Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Mendekati Neil


__ADS_3

Bruk!


Seseorang terlihat ambruk di depan Neil dengan wajah yang sedikit memperihatinkan.


Wanita itu bahkan tampak urak-urakan tidak jelas dengan tangisan yang berderai di pipinya dengan mengerikan.


Ia menatap ke arah lantai, dimana wanita itu tengah menangis tersedu-sedu. Hatinya terasa tidak tega melihat wanita ini menangis, bahkan dia ikut merasa iba pada wanita ini.


Dia pun segera meraih tubuh wanita yang tengah ambruk di atas lantai rumahnya itu, dan kemudian segera memapahnya untuk bangkit.


"Bangunlah, kemari, jangan terus menangis."


"Terima kasih." Menyunggingkan senyuman, yang bahkan secara samar dan tidak disadari oleh Neil.


Terduduk di atas sofa.


"Jelaskan padaku, apa yang terjadi padamu?" tanya Neil setelah meletakkan secangkir kopi di atas meja, untuk tamu kejutan dia malam ini.


Hiks.. hiks..


Dia terlihat menangis. Wanita yang sudah pandai bersandiwara sejak awal itu mulai mengeluarkan air mata buaya di depan Neil, berharap pria di depannya ini merasa kasihan.


Namun rupanya memang benar hal itu terjadi. Melihat tangisan menyedihkan dari Sheilin di depannya membuat Neil seketika merasa kasihan.


Dia pun lekas mendekat ke arah Sheilin dan beralih memeluk tubuh wanita itu.


"Kenapa kamu malah menangis? katakan dengan jelas apa yang terjadi, kemarilah, tenangkan dirimu."


Neil menggapai tubuh kurus dan kering di depannya dengan cemas yang teramat sangat.


Sekarang dia bahkan terlihat gemetar pada sekujur tubuhnya menanggapi apa yang tengah terjadi pada wanita dalam pelukannya itu.


"Sheilin, cobalah menjawab, jangan menangis terus."


Pria itu terlihat memaksa Sheilin untuk bicara, meski pada saat itu, Sheilin masih saja terus terdiam dan terisak dalam dekapan tangan Neil.


"Neil, apa kamu tidak dengar soal berita miring di televisi tentang aku?" tanya Sheilin mencoba untuk menyeka air mata palsunya.


"Um? berita miring? soal apa?" tanya Neil agaknya dia masih tidak mengetahui apapun tentang berita yang tengah ramai diperbincangkan itu.


"Neil, seseorang menuduh aku, ada orang yang menyebar luaskan video yang mirip seperti aku, tapi aku, aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun, hiks hiks.."

__ADS_1


"Apa? apa maksud kamu?" tanya Neil masih saja tidak mengerti dengan perkataan dari Sheilin.


"Neil, bukannya dia membantah tuduhan itu, tapi dia malah membuat berita palsu tentang pernikahan kami, semua itu demi menyelamatkan karirnya, aku harus bagaimana?"


Kali ini Neil mulai mengerti apa yang tengah dipermasalahkan oleh Sheilin. Meski dia masih belum tahu siapa pria yang dimaksud oleh Sheilin, tapi dari perkataan Sheilin barusan jelas sekali mengatakan kalau dia terjebak bersama seorang pria licik.


"Katakan siapa dia!" wajah Neil mendadak berubah menjadi marah..


Entah bagaimana bisa pria yang satu ini tampak begitu marahnya saat menyadari apa yang terjadi pada Sheilin.


Entah dia yang terlalu perhatian pada wanita ini, demi alasan persahabatan, atau mungkin, dia pernah punya cerita lain dalam hidupnya bersama Sheilin.


"Apa dia Axelo? ia orangnya?" tanya Neil dengan geram di depan wajah Sheilin.


Wajah Sheilin dia genggam dengan geram, bukan geram pada si pemilik wajah mungil itu, tapi geram pada siapa pelaku yang sudah menghancurkan Sheilin.


Sheilin terdiam membisu. Bibirnya bergetar hebat, dengan kedua mata yang sudah mulai terlihat memerah hendak kembali menangis.


Namun pria di depannya terus menekan dirinya, seakan dia tidak boleh menangis untuk saat itu, dan lebih dari itu, dia tidak boleh untuk tidak menjawab pertanyaan dari Neil.


