Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Axelo, Kaukah Itu?


__ADS_3

Tatapan mata Axelo menjadi sedikit lebih dalam. Dia tidak berhenti meskipun setelah Valesha menyindirnya dengan ucapan-ucapan yang sungguh sangatlah menyakitkan.


Alih-alih dia merasa malu mendengar sindiran halus dari istrinya, dia malah semakin dalam memeluk Valesha dalam dekapan tangannya, dan kemudian mengunci tubuh Valesha dalam pelukan hangatnya.


"Ugh.."


Dia bahkan mengeluarkan suara nakalnya di hadapan Valesha, meski dia tahu betapa Valesha merasa muak dengan suaranya itu. Entah mengapa dia bahkan tidak punya rasa malu sama sekali.


"Bukannya tahu malu, kamu malah semakin keras memaksaku, dasar pria tidak..."


Cup!


"Uhm.."


Namun seperti biasa, belum sempat Valesha melanjutkan ucapannya, pria itu sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan kecupan halus dan juga lembut, yang terkadang juga bisa menjadi liar dan tidak terkendali.


Pria itu bahkan semakin menjeratnya dengan pesona ciumannya yang memang sudah sangat ahli. Dia memang tidak bisa dibandingkan dengan pria manapun, pesonanya yang menggugah selera, membuat mata terpana, dan juga membuat hati siapapun tergoda dibuatnya.


Termasuk Valesha, yang hanya bisa mengalah dan diam saja disaat pria ini terus menggodanya, padahal dia tahu, pria ini tidak menyentuhnya karena cinta, melainkan hanya pelampiasan semata.


"Ugh.."


Lantas bagaimanakah jika suatu hari nanti Valesha kembali tersakiti untuk yang kedua kalinya? Apa Axelo akan dengan senang hati mengobati luka hati Valesha? Atau pria itu, malah akan semakin dalam menjatuhkan Valesha, dan kemudian tertawa dengan puas di atas penderitaan Valesha?


Sedangkan kehancuran Valesha semuanya adalah diakibatkan oleh Axelo, hanya pria itu yang menjadi biang keroknya. Lalu apakah Valesha rela melakukan semua itu, sedangkan dia sendiri tahu semakin dia hanyut dalam cinta Axelo, dan dimabukkan oleh pesona tubuh Axelo, dia sendiri yang akan merasa sangat hancur di kemudian hari?


Namun sekali lagi dia sungguh tidak bisa menolak. Antara dirinya yang lemah, juga Axelo yang terlalu kuat baginya, untuk dia hadapi.


Kini sama seperti hari kemarin, sama seperti tadi malam yang harus dia habiskan juga bersama Axelo, dan juga harus mengalah karena tak mampu, dia pun melakukannya, tidak bergeming dari kecupan Axelo, tapi juga tidak bisa menikmati kecupan itu.


Pada saat itu, sesekali Valesha tersadar. Terbuka kedua matanya menatap ke arah wajah Axelo yang sangat menakutkan, yang menyiratkan sebuah kekejaman, pembunuh berdarah dingin, dan lelaki pendendam yang sangat luar biasa kekuasaannya.


Ia menatap kedua mata pria yang masih terpejam itu, lalu mendorong tubuh Axelo dengan sebisanya, mencoba menjauhkan posisi pria ini dari posisinya sekarang.


Dan akhirnya kecupan mereka pun bisa terlepas.


Axelo memandangi kedua matanya yang tidak bisa berkata-kata, juga tidak bisa berekspresi. Sejauh ini memang hanya terlihat rasa marah dan kesal pada sorot mata Valesha itu.


"Kau menolakku lagi," ucap Axelo pada Valesha.


Wanita itu tidak menjawab dengan satu patah katapun. Dia hanya terlihat memalingkan wajahnya dan kemudian melangkah pergi menuju ke area meja makan.


Axelo hanya bisa diam sambil membuntuti sang istri sampai ke meja makan. Dia sendiri tidak tahu mengapa dia tidak bisa menjawab pertanyaan terkahir dari Valesha itu, entah mengapa, dia dibuat lemah dengan pertanyaan dari Valesha.


