
"Hiks hiks..."
Tangisan Valesha terus saja menderu saat berada di dalam mobil. Entahlah, hatinya terasa begitu kacau, lebih dari itu, rasanya semua ini sangat melelahkan.
Ia tak bisa berbuat apapun sekarang ini, juga tak bisa berhenti dari tangisnya meski hati sudah mencoba untuk menjadi setegar yang dia bisa.
Sayang sekali dia memang wanita yang lemah, yang tidak sanggup mendengar semua kenyataan yang dia dapati beberapa saat yang lalu.
*Ya, apa salahku jika menjadi lemah? bukankah menangis itu hal yang wajar saat seseorang sedang terluka? bukan hanya aku, aku yakin, semua wanita juga akan menangis jika mengetahui hal menyakitkan tentang suaminya seperti ini*..
*Dia menjebak aku untuk masuk ke dalam hidupnya, membuat aku jatuh cinta, dan kemudian memberiku mimpi-mimpi tentang masa depan yang indah, memberiku harapan dan membangun rumah tangga dengan awal yang bahagia*.
*Tapi tak hanya itu, dia juga membawaku ke rumahnya, mengenalkan aku pada dunianya, dengan keegoisan seolah aku tak akan pernah lagi merindukan sosok keluarga setelah masuk ke dalam rumahnya, atau mungkin.. dia sudah tahu kalau aku pasti akan merindu, hanya saja, dia memang sejak awal berniat begitu, membuat aku rindu, dan kemudian menjatuhkan aku di rumahnya, dengan kerinduan di dalam hatiku, juga dengan ribuan rasa sakit yang dia tanam untukku*..
*Jika sudah begini, lalu apa aku masih bisa bertahan di rumahnya, demi ayahku, atau aku akan pulang, dan membuat ayah mencurigai semuanya*?
"Sudahlah, Valesha, tak ada gunanya juga kamu menangis sampai seperti ini, meski hatimu lega, tapi itu tidak akan merubah keadaan, merubah takdirmu, dan terutama membuat suami kamu mengerti." Ucap Geshka benar-benar merasa kasihan pada sahabat karibnya.
"Meski kamu menangis sampai keluar darah sekalipun, suami kamu hanya akan kembali mengulang kesalahannya, dan tidak akan lagi peduli, sudahlah, lupakan saja, anggap semua ini hanya angin berlalu.."
*Iya kah? apa aku benar harus menganggap semua ini seperti angin yang berlalu? sayang sekali, hanya kata mustahil yang bisa aku jawab untuk membalas perkataanmu, Geshka*.
...----------------...
"Jujur saja padaku, apa susahnya? kamu hanya harus bilang semua ini ulah kamu atau tidak! aku menemukan bukti ini bukan tanpa alasan, aku sudah mencurigai kamu sejak lama, aku pikir kau bukan seorang pembunuh, tapi jika benar begitu, apa bedanya kamu dengan pria itu?" tanya Ashkan tampak meledak emosinya.
Perdebatan kakak beradik itu bahkan berlanjut sampai di rumah Axelo, membuat kegaduhan itu tak juga berhenti terdengar pada kedua telinga Oaklard yang sejak tadi jadi saksi pertengkaran dua saudara kandung ini.
__ADS_1
Axelo tak menjawab apapun, entah karena dia tak punya kesempatan bicara, atau mungkin dia memang tak punya satu hal untuk dia bicarakan.
Yang pasti, dengan pertanyaan dari Ashkan ini, dia menjadi semakin tertekan.
Ia hanya terlihat memijit pelipisnya dengan perlahan, sembari sesekali menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar, seolah oksigen yang dia hidup belum juga cukup dan dia tak pernah puas dengan udara yang masuk ke dalam paru-paru nya itu.
"Kak! sudah bertahun-tahun aku mengikuti kamu, aku pikir karena kau hanya ingin membawa kembali harta peninggalan ayah kita yang telah direbut oleh Tuan Wishnu, tapi sekarang, jika kau terus menerus diam, aku tak bisa lagi membela kamu."
