Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Sesaat Dan Menyesal


__ADS_3

Di seberang terdengar tertawa terbahak-bahak, agaknya dia merasa kalau semua ini benar-benar lelucon yang sangat bagus.


Namun berbeda dari adiknya yang tampak senang melihat sosial media Victor diserang habis-habisan oleh para netizen, Axelo bahkan terlihat biasa saja.


Dia malah jadi bingung mengapa hatinya terasa senang saat mendapati berita tentang Valesha itu lekas padam. Dia pun tersenyum miring, tak tahu juga apa arti dari semua ini, entah apa dia yang mulai melunak, atau mungkin, semua ini masih termasuk dalam rencana besarnya, tidak ada yang tahu.


Ia tampak menutup panggilan dari sang adik, merasa kalau adiknya di seberang sudah tidak lagi peduli pada dirinya. Dia lekas meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, lalu kemudian berniat untuk keluar.


Namun saat dia berbalik, dia tertegun, menatapi sosok Valesha yang rupanya sudah berdiri di belakang tubuhnya dengan wajah cekung dan handuk yang melilit ditubuhnya.


"Ouh, kau mau kemana? aku mau mengambil ponselku dulu," ucap Valesha berpikir ingin mengambil ponsel miliknya yang saat itu berada di atas nakas yang sama, tempat dimana Axelo meletakkan ponselnya juga.


Namun ucapan dari bibir Valesha itu tak mendapat respon dari Axelo sama sekali. Pria itu malah terlihat meneguk ludahnya manakala mendapati tubuh Valesha yang segar setelah mandi pagi.


Entah mengapa sesuatu mengalir ke sekujur tubuhnya, merasa panas dan langsung menegakkan sesuatu yang liar di bawah sana.


Ia tampak terdiam, meski sejujurnya dia tengah berusaha untuk tidak melakukan apapun pada wanita ini. Bagaimanapun juga, Valesha masih berada dalam kesedihan akibat dirinya.


Ah!


Kenapa harus peduli? bukankah sejak awal niat dia menikahi Valesha tentu saja untuk membuat wanita ini dan Wishnu Fotham merasa tersiksa?


Jadi sekarang, kenapa dia jadi tidak tega?


Dia langsung mendekat, setelah beberapa saat ia melamun di hadapan Valesha, mungkin karena tubuh Valesha yang indah dan segar itu yang membuat dirinya seakan-akan tengah dimabuk asmara.


Ia langsung mel\*mat habis-habisan bibir Valesha, mengejutkan Valesha yang pada saat itu tengah mematung seperti manekin di tempat berdirinya.


Tentu saja dia tidak bisa menolak, saat Axelo menyambar bibirnya dengan sangat candu, dia bahkan tidak punya lagi waktu untuk melepaskan diri, atau mungkin saja sekedar menghindari.


Sambaran Axelo benar-benar mengejutkan dirinya, namun tentu saja, dia malah makin lama makin dibuat terbuai oleh permainan ganas yang Axelo lakukan.


Ciuman panas yang akhirnya dia juga menikmati. Betapa lemahnya dia, hanya dengan kecupan dari Axelo saja sudah mampu membuat kekuatannya melemah secara tiba-tiba.


Mungkin karena dia yang terlalu cinta? lalu bagaimana dengan kebencian dia? mengapa rasa benci itu tidak mampu untuk menolak sentuhan Axelo?


Dan sekarang dia malah hanya bisa terkapar tak berdaya di bawah Kungkungan Axelo, tanpa adanya sedikit kekuatan yang bisa membantu dirinya sendiri.


Bukankah hal seperti itu tentu saja tidak membantu sama sekali?


Ia hanya bisa pasrah, saat Axelo mulai menghujani dirinya dengan ciuman bertubi-tubi, saat Axelo menyingkap seluruh handuk yang dia kenakan dari tubuhnya, dan kembali mengekspos tubuhnya yang selalu membuat Axelo dimabuk kepayang.


Tentu saja dia tak bisa menolak, dia pun menikmati setiap permainan yang Axelo berikan padanya, sekalipun setalah dia melayani Axelo, dia selalu saja menyesali semua yang terjadi.


