Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Kenapa Kamu Punya Dua Sikap Yang Berbeda?


__ADS_3

Csssssssss


Suara dari telur yang dimasukkan ke dalam penggorengan beberapa saat kemudian. Sementara di atas meja dapur sudah tersedia berbagai bahan olahan yang akan mereka masak malam ini.


Semua bahan masakan itu adalah yang dibeli oleh Valesha sore tadi, saat dia berjumpa dengan pria misterius itu juga di cafe. Untung saja dia membeli bahan-bahan masakan sore tadi, jika tidak semuanya pasti akan sangat kacau.


Pria di sampingnya tampak asik mengiris beberapa wortel dan sayur lainnya untuk dimasak setelah ini. Sementara pada bagian satunya sibuk mengiris daging dengan tipis-tipis, entah apa yang akan dia buat.


Fuhhh!


*Aku menemani dua anak kecil yang tidak pernah memasak sama sekali, kenapa rasanya aku seperti chef di sini*?


Gumam Valesha dalam benaknya, sambil terus memperhatikan telur yang sudah membulat dengan sempurna di atas penggorengan.


Entah apa yang dia pikirkan, mengapa sejauh ini dia tidak bisa lagi marah padaku, sejak malam pertama kami saat dia mengecewakan aku dengan menghadirkan wanita lain di malam pertama kita, lalu setelah itu, aku sungguh tidak melihat kemarahan dan dendam itu lagi dimatanya, apa mungkin, aku terlalu bodoh untuk melihatnya, atau apa dia yang selalu saja terlalu pintar menyembunyikan rahasianya?


Ia malah trtegun di tempat, dengan pemikiran yang kacau balau tidak karuan. Bukankah beberapa saat yang lalu saat di dalam kamar pria itu baru mengatakan jika dia tidak suka dengan sikapnya yang pergi tanpa izin, dan kata tidak suka itu seharusnya berarti dia benci. Tapi lihat sekarang, bukankah sikap Axelo tidak mencerminkan kebencian sama sekali?


Dia termenung sesaat setelah mengangkat telur yang sudah jadi itu dari atas penggorengan. Dia bahkan mengacuhkan dua anak kecil di sisinya yang sudah membuat semuanya amburadul.


"Kakak ipar, apa aku harus memotongnya seperti ini?" Tanya Ashkan dengan polosnya. Di dalam genggaman tangannya terlihat pisau mengkilat dengan ukuran yang cukup besar untuk memotong daging wagyu. Tapi jika melihat hasilnya, siapapun pasti akan terkejut.


Termasuk juga Valesha. Wanita itu menoleh ke arahnya dengan sedikit memamerkan sikap juteknya. Namun hanya sesaat sebelum dia melihat hasil karya dari seorang Ashkan Verhagh Wicaksono.


"Apa??????"


Tatapan matanya membulat sempurna, dengan rasa terkejut yang luar biasa. Dia bahkan salah telah membiarkan dua anak kecil itu bermain-main.


"A? Apa? Apa yang salah?" Tanya Ashkan dengan polosnya.


Sementara itu di bagian yang lain Axelo tampak asik terkekeh meledek adik kandungnya itu. Dia bahkan merasa dirinya paling jago di sana, entahlah, rasanya tidak terlalu meyakinkan.


Valesha mendekat ke arah Ashkan, dan kemudian menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar.


Fuhhh!


"Ou, apa aku membuat kesalahan?" Pria ini benar-benar sangat polos, entah bagaimana cara menjelaskannya, sebenarnya potongan seperti apa itu sama saja, hanya saja, dia sebenarnya ingin potongan daging itu sedikit lebih besar, mengapa jadi seperti mengiris bawang?


Heh heh..


Kekehan nakal itu terdengar lagi dari mulut Axelo, yang dengan bangganya memamerkan hasil karyanya di depan Valesha dan juga Ashkan, berpikir dia pasti akan mendapat pujian dari istrinya itu.


"Dasar pria polos, coba lihat hasil irisanku, istriku pasti akan memujiku."


Tring!


Menunjukkan hasil karyanya dengan sangat bangga pada Valesha dan juga Ashkan.


