
Axelo membulatkan kedua matanya. Suara yang terdengar di telinganya benar-benar tidak asing lagi. Namun hatinya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Suara ini, mungkinkah, ini benar?
Mengapa semua ini seperti sebuah kebetulan? mengapa semua ini bahkan Axelo sama sekali tidak mengerti situasinya? setiap apa yang dia lalui, setiap apa yang terjadi, mengapa seolah Axelo yang bodoh dan tidak mengetahui apapun?
"Hallo! apa kau bisa mendengar aku!? jangan diam saja kau!! halo!!!!"
Bip!
Lekas Axelo mematikan sambungan tersebut. Dan tanpa sadar, ponsel tersebut jatuh di atas tanah dengan menyedihkan.
Tes!
Mendadak air matanya jatuh dan menggenang di pipinya. Dia tak menduga ternyata apa yang selama ini dia pikirkan, adalah benar.
Mereka, tahu semua ini, mereka ada hubungannya dengan semua ini. Mungkinkah, orang-orang di belakang semua ini juga memiliki hubungan dengan kematian ayahnya?
Mungkinkah, Tuan Wishnu hanyalah sebuah alat yang mereka gunakan untuk menjatuhkan Mendiang Aeslen, ayah dari Axelo?
Di tengah-tengah hatinya yang kalut dan tak kunjung menemukan tempat bertepi, di antara pertanyaan-pertanyaan yang tersemat di dalam hatinya, namun semua pertanyaan itu sama sekali tidak ada satu pun yang bisa dia jawab.
Ia tampak terkejut, mendengar suara ponselnya berdering, membuat dia yang menitihkan air matanya tanpa sadar pun harus berhenti dari perasaan kalutnya, dan beralih menuju ponsel yang dia simpan di dalam saku celananya.
Bip!
"Hallo?" sapa Axelo dengan nada sendunya.
"Hai, Kak? apa kau sedang sibuk? aku melihat kakak ipar belum terlalu mahir mengendarai mobil, dan sepertinya, kami sedang mengarah ke suatu tempat yang sangat berbahaya! seperti jurang!!"
"Apa?"
Tanpa berpikir panjang, segera saja Axelo menyimpan ponselnya dan senjata di tangannya kembali ke saku celana, dan kemudian lekas berlari mengikuti jalur yang sudah dilalui oleh istri dan adik iparnya tersebut.
Srak! srak! srak!
Langkah kakinya terdengar begitu cepat melalui semak belukar di tengah hutan. Secepat itu dia berlari sampai hanya beberapa detik kemudian dia benar-benar menemukan dua mobil yang tengah melakukan aksi kejar-kejaran di sisi jurang.
"Hentikan mobilnya!!!" teriak Ashkan dengan sekuat tenaga.
"Aku tidak bisa!!! aku takut!!!" balas Valesha dengan polosnya.
Axelo tampak terdiam melihat kebodohan yang dilakukan oleh dua pelaku humor di depannya.
Entah mengapa dia begitu muak.
"Injak pedal remnya!!!!" teriak Ashkan lagi.
"Tidak mau!!! aku benar-benar ketakutan!!" teriak Valesha lagi.
Aaaaaaa!!!!
Wanita itu bahkan terlihat pusing kanan kiri dengan sangat berbahaya. Seperti atraksi mobil gila yang membahayakan nyawa seluruh penduduk kota. Sepertinya setelah ini Valesha harus berusaha keras untuk mengemudi.
__ADS_1
"Injak saja!! tak perlu takut!!!"
Valesha kemudian mendengarkan perkataan Ashkan. Dia mulai gugup dengan kedua pedal yang ada pada kedua telapak kakinya.
Ia memang merasa gugup karena sebelum ini dia memang sudah salah menginjak pedal. Karena itulah dia benar-benar ketakutan saat dia harus menginjak salah satu di antara keduanya.
"Bagian mana yang harus aku injak??!" teriak Valesha pada Ashkan.
"Dasar bodoh!!!"
Umpat Axelo merasa geram.
Dia mendapati mobil Valesha yang mulai mengarah kepada dirinya, dan tampak mengerikan dengan posisi penyerangan yang amat sesuai.
"Axelo, awas!! menyingkir lah!!!" teriak Valesha tak bisa menahan rasa takutnya.
"Tidak, jangan bunuh kakakku!!"
