Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Pagi


__ADS_3

Malam yang kelam, menghembuskan hawa dingin yang amat menusuk, meniup pori-pori kulit hingga terasa sekujur tubuh menjadi begitu dingin, membuat rasa mencekam itu selalu ada, sekarang memang tidak pernah berhenti menghantui hati kecilnya sendiri.


Dia yang pada mulanya hanya merasa dingin, kini rasa dingin itu mulai menghujam semakin dalam tubuhnya, membuat darahnya seakan membeku, membuat aliran nafasnya seolah terhenti dengan amat mudahnya.


Namun dia tidak bergeming, hanya sedikit saja dia meringkukkan badannya, menggigil, dan kemudian mulai tersadar.


Sebuah pelukan mendadak mengikat tubuhnya, melingkar pada pinggulnya, dan kemudian mendekap tubuhnya dengan lebih erat.


Darahnya perlahan-lahan mulai berdesir panas, gemuruh jantungnya pun terasa mulai kembali normal, sesak nafas yang semula dia rasakan di dalam dadanya ternyata juga mulai sedikit membaik. Agak membaik.


Hanya lima belas menit saja dia tidak menyadari kalau tubuhnya mungkin saja dipeluk oleh seseorang yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya, sampai waktu dimana mendadak dia benar-benar terkejut, hanya bisa terlambat membelalakkan kedua matanya, saat pelukan pria itu sudah menelisik jauh ke dalam tubuhnya, dan mendarat langsung pada dua tonjolan kenyal nan berisi di dadanya.


Sling!


"Um?"


Ia langsung menajamkan pandangan matanya, lampu kamar yang semula nyala rupanya sudah padam, dan sekarang dia hanya mengandalkan cahaya rembulan yang menyelinap masuk melalui jendela kamar yang luas.


Ia langsung berbalik, merasa terancam dengan pelukan yang entah dari siapa dia dapatkan.


Namun saat dia berbalik, ia malah mendapati wajah Axelo yang tengah kedinginan, dengan sekujur tubuh yang tidak berselimut apapun.


Ia bahkan tidak membagi selimut untuk suaminya itu.


*Ya ampun, apa dia tidur di sini sepanjang malam? kenapa aku bisa tidak menyadari kedatangan dia*?


Dia kemudian meraba kakinya yang rasanya sudah tidak terlalu pedih lagi. Rupanya di sana masih ada salep yang agak basah, mungkin ini salep yang baru saja dipakaikan kepadanya.


Ia meneguk ludah, berpikir mana mungkin Ashkan yang diam-diam masuk ke kamarnya dan mengoleskan salep ini lagi di kakinya.


Ia kemudian menoleh ke arah nakas. Salep yang sama terlihat tergeletak di sana. Dan itu artinya, pasti Axelo yang sudah mengenakan salep ini di kakinya.


*Apa mungkin dia yang mengoleskan salep ini di kakiku*?


Dia memang bertanya-tanya, tak heran memang kalau dia tidak percaya suaminya melakukan hal seperti ini untuk dirinya, mengingat selama ini Axelo tidak pernah memberi dia perhatian, apalagi setelah keduanya menikah.


Jika sebelum menikah Valesha hanya mengira kalau pria itu terlalu dingin dan mungkin memang pria seperti itu, tapi setelah menikah, dia pun pada akhirnya menyadari kalau sikap dingin Axelo bukanlah tanpa alasan.


*Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku pikir dia tengah kedinginan, dia bahkan hanya menyelimuti aku, kenapa dia melakukan hal itu*?


Sejenak dia berpikir, apa dia harus kembali membelakangi Axelo yang tengah kedinginan, atau dia harus membiarkan Axelo memeluknya, karena bagaimanapun juga, Axelo saat ini tengah merasa kedinginan.


Ia sempat ragu. Apalagi saat dia melihat tampang Axelo yang baginya sangatlah memuakkan. Ia tidak mau luluh hanya karena melihat suaminya menggigil seperti itu.


Tapi dia juga bukan manusia yang kejam seperti Axelo, dia juga tidak akan pernah tega membiarkan Axelo kedinginan dan kemudian akhirnya sakit.


