Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Berubah Dalam Sekejap


__ADS_3

Tak tak tak tak


Dia mulai melangkah masuk ke dalam rumah, dengan penampilan yang telah kembali seperti seorang pelayan. Dia membawa tas belanjaan besar di kedua tangannya, sementara wajahnya dia tutupi dengan menggunakan masker.


Dia tiba di dalam rumah, lalu membuka maskernya setelah berhasil melalui para penjaga di luar rumah Axelo.


Fuhh!


Dia membuang nafasnya dengan perlahan sambil berjalan meletakkan belanjaan dalam tasnya ke arah dapur.


"Berpura-pura itu melelahkan, aku tidak menyangka Axelo bahkan melakukannya hampir satu tahun lamanya," gumamnya sambil meletakkan tas belanjaan di atas meja, lalu melihat ke sekelilingnya, menatap situasi yang agaknya masih bisa dibilang aman.


"Huhh! Syukurlah dia belum pulang, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia pulang dan tidak mendapati aku di dalam kamar, habislah aku." Gumamnya lagi, kali ini sambil berjalan mengarah ke dalam pintu kamarnya.


Dia tidak berada di kamar Axelo meski semalam dia menghabiskan semalaman penuh untuk melayani pria bajingan itu. Dia pun hanya bisa pulang dengan rasa letihnya, apalagi saat dia mengingat ucapan pria dari seberang beberapa saat lalu saat dia menjumpainya di cafe.


"Dia memang ingin menghancurkan siapa saja yang mengusik keluarganya, tapi aku sungguh tidak menyangka dia akan menyia-nyiakan gadis seperti kamu."


Ucap pria itu saat masih di dalam cafe, dan hal itu sangat mengganggu pikirannya. Dia tidak mau memikirkannya, baginya, pertemuan dengan pria misterius itu, sangatlah aneh.


Dia yang semula berharap pria itu mau membantunya, tapi sekarang, setelah dia bertemu dengan pria aneh itu, ia malah jadi ragu.


Dia selalu menatap ke arah Valesha dengan tatapan yang sangat aneh, dan lagi, agaknya pria itu menginginkan sesuatu yang lebih darinya sebagai imbalan. Karena itulah Valesha memilih untuk berpikir lebih dulu menerima bantuan dari pria misterius itu.


Agaknya aku tidak terlalu bersalah memikirkannya, setidaknya aku tidak langsung setuju.


Benaknya berbicara, dengan penuh keraguan, juga tidak percaya dia bahkan mau menemui seorang pria yang dia sendiri bahkan tidak pernah bertemu dengannya sama sekali.


Aku yang terlalu bodoh memang, agaknya dia musuh besar Axelo, apa mungkin aku harus mencari tahu soal dia?


Dia terus melamun sambil terus berjalan mengarah pada kamarnya. Dia melangkah dengan termenung sampai akhirnya dibukalah pintu kamarnya dengan sangat perlahan.


Cklek!


"Wellin, maaf telah lama membuat kamu menunggu." Ucap Valesha sebelum pada akhirnya mendapati sosok yang sangat menakutkan.


Gadis itu mendongak menatap ke arah kasur, dan kemudian, mendapati seorang pria yang tengah asik berbaring sembari membaca buku diary miliknya di atas kasur, dengan kemeja putih yang sudah setengah terbuka.


"A? Axelo? Kenapa kamu sudah pulang?" Tanya Valesha dengan wajah terkejut.


"Umm, istriku sudah pulang rupanya, entah mengapa aku kesal menunggu istriku pulang selama.." melihat ke arah jam di tangannya, "satu jam lima belas menit." Sambungnya.


Mendengar ucapan Axelo barusan, dan itu membuat dirinya terdiam mematung.


Axelo hanya bisa bergeming melihat kekalahan di wajah istrinya. Dia bangun dari rebahannya yang asik, lalu kemudian terduduk di atas kasur, bersandar pada sebuah bantal yang empuk yang biasanya ditiduri oleh Valesha.