Namun untuk yang kedua kalinya Valesha dibuat menepuk jidat dengan perasaan kecewa, dan kacau. Dia tidak bisa berpikir bagaimana bisa menjelaskan soal rumit tentang memasak pada dua pria ini. Sedangkan dia sendiri sedang kesal dan tidak mau diganggu.


"Bagaimana, sayang? Kau menyukai hasil karyaku, bukan?" Tanya Axelo sembari memeluk pinggang istrinya.


Plak!


Sang istri menepisnya dengan kejam, lalu menghembuskan nafasnya lagi yang terasa kelelahan. Tidak bisa dipungkiri, semua wanita pun pasti akan merasakan hal yang sama seperti dia. Kesal dan juga marah apalagi saat dia tengah kelelahan, tapi dia tetap harus melakukan pekerjaan yang diminta oleh suaminya. Sekarang sudah jelas siapa yang menjadi beban di sini.


Fuhhhh!


"Kalian semua keluar!" Ucap Valesha dengan tenang, mencoba mengusir dua kecoa itu dengan perlahan agar tidak menimbulkan keributan.


"Tapi, kakak ipar, aku..."


"Aku tidak mau dengar apapun lagi, segera keluar dan tinggalkan dapur ini dengan segera!" Ucap Valesha dengan sangat tegas.


Dan ucapan dari mulut Valesha itu berhasil membuat dua orang kakak beradik di sana hanya bisa diam dengan wajah sedihnya. Mereka terlihat melepas celemek yang mereka gunakan dengan merasa bersalah, lalu kemudian meletakkannya di atas meja dapur.

__ADS_1


"Aku tidak suka dapur yang kotor dengan celemek, letakkan di tempat yang seharusnya!!" Ucap Valesha lagi, sekarang dia bak singa yang mengaung dengan penuh kemarahan.


Dua pria itu tidak menjawabnya, hanya menuruti kata-kata dari Valesha barusan, menggantung celemek yang baru saja mereka kenakan di tempat yang seharusnya. Yang penting wanita ini tidak lagi mengamuk.


"Sayang.."


"Keluar sekarang!" Usir Valesha dengan kejamnya. Sekarang entah siapa yang menjadi tuan rumah di sini, bahkan Nyonya Armei saat datang pun tidak pernah mendapat kesempatan untuk menghardik Axelo dan Ashkan seperti Valesha. Agaknya posisi Valesha akan sedikit unggul dibanding mereka semua.


Dua pria itu bahkan tidak berani melawan. Seumur hidup mereka baru kali ini mendapat bentakan keras dari seorang wanita muda, tapi hal itu malah membuat mereka mengalah dan mengaku kalah.


Keduanya pun lekas keluar dari dapur, dan saling menatap dengan tajam.


"Semua ini memang gara-gara kamu!" Ucap Axelo pada adik kandungnya.


"Kamu juga salah, seharusnya aku yang iris wortel dan bawangnya, bukan kamu!" Jawab Ashkan juga tidak mau kalah.


Iiiiiiiiiiiii


Keduanya semakin tidak mau mengalah, dan malah menyalahkan satu sama lain akibat kejadian ini.


"Berhenti!!!!!!" Teriak Valesha mencoba melerai dua pria itu.


Benar saja, satu teriakan Valesha berhasil membungkam mulut kedua manusia itu.


Huhh! Huhh! Huhh!


Bahkan Valesha sampai dibuat engap karena mengurus dua bayi dewasa itu. Entah bagaimana kalau dia akan melalui semua ini selama seumur hidup, apa dia akan bisa mengatur otaknya untuk tetap waras?


"Jangan ribut! Atau aku akan menghukum kalian membersihkan kamar mandi sampai pagi!!!"


Dua kakak beradik itu lekas bergeming, mengalihkan pandangan mata mereka menjauh, dan kemudian pergi masing-masing.


Hemph!


Huhh! Huhh!


Dia berpikir sejenak, tidak mungkin juga dia memasak sendirian saat sudah kelelahan begini, bisa-bisa dia juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Axelo dan Ashkan itu.


"Hallo, nona!"


Namun suara seorang gadis terdengar masuk ke dalam kedua telinganya, dan itu membuat dia lekas bergeming untuk sekedar menoleh.