Dia pun akhirnya mengalah, mulai berbalik sepenuhnya berhadapan dengan Axelo, dan kemudian mulai mencoba untuk berbagi selimut dengan pria itu.


Bukan tanpa alasan, dia hanya khawatir saja kalau-kalau nanti Axelo yang sakit, mana mungkin Sheilin yang akan datang merawat pria ini. Pasti dia lah yang harus bertanggung jawab.


Ia pun akhirnya memeluk Axelo dengan pelukannya yang hangat, yang pada beberapa saat kemudian akhirnya dibalas pula oleh pelukan Axelo.


Keduanya kembali terlelap meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.


Agaknya keadaan itu akan bertahan sampai keesokan harinya.



\*\*\*\*\*\*\*\*



Tik. Tik. Tik.


Bunyi keyboard di kamar Ashkan.


Pria itu rupanya tidak tidur semalaman. Entah apa yang dia lakukan dengan komputer yang sudah dia tatap selama hampir separuhnya malam itu.


Dia bahkan kuat untuk menahan kantuk hanya dengan berteman satu cangkir kopi hitam di samping komputer miliknya.

__ADS_1


Tidak membuang semua waktunya dengan sia-sia, rupanya dia tengah mencoba untuk menyelidiki sesuatu yang selama ini mengganjal di hati kecilnya.


Ia tidak tahu apa ini akan membantu kakaknya atau tidak, yang pasti, dia benar-benar tidak mau antara Valesha dan Axelo hanya ada dendam sebagai jalan hidup keduanya.


Ia tengah sibuk mencari dokter spesialis yang semula dia sudah mendapat alamat email nya.


Ia mencoba menghubungi dokter tersebut dan mengirim sebuah gambar yang disinyalir adalah sebuah virus langka.


'*Aku ingin tahu jenis virus apa ini, selama ini aku hanya mengerti ini sebuah virus, tidak tahu apa yang akan dialami oleh yang terjangkit virus ini*.'


Ia menunggu sedemikian lamanya, mencoba untuk setia meski dia tahu dokter yang dia hubungi ini juga bukan orang yang tidak sibuk.


Tapi dia benar-benar harus mendapat semua jawabannya. Dia juga harus tahu apa virus ini sebenarnya kakaknya yang memberikannya, atau ternyata ada orang lain di balik semua ini.


Tring!


Saat dia tengah serius dengan penantiannya, mendadak sebuah pesan email masuk ke dalam komputernya, membuat dia lekas menggunakan jari-jari lihainya untuk melihat isi pesan tersebut.


'*Ini jenis virus yang langka, apa kau bisa membawakannya padaku? aku rasa ini terbilang virus yang sangat berbahaya*.'


Jawab dokter dari seberang pada Ashkan. Lantas membuat Ashkan terhenti sejenak dan mencoba untuk berpikir.


Ia tahu tidak akan mungkin kalau virus ini tidak berbahaya. Jika benar virus ini yang disinyalir telah ditanamkan ke dalam tubuh Tuan Wishnu Fotham, maka pelakunya pasti benar-benar menginginkan Tuan Wishnu Fotham untuk mati.


Dia pun akhirnya berbuat nekad. Sama seperti biasanya, saat dia tidak bisa bertahan di dalam kurungan kakaknya, dia pun akhirnya lepas tanpa kendali.


Segera saja dia ketik lagi beberapa huruf di keyboard komputer miliknya, sampai menjadi seutas kalimat yang kemudian terlihat dia kirimkan pada dokter di seberang sana.


'Baiklah, temui aku di cafe xxx.'


Sent!


Setelah dia selesai dengan percakapan rumitnya dengan sang dokter, dia pun kemudian lekas menyandarkan tubuhnya di kursi, sembari kembali berpikir kiranya bagaimana jika virus itu memang kakak kandungnya sendiri yang sengaja memberikannya.


Satu tahun yang lalu, dia memang menemukan virus itu di ruang kamar sang kakak, itu kejadian sebelum Axelo dan Valesha berhubungan.


Tapi dia benar-benar tidak bisa menemukan informasi tentang virus itu meski dia sudah menyelidikinya selama satu tahun lamanya.