"Kenapa kamu masih diam? Mendekatlah kemari, aku rindu padamu." Dia mengatakannya dengan nada yang sangat menjijikan, ugh, memang tidak bisa dijelaskan betapa menjjikannya wajah manja Axelo saat memelas di depan wajah Valesha itu. Entah mengapa rasanya memang sangatlah memuakkan.


Valesha masih tidak juga bergeming. Dia malah memaku di tempatnya dan terasa tidak punya kesanggupan lagi untuk melangkah maju.


Mungkin dia tahu, ucapan dari mulut Axelo barusan hanyalah sebatas bualan semata. Pria itu pasti akan segera melahapnya kalau sampai dia mendekat, sayang sekali, dia sudah tidak punya lagi kesempatan untuk lari dari sana.


Ini adalah neraka yang sangat menakutkan.


"Ayolah, biarkan aku memeluk kamu, bukankah kau juga merindukan aku?" Tanya Axelo, senyumnya semakin terlihat rumit untuk dimengerti.


Valesha hanya bisa tergerak dengan kaku. Kedua kakinya melangkah penuh dengan keraguan mendekat ke arah suaminya, lalu pada akhirnya, dengan sangat terpaksa dia pun terduduk di samping Axelo, membelakangi Axelo dengan punggungnya.


Dia tampak sedikit ketakutan, mengingat pria dingin dan arogan yang dipenuhi oleh dendam ini bisa saja langsung menembak dirinya di tempat, dan setalah itu, maka matilah dia.


Bukannya dia takut untuk mati, hanya saja, dia tidak siap mati untuk sekarang, dia harus berdiri dengan kokoh, untuk menjadi tameng dan pelindung bagi ayahnya, ya, selain dia, bukankah tidak ada lagi yang bisa melindungi keluarganya.


Dia termenung, hanya saja, tak berlangsung lama. Dia hanya bisa bergeming saat merasa sentuhan tangan yang sangat lembut, pun juga menakutkan.


Sentuhan itu terasa menyengat dan menyetrum mulai dari bagian pinggulnya, lalu sampai kepada bagian kedua dadanya.


Ugh!

__ADS_1


Rasanya memang tidak bisa dikatakan lagi bagaimana rasanya, tapi, sentuhan yang sangat memabukkan itu, mengapa harus dari tangan kotor seorang Axelo?


"Axelo, jangan macam-macam kamu!" Ucap Valesha menolak sentuhan lembut itu.


"Um? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah aku suami kamu? Tentu saja aku punya hak atas dirimu.."


Cup!


Dan kecupan nakal dari bibir Axelo telah mendarat di bagian belakang telinga Valesha, dan hal itu sangatlah menggelikan.


"Axelo, jangan kelewatan, aku tidak suka.."


Aksinya berhenti. Tatapan mata Axelo menajdi sangat tajam, dengan rasa dingin yang sangat luar biasa. Bahkan hawa dingin yang tercipta dari pandangan mata Axelo telah berhasil membuat Valesha tersadar, dan akhirnya hanya bisa memaku dengan rasa bersalahnya.


Grep!


"Arkh!"


Valesha memekik dengan keras manakala tangan Axelo dengan keras menarik tubuhnya, dan kemudian menjatuhkan tubuh wanita itu di atas kasur, lalu tanpa basa-basi dia langsung menguncinya dengan menindih tubuhnya dengan penuh penekanan.


"Axelo, jangan gila kamu!" Ucap Valesha sambil berusaha untuk memberontak dan ingin sekali lepas dari jeratan tangan Axelo.


"Kau bilang kau tidak suka saat aku menyentuh kamu, bagaimana kalau aku bilang, aku tidak suka istriku pergi dari rumah tanpa izinku? Apa kau juga akan marah seperti aku?" Tanya Axelo dengan nada yang lirih dan dalam, tapi sangat menakutkan.


"Buat apa aku peduli? Sama seperti aku yang tidak suka kamu sentuh, tapi kamu tidak peduli, bukankah aku juga harus melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan?" Tanya Valesha berbalik pada suaminya.


Sekarang dia jauh lebih berani. Dia menjadi wanita yang tangguh dan kuat berdiri di atas kedua kakinya sendiri, bahkan saat dirinya diinjak-injak oleh suaminya sendiri, di rumah suaminya pula, andaikata wanita lain yang menghadapi nasib sekejam ini, mungkin mereka akan lebih memilih untuk lari atau mungkin bunuh diri saja.