"Um? Wellin? Kau baik-baik saja?" Tanya Valesha sesaat setelah mendapati wajah Wellin yang tampak biasa-biasa saja, entah wanita ini sudah diapakan oleh Axelo, tapi dari wajah yang ditunjukkan Wellin padanya, agaknya wanita ini merasa baik-baik saja, atau memang Wellin berusaha untuk menyembunyikan sesuatu darinya?


"Aku baik, Nona, terima kasih sudah mencemaskan saya." Jawab Wellin sambil membungkukkan tubuhnya sebagai tanda terima kasih pada Valesha.


"A? Tidak perlu berlebihan seperti itu, semua orang juga pasti akan cemas jika berada dalam posisi aku, apa dia sempat menghukum kamu?" Tanya Valesha tidak mau basa-basi lagi.


"Tidak, Nona, Tuan tidak menghukum saya, dia hanya meminta aku keluar dari kamar Nona, itu saja." Jawab Wellin di depan Valesha.


"Kau yakin?" Tanya Valesha agaknya malah dia yang meragukan jawaban Wellin tersebut.


"Aku yakin, Nona, Tuan menjadi sangat baik akhir-akhir ini, entah apa yang terjadi dan membuatnya sampai sebaik ini, tapi aku rasa, hal itu karena kehadiran Nona, juga karena tidak adanya Nona Sheilin di sini." Jawab Wellin.


Sekarang Valesha hanya bisa bersikap acuh dengan pujian yang terlontar dari mulut Wellin barusan. Dia mulai bergerak kembali melakukan aktivitas memasak seperti yang sebelumnya dia lakukan.


"Bisa aku bantu, Nona?" Tanya Wellin menawarkan bantuan dengan sangat sopan.


"Boleh, aku memang butuh partner masak yang handal, bukan malah membuat rusuh," jawab Valesha, agaknya dia juga mengimbuhkan sindiran halus di dalam kalimat tersebut.


Wellin pun segera bertindak. Dia mulai dari membenarkan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuan Ashkan, mengiris dagingnya dengan lebih rapi, dan lebih enak diolah. Ya, jujur saja, dia pun baru kali ini melihat Tuan Axelo beserta adiknya masuk ke dalam dapur, sepertinya dia sudah tahu akan terjadi hal semacam ini.


"Ngomong-ngomong soal Sheilin, kamu tahu kenapa dia tidak pernah kesini lagi?" Tanya Valesha pada pelayan muda itu.


"Sejak kejadian pemukulan Nyonya Armei pada Nona beberapa waktu lalu, tidak hanya Nyonya Armei yang menghilang, tapi juga Nona Sheilin, entah kedua orang itu bekerja sama atau tidak, yang pasti keduanya malah menghilang bak di telan bumi, agaknya Tuan Axelo juga benci pada Nona Sheilin sejak awal." Jelas Wellin sambil terus melakukan pekerjaannya.

__ADS_1


"Um? Benarkah?" Tanya Valesha dengan penuh keraguan.


*Aku pikir dia mencintai Sheilin dan menikahi aku hanya karena balas dendam, tapi aku pikir, posisi Sheilin di samping Axelo tidak ada bedanya denganku*.


Gumam hati Valesha dengan lirih.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*



"Tidak bisa, untuk sementara waktu, aku tidak bisa melakukannya, dia belum pernah memegang perusahaan sama sekali, mana mungkin aku begitu saja memaksa dia untuk memegang perusahaan ayahnya."


Dia terlihat sedang berbincang dengan seseorang di balik sambungan. Dia tengah berdiri di atas balkon lantai dua, dan sekarang tatapan matanya tertuju pada bintang-bintang di angkasa yang bersinar dengan indah bak barisan prajurit yang kokoh dan sangat mengutamakan persatuan.


Aish!


Kenapa jadi berbicara soal prajurit.


"Untuk saat ini yang memegang perusahaan itu orang lain, aku mau kau selidiki siapa yang sudah menjabat sebagai direktur di sana, sebisa mungkin, aku ingin dia dijatuhkan lebih dulu."


Dari seberang terdengar menjawab dengan singkat, sampai akhirnya Axelo mulai menutup ponselnya dan kemudian kembali menatap ke arah langit.


Sungguh barisan bintang-bintang yang sangat menakjubkan.


