Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Dia..


__ADS_3

Valesha tak menolak, lebih tepatnya dia memang tak punya kuasa untuk sekedar menolak, bukankah jika dia menolak, itu artinya dia telah menabuh genderang perang? yang pada akhirnya hanya akan membuat kemarahan pada Axelo, dan sudah pasti dia sendiri yang akan habis?


Ia hanya meringkukkan tubuhnya dalam pelukan hangat yang Axelo berikan padanya. Sementara jantungnya terus berdegup dengan amat kencang, seakan dia tak pernah bisa lagi untuk mengaturnya.


Namun dia memilih untuk diam. Tak ada kata penolakan untuk saat ini terhadap Axelo, karena dia memang sedang tak bisa membuat dirinya hancur oleh pertentangannya sendiri.


*Entah apa yang tengah terjadi padamu, Axelo, tapi mood kamu slalu cepat berubah dalam waktu yang cukup singkat, entahlah, aku jadi bingung menghadapi dirimu*.


Hanya benak Valesha yang terlihat merecoh dengan sangat cerewet dan juga tidak bisa menebak sikap suaminya sendiri.


Dia pun hanya bisa lekas menidurkan dirinya dalam pelukan Axelo, meski hatinya tetap saja bergemuruh dengan hebat, meronta dan tidak bisa dia atur.


Waktu terus berlalu, hingga akhirnya tanpa sadar Valesha kini sudah tertidur dalam pelukan hangat Axelo, di tengah-tengah lautan yang luas, di dalam kamar mewah yang sengaja dipesan oleh Axelo dengan mahar yang lumayan mampu meneguk ludah hanya untuk menikmati bulan madunya bersama sang istri tercinta.


Malam ini terasa sangat dingin, tidak bisa dipungkiri, merasakan sensasi tidur di tengah lautan, dengan angin yang cukup kencang menerpa, memang memunculkan hawa yang sangat luar biasa bagi sebagian orang pecintanya.


Tak terkecuali juga bagi Valesha dan juga Axelo, yang akhirnya menikmati juga malam di tengah lautan lepas nan menggoda, dibalut dengan selimut yang menghangatkan tubuh mereka.


UPS!


Mungkin kata-kata yang tepat adalah, pelukan keduanya yang sangat menghangatkan.


Malam yang larut pun mulai berubah menjadi pagi menjelang. Meski matahari masih belum menampakkan diri dengan seutuhnya di ufuk timur, tapi cahaya jingga manakala matahari hampir memunculkan separuh badannya tampak sangat indah pun juga teramat menawan.


Cahaya jingga yang berbaur dengan air laut yang juga berwarna separuh jingga dan separuh kelam mempesona.


Siapa saja pasti akan terpesona dengan panorama pagi hari di tengah lautan yang indah itu.


"Ugh."


Wanita itu terlihat mulai membuka kedua matanya, perlahan meski terasa sangat berat.


Ia terlihat mengerjapkan kedua matanya sesaat, sampai akhirnya dia mulai menemukan pemandangan indah di hadapan matanya.


Wajah yang sangat tampan, dengan kulit putih bersih menggoda nan manis. Mata sipit dan hidung yang mancung menambah manis sosok yang satu itu.


Rupanya Axelo punya wajah yang lebih tampan nan rupawan jika diperhatikan dari jarak dekat. Wajah itu, entah mengapa seperti orang Korea, tapi tidak, entahlah.


Dia sangat tampan, seperti pria dari surga, arkh! ungkapan itu sejujurnya terasa sangat berlebihan, mengingat betapa buruknya pria itu memperlakukan Valesha di awal pernikahan.


Mengingat dan mengulas balik kejadian dahulu saat awal mula pernikahan, Valesha jadi mengurungkan niatnya untuk memuji pria yang satu ini.


Bukan tidak mungkin, Axelo selalu punya sisi tersembunyi yang lain, hingga tak mungkin lagi bisa ditebak dengan mudah oleh Valesha.


Pria itu punya dua muka di balik muka yang dia tunjukkan di hadapan orang lain. Dan dia memang sembilan puluh sembilan persen tidak bisa dipercaya.


