Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Maukah Kamu?


__ADS_3

"Aku hanya minta sedikit bantuan setelah aku menyerahkan apa yang dia butuhkan dariku, tapi dia benar-benar sebegitu bodohnya sampai tidak sanggup mengatur penculikan ini, aku rasa aku memang sudah berkomplot dengan orang-orang bodoh!"


Tangan kanannya meraih satu gelas bir di atas meja kaca.


Dan kemudian lekas meminumnya.


Gluk!


Suara tegukan setengah gelas bir tersebut bahkan jelas terdengar dengan sangat mengerikan, seolah menggambarkan suasana hatinya yang tengah marah, tak tahu harus berbuat apa untuk mengalihkan semua pemikiran di dalam otaknya.


Dia memang sedang cemas. Ia bahkan tak menduga kalau identitasnya mungkin saja akan terbongkar oleh anaknya sendiri.


Meski dia memang menunggu sedikit waktu untuk mengatakan semuanya pada kedua putranya. Tapi jelas saja dia masih belum sanggup untuk memulainya sekarang.


Dia bahkan masih membutuhkan banyak bantuan dari kedua tangan anaknya, jika dia mengatakan semuanya sekarang, apa yang bisa dia perbuat kelak apabila kedua anaknya rupanya beralih haluan.


Hanya saja, sejauh ini dia hanya punya satu rintangan saja. Rintangan yang pertama adalah waktu, dan yang kedua adalah Valesha.


Ia telah menunggu semua ini sejak puluhan tahun silam. Namun keajaiban masih belum menyapa kepada dirinya, seolah cahaya keajaiban itu sengaja disembunyikan oleh alam agar dia tidak dengan mudahnya menggapai apa yang dia inginkan.


Tak!


Dia meletakkan lagi gelas yang hanya tinggal berisi setengah gelas bir saja.


Wajahnya tampak lesu, dengan bibir yang datar dan tak pernah terlihat senyuman terlukis di sana.


Ia memang agak lain, dia bahkan tak akan pernah gagal untuk menyembunyikan ekspresi kekecewaannya sebelum ini. Tapi sekarang, dia bahkan lebih baik mati saja daripada harus mendengar ia telah kehilangan banyak anak buah yang dia kerahkan untuk membantu Neil.


Memang betul katanya. Dia salah mengajak kerja sama. Seharusnya sejak awal dia tidak memilih Neil sebagai rekan yang akan membangun dia melawan Wishnu Fotham. Tapi apa boleh buat, rupanya dia memang tidak berpikir sampai sejauh itu.


"Dia mungkin saja sudah tahu siapa aku, dan bagaimana aku bisa terlibat dalam penculikan ini, untuk sekarang aku sedang benar-benar tidak punya pemikiran."

__ADS_1


Ia pun terlihat mengelus jidatnya dengan kasar. Bahkan keriput di sana pun tampak samar menghilang, berganti dengan sesuatu yang membuat dirinya merasa lebih penat.


"Sepertinya aku juga harus menyiapkan rencanaku sendiri."


...----------------...


Di dalam selimut yang tebal, dengan hawa panas nan membara, bahkan sampai membakar sekujur tubuhnya. Dia tak pernah membuka kedua matanya. Tangannya terus mencengkeram sprei yang kemudian akhirnya harus terlepas dari tempatnya akibat lawannya yang terlalu beringas.


Ia meneguk ludah sesekali. Lehernya sudah basah dan sudah menampilkan bercak-bercak merah pertanda keganasan lawannya tersebut.


Namun dia sama sekali tidak pernah kalah, juga sama sekali tidak pernah mati di tengah jalan. Selama si lawan terus bergerak, dia bahkan jauh lebih beringas.


Dia kembali melenguh.


"Ugh..."


Keringat dengan deras membasahi sekujur tubuhnya yang polos, dengan dua dada yang menyembul manis, berhias dua ujung imut nan mempesona.


Semuanya terasa mengalir begitu saja, seperti deburan ombak yang menyerang karang di tengah lautan, hanya bisa pasrah dan mengikuti kemana kiranya arah Neil membawanya pergi.


