
"Dimana kalian berdua?" tanya Valesha setelah ponselnya tersambung dengan ponsel milik Geshka.
"*Vin, kami sudah pergi duluan, kami sudah sampai di rumah, anakmu sedang asik makan es krim yang kami beli saat pulang dari pantai tadi*," jawab Geshka tanpa cemas sedikitpun. Agaknya Geshka tahu tidak baik membuat kecemasan di depan Vivia untuk saat ini.
"Oh, baguslah, untung saja kamu segera pergi."
"*Ibu, ada apa? apa ada masalah*?" tanya Vivia kecil melalui sambungan telepon.
"Ah, tidak sayang, tidak apa-apa, ibu hanya khawatir karena tidak berhasil mencari kalian berdua di pantai, awas saja kalian kalau sampai ibu pulang! ibu akan mengobrak-abrik semua mainan Vivia nanti, karena sudah meninggalkan ibu sendirian di pantai!!"
"*Lakukan saja apa mau ibu, Vivia tidak peduli, lagipula ibu hanya akan mengemas kembali semua mainan Vivia setelah membuatnya berantakan, hi..hi.. hi*.."
"Ah, anak ini terlalu menggemaskan! baiklah, tunggu ibu pulang, ibu akan makan es krim bersama kalian."
Bip!
*Aku harus memastikan Vivia aman bersamaku, jangan sampai pria iblis itu tahu keberadaan Vivia, entah mengapa dia tahu kalau beberapa tahun yang lalu aku sempat melahirkan. Rupanya menyembunyikan keberadaan Vivia darinya tidaklah mudah*.
Benak Valesha sembari berjalan menuju ke arah jalan raya, dan kemudian menghentikan taksi.
Blam!
"Apartemen X."
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
Valesha pun meluncur menuju ke apartemen yang sempat dia sebutkan barusan pada pak sopir yang terduduk di kursi depan.
Sepanjang perjalanan yang terjadi pada Valesha hanya terus menerus memikirkan bagaimana caranya untuk menyembunyikan Vivia dari Axelo. Mengingat pria itu sejak dia kenal dahulu hanya mementingkan kepentingan dan kemauannya sendiri, tanpa memperdulikan orang lain.
Rasa-rasanya jika mengingat hal demikian dan ketakutan yang dia rasakan selama bertahun-tahun terakhir, Valesha jadi merasa menyesal pernah menjalin kasih dengan Axelo.
Ah!
Entahlah, semua yang terjadi memang terlalu rumit. Entah bagaimana dia harus melalui semua ini. Entah kapan bencana dalam hidupnya ini akan segera selesai. Ia sendiri meragukan semua kemampuan yang dia miliki untuk menghadapi takdir kejam bersama Axelo.
Citttt!
"Saya sudah tahu dimana Nyonya tinggal, apa saya juga harus masuk untuk memastikan?"
"*Tidak perlu, terus awasi dia, jangan biarkan dia lepas dari pengawasan*."
Dari kejauhan tampak seorang gadis kecil dengan rok mini kotak-kotak berwarna merah berlari mengejar Valesha dengan riang gembira.
"Ibu....."
"*Ah? ibu*?"
__ADS_1
Seseorang di dalam taksi yang merasa terkejut.
Tak cuma-cuma, si gadis kecil dengan gaya rambut dikepang dua itu pun tampak mendapat pelukan hangat dari Valesha, beserta kecupan manis yang membanjiri pipi kanan dan kirinya.
"Anak ibu sudah wangi, apa Bibi Geshka yang memandikan kamu lagi?"
"Siapa lagi kalau bukan aku? kalau tidak ada aku, aku yakin kau sudah sangat kurus sebab memandikan anak ini!" jawab Geshka dengan congkak.
"Tuan, ada berita lagi.."
"*Katakan*!"
"Soal anak yang dimaksud...."
"*Kau sudah melihatnya*?"
"Dia memang anak Nyonya, dan kemungkinan besar, aku yakin, 95% bahwa dia memang anakmu."
Sejenak sambungan menjadi senyap.
Seseorang di seberang benar-benar dibuat tertegun, "*apa kau yakin? apa benar itu adalah anakku*?"
"Ya, aku berani menjaminnya!"
__ADS_1
...****************...