
Tak tak tak tak tak
Suara derap langkah kaki terdengar di telinga Axelo yang kini sudah berada di dalam kamar istrinya. Jika sebelumnya dia tampak menunggu dengan tidak adanya kepastian, maka kali ini, dia mendapat kepastian dengan datangnya sang istri yang sudah terlihat di ambang pintu.
Ia tersenyum kecil, tidak bisa menampik kalau hatinya ternyata benar-benar senang saat melihat istrinya masuk ke dalam kamar dengan penampilannya yang sangat terlalu sederhana namun begitu indah dipandang mata.
Wajahnya yang lelah, dengan kedua mata yang dalam disertai bibir yang tidak pernah bisa tersenyum. Entahlah, ada rasa senang juga saat melihat wajah seperti itu terpampang dengan jelas pada Valesha.
Raut mukanya yang sedih dan juga cemas, risau yang bergelut dengan penolakan, ingin melawan tapi tidak bisa dia tampilkan di depan, entah mengapa semua itu amatlah terasa menyiksa.
Axelo menatap wajah wanita itu meski baru di luar, pintu kamar yang tidak terkunci, dengan menampilkan pemandangan di luar kamarnya, dengan seperti itu memang membuat Axelo lebih leluasa untuk melihat kedatangan istrinya.
"Kau lupa menutup pintunya."
Ia bahkan baru beberapa detik yang lalu berada di sisi jendela menatap ke arah luar yang sudah semakin malam, tapi lihatlah, pada detik berikutnya, dia telah tiba di depan Valesha, dan mendekap tubuh kecil mungil itu dengan dekapan yang menghangatkan.
Hap!
"Um? kenapa kau tiba-tiba ada di sini? sebelumnya aku melihat kamu di sana, kau.."
Pertanyaan Valesha mewakili banyak pihak, yang kebingungan mengapa dengan gesitnya Axelo mendekat dan terlihat cepat memeluk tubuh penat Valesha.
"Tentu saja, aku sudah berada di sini, dan itu karena aku tidak suka menunggu terlalu lama, sekarang sudah waktunya bermalam bersama istriku, tapi kau tidak kunjung datang, suami mana yang tidak peduli akan waktu menunggunya." Jawab Axelo sembari mengelus rambut Valesha.
"Lepaskan aku, Axelo! kau tidak bisa menyentuh aku sedikitpun, jangan paksa aku kali ini." Ucap Valesha terlihat malas menanggapi suaminya yang tengah dibuat mabuk dengan sesuatu yang menggairahkan.
"Kenapa aku harus melepaskan dirimu? bukankah kau sendiri juga mau?" mengambil dagu istrinya, dan mengarahkan pandangan mata Valesha ke arah wajahnya.
*Ck! muak sekali aku melihatnya*.
Namun agaknya ini bukan sesuatu yang nyaman bagi Valesha. Lihat saja, wanita itu bahkan tidak bisa memaksakan dirinya untuk menatap suaminya dari jarak yang begitu dekat.
Jika dulu sekali dia sangat suka menatapi wajah manis dan tampan milik Axelo, maka berbeda setelah dia tahu apa alasan Axelo menikahi dirinya, dan itu sungguh membuat Valesha seketika berubah menjadi benci.
Iya kah?
Ya, benci yang bercampur dan berbaur bersama cinta yang tulus, yang sebelumnya tidak pernah Valesha berikan untuk siapapun itu. Kebencian itu kini telah membuat Valesha berada dalam posisi yang sangat tidak nyaman, apalagi perasaan cintanya yang makin hari justru makin tumbuh dan menghancurkan dirinya sendiri. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa dia bisa memberikan Axelo sekujur tubuhnya meski masih dalam keadaan benci.
"Sayang, kenapa aku harus melepaskan dirimu? bukankah kau sudah resmi menjadi istriku?" belaian Axelo pada wajah Valesha memang bisa membius siapapun yang melihatnya.
Agaknya di balik sisi dingin Axelo, pria itu juga memiliki sikap pandai menggoda lawan jenisnya, meski baru dua wanita yang dia kencani sejauh ini.