Dia bahkan menurut saja, saat Axelo mulai menghujamkan senjata tajam miliknya ke dalam sebuah liang yang memiliki sensasi tersendiri bagi Axelo.


Ia tak mundur, malah semakin giat melayani tubuh Axelo dengan kebencian dan cinta di dalam hatinya. Mengapa dia harus memiliki takdir semacam ini?


Menikmati, lalu setelah itu menyesali. Apa semua yang pernah dia sesali masih tak cukup juga untuk membuat Axelo merasa puas?


"Ugh.."


Ia terdengar melenguh, sesaat setelah batang pusaka nan besar itu mulai bergesekan memberikan sensasi tiada duanya baginya, dengan suara yang khas pun membuat sekujur tubuhnya semakin dibanjiri oleh peluh.


Ia menikmati setiap sentuhan dari Axelo, sampai pada akhirnya, kenikmatan di ujung cerita itu pun terjadi.


Axelo melepasnya dengan penuh kepuasan, sementara dirinya, hanya bisa menyesal setelah menikmatinya.


Adilkah itu?


Cup!


Kecupan terakhir dari Axelo setelah berhasil membuat dirinya merasa hina, pun tidak berguna seperti sampah.


Dan setelah itu, Axelo lekas bergeming dari atas tubuhnya, pergi ke kamar mandi, dan kemudian mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Hahhh!!


Hiks.. hiks..


Sementara seperti biasa sejak awal pernikahannya dengan Axelo, selepas dia memuaskan Axelo, dia selalu meringkuk di atas ranjang, menangis tersedu-sedu, diiringi dengan rasa menyesal yang sangat dalam.

__ADS_1


Ia memukuli dirinya sendiri, berharap mati saja jika terus begini. Namun kemudian ingatannya kembali, memutar wajah sang ayah yang selama ini sakit-sakitan di atas kursi rodanya, dan kemudian menyadari kalau dirinya juga tidak akan bisa lari dari sisi Axelo.


Semua itu sudah cukup membuat dirinya berhenti menangis, dan kemudian mencoba bangkit, memulai semuanya seperti biasa kembali.


Itulah yang selalu terjadi pada dirinya selepas bercinta dengan Axelo. Semuanya menjadi semakin rumit, tapi dia tak mau menganggap semua itu menyusahkan dirinya.


Bukankah dia bisa juga membalas semua perbuatan Axelo? jika dia tegar, dia pasti bisa menjatuhkan pria itu kelak di kemudian hari.


*Tunggu saja tanggal mainnya, dan saat hari itu terjadi, aku akan membuktikan, kau akan benar-benar menyesal menyiksaku di rumahmu*!


Tring!


Lamunannya terhenti, saat sebuah pesan mendadak masuk ke dalam ponsel Axelo, membuat dirinya lekas bergeming dari baringnya, menutup sekujur tubuhnya menggunakan selimut, dan kemudian menyambar ponsel Axelo.


Entah kebetulan atau tidak, ponsel Axelo rupanya tidak dikunci. Pria itu juga sedang mandi di dalam kamar mandi, dia pun jadi punya banyak waktu untuk melihat apa saja yang disembunyikan oleh Axelo darinya.


Ia segera membuka pesan yang baru saja tiba di ponsel suaminya.


Pesan itu rupanya dari ayahnya di seberang sana. Entah hal penting apa yang sedang dibicarakan dan juga dirahasiakan oleh Wishnu Fotham dan Axelo darinya.


Yang pasti, mungkin saja dia bisa menemukan sebuah petunjuk dari pesan masuk dari ayahnya itu.


Ia membacanya dari atas, scroll ke bawah, pesan yang panjang lebar dari sang ayah, namun pada intinya, dia mencoba memberitahu Axelo tentang perusahaan yang selama ini dikelola oleh Neil.


Valesha lekas menutup mulutnya, begitu tertegun saat sang ayah mengirim pesan pada Axelo, yang isinya memerintahkan Axelo untuk mengambil alih perusahaan dari tangan Neil, saudara Valesha, anak dari adik Wishnu Fotham.