"Axelo minggir!!!!" teriak Valesha lagi.
Namun Axelo seperti orang yang tuli. Dia bahkan tak peduli teriakan dari istrinya yang cemas akan membunuhnya itu.
Sementara Valesha terlihat semakin sibuk membelokkan mobilnya.
"Baiklah, terima kasih sudah memberi aku jalan masuk!!"
Lompat!
"Buka pintu mobilnya!!"
"Aaaaa!!!'
Hap!
"Ugh!"
Jatuhlah Axelo di atas tubuh istrinya. Namun tak ada momen istimewa dan romantis setelah ini, karena mereka tengah berada dalam situasi yang sangat sulit.
"Kau menimpa tubuhku!"
"Seperti beberapa malam yang lalu!"
Bangunlah Axelo dalam posisi duduknya, dan berlalulah dia mengemudikan mobil tersebut.
Kini semua orang sudah selamat. Mobil terlihat keluar dari hutan tersebut dengan kondisi yang sudah rusak parah.
Pintu mobil ditutup. Sementara itu, Valesha yang takut Axelo berada dalam kesulitan, dia pun berpikir untuk menyingkir dari samping Axelo dengan pelan-pelan.
Hap!
Namun dengan cepat Axelo malah menggapai tubuhnya, melingkarkan tangannya di sana, dan kemudian memeluk istrinya dengan erat.
Valesha pun berakhir dan terjebak dalam pangkuan Axelo.
__ADS_1
"Uhm? apa yang kau lakukan?" tanya Valesha yang merasa sedikit bingung.
"Sudah berapa lama kamu mengacuhkan aku? apa setelah aku berbuat baik begini, kamu masih tetap tidak mau mendengar kata-kata ku?" tanya Axelo dengan dalam.
Seketika Valesha terdiam. Mulutnya yang semula ingin menolak perlakukan Axelo tersebut, mendadak terkunci dan tidak sanggup lagi untuk bicara.
Dia pun tampak terdiam dan melunak di atas pangkuan suaminya tersebut. Perjalanan yang melelahkan. Kejadian yang tak akan pernah mampu terlupakan meski untuk orang segarang Axelo sekalipun.
Keduanya pun terlihat mesra di atas jok kemudi setir. Kecemasan dan rasa penat yang mereka rasakan, mendadak lenyap bersama dengan rasa hangat yang tersalur di antara keduanya.
"Aku butuh penjelasan kamu sekarang! apa kamu bisa menjelaskannya dalam posisi begini?" tanya Valesha pada suaminya, tak mau terus menerus diam. Rasanya memang sedikit canggung.
"Sudah tahu aku kesulitan, mengapa masih bertanya?" tanya Axelo berbalik pada istrinya.
"Aku sudah menawarkan diri untuk menyingkir, tapi kamu selalu saja menolakku! rasakan sendiri akibatnya!"
"Bagaimana kalau aku menjelaskannya nanti malam, sekalian kau membalas hutangmu padaku!?"
"Apa kau masih menerima penolakan?" tanya Valesha pada suaminya.
"Tidak!"
"Sudah tahu tidak ada penawaran, tapi kau juga bertanya padaku! dasar aneh!"
Cup!
Mengecup punggung istrinya.
"Aku suka gayamu!"
Mereka terus berjalan mengarah pada jalan raya. Namun sebelum mereka benar-benar menuju ke jalan raya, mereka lebih dulu berhenti, dan kemudian berganti ke mobil yang dikendarai oleh Ashkan.
Blam!
Pintu pun segera ditutup oleh Axelo setelah dia dan istrinya masuk ke dalam mobil di bagian belakang.
Sebenarnya Ashkan terlihat kesal melihat situasi ini. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Apa kau tidak bisa duduk di depan?" tanya Ashkan pada sang kakak.
"Tidak bisa! jadilah sopir kami untuk sementara!"
Ashkan berdecak kesal. Dia kemudian kembali menginjak pedal pada salah satu kakinya, dan mobil pun segera berjalan dengan baik-baik saja melalui jalanan ramai.
"Aku pikir kau harus mengingat restoran mahal yang aku mau!" ucap Ashkan pada sang kakak.
"Aku tidak yakin, jadi teruslah berharap."
Satu makhluk yang tidak dipedulikan.
Seperti orang asing.
Mereka ini sedang bicara apa? huh! aku seperti nyamuk!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...