Ia hanya bisa terduduk di kursi makannya, juga harus berjauhan dari sosok istrinya. Sementara adik kandungnya juga terlihat menyusul mereka ke meja makan, makan malam pertama bersama pun terjadi.


Tidak dengan kehangatan, juga tidak dengan riang gembira, atau mungkin kebahagiaan, yang ada hanya rasa dingin dan tatapan seperti malam yang menusuk.


Mereka hanya makan tanpa berbicara, sikap pendiam dari kedua kakak adik itu memang terasa sangat membosankan, tapi lebih jenuh lagi adalah, karena Valesha yang juga tidak sehangat dulu lagi.


Tidak sperti saat mereka masih dalam masa pacaran. Entah mengapa lukisan kenangan di masa lalu kembali terngiang di otak Valesha, juga di otak Axelo dengan bersamaan.


Keduanya melalui hari-hari mereka dengan sangat menggembirakan. Senyuman yang merekah dimana-mana, sikap manja dan suka merajuk yang seringkali juga dilakukan oleh Valesha, entah mengapa seakan lama sekali hal itu tidak terjadi.


Padahal kiranya baru beberapa Minggu pernikahan mereka terjadi, tapi rasanya sikap dingin dari keduanya membuat pernikahan ini terasa berjalan lebih lambat.


Mereka juga makan dengan biasa saja. Sikap dingin dan acuh dari kedua kakak beradik itu juga dilakukan oleh Valesha pada mereka berdua. Entah sampai kapan pemandangan buruk ini akan terjadi, mungkin saja, selamanya, atau mungkin, setelah Axelo berhasil membalas dendam untuk mendiang ayahnya.


"Hem." Suara Ashkan membuat suasana sedikit mencair.


Tidak seperti sebelumnya yang sedingin es juga seperti kutub Utara yang beku.


"Kak, apa kau menambahkan saus tomat pada dagingnya? Rasanya enak sekali.." ucap Ashkan, agaknya dia juga merasa situasi kali ini benar-benar canggung.

__ADS_1


Valesha hanya sekilas menatap Ashkan, lalu beralih lagi dia ke arah makanan di atas piring sajinya. Satu irisan daging besar yang kemudian sedikit lagi akan dia habiskan.


Sengaja dia mempercepat makannya, ingin sekali cepat selesai dan kemudian bisa tertidur dengan nyenyak di atas ranjangnya yang dingin, semoga saja Axelo nanti tidak menyusulnya ke kamarnya. Hanya itu harapannya malam ini.


"Tidak!" Jawab Valesha dengan singkat.


Rasa dingin itu semakin jelas tertangkap oleh indera perasa milik Axelo. Ia menatap dingin istrinya, dan kemudian tersenyum sembari membelai lembut tangan Valesha.


"A?"


Sentuhan halus itu membuat bulu kuduk Valesha seketika meremang, meski mereka masih berada di dalam ruang makan. Namun agaknya Axelo memang pria yang bisa menggoda iman wanita manapun, juga ditempat manapun itu.


Seakan tak peduli kalau di sekitar mereka masih ada manusia lain yang tengah melihat tingkah lakunya itu, atau mungkin dia tahu, hanya saja, dia tak terlalu peduli.


Namun Valesha segera tersadar. Dia menatap ke arah Ashkan, dan mendapati wajah tidak enak dari Ashkan pada mereka berdua, agaknya bertahan dalam situasi seperti ini akan menjadikan situasi semakin terasa canggung.


Ia tak berpikir panjang, langsung saja dia mundur dan menjauhkan tangan yang tengah menjadi mainan Axelo itu, tidak ingin rasanya berada terlalu lama berada dalam situasi yang aneh semacam ini.


"Kenapa? Kau mau menjauh dariku?" Tanya Axelo langsung pada Valesha, bahkan tanpa adanya basa-basi.


Dan seketika hal itu membuat mood mereka bertiga jadi hilang. Ketiga orang itu pun hanya saling diam dan tidak lagi berbicara satu sama lainnya.