Ia tak rela, bukan tidak mungkin jika semua ini akan menjadi jalan mudah bagi Axelo untuk merebut semua perusahaan milik ayahnya, setelah itu, bukankah sudah bisa dipastikan kalau Axelo akan menyengsarakan dirinya dan juga keluarganya?


*Tidak bisa! aku harus mencegah ayah, tidak bisa begini*.


Cklek!


Dia sangat terkejut, saat mendengar suara Axelo yang membuka pintu kamar mandi. Segera saja dia menutup ponsel Axelo, dan kemudian meletakkan kembali di atas nakas dengan sangat gugup.


Dan saat Axelo telah kembali ke hadapannya, dia langsung memasang wajah datar yang agaknya bisa menutupi rasa gugupnya itu.


Axelo pun hanya bisa melewatinya dengan acuh. Dia lekas menuju ke arah almari, dan mengambil beberapa baju yang terlihat baru di sana.


Apa pria ini kembali mengeluarkan uang?


Pria itu memberikan Valesha pakaian yang kemudian dia letakkan di atas kasur. Sementara dirinya terlihat menyambar pakaian untuk dirinya sendiri yang akan dia kenakan nanti.


"Pakailah itu," ucap Axelo dengan sangat datar pada Valesha.


Wanita itu hanya bisa menatap pakaian yang diminta Axelo untuk dia kenakan itu. Dia menatapnya dengan penuh kebingungan, tapi dia lupa, Axelo punya banyak uang, jadi akan sangat memudahkan bagi dirinya untuk membeli semua barang-barang ini.


"Kau membeli semua pakaian ini?" tanya Valesha nampak penuh tanda tanya.


Mendengar pertanyaan dari Valesha, Axelo lekas berhenti mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia kemudian mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Valesha, dan kemudian menatap kedua mata Valesha dengan sangat intens.


"Ya, aku tidak suka barang bekas."


Dan setelah dia mengatakan hal seperti itu, dia pun kembali memundurkam diri, kembali menyibukkan dirinya dengan aktivitasnya semula.


"Pakai saja, tidak perlu banyak bertanya," ucap pria itu lagi, kali ini tanpa menghadap ke arah Valesha sama sekali, "kita akan menemui ayah kamu setengah jam lagi, berbicara satu hal penting, dan setelah itu berpamitan untuk pergi bulan madu."


Sambung Axelo, dia terlihat mengenakan kemeja coklat susu yang baru.


Mendengar perkataan Axelo barusan, Valesha menjadi tertegun. Pria itu baru saja mengatakan kalau mereka akan bertemu dengan ayahnya, membahas hal penting? apa maksudnya tentang perusahaan itu?


"Membahas hal penting apa? apa itu sangat penting bagiku? atau sangat penting bagi dirimu?" tanya Valesha berusaha untuk menjebak suaminya sendiri.


Tapi mungkin dia memang belum terlalu mengenal kepribadian Axelo yang sesungguhnya.


Pria dingin yang sebenarnya punya pemikiran yang sangat luas. Pria yang cerdas dan tidak akan bisa dengan mudahnya dibodohi apalagi oleh seorang wanita.


Termasuk juga Valesha.


Mendengar perkataan dari istrinya, mungkin lebih tepatnya pertanyaan menjebak dari istrinya, ia lekas menoleh kembali menatap ke arah Valesha, "yang pasti itu sangat penting bagi ayah kamu."


Jawaban yang tidak pernah diduga oleh Valesha sebelumnya. Jika dia berpikir Axelo akan merasa bingung bagaimana menjawabnya, maka dia salah. Pria itu selalu punya banyak alasan untuk segalanya.

__ADS_1


"Cepat kenakan pakaian kamu, aku tunggu lima belas menit lagi, kita akan turun dari kapal setelah ini." Ucap Axelo sembari membenarkan kemeja yang dia kenakan.


Mendengar perkataan dari Axelo barusan, Valesha yang tengah cemas pun juga kesal itu hanya bisa menurut saja.


Agaknya dia tidak punya alasan yang bisa dia gunakan untuk membuat Axelo tidak menemui sang ayah. Seharusnya dia bisa mencegah ayahnya sendiri, tapi lihat saja sekarang, bahkan ayahnya yang sangat berinisiatif untuk bertemu dengan Axelo dan membahas hal penting yang mereka maksud.