Begitulah pikirnya.


Hingga saat dia mulai tenggelam dalam pesona Axelo di pagi hari, dia pun dengan segera melepas semua pemikirannya itu, dan tak ingin lagi memikirkan keindahan palsu yang ditunjukkan oleh Axelo lagi.


Mengingat dia sudah mendapat pucuk dari kepercayaannya terhadap Axelo, dan sekarang, dia telah menanggung semuanya seorang diri. Bukankah dia sudah cukup dibuat sengsara oleh pria itu?


Mengapa dia malah mengagumi sosok Axelo pagi ini?


Ia tak mau terlalu larut dalam buaian kehangatan pagi hari di dalam pelukan Axelo, hingga akhirnya dia mulai dengan perlahan melepaskan pelukan Axelo yang sangat menghangatkan itu pada tubuhnya, dan secara perlahan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Axelo di atas ranjang seorang diri dalam tidur lelapnya.


Syurrrrrrr


Aktivitas pertama pagi ini sudah dia mulai. Di awali dengan bangun pagi-pagi, lalu kemudian mengguyur tubuhnya di bawah guyuran shower dengan air hangat yang siap memanjakan sekujur tubuhnya.


Hahhh!


Sekujur tubuhnya menjadi ringan seperti kapas. Pikirannya berubah menjadi lebih tenang, apalagi saat dia memejamkan kedua matanya menikmati setiap aliran air yang menetes mengguyur tubuhnya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


Tubuhnya yang indah, memiliki lekukan yang khas, dengan bagian dadanya yang sintal, apalagi lembah asri miliknya yang ditumbuhi oleh sedikit rerumputan subur itu, dia memang sangat menggoda.


Pantas saja saat Axelo pertama kali melihat tubuhnya, dia langsung mengacuhkan Sheilin yang sudah dia kencani sejak bertahun-tahun silam.


Namun tak bisa dipungkiri, bukan hanya keindahan tubuh Valesha saja yang membuat Axelo tidak bisa secepat itu melepas Valesha, tentu saja dendam itu masih ada mengiringi langkah kakinya menjalani kehidupan rumah tangga bersama Valesha.


Dia menyukai tubuh Valesha, tapi dia juga membenci apa yang ada dalam kehidupan Valesha. Dua pemikiran yang sangat sulit untuk dipecahkan.


Tak tahu juga apa mungkin suatu hari nanti Axelo tidak akan terjebak dalam penjara cintanya sendiri. Karena yang pasti, ujian percintaan itu pasti ada, tidak bisa ditebak.


*Hahh*!


*Entah bagaimana aku akan melalui setiap hariku dengan seperti ini, sudah pulang ke rumah ayah, aku malah tidak tega melihat ayah yang sangat senang dengan kehadiran Axelo*.


*Salahku mengapa dulu aku mencintai pria itu, bahkan sampai sekarang pun aku masih mencintai dia, aku memang salah, oh Tuhan, bagaimana aku bisa meredamkan dendam Axelo terhadap keluargaku*?


*Bagaimana aku bisa lepas dari jerat dendam dalam pernikahan ini*?


*Aku tidak bisa lagi, aku tidak mau di setiap hariku hanya memikirkan betapa kejamnya Axelo memperlakukan aku*.


*Tapi aku juga tidak bisa memungkiri, dia sangat baik akhir-akhir ini, entah karena sedang menjebak ku, atau dia memang tulus melakukan semua itu untukku*..


Ia termenung. Membayangkan betapa indahnya percintaan mereka dahulu kala sebelum akhirnya Valesha tahu semua yang diinginkan oleh Axelo hanya untuk menghancurkan keluarganya sendiri.


Dia sangat bahagia menjalin asmara dengan Axelo, pria idaman semua wanita di kota, bahkan mungkin menjadi pria idaman di seluruh dunia.

__ADS_1


Tapi lihat saja, dari sekian banyak wanita, dia lah yang beruntung mendapat jabatan sebagai istri sah sosok Axelo Devandra Wicaksono.