"Katakan, Sheilin! siapa pria itu?"


"Dia..."


"Maafkan aku, aku sungguh tidak tahu siapa pelakunya, tapi aku janji akan membongkar semuanya, aku berjanji."


Seseorang terlihat tengah bermanja di dalam pangkuan Valesha dengan wajah penuh penyesalan.


Ia yang lelah, dengan perjalanan seharian yang melelahkan. Sekujur tubuh terasa penat, bahkan seperti semua tulang rusuknya patah berhamburan dengan menyakitkan.


Namun entah demi apa dia bisa menyusul sang istri dengan perjalanan yang sangat melelahkan.


Ia bahkan tampak tidak baik-baik saja saat melihat wajah istrinya masih kusut seperti kain pel yang habis pakai.


Dia menggapai dagu sang istri, dan kemudian menundukkan wajah istrinya sampai berhadapan dengan kedua matanya.


"Aku harap kamu tidak salah menuduh, aku bisa memastikan bukan aku pelakunya."


"Apa aku masih harus mempercayai seorang penipu? sudah berulang kali aku percaya pada penipu, dan hasilnya, memang aku yang terlalu bodoh." Jawab Valesha dengan kecewa, "kamu pikir kamu bisa membuat aku kembali percaya padamu? tidak Axelo! sejak kamu menciptakan tragedi di malam pertama kita, aku sudah tidak pernah lagi mempercayai kamu!"


"Menyingkir dari pangkuanku! aku mau ke rumah sakit lagi!"

__ADS_1


Valesha tidak menyingkirkan kepala Axelo dari kedua kakinya, hanya terlihat dia yang mulai beralih dari posisinya dan kemudian secara perlahan membuat kepala Axelo beralih.


Dia pun lekas bangkit dari duduknya. Dia bergegas pergi dari ranjang kamar Axelo, dan kemudian membuka pintu.


Cklek!


"Kak.."


Tertegun.


Sejenak suasana senyap tidak bersuara.


"Um, kau sudah berbaikan dengan kakak?" tanya Ashkan yang mendadak bisa ada di sana, kembali membuat Valesha terkejut.


"Heng! kalian ini seperti hantu, ya, bisa pergi kemana saja aku pergi, kenapa tidak sekalian antar aku ke rumah sakit saja?" ucap Valesha kesal menyadari kedua pria ini memang berusaha untuk menguntitnya.


"Dia datang untuk menjelaskan hal yang sama seperti aku barusan, tapi dia punya lebih banyak bukti yang bisa meyakinkan dirimu."


Terlihat Axelo yang kembali berbicara, namun kali ini dia juga bangun dari posisi berbaringnya.


Ia mengenakan kaus polos lengan panjang berwarna hitam, dengan celana berwarna senada. Rambutnya yang tertata dengan rapi menambah penampilannya menjadi semakin memukau dan mempesona.


Dia memang terlihat lebih dewasa.


"Apa aku harus kembali mendengar omong kosong lagi? setengah jam aku mendengar omong kosong dari mulut kamu Axelo, dan sekarang kau ingin menambah durasi waktu untuk adikmu? kamu pikir aku ini punya kesabaran di atas rata-rata? ck, aku mau pergi! menyingkir!!"


Terlihat Valesha yang menyingkirkan Ashkan yang tengah berdiri menghalangi pintu.


Ashkan hanya bisa mengalah pasrah. Dia kemudian terlihat menyingkir dari posisi berdirinya dan membiarkan Valesha pergi dari sana.


Tentu saja Axelo jadi kesal sekarang. Sekuat tenaga dia mencoba mempertahankan Valesha di rumah ini, dan ternyata, sekarang malah adiknya dengan mudah melepaskan wanita itu begitu saja.


Dan wanita itu pun akhirnya berlalu pergi.


"Arkh! kau ini! kenapa tidak menghalau dia? kenapa tidak mencegat dia??" tanya Axelo dengan geram.


Sementara wajah polos yang tampak tak sadar dosa itu terlihat mengedipkan mata, memasang ekspresi tidak tahu apapun.


"Um? apa katamu? memangnya aku harus apa?" tanya Ashkan, entah memang polos, atau sedang berpura-pura tidak tahu apapun.


"Seharusnya kamu jangan biarkan dia pergi!!"

__ADS_1


"Sejak kapan kamu begitu peduli?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2