Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Sebuah Panggilan


__ADS_3

"Bagaimana ini?" gumam Valesha sambil terus berusaha untuk menyingkirkan jasad di penculik di jok kemudi.


Pria ini begitu berat. Badannya memang lumayan besar, mungkin bobotnya hampir mencapai tujuh puluh lima kilo lebih. Itu mungkin.


Memang pantas kalau Valesha merasa berat saat harus menyingkirkan pria ini dari jok kemudi. Dia hanya berbobot empat puluh lima kilo, itu pun sebelum menikah dengan Axelo, tak tahu juga untuk sekarang.


Dia terlalu banyak tekanan sejak menikah dengan Axelo. Mungkin saja dia mengalami penurunan berat badan saat ini.


Valesha berusaha sekuat tenaga mengalihkan tubuh pria ini dari jok kemudi. Bukannya dia tidak bisa melompat dari mobil. Tapi kaca mobil sangat tebal untuk sekedar dia pecahkan. Pintunya juga terkunci. Hanya terlihat sedikit pecah pada kaca bagian belakang mobil tersebut, itu pun karena ditembak oleh Axelo.


Dia akhirnya memilih untuk mencoba cara tersebut, menyingkirkan si penculik dari jok kemudi dan berusaha untuk mengambil alih kemudi setir.


Ia terus mengangkat jasad tersebut dengan sebisanya. Di depan sana mobil tampak mengarah pada sebuah pohon yang begitu besar dan berdiri dengan kokohnya.


Sejenak Valesha tertegun, "tidak! ini bukan akhirnya, bukan?"


Dia bergumam, namun tangannya kembali mencoba menyeret pria ini dari jok kemudi. Dan setelah perjuangan yang cukup melelahkan, dia akhirnya berhasil menyingkirkan pria ini dari jok.


"Menyingkir dasar sialan!?"


Wanita itu lebih terlihat gagah berani manakala sudah duduk di atas jok di belakang kemudi.


Namun dia baru ingat, seumur-umur dia hidup, ia tak pernah satu kalipun memegang kemudi setir.


"Ck, kenapa aku begitu bodoh?"


Sementara pohon sudah terlihat jelas di depan mata. Seharusnya hanya tinggal menginjak pedal rem saja, atau selain jalan pintas tersebut, dia bisa berbelok ke sisi yang lain.


"Oh iya, bagaimana aku sekarang, aku juga harus berpikir, dimana kiranya mereka menginjak pedal rem?" pikirnya ruwet seorang diri.


Dia mencoba dengan keberanian, "yang ini saja!"


Dia pun dengan yakin menginjak salah satu pedal.


Vroooooommmmmm!!


"Wow, wow!"


Namun Valesha begitu terkejut manakala dia mendapati mobil malah bergerak semakin liar dan cepat.


Tentu saja dia menginjak sisi yang salah.


Dia pun reflek membanting setir ke arah kanan, dan kemudian terus melajukannya dengan sebisanya.


"Ouh, tidak, aku rasa ini sebuah perkembangan." Dia tersenyum lega.


"Baiklah, sekarang aku harus bagaimana?"


Valesha terus melajukan mobil tersebut dengan sebisa dia. Namun dia tak tahu kalau yang ada di depan sana adalah jurang.


Di sisi yang lain, tampak Axelo yang terlihat kesal karena bom ketiga tidak meledak pada target yang dia inginkan.

__ADS_1


"Sialan!"


"Ck, bagaimana ini? istri kamu sedang melajukan mobilnya sendiri! apa kamu masih mau bermain dengan mereka?" tanya Ashkan dengan kesal.


"Aku harus turun!" ucap Axelo dengan yakinnya.


"Kali ini aku izinkan!!"


Citttt!!


Dengan bergegas Ashkan menghentikan mobilnya. Dia membiarkan Axelo turun dari mobil dengan persenjataan lengkap pada tubuhnya.


"Selamatkan istriku!!"


"Jangan cemas!!"


Vroooooommmmmm!!


Dan Ashkan kembali melajukan kendaraannya secepat kilat. Dia tampak memberantas semak belukar yang begitu sulit untuk dilalui.


Meski sebelumnya Valesha sudah melalui jalur tersebut, dan melindas semua rerumputan tersebut, tetap saja Ashkan juga masih kesulitan saja menghadapi jalur sesulit ini.


