valesha terdiam membisu.


"Tidak perlu peduli pada hidupku, aku sama sekali tidak senang, sekarang cepat lepaskan aku!"


"Turuti apa mau dia, lagipula jika dia mati pun tak ada pula yang peduli."


Ucapan seseorang melalui alat di sebelah kupingnya membuat dia lekas berhenti bicara.


"Buka saja kaca jendelanya, dia berani lompat atau bahkan tidak!"


"Tapi nyonya, apa anda yakin?"


"Tapi apa? kenapa aku tidak yakin? jika dia mati, semuanya akan jadi lebih mudah! ikuti saja apa yang aku bicarakan!!"


.


.


.


.


__ADS_1



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2