Melihat suasana yang semakin buruk, Valesha akhirnya memilih untuk mengalah. Sendok dan garpu yang ada di tangannya dia letakkan saja di atas meja makan, dan tangannya dia turunkan dari atas meja.


"Maaf, aku lelah, aku ingin tidur." Ucap Valesha berpikir bisa berpamitan dengan mudah pada Axelo.


Dia pun segera beranjak dari duduknya, dan berniat untuk pergi ke kamar tidurnya. Tapi tangan itu mendadak menghentikan langkah kakinya lagi.


Hap!


Benar saja, Valesha akhirnya berhenti juga. Dia tidak bergeming dari tempatnya, hanya bisa mematung dan tidak pula menoleh ke arah pemilik tangan yang mencegatnya itu.


"Sudah aku bilang aku tidak suka makan sendirian setelah punya istri." Ucap Axelo dengan nada yang sangat dingin, namun juga sangat menusuk.


"Hai, sayang..."


Mendadak suara itu terdengar mulai mendekat. Rupanya ada orang tidak diundang yang datang setelah malam menjelang, dan kedatangan orang itu sangat mengganggu situasi tersebut.


Namun hal itu malah jadi keberuntungan bagi Valesha. Wanita itu akhirnya bisa melepaskan jeratan tangan Axelo darinya, dan kemudian memiliki alasan lain untuk pergi dari sana.


"Nyonya besar sudah datang, aku tidak pantas lagi duduk di sini." Ucap Valesha dengan lirih.


Dia pun akhirnya berhasil lepas juga dari jeratan Axelo, dan segera saja dia pergi meninggalkan mereka semua di meja makan, juga membiarkan kehadiran Sheilin untuk menemani suaminya menghabiskan makan malamnya.


"Kamu ngapain dari situ?" Tanya Sheilin dengan ketus. Dia bahkan tidak tahu kalau Valesha baru saja menjadi tokoh utama dalam drama meja makan itu.


Valesha tidak menjawab satu patah katapun dari Sheilin. Dia hanya berakhir mengacuhkan Sheilin dan bergegas menuju ke arah kamarnya.


"Idieh, kenapa dia seperti itu? Dasar wanita jal\*ng." Umpat Sheilin seketika masuk ke dalam telinga Valesha. Dan suara menjijikan itu lekas membuat Valesha berhenti bergerak.


Dia menoleh dengan malas ke arah Sheilin, dan kemudian menatap kedua mata wanita itu dengan sorot mata dingin.


"Jal\*ng teriak jal\*ng, dasar aneh!" Ucap Valesha, sedikit, tapi sangat mengenai hati Sheilin.


Wanita itu pun berhasil membuat Sheilin merasa geram.


"Dasar wanita kampung!!"


Di sisi lain, Ashkan tampak menahan tawanya yang seakan ingin meledak. Namun dia memang tipe manusia yang tidak mudah tersenyum, apalagi untuk tertawa. Kali ini dia bahkan membuktikan kalau Valesha bukan gadis biasa.


Sheilin bergerak menuju ke arah tempat duduk Axelo, setelah ditinggal pergi dengan acuhnya oleh sosok Valesha.


Dia kemudian berlendot pada pangkuan Axelo tanpa melihat ekspresi Axelo yang merasa jenuh dengan kehadirannya itu.

__ADS_1


"Sayang, kamu dengar itu, kan? Dia makin lama makin jahat sama aku, tolong aku.." ucap Sheilin tentunya dengan wajah manja yang sangat memuakkan.


Melihat situasi yang lagi dan lagi semakin terasa rumit, Ashkan pun pada akhirnya juga meletakkan sendok dan garpunya di atas meja, lalu dengan bergegas dia berdiri dari duduknya.


"Maaf, kak, aku sudah kenyang, silahkan habiskan makanan kakak, aku pamit pergi." Ucap Ashkan sembari menunduk memberi hormat.


Ingin rasanya Axelo menghentikan langkah kaki adiknya itu, dan menarik paksa Ashkan untuk duduk, lalu dia ikat saja seluruh tubuh Ashkan dengan seutas tali supaya adik kandungnya itu tidak bisa pergi.