Mungkin salah satu caranya adalah, dia harus memberitahu pada ayahnya kalau dia tidak bisa menjumpai ayahnya.


Dia tersenyum kecut, "baiklah, kau tunggu dulu di luar, aku akan mengganti pakaian selama lima belas menit." Ucap Valesha pada suaminya.


"Kenapa harus menunggu di luar? aku sudah sering melihat tubuh kamu, jangan banyak bertingkah, segera ganti baju dan kita akan pergi sekarang." Ucap Axelo menolak. Dia terlihat sudah tampan dengan setelan barunya.


"Apa kau bilang? dasar pria mesum! pergi kau dari sini! kalau kau tidak mau pergi dari kamar ini, aku juga tidak akan mengganti pakaianku!" ucap Valesha, berharap Axelo bisa keluar dari sana.


Namun pria yang tengah berdiri itu malah menyiratkan senyuman miringnya. Dia terlihat mendekat ke arah Valesha yang pada saat itu masih ditutup secara sempurna oleh selimut putih..


Hal itu membuat Valesha sedikit merasa ketakutan, apalagi pria ini tidak akan main-main dengan ucapannya sendiri.


"Ap-apa yang kau lakukan?" tanya Valesha dengan sangat gugup.


Brukk!


"Ah?"


Tanpa basa-basi, Axelo kembali menjatuhkan tubuh Valesha menjadi tertindih lagi olehnya. Dia terlihat tersenyum menyeringai, dia benar-benar seperti iblis kalau sedang bertingkah seperti ini.


"Axelo! apa yang kau lakukan?" tanya Valesha sekali lagi.


"Jika tidak mau mengganti pakaian di depanku, maka akan aku ajari bagaimana caranya mengganti pakaian."


Ucap pria itu tak lupa dengan wajah iblisnya.


Punya dua tanduk kecil di kepala.


Gigi taring..


Kulit merah padam..


Dan jahat.


Kurang apalagi?


Dia memang iblis!


"Apa kau bilang? pergi sana!" berusaha mendorong tubuh Axelo menjauh darinya.


Tapi dia tak punya kekuatan yang sepadan dengan pria itu. Dia bisa apa sekarang, kedua tangannya telah dikekang oleh Axelo dengan sekuat tenaga, tentu saja dia hanya bisa menyerah pasrah.


"Bagaimana? mau bermain lagi?" tanya Axelo dengan liciknya.


Pria itu tahu betul bagaimana caranya menaklukkan keganasan yang terkadang ditunjukkan oleh Valesha kepadanya.


Mendengar pertanyaan dari Axelo, Valesha lekas menggelengkan kepalanya menolak dengan sangat keras, "tidak mau! bermain saja sama Sheilin! kau bahkan berkhianat padaku untuk yang ke sekian kalinya, sekarang kenapa kau menjadi orang yang paling bisa menyiksa aku sampai begini? dasar tidak tahu diri!"


Mendengar perkataan dari Valesha yang entah disengaja atau mungkin sekedar kelepasan itu, mendadak raut wajah Axelo berubah.


Dia yang semula begitu senang menjatuhkan Valesha di bawah kungkungannya, mendadak terdiam dan menekuk bibirnya sendiri.


Dia terdiam cukup lama, mendiamkan Valesha yang pada akhirnya juga ikut terdiam bingung.


Hanya beberapa saat saja, sampai pada akhirnya Axelo memilih untuk bangkit dari posisi tengkurap di atas tubuh Valesha.


Pria itu bergerak dan berbalik meninggalkan Valesha. Segera saja wanita itu terduduk dan kembali mengenakan selimut di tubuhnya, menatap pria itu yang hendak menuju ke arah pintu keluar.


"Cepat kenakan pakaian kamu! aku tunggu di luar!"


Setelah mengatakan kata-kata itu, Axelo kemudian membuka pintu dan segera keluar dari sana, meninggalkan Valesha dalam bingungnya.


*Dia kenapa? apa dia, terluka*?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2