Ia sempat mencurigai kakaknya sendiri, dia memang mencurigai Axelo telah menanamkan virus tersebut pada Tuan Wishnu Fotham.


Tapi jawaban itu sampai sekarang dia bahkan belum mendapatkannya sama sekali. Entah bagaimana bisa semuanya seolah tersembunyi dengan begitu baiknya, tidak menimbulkan celah dan semuanya sungguh tidak mudah untuk dia tebak.


Dia mengambil kopinya lagi, dan kemudian menyeruputnya. Lama dia melamun, pada akhirnya dia mulai merasa ngantuk, entah bagaimana bisa dia kemudian tertidur di atas komputer miliknya, untunglah komputer miliknya telah dimatikan.


Dan sekarang pria itu sudah terlihat tidak sadarkan diri.


\*\*\*\*\*\*



Pagi hari kemudian.


Pukul 09.07.


Di kamar Valesha ( bukan kamar Axelo ).


Dia mulai membuka kedua matanya secara perlahan-lahan, meski terasa tidak mau terbuka sama sekali. Sinar matahari sudah menembus jendela kamarnya yang lumayan luas, hingga terasa menusuk ke punggung Axelo, memberikan sensasi hangat yang tidak kalah hangatnya.


Namun pria itu tidak juga terbangun, masih asik memeluk tubuh mungil milik istrinya. Istrinya mendongak, menatapi dirinya yang tak kunjung bangun padahal ini sudah sangat siang, tapi suaminya agaknya tidak akan semudah itu untuk dia bangunkan.


Ia pun hanya bisa mencoba lepas dari pelukan Axelo secara perlahan-lahan, mencoba untuk pergi dari sana tanpa membangunkan Axelo dari tidurnya.


Namun sayang sekali, ketika dia hampir berhasil lepas dari pelukan tangan Axelo, mendadak pria itu sadar akan niatnya untuk pergi.


Pria itu terlihat mengeratkan kembali pelukannya ke tubuh Valesha, bahkan tanpa berpikir panjang segera mengunci tubuh mungil Valesha itu dengan kedua tangannya.


"Um?"


Valesha hanya merasa tertegun, bagaimana tidak, dia saja bahkan terasa sesak nafas semalam akibat tidur berhadapan dan berpelukan dengan Axelo, dan pagi ini, pria itu akan kembali mengulang penyiksaan yang sama?

__ADS_1


Tidak bisa, malam ini aku sudah bebas, pagi ini pun aku tidak mau lagi dipercaya oleh dirinya.


Benak Valesha berkata-kata, tidak bisa membiarkan tubuhnya hampir dikuasai lagi oleh pria ini.


Dia pun kembali mencoba untuk memberontak, mencoba untuk segera lepas dari jeratan pelukan Axelo, namun lagi dan lagi, dia pun harus kembali merasakan kegagalan yang sangat mengecewakan.


"Um?"


Dasar tidak sopan, suami sendiri mau peluk tapi dia malah mau kabur! akan aku beri kau pelajaran!


Sang suami rupanya terlah terbangun, meski dia belum sempat membuka kedua matanya, namun jujur saja, dia sudah tersadar secara sempurna. Dia bahkan sadar betul kalau Valesha hendak mencoba kabur darinya.


Awas saja kau Valesha, sekalinya kau menolak, maka ribuan kali Axelo akan menjatuhkan hukuman untukmu.


"Axelo, aku mau bangun, tubuhku penat sekali, aku harus mandi." Ucap Valesha dengan lirih tepat di depan wajah suaminya, sayang sekali saat dia berhadapan dengan sang suami, dia memang harus mendongakkan kepalanya, mengingat tubuhnya yang sangat mungil, mungkin tingginya hanya sekitaran 154 cm.


Ukuran yang terbilang pendek. Humm!


Namun Axelo tidak menggubris perkataan dari mulutnya, hanya terlihat pria itu yang meneguk ludahnya, ya, itu terlihat dengan jelas, karena jakun yang ada di leher Axelo terlihat bergerak naik dan turun.


Huhh!


