
Satu tahun...
Dua tahun....
Tahun-tahun telah berlalu seolah begitu cepatnya. Hingga tak terasa, kini telah mencapai lima tahun sudah semenjak kejadian di hari itu terjadi.
Axelo masih berada dalam kesedihannya. Meski semuanya sudah agak lebih membaik dari sebelumnya, namun tak dapat dipungkiri kalau nama Valesha masih saja terukir dengan indah di dalam hati kecilnya.
Meski dia begitu sedih dan seolah lebih baik kiranya jika ia mati saja daripada menjalani hidup tanpa sosok Valesha, namun nyatanya dia masih bertahan hingga saat ini. Ia memang suka menyibukkan dirinya di dalam perusahaan, mengeluarkan banyak waktu dan juga tenaga untuk proyek-proyeknya.
Ia merasa lebih baik ketika menyibukkan dirinya seharian di depan laptop dan tumpukkan kertas. Ya! setidaknya ia dapat melupakan sejenak permasalahan lamanya bersama Valesha.
Namun Axelo tetaplah manusia biasa. Meski dia terlahir sebagai pria yang keras dan juga arogan, ia juga punya sisi gelap tersendiri. Mudah terpuruk dan tak dapat keluar dari bayang-bayang masa lalunya.
Tak jarang dia melampiaskan kesedihannya pada beberapa botol bir yang dia minum sampai puas, terkadang juga dia menghabiskan satu malam penuh hanya untuk minum di tempat malam bersama kawan-kawannya.
Tak!
__ADS_1
"Dua lagi!"
Ucap Axelo sambil menunjukkan dua jarinya pada sang pelayan. Semua orang di sampingnya hanya bisa menggelengkan kepala dengan kagum.
"Lihatlah pangeran kita! dia adalah raja minum yang luar biasa!" ucap salah seorang dari kawannya.
"Hey! jangan salah, semua ini juga wanita penyebabnya! dia kalau sedang waras, tidak akan pernah ingat apa itu minum sampai pagi!"
Ha.. ha... ha.....
Gelak tawa riuh terdengar di meja yang diduduki oleh beberapa pria, dan salah satunya adalah Axelo.
Sementara terlihat dari pintu masuk, seorang pria tampak berjalan dengan linglung, mencoba mencari keberadaan kakak kandungnya.
Sudah sehari dan sekarang apa mau semalam juga Axelo tidak pulang ke rumah?
Matanya memutar kesana dan kemari, mencari keberadaan sang kakak. Hingga akhirnya pandangan matanya terhenti seketika, manakala dia dapati seorang pria yang tengah mabuk berat di sebuah meja, dengan puluhan botol juga disana.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, segera saja Ashkan berjalan mendekat, memelototi kakaknya yang mabuk, dan kemudian berdiri dengan kesal.
"Dasar anak kecil! umur sudah lebih dari kepala tiga, tapi kelakuan benar-benar tidak ada dewasanya!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Ashkan, Axelo bahkan bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Tak heran kalau Axelo masih tetap mendongak ke arah Ashkan, meski kedua matanya sudah tak sanggup lagi membuka.
"Biarkan aku mabuk sampai pagi! aku hanya sedang menghibur diri sendiri!"
"Ck! mau sampai kapan kamu di sini? aku sudah muak mengurus dirimu yang kacau ini! pulang atau aku akan mematahkan persendianmu!" ucap Ashkan, agaknya dia memberi ancaman yang tidak main-main.
Mendengar ucapan dari adiknya, Axelo malah asik senyum-senyum sendiri, bahkan senyuman seringainya itu perlahan-lahan mulai berubah menjadi gelak tawa menakutkan.
Ya! tak ubahnya seperti orang gila memang!
"Mau kau mematahkan persendianku, atau lebih dari itu, mau membunuhku sekalipun, aku sudah tidak lagi merasa peduli! hidupku sudah berakhir sejak dia pergi meninggalkan aku!"
Dasar lemah!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...