Sementara di satu sisi, Axelo terlihat gagah berani menghadang kawanan anak buah Neil yang sudah bersiap dengan senjata mereka semua..


Ia tampak menatap ke arah mobil tersebut dengan gagah berani. Meski dia hanya bermodal keberanian dan juga senjata ala kadarnya, tapi dia memang sejauh ini selalu merasa percaya pada dirinya sendiri.


"Heng!" mengulas senyum piciknya, "sudah siap bertarung? mari kita mulai!!"


Klak!


Dor!


Dor!


Dor!!


Tiga tembakan berhasil melesat, juga berhasil melumpuhkan tiga anggota sekaligus.


Ketiga orang di atas mobil tampak berjatuhan dan tewas seketika, hanya meninggalkan senjata mereka di sana.


Namun beberapa orang di dalam mobil tak mau kalah. Mereka lekas mengeluarkan pistol mereka dan menghujani Axelo dengan serangan peluru bertubi-tubi.


Axelo juga tak mau tinggal diam. Berlarilah dia ke arah semak-semak yang bahkan tidak pernah dilalui oleh satu orang pun.


Ia kemudian melakukan serangan pada kawanan di mobil itu dengan berulang kali, sampai membuat mobil mereka penyok.


"Ashkan! apa kau bisa mendengar aku?" tanya Axelo melalui ponselnya.


"Apa kau tidak sibuk? aku ini sedang berusaha mengejar istrimu! diamlah!"


Bip!

__ADS_1


"Arkh! sialan! dia mengabaikan aku! aku lupa bawa si peledak itu!" gumam Axelo menggerutu.


Dor!


Namun hanya sebentar saja dia menggerutu, sampai dia mendengar suara tembakan mengarah kepadanya.


Dia lekas bersembunyi di balik pohon. Suara deru mesin mobil terdengar berhenti di dekatnya, membuat dia harus bisa mengatur nafasnya agar tidak memburu, karena tahu mereka masih ada di sana, dan bisa saja tengah mengawasi pergerakannya.


Dia mencoba melongok ke satu sisi, setelah beberapa saat memastikan keadaan aman. Tapi saat dia melongok, tembakan langsung melesat ke arahnya, mengenai pohon yang dia jadikan untuk bersembunyi.


Dor!


"Ck, sialan!" umpat Axelo selepas menyadari kalau dirinya terjebak di tempat tersebut.


Sejenak dia berpikir, sembari mendengarkan alunan tembakan yang mencoba menyerang dirinya.


Dia kemudian memutuskan untuk nekad saja. berbalik lah dia dan ditodongkan saja dua senjata pada kedua tangannya ke arah para penjahat itu.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Satu per satu dari mereka akhirnya tumbang, jatuh dan tewas tergeletak di atas tanah dengan menyedihkan.


Dan akhirnya Axelo menang dalam sekali serangan. Ya, sejauh ini, dia memang hebat!


Dia kemudian berjalan mendekat ke arah para penjahat yang sudah terkapar di atas tanah itu, dan kemudian menatapi sekelilingnya.


Namun dia mendapati seseorang yang rupanya masih sanggup mengangkat senjata di tangannya.


Dengan bergegas dia juga mengangkat senjata pada tangan kirinya, dan langsung melesatkan satu peluru yang langsung menembus kening pria tersebut.


Dor!


Axelo hanya menatapi dengan seksama, dan memastikan kalau mereka semua sudah mati.


Ditengah-tengah aktivitasnya tersebut, kedua telinganya mulai mendengar suara getaran ponsel yang berasal dari saku seorang pria.


Ia lekas mencari dimana keberadaan ponsel tersebut. Dengan bergegas dia menuju ke arah suara ponsel tersebut, dan mendapati ponsel tersebut berada di saku salah seorang pria.


Ia mengambil ponsel itu, dan kemudian melihat seseorang yang menghubungi pria ini.


Namun tidak ada nama yang tertera di sana, hanya terlihat nomor yang sudah berulang kali menghubungi pria ini. Mungkin saja, seseorang misterius ini punya hubungan dengan penculikan ini.


Axelo pun mengangkat panggilan tersebut dengan keraguan. Namun saat sebuah suara terdengar menghujam ke arah telinganya, dia langsung tertegun, terkejut dan membelalakkan kedua matanya.


Bip!

__ADS_1


"Aku tidak suka menunggu, cepat bawa dia kemari!! apa kau mendengar aku??!!! hah???!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2