
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan, jangan sungkan, karena seberapa bencinya kau pada diriku, aku tetaplah seorang kakak yang akan menyayangi adikku sendiri." Ucap Axelo menyeka perkataan Ashkan.
"Kau bukan hanya menghancurkan keluarga Fotham, kau juga merenggut kesucian Valesha, apa kau masih belum puas juga?" Tanya Ashkan.
"Aku bukan menyakiti dia, justru aku memberi dia hak atas diriku, dan aku juga berhak atas dirinya, ingatlah, kami sudah menikah di pengadilan agama, bukankah menikmati malam pertama suami istri tentunya hal yang lumrah?" Pria itu makin pintar dalam menjawab, entahlah, tentu saja Ashkan dibuat diam karena jawaban itu.
"Kau tidak paham karena kau masih kecil, kau juga tidak akan tahu bagaimana rasanya, karena kau memang belum pernah mencobanya, sekali saja cobalah untuk menikmati wanita, maka kau tak akan sembarangan mengatai kakak kandung kamu ini." Sambung Axelo.
"Aku hanya dua tahun lebih muda darimu, dan aku juga bukan pria yang polos yang dengan mudahnya kamu tipu, suara semalam, Arkh! Sangat menjijikan! Kau bahkan selalu melakukannya dengan Sheilin di setiap malam, dan sekarang, kau membuang Sheilin dan melampiaskan semua itu pada Valesha?"
"Apa kau sedang membela istri dari kakak kandung kamu?" Sindir Axelo pada adiknya sendiri, entah mengapa sekarang posisinya agak terancam dengan kehadiran adik kandungnya sendiri.
Namun pria yang dia sebut sebagai adik itu malah terdiam membisu. Dia tak berkata apapun, entah dia menyetujui perkataan Axelo barusan, atau dia hanya sedang berusaha mengalah demi untuk tidak bertengkar dengan Axelo, dia sungguh tidak memberikan jawaban apapun.
Melihat wajah pendiam yang dikeluarkan oleh sang adik, lantas Axelo menjadi semakin penasaran. Dia pun mulai beranjak dari tempatnya, berjalan dengan perlahan mendekat ke arah Ashkan, lalu kemudian menatap mata adiknya dengan tatapan anehnya.
"Aku menunggu hal ini selama puluhan tahun, jadi aku tidak terlalu suka saat ada orang yang berusaha untuk menghentikan aku." Ucap Axelo dengan lirih, dia bahkan tak tahu betapa hancur hati Ashkan pada saat kedua telinga pemuda itu mendengarnya secara langsung.
Namun hanya seuntai kalimat itu yang dia gunakan sebagai kata penutup, sampai akhirnya dia mulai bergerak keluar dari ruangan kerjanya, dan kemudian menerima panggilan dari seseorang.
"Baiklah, aku akan segera datang, siapkan saja berkasnya." Ucap Axelo dengan seseorang di seberang sana.
Blam!
Pintu tertutup rapat setelah Axelo berhasil keluar dari ruangannya, meninggalkan selembar kertas hasil laboratorium di atas meja, dengan seorang pria yang masih dibuat mematung di tempat yang sama.
*Aku pikir kau adalah panutan ku, tapi lihat sekarang, kau bahkan membuat aku terkekang dan tidak bisa bergerak kemanapun yang aku mau*.
*Ini adalah penekanan, atau hanya sekedar ancaman? Jika kau bilang tidak suka, maka seharusnya yang kau maksud adalah, membenciku*!
*Apa mungkin, kau membenci aku hanya karena aku merasa iba terhadap gadis polos yang kau jadikan pelampiasan dendam kamu*?
*Lalu apa ini? Surat ini, kau menghancurkan segalanya, kau bukan lagi seorang pria yang baik, tapi kau lebih mirip layaknya iblis*.
*Sayang sekali, aku tetap harus mendukung kamu, kemanapun kau melangkah, meski itu dengan sangat terpaksa*.
Tak tak tak tak tak!
Klik!
__ADS_1
Membuka pintu
Keluar secara perlahan, dan kemudian..