Namun dia tak bisa, rasanya semuanya membeku, apalagi sekarang tubuh lima puluh kilo milik Sheilin sudah menindih kedua pahanya, dan membuat dirinya terjebak dalam posisi sulit antara bertahan tapi berat, atau lari tapi dia tidak bisa.


*Dasar orang-orang tidak tahu diri*..


Umpatnya dalam hati, ingin sekali membuang tubuh wanita ini ke atas lantai, dan kemudian meninggalkan dirinya begitu saja. Muak sekali rasanya.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak di dalam kamarnya, bahkan sampai malam begitu larut, dan sekarang jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari, dan dia masih belum juga bisa memejamkan kedua matanya.


Dia berbalik ke sana dan kemari, berharap mendapat posisi terbaik untuk tidur malam ini. Namun bukannya mendapatkan posisi strategis untuk bermimpi dengan indah, sekarang dia malah semakin tidak bisa memejamkan kedua matanya.


Dari seberang terdengar sangat sepi. Padahal saat dia mengakhiri acara makan malam keluarga malam tadi, sudah datang Sheilin yang pastinya akan menemani Axelo menghabiskan malam ini dengan indah.


Tapi dia sungguh tidak mendengar apapun, entah suara menjijikan dan memuakkan itu, atau hanya sekedar suara perbincangan mereka berdua. Mengapa semuanya sekarang jadi sangat aneh?


Dia terdiam dan tertegun sesaat, setelah mendapati suara langkah kaki yang lirih menuju ke arah kamarnya, dan kemudian terdengar membuka pintu.


"Um?"


Dia yang semula terjaga sontak saja memejamkan kedua matanya, berpura-pura untuk tertidur dengan lelap. Lampu kamar yang dimatikan dengan sengaja, dan hanya mengandalkan cahaya penerangan dari luar ruangan memang membuat seseorang yang datang itu tidak mengetahui akan sandiwaranya itu.


Jantung Valesha sedikit bergemuruh saat suara langkah kaki itu semakin terdengar mendekat ke arahnya. Peluh dingin juga mulai menetes membasahi keningnya, sampai akhirnya, dia merasakan seseorang itu mulai menyentuh kasurnya dengan sangat perlahan.


Dia terasa semakin naik ke atas kasurnya, dan kemudian, terasa tubuh itu perlahan-lahan mulai terbaring di sampingnya, lalu kemudian memeluk tubuhnya dari arah belakang.


"Um?"


*Pelukan ini, apa ini Axelo*?


Valesha masih setia memejamkan kedua matanya. Berpura-pura untuk tidak mempedulikan kedatangan pria yang sebenarnya belum jelas wajahnya itu, tapi, pelukan itu memang tidak terlalu nyaman, tidak senyaman pelukan Axelo padanya.


Makin lama pelukan itu pun semakin terasa semakin aneh. Tangan pria itu makin nakal menggerayangi sekitar tubuhnya. Pria itu juga terasa menyelipkan tangannya pada area belahan dadanya, dan hal itu semakin membuat Valesha merasa ada yang tidak beres.


Ia yang mulai terganggu itu pun hanya bisa berpura-pura menjauh dari pria itu, mulai bersikap waspada terhadap sesuatu yang bisa saja akan datang kepadanya. Meski sebenarnya sentuhan tangan itu, entah mengapa dia tidak yakin kalau itu milik tangan Axelo.


"Ugh.."


Saat suara itu terdengar membisik pada telinga kirinya, sontak dia membuka kedua matanya, menatap dengan was-was ruang kosong dan gelap di depannya, dan mulai yakin kalau pria itu bukanlah Axelo.


Ia kemudian menangkap tangan pria itu dengan satu tangannya, saat dengan perlahan sentuhan pria itu mulai nakal mengarah pada dua bola kenyal miliknya.


Ia langsung berbalik menatap ke arah wajah pria di belakangnya. Senyum seringai terlihat mengarah kepadanya, dengan wajah gelap tak terkena cahaya apapun di sana.


Pria itu menatap dengan tajam seperti seorang pembunuh, lalu.


"Hallo, sayang.."


Aaaaaaaaaaa


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2