"Aku pikir kau sudah berubah sejak sejam yang lalu, rupanya itu hanya topeng kamu saja." Ucap seseorang dari arah belakang Axelo, siapa lagi kalau bukan Ashkan.


Kedua pria itu sekarang terlihat berdiri sebaris dengan tatapan yang tidak saling bertemu. Entah keduanya masih sama-sama ingin bertengkar, atau memang dua manusia ini sudah terbiasa bersikap dingin dan acuh pada masing-masing.


"Kak, kenapa kau sangat halus padanya, sedangkan di sisi lain kau masih ingin membalaskan dendam kamu, terkadang aku bingung dengan pemikiran kamu yang aneh ini." Ucap Ashkan pada Axelo sembari mengekspresikan wajah sendunya.


"Kalau bingung, maka tidak perlu menebak, tidak perlu bertanya, dan tidak perlu ikut campur, lakukan saja apa yang aku suruh, itulah tugas kamu sejak awal." Jawab Axelo dengan singkat, lalu setelah itu dia malah terlihat pergi meninggalkan adiknya di atas balkon seorang diri.


Dengan penuh kekhawatiran.


*Apa aku masih bisa mencemaskan kamu, sedangkan yang aku tahu kau hanya memperalat aku sejak kecil karena alasan aku adikmu, dan sekarang, aku tidak ubahnya kaki tangan kamu yang bisa melakukan apapun sesuka hatimu, bisakah kau mengerti aku juga sangat hancur dalam posisi seperti ini*?


Sementara itu Axelo sekarang sudah turun di tangga yang mengarah ke lantai satu. Dia juga berpikir bagaimana caranya untuk menenggelamkan keegoisannya demi untuk membuat Valesha merasa dirinya adalah pria yang baik-baik saja, tidak terkena masalah apapun.


Sejauh ini dia memang sengaja untuk tidak mengacuhkan Valesha, dia berharap wanita itu tidak akan bisa memahami apa pemikirannya. Dan agaknya, rencana dia benar-benar berhasil.


Valesha bahkan sempat dibuat bingung dengan sikap aneh Axelo padanya. Pria yang semula hangat saat dalam masa pacaran, dan kemudian berubah menjadi es yang dingin dan beku, juga berubah menjadi iblis bahkan di malam pertama perkawinan mereka.


Dan sekarang, pria itu bahkan tidak pernah lagi menunjukkan wajah dendamnya itu di depan Valesha. Agaknya permainan Axelo begitu cerdik, sampai-sampai Valesha tidak pernah sadar, pria sekejam itu, mana mungkin akan berubah dalam waktu sekejap?


Di akhir tangga yang dia lalui, tidak sengaja dia berpapasan dengan wanita itu. Dia tertegun melihat istrinya yang mendadak muncul bak hantu dari arah dapur, membuat dirinya harus sedikit merasa terganggu dan harus terbangun dari lamunan asiknya.


"Masakan sudah siap, kalau mau makan, makan saja dulu." Ucap Valesha dengan sangat acuh. Dia bahkan berniat untuk segera meninggalkan Axelo ke kamar tanpa permisi.


Hap!


Namun Axelo buru-buru mencegat kepergiannya. Dia raih tangan mungil milik Valesha, lalu dia tarik sampai tubuhnya jatuh ke dalam pelukannya.


"Arkh!" Pekik Valesha.


"Axelo aku tidak suka seperti ini," ucap Valesha. Dia memang tidak terlalu nyaman berada dalam pelukan seorang pria yang dia cintai, namun juga sekaligus dia benci. Bukankah Axelo menikahi dirinya hanya untuk balas dendam? Kenapa dia harus merasa terkesima dengan pelukan itu?


"Aku juga tidak suka makan sendirian setelah punya istri, makanlah bersamaku!" Ucap Axelo dibumbui dengan rayuan mautnya.


"Uhm.." berusaha untuk menghindari kecupan Axelo di belakang telinganya, "bukankah kau memang tidak pernah makan sendirian? Sekarang dimana Sheilin? Kenapa kamu tidak mengajaknya makan bersamamu?"


"Istri sah tidak pantas menyebut wanita lain saat bersama suaminya."


"Tapi kenapa wanita lain yang menemani kamu di malam pertama kita? Siapa kiranya yang bajingan di sini?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2