"Kau, luar biasa.."


Ugh...


Hingga di ujung permainan tersebut, melenguh saja kedua orang tersebut bersamaan, bersama dengan kepuasan yang menjadi ujung dari cerita kenikmatan semalam di rumah Neil.


Keduanya lekas berbaring, saling menghadap ke atas dengan sekujur tubuh yang masih tidak berbalut apapun.


Sebentar mereka mengatur nafas mereka, sampai benar-benar tenang, kemudian terdengar suara Sheilin yang memulai perbincangan serius.


"Kalau Victor, menurut kamu aku harus bagaimana?" tanya Sheilin bahkan dengan wajah yang kembali masam seperti bukan ekspresi seseorang yang sehabis bercinta.

__ADS_1


Neil tak menjawabnya. Baginya ini bukanlah waktu yang tepat bagi dirinya untuk membicarakan soal Victor, ataupun soal Valesha dan Axelo.


Sekarang saja dia bahkan masih belum merasa baik pada sekujur tubuhnya. Setelah permainan yang cukup menguras tenaga dan hawa nafsu tersebut, rupanya dia benar-benar tidak lagi merasa sanggup meskipun hanya untuk sekedar berbicara.


"Neil," namun si penjilat itu terus saja menggodanya, seolah tak pernah puas jika pertanyaan yang dia ajukan masih belum mendapat jawaban yang jelas.


Ia pun lekas meraba dada bidang Neil dengan sentuhan mengerikan, memelintir sesuatu yang sangat kecil dan juga sangat lembut di sana.


Tak lupa juga dia membubuhi rayuan dan godaan maut di buaya betina yang jelas saja tak akan pernah mau sampai kalah telak oleh pria di sampingnya tersebut.


Namun ekspresi mengecewakan malah dia dapati dari sosok Neil. Pria itu malah masih sibuk saja memejamkan kedua matanya, seolah lebih asik bercengkerama dengan khayalannya sendiri.


"Neil, kau paham maksud aku bukan? aku hanya tidak suka orang-orang menyakiti aku, dan aku sama sekali tidak ada seorang pun yang bisa membela aku kecuali kamu." Bujuk Sheilin pada Neil, hingga membuat wajah Neil seperti berubah 'Lebih baik pasrah saja dulu!'


"Bagaimana dengan Victor? apa kau juga akan melakukan yang sama seperti yang kau lakukan pada Axelo, dan berniat untuk menculik seorang yang begitu berharga dalam hidup Victor?" tanya Sheilin masih juga tak mau sabar menghadapi pria yang satu ini.


Namun kali ini terlihat Neil yang mulai bangun dari tidurnya, dan kemudian terduduk saja dia dengan tegak.


Sheilin pun tak mau kalah. Dia juga beranjak bangkit dari baringnya dan lekas menyusul Neil terduduk di atas ranjang.


"Maaf kalau aku sudah merepotkan kamu, tapi aku hanya ingin harga diriku kembali, aku juga tidak mau terus menerus membohongi publik dengan perkataan aku istrinya Victor! bagaimana menurut kamu? apa ini tidak terdengar terlalu mengalihkan?" tanya Sheilin pada Neil, teman tidur yang baru saja bangun dari sisinya.


"Kau bilang ini menyakitkan?" wajah cemas.,


Dan dengan polosnya, Sheilin hanya terlihat menyunggingkan senyuman di bibirnya, lalu lekas berkata, "aku tahu ini terkesan berlebihan, tapi aku juga tahu kau paham akan apa yang tengah aku rasakan saat ini, aku hancur, namaku juga seketika berubah menjadi butiran-butiran debu yang bahkan menjadi debu yang kotor dan penuh cibiran publik, apa kau akan merasa tega melihat aku diperlakukan semacam ini oleh orang banyak? dan itu adalah karena Victor?" tanya Sheilin berusaha untuk meyakinkan Neil akan apa yang dia inginkan.


Namun Neil tak lekas menjawab. Sejenak dia terdiam membisu seperti patung, dan kemudian berkata lagi, "asal kau mau jadi istriku, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan."


Bersambung...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2