
Keesokan harinya..
Di ujung bukit, nampak seorang pemuda yang tengah menggembala kambing. Pemuda itu mengenakan pakaian yang amat sederhana, dan jauh dari kata mewah.
Ia terus turun meninggalkan kambing-kambing miliknya di atas bukit, dan berpikir ingin meminum air di sungai itu.
Entah itu sebuah keajaiban atau memang Tuhan sengaja mengirimkan seseorang untuk menyelamatkan Axelo, pemuda itu nampak terkejut manakala melihat tubuh Axelo yang telah terdampar di atas bebatuan.
Tubuh Axelo bahkan sudah hanyut sepanjang lima puluh kilometer dari lokasi tempat ia terjatuh kemarin sore. Dan itu membuat dia nampak pucat pasi hampir sama seperti mayat.
Pemuda itu bergegas mendekat, merasa penasaran dengan tubuh itu, pada mulanya dia berpikir mungkin dia sudah tewas dan menjadi mayat, tapi saat dia mencoba untuk mendekat, dan mendengarkan denyut jantung Axelo, ia terkejut.
"Dia masih hidup!"
Dengan bergegas dia mengangkat anak kecil itu sampai di atas bahunya, dan kemudian membawanya lari sampai ke rumahnya di sisi bukit.
Ia memang penggembala kambing yang tinggal hanya dengan ayah dan ibunya di Padang rumput yang luas. Padang rumput nan hijau sepanjang mata menatap.
"Ayah, ibu, tolong anak ini!!" Teriaknya dari kejauhan, membuat perhatian sang ayah dan ibu yang tengah membersihkan kandang kambing harus teralihkan.
"Siapa yang kau bawa?" Tanya sang ayah dengan cemas menatapi siapa yang anaknya bawa pulang itu.
"Dia terdampar di sungai, sepertinya dia jatuh dari atas." Jawab pemuda berusia tujuh belas tahunan itu.
"Ya Tuhan, sungguh sebuah keajaiban anak ini bisa selamat."
Mereka pun akhirnya berinisiatif untuk merawat sang anak sampai sembuh. Hingga pada suatu waktu, Axelo kecil sadar dari komanya setelah beberapa hari terbaring di atas ranjang.
Dia nampak terbangun dan mengejutkan pemuda di sebelahnya, "kau bangun?" Tanya sang pemuda nampak kegirangan.
Ia pun segera berlari ke arah sang ayah dan ibunya dengan bahagia.
"Ayah!!! Ibu!!!! Dia sudah bangun!!!!"
__ADS_1
Kedua orang tua itu segera saja mendekat ke arah Axelo dan menatapi anak itu dengan penuh kegembiraan.
"Minumlah." Ucap sang ibu pada Axelo sambil menyodorkan satu gelas air minum, dan kemudian dia minumkan air di dalam gelas itu pada Axelo.
Tak!
Dan kemudian meletakkan gelas itu di atas meja.
"Nak, kau sudah lebih baik?" Tanya sang ayah dari pemuda itu pada Axelo.
"Tidak, aku merasa tidak baik." Jawab Axelo membuat semua orang menepis senyuman mereka.
"Apa yang membuat kamu tidak begitu baik?" Tanya sang wanita padanya dengan lembut.
Namun Axelo tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia menunduk menahan kesedihan di hatinya, namun pada akhirnya kesedihan itu tetap saja harus tumpah. Air matanya kembali mengalir deras di kedua pipinya.
"Ayahku sudah meninggal, aku melihatnya sendiri, Tuan Wishnu memukulinya, dan dia kemudian mengambil sesuatu di dalam laci, lalu menembak ayahku, ayahku akhirnya harus tiada, hu.. hu.. hu..."
Anak itu bahkan terus menangis penuh luka. Mungkin dia baru mengerti bagaimana rasanya melihat orang yang dia sayangi harus tewas di depan matanya. Rasanya memang sangat menyakitkan.
"Aku punya ibu dan seorang adik, mereka pasti sudah pulang dan mencariku juga ayah," ucapnya dengan polos.
Sementara, di belahan bumi yang lain, terlihat sosok wanita yang tengah bersikeras menemukan putranya dan juga suaminya yang menghilang sejak dia dan putra kedua mereka kembali dari luar negeri.