Namun Valesha tidak berpikir demikian. Satu kali saja dia berpikir untuk mati, rasanya sama halnya memberikan seribu kemenangan untuk Axelo.


"Aku tidak suka seseorang menjawab perkataan dariku." Ucap Axelo. Wajahnya sudah terlihat sangat marah, bahkan dengan amarahnya itu, suasana hati Valesha yang semula baik-baik saja perlahan-lahan mulai terasa kacau dan mulai berantakan.


"Aku juga tidak suka seseorang mengekang aku hanya karena kebenciannya pada keluargaku, menurut kamu sikap aku padamu itu tidak adil? Apa aku harusnya diam saja saat kau menindasku, Axelo?" Tanya Valesha lagi, dia benar-benar tidak bisa lagi ditekan oleh Axelo. Baginya wanita bukanlah tempat bermain, jika mau mempermainkan wanita, maka bersiaplah untuk dibenci seumur hidup dengan luka hati yang tak akan bisa dengan mudah untuk disembuhkan.


Sementara itu Axelo hanya bisa memilih untuk diam tidak bergeming. Ucapan dari Valesha barusan sangatlah menyakitkan, dan dia juga tidak bisa menampik, kalau hatinya benar-benar merasa tersindir akan ucapan itu.


"Kenapa sekarang kamu yang diam? Tidak bisa menjawab perkataan dariku? Dasar tidak tahu..."


Cup!


"Uhm.."


Belum juga Valesha melanjutkan perkataannya, kecupan maut langsung menyambar mulutnya dengan sangat ganas, membungkam mulutnya tanpa ampun, dan sungguh, hal itu sangatlah menyiksa Valesha.


Namun kecupan itu tak begitu lama, sampai pada akhirnya Axelo melepas kecupan itu dengan sangat puas.


Hahh! Hahh! Hahh!


Bahkan Valesha sampai tidak berdaya dibuatnya, mengapa Axelo begitu kejamnya, bahkan sampai merenggut dirinya dengan cara yang sangat keji seperti ini?


Dia tidak tahu apa yang pernah terjadi pada masa lalu mereka, mengapa dia yang harus jadi korban atas semua keegoisan mereka semua.


Axelo menatap kedua matanya dengan dalam, juga dengan tatapan yang aneh. Dia lalu membelai rambut Valesha yang masih berada dalam kungkungannya, lalu dengan lembut membisikkan satu kalimat di telinga Valesha.


"Jangan sekali-kali menjelekan suami kamu, karena saat aku bilang tidak suka, artinya aku benci!"


Cup!


Dia mencium lagi sekilas kening Valesha lalu setelah itu dia memilih untuk beranjak dari posisinya, membenarkan kemeja putihnya dan kemudian segera pergi dengan penuh kekecewaan.


Blam!


Dia meninggalkan kamar Valesha bersama dengan orangnya juga di sana yang masih memaku dan mematung di atas kasur dengan posisi berbaring kelelahan.


*Kamu bilang kamu benci aku keluar tanpa pamit, lalu bagaimana dengan aku yang selalu kau kekang dan dipaksa untuk membayar kesalahan yang tidak pernah aku lakukan*?


*Jika kau bilang semua itu untuk membayar kesalahan keluargaku, sebenarnya kamu sangat bersalah dengan alasan itu*.

__ADS_1


Dia terbangun dan segera melepas pakaiannya yang sudah berkeringat banyak.


*Apa kamu pernah sekali saja mempertanyakan kesalahan kamu pada diri kamu sendiri? mengapa kamu selalu melampiaskan kekesalan kamu pada orang lain, dan sakitnya lagi, orang yang kamu jadikan korban adalah, orang yang tidak mengerti apapun, seperti aku*.


Cklek!


"Valesh..."


Tertegun di tempat.


"Sha..."


Aaaaaaaaaa!!!


Valesha sontak berteriak saat mendapati wajah Ashkan yang asik menatap sekujur tubuhnya yang kini sudah polos tidak terhalang apapun lagi.