"Jangan panggil aku sayang, Axelo! sejak kamu memutuskan untuk menikahi aku karena dendam lama keluarga kamu, semua ucapan dari mulut kamu itu telah aku anggap sebagai kepalsuan, dan kau tahu apa itu artinya palsu? semua itu tidak pernah nyata!" balas Valesha yang merasa geram terhadap sikap suaminya yang selalu hangat di depan, tapi kehangatan itu hanya sekedar untuk menutupi semua kebusukannya di belakang.
Kejam sekali, bahkan saat Valesha tahu apa niat Axelo sejak awal, sampai detik ini pun dia tak pernah bisa berlari menjauh dari Axelo. Sungguh takdir yang sangat tidak menguntungkan bagi Valesha.
Axelo menjadi diam saat sang istri membicarakan soal dendamnya itu. Tidak bisa dipungkiri, Axelo pun tahu betapa tersiksanya seorang Valesha dalam menghadapi dunia sekejam ini bersama dirinya, musuh keluarga sendiri.
Tapi bukankah semakin menjerat Valesha dalam penyiksaan adalah hal yang memang sejak awal dia inginkan?
Sekarang senyum menyeringai dari bibir Axelo. Valesha yang menginginkan kedua tangan Axelo untuk lepas dari tubuh mungilnya, kini perlahan dan perlahan mulai mengalah, sesaat setelah menyadari bahwa Axelo tidak ingin melepasnya dari jeratan yang menyesakkan.
Pria itu tersenyum dingin, menatap dalam kedua mata Valesha dan kemudian, kecupan mesra nan menggelora dia timpakan di bibir istri kecilnya.
Cup!
"Umm.. Ax.. ugh...."
Penolakan pada mulanya, namun berakhir penuh kenikmatan pada akhirnya..
Dan sekarang Valesha pun tidak lagi menolak, justru semakin hanyut dalam permainan bibir yang sengaja disuguhkan oleh Axelo untuknya. Meski dia tahu, rasa benci ini sangat kuat, namun dia tidak bisa memungkiri, kalau perasaan cintanya masih begitu tulus dia berikan pada Axelo. Rumit sekali.
Ciuman panas itu semakin terasa menggelora, ditambah lagi sikap nakal uang dibuat oleh kedua tangan Axelo, menyingkap rok mini yang dikenakan oleh Valesha, dan kemudian menemukan dua gundukkan padat di sana.
Sempat Valesha menahan tangan Axelo untuk berbuat lebih jauh lagi, hanya saja, kekuatan Axelo memang jauh lebih besar darinya, dan itu membuat dia tidak bisa melakukan apapun selain menurut.
Ia terhanyut dalam sentuhan Axelo. Bahkan sekarang bajunya sudah tidak karuan, tersingkap ke atas dan urak-urakan tidak jelas.
Pemandangan ini sungguh panas. Dilihat dari segi manapun, sebenarnya pasangan ini sangatlah cocok. Hanya saja, di awal pernikahan, memang keduanya menjadi saling membenci satu sama lain, entahlah, mengapa dunia begitu kejam terhadap mereka berdua?
__ADS_1
Dan sekarang dua insan itu sudah berada di atas ranjang lama milik Valesha, dengan keadaan yang sudah polos tidak mengenakan apapun. Hanya selembar kain selimut yang menutupi keduanya, bahkan mereka terlihat sangat panas dengan aura yang sengaja diciptakan oleh Axelo untuk menambah nikmat jamuan makan malam darinya itu.
Ia kemudian menelusuri setiap jengkal tubuh istrinya, dengan mulut dan juga tangan nakalnya itu. Ia menelisik pasa liuk-liuk tubuh istrinya, tidak akan terlewat satu inci pun darinya itu, hingga akhirnya sekarang Valesha benar-benar tidak kuat lagi menahan godaan dari Axelo.
Dia terdiam saja, sambil mengeluh merasakan sentuhan Axelo pada sekujur tubuhnya. Pada saat benda pusaka itu menjebloskan diri ke dalam sebuah lubang yang sangat mengasikan, dia pun hanya bisa memejamkan matanya sembari menahan kenikmatan yang memang tidak ada duanya.