Sayang sekali, bayangan semua orang tentang dirinya sebagai wanita paling beruntung dan hidup dengan sangat bahagia, rupanya hanya sebuah dugaan semata. Ia bahkan tidak pernah merasa bahagia seperti yang mereka katakan.


****Flashback on****


Gadis itu tengah berjalan masuk ke dalam kampus besar tempat dimana dia menjadi mahasiswa terbaik tahun ini di sana.


Ia sering mendapat penghargaan, dengan nilai yang cukup tinggi, dan sikapnya yang terpandang baik di sana, dia memang seringkali mendapat penghargaan sebagai mahasiswa terbaik, dan untuk tahun ini, dia pun kembali meraih gelar tersebut.


Ia tampak sangat cantik dan juga polos, dengan kacamata bulat yang tersemat di kedua matanya, menambah cantik penampilannya, serta lebih terlihat jenius.


Ugh!


Lucu sekali mendengar kata jenius itu.


Tapi memang benar, dia juga lulus menjadi salah satu mahasiswa dengan nilai terbaik pada saat itu, ya, kiranya kelulusannya itu terjadi sekitar beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Axelo.


Dia tampak berjalan dengan membawa satu tumpukan besar buku-buku dalam kedua tangannya. Dia berjalan terburu-buru, bahkan sampai tidak melihat ada tangga di depan kakinya.


Bruk!


"Auw!"


Ia terjatuh saat salah satu kakinya tidak sengaja tersandung anak tangga tempat menuju ke dalam kampus..


Semua buku-buku di tangannya jatuh berserakan, jatuh di mana-mana, sampai dia sendiri bingung bagaimana akan memungutnya. Dia memang terlalu banyak membawa buku.


"Huh! kenapa harus jatuh segala?"


Gumamnya dengan ketus, agaknya dia kesal semua buku-buku di tangannya jatuh seperti itu. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan siapapun di sini, mengingat dia jatuh juga bukan karena orang lain, melainkan karena kelalaiannya sendiri.


Dengan kesal dia pun memungut semua buku-buku yang berserakan miliknya itu. Meski rasanya memang sangat malas. Apa boleh buat..


Hingga beberapa detik telah berlalu, dan dia masih saja disibukkan dengan memungut semua buku-buku miliknya satu per satu.


Sampai pada akhirnya, dia melihat satu pasang sepatu dengan Kilauan yang terlalu mengkilat baginya, sepatu berwarna hitam yang dikenakan oleh sepasang kaki yang jenjang, mungkin jika diukur panjang kaki itu bisa sampai satu meter lebih.


Itu masih kemungkinan.


Dia yang pada saat itu masih cupu, tidak terlalu tertarik dengan sepatu pria, meskipun sang pemilik kaki itu pastinya adalah pria yang tampan.


Ia tak peduli, hanya sekilas membenarkan kacamata di wajahnya, dan kemudian menyelesaikan acara memungut bukunya dengan segera..


"Huhh! menyebalkan sekali." Gumamnya dengan lirih, dia tak tahu kalau gelagatnya tengah diawasi oleh seseorang yang sangat tampan.


Pria tampan itu terlihat mengenakan kacamata hitamnya, dengan setelan berwarna senada, dipadupadankan dengan rambut yang ditata bak dosen killer namun, satu hal yang perlu diketahui, dia terlihat sangat tampan dengan penampilan semacam itu.


Semua gadis berkerumun, hanya Valesha saja yang tidak tahu kalau dirinya saat itu tengah diawasi oleh pria itu. Agaknya dia memang terlalu polos.


Hingga saat dia menyadari kalau semua gadis terlihat berkerumun mengelilingi dirinya dari kejauhan, dia baru tahu, ada yang tidak beres di sini.


Ia melihat kembali ke arah sisa-sisa bukunya yang masih saja ada di atas tanah. Namun dia tertegun pun juga terkejut saat melihat sosok pria yang bercahaya tampak memungut sisa-sisa buku miliknya itu.


Dia tertegun dengan sesaat, memandangi wajah itu dengan tatapan kekaguman, namun tentu saja, dia tidak bisa melakukan apapun selain diam dengan rona wajahnya yang entah mengapa berubah menjadi merah seperti ceri.