Namun pria itu dengan santainya hanya berbalik dan menutup kedua telinganya sambil menutup pintu.


Blam!!


"Dasar pria ca\*ul!"


Fuhhhh!


Ia lekas menghembuskan nafasnya yang semula tertahan dengan sangat menyesakkan. Pemandangan tubuh Valesha barusan, mengapa sangatlah menggoda imannya?


Bahkan sesuatu yang nakal itu semakin tidak bisa dikendalikan. Awas saja kalau sampai berbuat macam-macam, dia pasti akan segera mencarikan tempat yang cocok untuk mengurungnya, asal dia yakin saja.


*Aku terlalu terburu-buru*.


Benaknya berbicara, sambil menatap degup jantungnya yang rasanya sangat tidak aman.


Cklek!


Tak lama setelah itu, seorang gadis dengan kaus lengan pendek berwarna putih, yang dipadupadankan dengan rok mini sebatas paha, rambutnya yang dikuncir dengan sangat sempurna, lalu harumnya yang semerbak wangi membuat Ashkan akhirnya menoleh ke arahnya, dengan sangat canggung yang pasti.


"Ada apa kau mencariku?" tanya Valesha pada Ashkan, dia juga tampak canggung, namun lebih dari itu, dia merasa sangat kesal pada pria ini. Mengapa Ashkan tidak lebih dulu mengetuk pintunya sebelum masuk? kan jadi malu sendiri.


"Um, tidak apa-apa, hanya memastikan, karena aku dengar tadi kau keluar tanpa pamit, aku hanya cemas kau belum pulang.." jawab Ashkan dengan gelagapan.


Namun satu hal yang malah membuat Valesha merasa tertegun, pria ini baru saja mengatakan kata cemas di bibirnya, dan kata cemas itu dia tujukan untuknya, mengapa Ashkan sangat berbeda dengan Axelo?


Jika Axelo bilang dia tidak suka saat istrinya keluar dari rumah tanpa izinnya, lalu sekarang Ashkan bahkan berkata dia mencemaskan Valesha karena pergi dari rumah tanpa berpamitan. Mengapa dua kakak beradik ini tidak memiliki sikap yang sama?


"Kalau begitu, aku pergi dulu, kau tidurlah, atau mungkin, makan, terserah padamu, aku hanya ingin tidur." Ucap Ashkan gelagapan.


"Aku tidak lapar, aku juga tidak akan tidur, setiap malam aku lalui di rumah ini dengan tekanan, sekali aku keluar aku langsung mendapat masalah besar, tidak tahu apa yang terjadi pada Wellin, entahlah, dia pasti sudah dilahap habis-habisan oleh Axelo, pria kejam!" Umpat Valesha sambil berlalu terduduk di atas sofa ruang tengah.


Dia lekas bermain ponsel dan terus mengarah kepadanya, bahkan sampai mengacuhkan situasi di sekelilingnya, hingga dia tidak menyadari suaminya malah sudah berdiri di sana dengan penampilan yang aneh.


"Um?"


Ia mendongak, menatap sesuatu yang aneh dari arah pojok menuju tempat dapur berada, dan pemandangan itu, membuat dirinya tertegun untuk sesaat.


"Ah? kamu?" tanya Valesha sambil menatapi suaminya yang sangat aneh.


"Aku tidak suka repot, tapi malam ini aku ingin memasak bersama denganmu, bisakah kau melakukan hal itu?" tanya Axelo menatap ke arah Valesha, bahkan dia juga mengimbuhkan senyuman di bibirnya.


Ada apa dengan pria ini?


Mendengar kata-kata dari Axelo barusan, dia menjadi diam seribu bahasa, bukan hanya dia, tapi juga Ashkan yang sepertinya, tidak pernah menduga akan terjadi pemandangan ajaib seperti ini. Axelo yang tidak pernah masuk ke dalam dapur, dan bahkan tidak pernah memegang penggorengan sama sekali, dan malam ini, dia nekad untuk memasak bersama Valesha?


Sepertinya dia hanya akan mengacau saja di dapur nanti.


"Aku tidak yakin." Ucap Ashkan seakan juga mewakili pemikiran Valesha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2