Kenikmatan yang sangat hangat, dialiri desiran darah penuh nafsu yang hakiki. Tidak bisa dia tolak, permainan Axelo ini memang sangat membuat dirinya tenggelam, tenggelam dalam kebencian, tenggelam dalam rasa sakit, dan juga tenggelam dalam suasana yang membuat dirinya semakin jatuh cinta.
*Salahkah jika aku melayani dirimu dengan kebencian ini, Axelo*?
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pada pagi harinya, semua orang terlihat sudah berkumpul di sofa ruang tengah, dimana posisi Axelo pada saat itu juga sedang menyeruput kopi buatan istrinya sendiri, yang rasanya memang tidak bisa mengalahkan manisnya percintaan semalam.
Ia terlihat sangat segar, dengan wajah yang berbinar selepas percintaan semalam yang sangat memabukkan. Dan sekarang dia bahkan hanya bisa tersenyum-senyum kecil membayangkan permainan asik tadi malam.
Di hadapannya, nampak Tuan Wishnu Fotham dengan selembar koran sebagai temannya di pagi hari. Pria itu memang hanya berteman dengan koran sejak kepergian Valesha meninggalkan dirinya untuk Axelo. Sebenarnya dia berada dalam situasi yang kesepian.
Di dalam keheningan yang teramat nyata itu, muncullah sosok Valesha mendatangi mereka berdua, membawakan satu toples biskuit untuk teman keheningan antara Axelo dan Wishnu Fotham.
Dia tampak anggun setelah berganti pakaian menjadi lebih tertutup dari pada tadi malam. Rambutnya digerai dengan indah, sampai terlihat panjangnya yang mencapai pinggulnya.
"Pagi semuanya, aku bawakan biskuit untuk kalian." Ucap Valesha, dia pun terlihat menyunggingkan sebuah senyuman.
Agaknya pagi Valesha dan Axelo di rumah Wishnu Fotham ini sedikit lebih baik dari kemarin. Mungkin percintaan semalam memang membuat mereka jauh lebih hangat dan menyenangkan.
"Terima kasih, pagi juga untukmu, kesayanganku!" sambut Wishnu Fotham pada putrinya yang kini terlihat berjalan menuju ke arah sofa yang diduduki oleh sang suami.
Terduduk di samping suaminya, dengan jarak lebih dari dua ratus meter..
*Huhh! apa kau ini menganggap aku sebagai virus yang harus kamu jauhi? mendekatlah*!
Padahal semalam wanita itu sungguh sangat manis melayani dirinya, mengapa sekarang kembali berubah dingin?
"Aku tidak suka kau duduk di sana, itu terlalu jauh." Ucap Axelo dengan dingin, ya, sejujurnya ia memang sangat dingin.
"Huhh! apa peduliku.." jawab Valesha dengan acuhnya.
*Apa mereka tidak melihat adanya aku di sini? puas sekali sampai lupa adanya orang tua*.
Nyamuk yang terlupakan.
"Mendekatlah.." menarik paksa.
"Lepaskan aku!!" menolak sekuat tenaga.
"Tidak akan!" menarik dengan sangat kejam.
Bukk!
Dan akhirnya jatuh juga ke dalam pelukan Axelo..
"He.. he... he.. lihatlah, aku menang lagi darimu.." iblis keturunan Aeslen.
Menyerah pasrah.
Si nyamuk terlihat melipat korannya, meletakkannya di atas meja, dan kemudian mulai berbicara pada sepasang suami istri di depannya itu.
"Oh iya, ayah punya kabar baik untuk kalian," ucap Wishnu.
Kedua pasang mata di depannya hanya bisa tertegun menanti penjelasan selanjutnya tentang kabar baik yang semula dikatakan oleh Wishnu.
*Kabar baik*?
"Sejak kalian menikah, ayah memang belum memberi kalian kado apapun, sayang sekali padahal ayah adalah orang yang sangat penting," mulai berbicara dengan ngawur, "jadi kali ini ayah akan memberikan kado istimewa untuk kalian."
__ADS_1
Yang duduk bersebelahan masih terdiam mematung.
Prok! Prok!
Tuan Wishnu Fotham menepuk kedua tangannya dua kali, dan seketika datanglah asisten pribadinya dari arah belakang.
Pria itu kemudian memberikan sesuatu pada Tuan Wishnu, dan seketika kedua pasang mata milik Valesha dan Axelo terarah kepadanya.