"Terserah apa katamu, yang jelas, aku bukan orang dibalik semua ini, aku juga tidak tahu siapa yang mengirim anak buahku ke sana, padahal Oaklard juga tidak aku perintahkan untuk mengirim dia ke rumah Tuan Wishnu, dan untuk soal virus atau racun, atau apalah itu, aku benar-benar tidak tahu bagaimana bisa ada di atas meja kerjaku, jika kamu tidak percaya, kamu boleh memeriksa rekaman cctv di hari yang sama saat kamu menemui aku dan menemukan benda itu di sana." Jawab Axelo akhirnya bisa mengatakan segalanya.
Ashkan terdiam membatu, mendengar penjelasan dari sang kakak, entah mengapa perasaanya yang kalut dan bercampur dengan emosi itu akhirnya perlahan-lahan mulai tertepis dan meluluh.
Entah karena wajah dan ekspresi Axelo yang menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tidak bersalah, atau semua ini karena memang perasaan di dalam hati kecilnya yang tak bisa berbohong untuk kasih sayang yang dia berikan pada sang kakak ini, ia sendiri bahkan tak tahu secara pasti.
Ashkan hanya terlihat berbalik, membawa pergi kemarahan yang entah mengapa mendadak reda tersebut, dan akhirnya mulai mencoba meraih gagang pintu kamarnya.
"Satu hal lagi," mendadak sebuah suara terdengar pada kedua telinga Ashkan.
"Sampai sekarang aku tidak pernah bisa mengetahui, mengapa kamu begitu berharap aku tidak membunuhnya, antara kamu yang terlalu peduli, atau kamu yang terlalu takut." Ucap Axelo yang masih terduduk di atas sofa.
Ashkan menggapai gagang pintu dan lekas menggenggamnya terlalu erat, ia tengah menyalurkan emosinya melalui benda mati yang tak berdosa itu.
"Huhh! aku hanya ingin membuktikan, kalau kakak kandungku bukanlah seorang pembunuh."
Cklek!
Pintu kamar dia buka, dan masuklah dia ke dalam kamar miliknya, namun masih di rumah kakak kandungnya.
__ADS_1
Dia terlihat menutup pintunya kembali tanpa amarah yang meletup-letup seperti tadi saat di hadapan Axelo.
Justru sebaliknya, dia menutup pintu dengan tenang dan tak menimbulkan suara yang bising di telinganya.
Sementara Axelo terlihat terduduk acuh di atas sofa, seolah dia sudah tak lagi peduli meski dia melihat adiknya pergi dengan wajahnya yang terkesan tak baik.
Namun otaknya agaknya mulai terasa runyam, dengan segala pemikiran yang memenuhi satu organ penting di dalam kepalanya, termasuk juga dengan kepergian Valesha.
Entahlah.
Dia merasa kacau, benci, kesal, namun juga rindu..
Benar, seolah ada yang hilang dari hidupnya.
Jika kemarin dia sukses membuat Valesha terdiam sampai beberapa hari lamanya, lalu bagaimana dengan sekarang? saat Valesha menaruh kesalahpahaman pada dirinya?
Apa wanita itu akan meninggalkan dirinya dengan kekacauan ini?
Arkh!
Kenapa juga harus peduli. Ya, jika peduli terhadap balas dendam di hatinya, mungkin itu lumrah.
Tapi yang dia rasakan kali ini, jauh sangat berbeda dari peduli yang biasa dia lakukan.
Lebih tepatnya, dia tak mau wanita itu jauh, bukan untuk membalas dendam, tapi untuk melengkapi sesuatu yang kosong dalam dirinya.
Mungkinkah dia memerlukan hati yang utuh? lalu jika separuh jiwanya sudah pergi seperti ini, apa yang bisa dia lakukan?
__ADS_1
Valesha, aku harap, kamu tidak benar-benar pergi!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...