Dia melihat pemuda itu sampai akhirnya pemuda itu memberikan buku-buku miliknya kepadanya.


Menyodorkan buku ke arah Valesha.


"Lain kali hati-hati kalau jalan." Ucap pria itu sambil mengarahkan wajahnya ke hadapan Valesha.


Tentu saja yang dilakukan oleh Valesha pada saat itu hanya terdiam membisu. Dia tak pernah sangat dekat dengan seorang pria sampai seperti ini, apalagi sampai berpacaran dan jatuh cinta, tentu saja situasi yang rumit ini membuat dirinya tidak bisa berkata-kata lagi bagaimana menggambarkan suasana hatinya yang sangat gugup.


Ia pun menerima buku-buku miliknya itu dari tangan pria tadi, dan kemudian melongo sampai pria itu terlihat mulai berjalan masuk ke dalam kampus miliknya.


Semua mata menatap ke arah pria itu, mau gadis mau laki-laki, semua mata tetap menuju ke arahnya, menatapi sosok yang sangat tampan itu masuk ke dalam kampus.


Tak terkecuali Valesha, yang juga menatapi pria itu sembari membangkitkan tubuhnya menjadi tegak berdiri.


Pada saat itu hanya sekedar penasaran yang dia pikirkan. Dia tidak memiliki pemikiran lain selain itu.


Ia pun hanya kembali bersikap acuh saja dan mulai memasuki kampusnya dengan seperti biasa.


Dia memang anak seorang pengusaha kaya yang lumpuh, jika kebanyakan putri dari pengusaha kaya pasti berpenampilan cantik dan elegan, memiliki kehidupan yang serba mewah dan bergaya seperti putri dongeng yang dikawal banyak perketatan dari berbagai sisi.


Berbeda dengan Valesha yang lebih memilih hidup apa adanya, kemana saja hanya mengandalkan kedua kakinya dan juga keberaniannya saja, tak bergantung pada kawalan bodyguard seperti yang dilihat pada komik-komik atau mungkin cerita putri dongeng kebanyakan. Dia memang unik.


Dia pun mulai berjalan masuk ke dalam kelasnya masih dengan membawa buku-buku itu.


Ia terduduk di kursinya, dan kemudian kelas pun dengan segera di mulai.


"Dengar-dengar hari ini ada dosen tamu yang akan datang di kelas kita, aku yakin dia pasti tipe dosen killer," ucap salah satu gadis di bangku yang tak jauh dari tempat Valesha terduduk.


Valesha tak begitu mendengar ucapan mereka, mungkin ada sedikit yang masuk mengenai dosen tamu di kelasnya, tapi selebihnya dia benar-benar tidak mendengar apapun lagi.


Ia hanya kembali fokus pada sebuah buku yang berada di tumpukkan paling atas, lalu kemudian mulai membacanya sembari menunggu kedatangan dosen ke kelasnya.


"Selamat siang semuanya.."

__ADS_1


Jlger!


*Suara itu*..


Valesha begitu tertegun saat mendengar suara dalam yang khas dengan serak-serak basah nya itu.


Seketika dia mendongak, menatap siapa pula yang hadir menjadi dosen tamu di dalam kelasnya itu, hingga akhirnya dia pun kembali dibuat terkejut dengan sosok pria yang berdiri di depan.


*A? pria itu*?


Gumam benaknya yang tidak menduga kalau pria yang membantunya di depan tadi rupanya juga masuk ke dalam kelasnya menjadi dosen tamu hari ini.


"Duh, dosennya ganteng banget." Puji salah seorang gadis dengan gumaman lirihnya..


Seketika semua gadis di dalam ruangan itu pun ikut menyahut. Semua gadis memang tidak bisa tahan melihat pemandangan menakjubkan seperti itu.


Huhhh!


Namun dia pun hanya kembali acuh, menganggap semuanya tidak pernah terjadi apa-apa, ya, mencoba membuat semuanya lebih baik-baik saja.


Tak lama setelah itu, kelas pun dimulai. Semuanya menjadi lebih tenang, dan sekarang, Valesha pun hanya bisa mengikuti kelas di sana dengan tenang dan diam.