Blam!
Pintu kembali ditutup dengan sangat rapat.
*Fuhh! Aku harap kakak tidak salah mengambil jalan, semoga saja tidak*!
*Jika suatu hari nanti akan ada kekecewaan di antara mereka, maka orang pertama yang akan merasa bersalah adalah aku*.
Tes!
Tetesan air hujan yang semula lebih dulu jatuh menimpa dedaunan bunga mawar di luar ruangan, kini tampak mulai segar. Jendela terbuka, dan sekarang, matahari pun mulai bersinar kembali setelah harus redup sejak siang tadi.
Dia tersenyum degan kecut di balik jendela, menatapi luar sana yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan pencakar langit, apartemen, rumah mewah, dan kemudian, di samping kanannya, hutan yang lebat.
Dia hanya bisa menatap cahaya matahari yang sudah berwarna setengah jingga di bagian barat, sembari merenung dan menahan rasa pedih yang sekarang entah mengapa malah membuat dirinya semakin jelas terlihat kuat.
Bagaimana dia bisa menangis, sedangkan dia tidak lagi punya pegangan apapun, hanya ada suaminya, dan itu pun, satu-satunya orang yang dia punya, sekaligus orang yang akan membalas dendam pada keluarganya kelak.
Meski itu hanya sekedar pura-pura.
Tok tok tok!
"Nona? Anda belum makan apapun sejak siang, bolehkah aku masuk?"
Panggil seorang pelayan dari arah luar, seketika membuat dirinya bergeming.
"Masuk saja, pintunya tidak aku kunci." Jawab Valesha sambil menatap ke arah pintu.
Cklek!
Pintu terbuka dengan lebarnya, menampilkan satu sosok pelayan yang kemudian, membawa nampan berisi makanan, lalu meletakkannya di atas meja.
"Ini makanan Nona, silahkan untuk menikmatinya." Ucap sang pelayan dengan ramah.
Tring!
__ADS_1
Namun wajah gadis itu tidak peduli, hanya menatap ke arah ponsel, dan kemudian melihat sebuah pesan yang terkirim di sana.
"*Temui aku, aku tahu segalanya, jika mau minta bantuan, jangan sungkan*."
"Um?"
"Apa aku boleh minta izin untuk keluar sebentar, rasanya aku terlalu jenuh dengan kehidupan di rumah ini, aku berjanji akan segera pulang," ucap Valesha pada sang pelayan wanita.
Namun pelayan itu tidak menjawab apapun. Dia hanya terlihat menatap Valesha dengan kedua matanya, dan kemudian membuka seluruh bajunya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
*Demi bertemu dengan orang misterius ini aku harus menyamar sebagai pelayan yang berbelanja bahan makanan, aku tidak tahu bagaimana nasib Willen di kamarku, semoga sebelum Axelo kembali, aku sudah lebih dulu pulang*.
Gumam hati kecil gadis itu sembari menatap ke arah ponsel, dan terus memandangi pesan singkat dari orang misterius itu.
*Temui aku di cafe xxx*.
*Bukankah seharusnya dia sudah datang*?
Ia melihat ke sekelilingnya, sweater abu-abu muda dengan dipadupadankan celana jeans hitam panjang, memakai masker dan juga berambut putih semua.
*Apa dia seorang kakek tua*?
Gumam Valesha lagi sesaat setelah mendapat kabar secara spesifik orang misterius yang hendak dia temui.
*Hum? dia laki-laki pastinya, apa aku mengambil keputusan yang tepat untuk bertemu dengan orang ini*?
Seseorang terlihat membuka pintu cafe, wajahnya terkena semburat cahaya langit jingga di bagian barat, sementara itu, langkah kakinya terlihat tegap. Tinggi badannya sekitar 187 cm, ya, postur tubuh yang begitu tinggi, sayang sekali tidak bisa mengalahkan tinggi tubuh Axelo.
Pria itu tersenyum miring, lalu melangkahkan kakinya mendekat pada seorang wanita, yang tidak lain adalah Valesha.
"Hallo."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1