Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Aksi Kejar-kejaran


__ADS_3

Vroooooommmmmm


Suara mobil menderu cukup kencang tatkala aksi kejar-kejaran di jalan raya terjadi antara Ashkan dengan beberapa anak buah dokter palsu yang terus saja mengejar dirinya.


Mereka bahkan ingin adu skill menyetir dengan Ashkan, yang tentu saja tidak bisa diragukan lagi keahlian dalam menyetirnya.


Namun agaknya mereka masih belum menyadari akan hal itu, mungkin karena Ashkan yang masih belum berinisiatif untuk menunjukkan kemampuan menyetirnya di hadapan mereka.


Dia tersenyum miring, setelah melihat dua mobil yang mengejar dirinya dari belakang. Mereka tampak begitu berambisi untuk menggapai ke arahnya, agaknya dia memang berada dalam kepungan para laki-laki penuh ambisi.


"Heng! mau melawan aku? mimpi saja jika kau mau!" gumam Ashkan sampai terlihat bibirnya yang terus saja menyiratkan senyuman angkuhnya, berpikir akan dengan mudah mengalahkan para pria yang mengejar dirinya.


Namun dia tak menyadari akan ada satu hal yang mungkin bisa saja menyulitkan dirinya sendiri.


Jalanan mulai sepi, sekarang hanya ada hutan Pinus yang panjang hampir satu mil panjangnya.


Entah kenapa Ashkan malah memilih jalan sepi seperti ini, bukan karena dia ingin pamer keahlian, tapi sepertinya bermain di tempat sepi jauh lebih mengasikkan.


Satu lawan puluhan orang, huhh! apa jadinya nanti.


Beberapa orang di dalam mobil pertama terlihat mengambil sesuatu dari balik baju mereka, dan kemudian mereka mengarahkan sesuatu itu ke arah mobil Ashkan.


Dor!


Dor!!


Suara tembakan disatkan ke arah mobil Ashkan, mengenai kaca belakang mobil Ashkan, dan membuat Ashkan menghentikan senyuman di bibirnya.


"Sialan!!"


Umpat pria itu sekilas sesaat menyadari kalau mereka mulai berani mengambil alih kemenangan.


Ia tak mau terlalu larut dalam permainan yang hanya akan membuat dirinya kalah, kecuali jika dia punya peluang untuk menang, seperti, mulai menunjukkan skill menyetirnya yang tidak boleh diragukan lagi.


"Mau bermain? baiklah, mari kita bermain!!"


Dia mulai terlihat melajukan kendaraannya dengan cepat, ingin sekali mengecoh para preman kurang ajar di belakang sana. Dia tahu para preman kebiasaan hanya mengandalkan kekuatan, bukan kepintaran, kemahiran, atau lebih tepatnya otak yang cerdas.


Tentu saja berbanding terbalik dengan dirinya yang terkenal cerdas dan pandai mengatur segalanya, termasuk permainan agar dia yang akan menang mengalahkan lawannya.


Dia melajukan mobilnya menuju ke arah perbukitan, dengan tikungan yang tajam dan meliuk-liuk bak tubuh seorang gadis, itu mungkin.


Tikungan ini banyak sekali memakan korban jiwa, bahkan di pinggir jalan pun sering sekali mendapati peringatan 'Rawan kecelakaan' di sepanjang jalanan sepi dan menakutkan itu.


Jalanan itu agak terasa gelap meski waktu masih menunjukkan pukul dua siang, dan agaknya jika malam hari kondisi di jalan ini akan lebih menyeramkan lagi.


Namun agaknya Ashkan tidak memperdulikan itu. Dia rupanya telah faham betul dengan arah jalur ini, sampai-sampai tikungan setajam apapun dia berhasil melaluinya dengan mulus tanpa hambatan sedikitpun.


Dor!


Dor!


Dor!


Ia menyunggingkan senyuman, saat suara tembakan kembali terdengar lagi di kedua telinganya, kali ini berhasil memecahkan ban mobil belakang bagian kirinya.