Mengapa pria ini begitu menawan saat pagi hari.


"Axelo.."


Dia berusaha sekuat tenaga dia untuk bisa lepas dari pelukan Axelo, apapun caranya, bagaimanapun itu, dia harus bisa melepaskan diri dari jeratan pelukan tangan Axelo.


Tapi apa boleh buat, bukan hal yang amat mudah untuk melepaskan diri dari pria itu. Selain pelukan tangannya yang lumayan hangat, dia juga punya kekuatan yang agaknya kalau dibandingkan dengan Valesha, tentulah wanita itu bukan tandingannya.


Meski dia sudah bisa lepas, sudah bisa menyingkirkan tangan Axelo dari pinggulnya, namun saat dia hendak bangun secara perlahan, tangan Axelo malah kembali meraihnya, dan kemudian malah menahan dirinya lebih menakutkan lagi.


Sejenak Valesha kembali tertegun. Dia tidak tahu bagaimana dia akan mencoba lepas selanjutnya, agaknya dia benar-benar akan bernasib sial untuk pagi ini.


"Um? Axelo?"


Pria itu kemudian mendekatkan wajahnya di balik ceruk leher Valesha, menghembuskan nafasnya dengan sangat nakal di area sensitif tersebut, dan kemudian menjilat leher sang istri dengan sangat nakal.


"Axelo, uhm.. jangan begini, biar-biarkan aku, pergi.." ucap Valesha tak bisa menampik, dia memang sambil melenguh nikmat.


Apalagi saat tangan Axelo kedua-duanya mulai menyingkap area baju yang semalaman Valesha kenakan, lalu mulai memelintir dua ujung berwarna pink nan mungil dan juga cantik di dada Valesha, entah mengapa sesuatu miliknya terasa mulai berkedut manja.


"Uhm, Axelo.."


Ia terlihat menggigit bibir bawahnya sampai terlihat mengeluarkan darah. Rupanya dia bukan tidak bisa tergoda, hanya saja, dia sedang berusaha untuk menahan sentuhan Axelo yang nakal itu.


Namun sekarang agaknya tidak bisa menolak lagi. Tangan kekar milik Axelo terlihat menyingkap seutuhnya baju miliknya, bahkan rok mini yang dia kenakan juga kini telah tersingkap dengan sempurna, menampilkan perutnya yang rata dan juga sangat menawan.


Apalagi sesuatu yang terlihat seperti mahkota di bawah sana, huhh! sesuatu itu terlihat mulai basah karena kenakalan Axelo pagi itu.


Axelo beranjak dari baringnya, mulai mengungkungi wanita yang semalaman dia temani di atas ranjang, dan kemudian mulai menggoda lagi pada area ceruk leher Valesha.


"Axelo, aku mohon, ugh, hentikan.."


"Mimpi saja kamu!"


Balas Axelo dengan singkat, namun balasan itu sejujurnya memang lebih menakutkan dari hal apapun di dunia ini.


Keduanya pun mulai berlarut ke dalam situasi yang lebih panas, tidak perlu dijelaskan, karena setelah itu, keduanya jelas akan mengalami pagi yang indah, dengan warna seperti pelangi, namun jika biasanya pelangi datang setelah hujan, maka bagi Vinara, hanya mendung yang akan datang setelah adanya pelangi.


Begitulah dia menggambarkan kehidupan rumit dan menyusahkan ya bersama dengan Axelo.


Dia yang ketakutan, dia yang tidak bisa melawan, dia yang memilih untuk bertahan meski dia benar-benar ingin keluar dari rumah ini.


Dan semua memang dia lakukan bukan karena dia bodoh dan lemah, tapi karena dia, memilih untuk membuat ayahnya di seberang sana aman dan tidak berada dalam keadaan terancam.


Menaklukkan musuh ayahnya dengan menggunakan tubuhnya, rasanya tentu saja sangat sakit. Tapi apa artinya rasa sakit itu jika dia bisa membayar apa yang mungkin dulu pernah ayah lakukan di masa lalu pada keluarga Axelo.


Jika ini terbilang impas, lalu apa yang bisa aku perbuat?

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2