"Ini adalah tiket menuju ke luar negeri, negara K, kalian bisa berbulan madu ke sana, biar cepat memberikan aku cucu.." ucapan berbinar tanpa rasa dosa.
Seketika mood Valesha menurun jadi 0% sementara mood Axelo langsung menempati posisi 100% dan keduanya tampak menunjukkan ekspresi yang 360° berbeda.
*Ini si artinya ayah memberiku neraka, kenapa harus tiket bulan madu*?
Menangis dalam hati..
Merasa tertekan..
Tidak bisa berbuat apapun..
*He.. he.. he.... jatuhlah kau dalam pelukanku lagi*..
Iblis berwajah manusia..
Rencana jenius untuk istrinya..
Sikap dingin yang sangat pendusta..
"Ayah, kenapa kau memberi kami tiket bulan madu? pernikahan kami bahkan sudah berlalu satu bulan yang lalu, bagaimana jika ayah memberikannya pada orang lain saja.." ucap Valesha berusaha untuk menolak.
"Ayah menginginkan cucu darimu, mengapa malah memberikannya pada orang lain, sungguh anak yang tidak tahu terima kasih," wajah sedih dan kecewa yang sengaja dibuat-buat.
"Ahahaha.." rasa ingin bunuh diri saja, "tidak ayah, bukan begitu, maksud Valesha.."
"Dia sangat senang dengan tiket bulan madu yang ayah mertua berikan," sambil merangkul Valesha, "kami akan membuatkan cucu yang banyak untuk ayah mertua, tenang saja, kekuatanku untuk membuat kesebelasan masih bisa diandalkan." Berbangga diri.
"Wah, menantuku memang sangat kuat," memuji Axelo sampai ke puncak langit ketujuh, "baiklah, buatkan ayah mertuamu ini kesebelasan, dan buatkan yang sama kuatnya juga seperti dirimu," sambung Tuan Wishnu Fotham tanpa menyadari betapa hati Valesha teramat sulit untuk menanggapinya.
*Hahaha.. apa yang bisa aku lakukan selanjutnya? menyerah pasrah? agaknya memang itulah yang harus aku lakukan*.
Benak Valesha berbicara, menyerah dengan semua keadaan yang menimpanya. Sulit sekali.
*He.. he.. he.. bersiaplah untuk aku habisi*.
Benak iblis yang sangat kejam.
"Baiklah, sebelum kalian beranjak pergi dari sini, ayah juga sudah menyiapkan kapal pesiar untuk kalian menikmati alam yang indah di kota ini, ayah tahu dulu kalian memang pernah tinggal di sini, tapi sekarang kalian harus menikmatinya, karena ini adalah pemberian dariku, nikmatilah liburannya, ayah akan menunggu kabar baik dari kalian berdua." Ucap Wishnu pada kedua orang di sana.
*Ya, menikmati neraka yang diciptakan oleh ayahku sendiri, apa boleh buat*?
Singkat cerita, sekarang sepasang suami istri itu terlihat tengah berbahagia di atas kapal pesiar yang disewa khusus oleh Tuan Wishnu Fotham tadi pagi.
Dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang, yang artinya, kedua manusia itu tengah berada di bawah teriknya matahari di tengah laut.
Valesha berdiri menatap hamparan air laut yang sangat luas dan juga biru di depan matanya, menghirup udara segar yang sangat menusuk hidungnya, dan mulailah mendapati ketenangan di dalam jiwanya.
*Jika aku seperti angin ini, yang selalu menerbangkan burung-burung dengan bebas, mungkin aku akan membebaskan diriku dan jiwaku dari takdir pahit ini, hanya saja, aku bukanlah angin, aku juga bukan siapapun yang bisa menghalangi takdirku sendiri*...
Hap!
Mendadak sebuah pelukan mendarat di pinggangnya, dan memeluknya dengan sangat erat, membuat dirinya harus membuka kedua matanya sambil tertegun.
"Apa yang kau pikirkan saat ini? ingin menjauh dariku? sayang, aku tidak akan melepas dirimu, sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.."
Membalikkan tubuh Valesha, "jangan berpikir untuk lari dariku.."
Cup!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1