Sudah lima jam berlalu, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, kelas sudah berkahir beberapa detik yang lalu.


Dan sekarang Valesha juga mulai terlihat keluar dari kelasnya masih dengan tumpukan buku-buku di tangannya.


Dia acuh saja pada setiap orang, bukan karena dia tak punya teman, dia memang terlihat lebih nyaman seorang diri.


"Valesh, mau numpang tidak?"


Tawar seorang teman gadis pada Valesha. Senyuman di bibirnya tampak lebar sekali seperti samudera yang membentang dengan sangat luas.


Mungkinkah dia teman baik Valesha? atau mungkin saja Valesha tidak pernah punya teman baik?


"A? tidak perlu, aku akan minta Pak sopir menjemputku." Jawab Valesha dengan sangat ramah. Agaknya dia tipe gadis yang tidak mau merepotkan orang lain.


Ia pun juga mengimbuhkan senyuman di bibirnya, meski senyuman itu tidak selebar senyuman di bibir teman kampusnya itu.


"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang, kau berhati-hati lah, ini sudah petang, jangan sampai terlalu malam ya, pulangnya, bye!" ucap gadis itu dengan sikap manisnya.


"Dasar kau," jawab Valesha dengan singkatnya. Dia terlihat gadis yang tidak banyak bicara saat itu.


Gadis yang menawarkan tumpangan padanya itu akhirnya mulai terlihat bergerak dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kampus.


Sementara Valesha malah kembali sibuk menghubungi sopirnya untuk datang menjemput.


Bip!


"Hallo? kau dimana, pak? aku sudah keluar kampus." Ucap Valesha sembari melirik kanan dan kiri memastikan dimana kiranya keberadaan sopirnya berada.


"*Hallo, maaf, Nona! sepertinya saya akan terlambat menjemput nona, ban mobilnya mendadak pecah, dan sekarang saya sedang berada di bengkel, agaknya akan terlambat menjemput nona*."


Jawab dari seberang sungguh diluar dugaan Valesha.


"Oh? begitu, baiklah tidak perlu cemas, setelah berhasil diperbaiki pulang saja, aku akan naik taksi untuk pulang." Jawab Valesha..


"*A? tidak-tidak, tunggu saja di sana, saya pasti akan segera menjemput nona, hey! tolong lebih dipercepat lagi kerjanya, nona ku sedang di kampus sendirian! jangan terlalu lama hanya untuk membereskan ban yang pecah itu*!"


Terdengar suara Omelan yang semrawut di seberang sana. Mungkin sudah terjadi tragedi mengerikan dari supirnya dengan tukang bengkel itu.


Entahlah.


"Huhh! pak, jangan khawatir, aku bisa pulang sendiri, kau santai saja, tak perlu risau."


"*Tapi, nona! nona*!"


Bip!


Valesha memutuskan untuk tidak meladeni pak sopirnya itu lagi, dan mulai melihat ke sekelilingnya lagi apa mungkin masih ada taksi yang lewat di jam segini.


Namun sejauh mata memandang, tidak ada kendaraan yang melalui jalanan depan kampusnya, hanya rombongan mahasiswa di kampusnya saja yang mulai terlihat memenuhi jalanan di sana.


Dia malah jadi bingung sendiri, bagaimana dia akan pulang. Apa mungkin dia akan jalan kaki?


"Sedang apa kau di sini?"


"A?"


Dan untuk yang ke sekian kalinya, Valesha kembali dibuat terkejut dengan suara yang sama, dan mungkin, agaknya dari pria yang sama pula.


Ia lekas menoleh, dengan perasaan gugupnya yang lumrah akan dilami oleh siapapun juga.


Dan benar saja, saat dia membalikan badan ke belakang, dia melihat sosok pria itu lagi tengah berdiri dengan dua pria bodyguard di belakangnya. Pria ini pasti bukan pria sembarangan.


"A? Tu-tuan Axelo?"


Dia tahu nama itu karena sebelumnya Axelo memperkenalkan diri di dalam kelasnya.


"Kau masih ingat namaku rupanya." Tersenyum senang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2