Ia tampak sangat terpukul, karena bukan hanya Aeslen yang meninggalkan dirinya tanpa pamit, bahkan putra sulungnya pun harus ikut menghilang darinya.
Berulang-ulang kali dia mencoba untuk menghubungi ponsel suaminya, namun dia tak mendapat jawaban apapun dari seberang, ia hanya mendapat pesan bahwa nomor suaminya sedang berada di luar jangkauan.
Ia yang cemas akan terjadi sesuatu pada kedua orang kesayangannya itu pun lantas berinisiatif untuk melaporkan kasus kehilangan suami dan anak pada kepolisian.
Namun dia tak kunjung mendapat petunjuk, malah sebuah kejutan kembali dia dapati pada saat dia mencoba memasuki perusahaan suaminya.
Ia melihat perusahaan itu sudah berada di tangan orang lain, dan nama yang tertera di atas pintu ruangan suaminya bukan lagi nama Aeslen, melainkan nama orang asing yang tidak dia kenal.
__ADS_1
Apa perusahaan suaminya mengalami kebangkrutan?
"Apa yang terjadi di sini?" Teriaknya pada semua orang, namun tidak ada satupun dari mereka yang mau memberinya penjelasan.
Ia menatapi semua orang di sekelilingnya, dan kemudian berteriak lagi.
"Apa yang kalian lakukan??? Kenapa kalian diam saja? Dimana suamiku? Kenapa ruangan ini bukan lagi miliknya? Adakah yang bisa memberi aku sebuah penjelasan?" Teriak wanita itu pada semua orang.
Namun hanya satu pemuda yang mendekat ke arahnya dengan wajah sendu dan tidak bersemangat, "nyonya, kami juga tidak tahu, mendadak perusahaan ini telah dialihkan atas nama orang lain, dan kami tidak tahu menahu soal ini." Jelas pemuda itu.
"Apa yang kau maksud tidak tahu menahu?" Wanita itu nampaknya kehilangan kendali, dan meraih kerah jas yang dikenakan oleh pemuda tersebut, "memangnya dimana suamiku? Dimana anak sulungku?" Wanita itu semakin terasa menggila.
"Nyonya," seorang wanita nampak maju ke depan dan menimbrung perkelahian itu, "kami tidak mendengar kabar apapun dari Tuan Aeslen sejak beberapa hari yang lalu, dan kemarin, seseorang datang ke sini dan mengatakan perusahaan sudah beralih atas namanya, kami sungguh tidak menyembunyikan apapun."
"Seseorang? Siapa orang itu? Dimana dia? Dia harus memberi aku penjelasan, seenaknya saja berbuat pada keluarga dan perusahaanku," ucap wanita itu dengan marahnya.
Nampak seorang pria keluar dari ruangan bekas ruangan suaminya, dan langsung menutup pintunya dengan rapat setelah dia berhasil keluar dari dalam ruangan itu.
"Ada apa ini? Kenapa membuat kericuhan di kantor saya?" Tanya pria berusia sekitar tiga puluh lima tahunan itu.
Wajah wanita itu nampak berubah, ia semakin dibuat bertanya-tanya siapa kiranya pria yang berada di depannya itu, mengapa dia sungguh tidak mengenali pria ini sama sekali?
"Siapa kau? Kenapa tiba-tiba kau datang dan berkata perusahaan ini adalah milikmu?"
"Karena aku memang sudah membelinya dari Tuan Aeslen, jika kau tidak percaya, kau boleh melihat semua berkasnya!"
"Apa? Dia menjualnya?"
Wanita itu masih dibuat tak percaya, namun pria itu menunjukkan dokumen yang tersimpan dengan sangat rapi di dalam lacinya. Dia tunjukkan semua bukti-bukti pembayaran itu, dan juga tanda tangan dari suaminya yang menandakan persetujuan di sini.
Bruk!
Tubuhnya ambruk jatuh di atas lantai, seakan tak percaya dengan apa yang sudah dia dapat. Ia baru saja merasa sedih kehilangan suami dan anak sulungnya, dan sekarang, dia harus juga mendengar kabar mengejutkan ini? Dan itu dari suaminya pula?
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...