Namun sekali lagi, dia adalah pria yang pandai, bukan, dia terlalu pandai menghadapi situasi apapun, apalagi kalau hanya seperti ini, rasanya bukan apa-apa bagi dirinya.


"Masih mau melawan? baiklah, aku kira kalian belum paham jalanan sini, ayo kita keliling untuk menikmati suasana asrinya." Gumam Ashkan lagi, dia terlalu santai menghadapi momen menarik serta menegangkan seperti ini.


"Arkh! sialan! kenapa dia masih bisa terus berjalan?" gumam pria yang mengendarai mobil di belakang Ashkan, dia terlihat geram karena meskipun anak buahnya sudah mengahncurkan satu ban mobil Ashkan, tapi rupanya pria incarannya itu malah makin asik menikmati momen seperti ini.


"Kau hubungi pak bos, bilang sama dia apa kita perlu menghabisinya atau tidak!" seru dia setelah menggumam di balik kemudi setir.


Yang satunya lagi, tepatnya yang duduk di jok bagian belakang tampak mengangguk mengerti.


Ia pun dengan cepat mengambil ponsel yang semula bersemayam di dalam saku bajunya, dan kemudian menghubungi bos besarnya yang ternyata masih terduduk rapi di restoran.

__ADS_1


"Hallo, bos! apa kita habisi dia saja? atau bagaimana?" tanya pria itu pada bosnya di seberang.


Sementara pak bos yang mereka hubungi malah tengah asik menyeruput jus jeruk di restoran itu, sembari menikmati beberapa pemandangan asik di sekitarnya.


Para wanita penghibur, dengan gundukan-gundukan indah yang menempel di dada mereka semua, dengan godaan dan kehangatan yang mereka tawarkan kepada dirinya.


"Apa kalian sudah berhasil menangkap tikus itu?" tanya pak bos sambil membuang asap rokoknya.


Mendengar pertanyaan dari bos besarnya, dia mendadak terdiam gelagapan. Dia menatapi ke sekelilingnya, dan mendapati kawan-kawan di dalam mobil itu tidak ada yang mau bertanggung jawab akan situasi yang dia ciptakan sendiri.


Ia pun hanya bisa mengelap keringatnya yang mendadak bercucuran dengan deras membasahi dahinya. Dengan perasaan yang gugup, dia pun akhirnya mengakui semua kenyataan pada bos besarnya itu.


"Be-belum bos!"


Mendengar perkataan dari anak buahnya, pak bos itu pun hanya bisa membuang mukanya dengan kesal, tidak mau lagi mengarahkan telinganya kepada ponsel miliknya itu.


Satu orang bawahannya terlihat mengambil ponsel miliknya dan kemudian mengarahkannya kepada mulut bosnya.


Pak bos yang sudah tahu hal ini sejak awal hanya bisa mengumpat di depan ponselnya itu dan menjatuhkan pria bawahannya yang berada di seberang itu dengan kata-kata umpatan yang sangat menyakitkan.


"Mati saja kau! dasar tidak berguna!!"


Bip!


Umpatan itu akhirnya berakhir bersamaan dengan nada penutup sambungan yang akhirnya terdengar pada kedua telinga pria yang ada di mobil pengejaran.


Dia pun nampak cemas. Dia memandangi semua kawan-kawannya yang juga menatap dengan kompak ke arahnya, membuat dia terasa kaku pada sekujur tubuhnya, seperti halnya lebih baik mati saja jika harus pulang dengan tidak membawa apa yang bos mereka inginkan.


"Dia yang menyuruh aku, iya kan?" tanya pria itu sambil meringis.


"Hahh! artinya kita pulang bawa dia, atau kita lebih baik mati saja." Jawab pria yang mengemudikan mobil.


Sekarang keadaan benar-benar mengancam puluhan orang di dalam mobil itu, ancaman dari pak bos yang super mengerikan, dan target yang terlalu pandai mengecoh mereka, agaknya mereka hanya akan bernasib sial saja.


Berbeda dari para pria yang tengah merasa cemas dengan hidup mereka, tampak di mobil bagian paling depan yang dikemudikan oleh Ashkan malah semakin melaju dengan kencang.


Dia bahkan tak merasa kasihan pada pria di belakang yang tidak bisa melakukan mobil mereka lebih cepat dari dia. Agaknya dia sangat antusias untuk membodohi para pria itu.


Gumam Ashkan lagi. Dia tampak semakin menggapai puncak perbukitan. Suasana di sana sangat asri, bahkan udaranya juga cukup segar.


Sayang sekali di sini sangat dingin, mungkin bisa membuat seseorang akan membeku jika tidak cocok dengan daerah dingin.


Selain itu, di perbukitan itu banyak sekali jurang yang begitu dalam hampir di seluruh tikungan. Tapi Ashkan benar-benar menyukai tantangan ini, termasuk dan terutama adalah jurang yang paling favorit baginya itu.


Dia tersenyum dengan bentuk yang sangat mengerikan. Tidak hanya kalem, tapi dia juga punya sisi lain yang sangat mengerikan.


Ia tak suka seseorang berbohong padanya, dia tak suka basa-basi, dan dia juga tidak suka seseorang bermain-main dengan dirinya, sekalinya dia mendapat tiga hal di atas, maka bersiap saja akan dihantui oleh pria penjahat tampan yang satu ini.


Mobil semakin kencang melaju ke tanjakan mengerikan, dengan tikungan yang sangat tajam dan juga sangat mengerikan, dengan keahlian yang harus berada di atas rata-rata untuk bisa melakukan aksi di jalanan ini.


Namun Ashkan sama sekali tidak merasa risau, jangankan risau, agaknya dia bahkan tidak mengenal apa kata risau itu sendiri.


Gas dipijak secara mendadak, saat dia mendapati jurang yang cukup dalam ternyata sudah tampak di depan mata. Dia mengulas senyuman mengerikannya itu lagi, dan kemudian melajukan mobilnya semakin cepat, hingga akhirnya mampu memancing dua mobil di belakang sana yang masih saja membuntuti dia.


"Mari kita lihat? sepintar apa kalian!" gumam Ashkan singkat.


Dia kemudian terlihat menginjak pedal rem, dan menghentikan kendaraannya tepat di sisi kiri badan jalan.


Namun dua mobil di belakangnya benar-benar terkejut dengan asiknya yang mendadak itu. Mereka pikir laju kendaraan Ashkan yang cepat karena jalanan di depan aman, tapi ternyata yang mereka dapati hanyalah jurang.


"Bos! itu jurang!!!!!" teriak salah satu di antara mereka.


"Bocah sialan!!"


Citttt!!!!


Sekuat tenaga pria itu menginjak pedal rem, namun terlambat, kedua ban depannya sudah melayang dan bergerak meluncur ke arah jurang.

__ADS_1


"Kita akan mati!!!!""


"Aaaaaa!!!"


Mobil terjun dari jalanan menuju ke dalam jurang yang jika dilihat dari atas tampak dipenuhi oleh bebatuan yang bersembunyi di balik rumput-rumput yang hijau dan juga licin.


Mobil pertama terjun dan akhirnya meledak dengan sangat mengerikan, menimbulkan suara yang amat memekakkan telinga mereka.


Bom!


Bom!


Bom!!


Sementara itu, Ashkan hanya bisa mengulas senyuman bahagianya karena akhirnya bisa melumpuhkan satu mobil musuhnya.


Sekarang tinggal satu mobil yang masih tertinggal di bagian belakang.


Mobil itu juga dipenuhi dengan para pria yang bersenjata sama seperti mobil yang sebelumnya. Sayang sekali, mereka tidak mengendari mobil mereka dengan kecepatan yang sama dengan mobil pertama, itu artinya, kelemahan di mobil kedua adalah pada sang sopir.


Ashkan hanya kembali mengulas senyuman, dan kemudian mulai menggerakkan mobilnya melaju lagi ke depan, sembari menunggu mobil kedua kelihatan.


Namun mobil kedua itu tampak masih dalam posisi yang lumayan jauh, dengan para pria di dalamnya yang bergaduh satu sama lainnya menyalahkan dan juga membela pak sopir awam mereka. Sesuai dugaan Ashkan, kelemahan mobil kedua ada pada sopirnya.


Namun dia tak bisa meremehkan para pria yang lain. Tampak di antara mereka ada satu yang bersiap berwajah menyeramkan, dengan senjata api yang mengisi kedua tangannya.


Ashkan akan slalu bersiap menghadapi situasi semacam ini.


Dia ambil sebuah benda yang selalu dia letakkan di penyimpanan khusus di dalam mobilnya, dan kemudian dia rakit seperti biasa ketika dia hendak melakukannya.


Sebenarnya dia hanya melakukannya beberapa bulan lalu saat dia dan kakaknya memberantas jaringan khusus yang meretas keamanan data milik Axelo, dan agaknya kali ini dia akan kembali unjuk gigi di hadapan para pria itu.


"Baiklah, aku siap bermain."


\*\*\*\*\*\*



Mereka tampak keluar dari kediaman tuan Wishnu Fotham dengan muka jengkel. Mereka bahkan tidak bisa pulang ke bandara karena perasaan mereka benar-benar kacau.


Entah apa yang membuat mereka merasa sejengkel itu, mungkin ucapan Tuan Wishnu tidak membuat mereka merasa puas.


Sepanjang perjalanan keluarga ini hanya diam saja, mereka diam bukan berarti mengalah, tapi karena Tuan Wishnu memberi mereka tumpangan dan membantu mereka membayar hotel untuk satu malam.


Sial sekali nasib mereka bertiga, jauh-jauh datang ke negara Z hanya agar bisa mempertahankan apa yang seharusnya berlaku untuk keluarga mereka, tapi lihat saja sekarang apa yang malah mereka dapat.


Mereka hanya mendapat dari sedikit bagian yang sangat kurang bagi mereka.


"Karena anakku sudah mulai beranjak dewasa, maka mulai sekarang perusahaan yang semula dipimpin oleh Neil akan dipegang oleh Valesha.."


"Aku memang sengaja mempertahankan kantor itu di tangan Neil, semula memang aku ingin memberikannya pada Neil, karena letak yang terlalu jauh dari rumahku, tapi aku bahkan tidak menduga kalau Valesha akan menikah dengan pria yang berasal dari sana, jadi mungkin lebih baik kau mengelola sebagian saja di sana."


"Aku akan membagi kamu 5% saham dari perusahaan itu, menurut aku segitu sudah cukup untuk membayar semua yang telah kau lakukan pada perusahaan kami."


Blam!


Pintu mobil kemudian ditutup sampai terlihat tidak ada celah lagi. Ketiga orang yang beranggotakan ibu dan dua anak itu terlihat berjalan masuk ke dalam hotel, sementara mobil milik Wishnu Fotham yang mereka tumpangi terlihat kembali ke jalan raya, mungkin akan langsung pulang ke kediaman Wishnu Fotham.


Ketiga orang itu masuk ke dalam satu kamar yang sama, dengan dua ranjang di dalam kamar tersebut. Satu kamar untuk ibu dan anak perempuannya, sementara satu ranjang yang lainnya untuk Neil dengan kesepiannya.


Juga dengan amarah di dalam hatinya.


"Hahh! aku tidak menduga kalau Tuan Wishnu akan memperlakukan aku sampai serendah itu, bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu padaku?" gerutu Neil sampai terdengar di kedua telinga ibu dan anaknya.


"Kak Neil, 5% itu bukan jumlah yang sedikit, untuk perusahaan yang selama ini di kelola kakak, tentu saja 5% adalah nominal yang cukup besar." Jawab Yuri atas perkataan dari sang kakak.


"Tidak bisa, seharusnya dia membagikan aku 20% dan itu baru cukup dibilang setara dengan pengorbanan aku selama ini, aku bahkan tidak memperhatikan perusahaan ayahku sendiri, dia sangat keterlaluan!" gumam Ahwei tak terima dengan jumlah yang baginya terlalu sedikit.

__ADS_1


Aku tidak akan membiarkan semua hak yang seharusnya menjadi milikku diambil oleh Valesha, aku harus mendapatkan bagian secara adil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2