Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Anak Nakal


__ADS_3

"Axelo, jangan tinggalkan aku.."


Suara lembut dan lemah itu terdengar begitu menyedihkan pada kedua telinga Ashkan. Ingin sekali dia menepis genggaman tangan Valesha pada lengannya, dan segera menjauh dari tempat tersebut. Namun sekali lagi, begitu disayangkan, karena dia tidak punya cara lain lagi selain terduduk diam di samping Valesha.


Ingin sekali dia memukul wajah kakak kandungnya itu sampai lebam. Bukan maksud hatinya berlebihan, namun tentu saja dia begitu tidak tega melihat nasib Valesha yang sudah sedemikian tragisnya setelah melalui pernikahan dengan Axelo.


Dia diam untuk beberapa saat, tak mau mengganggu istirahat Valesha di atas ranjang rumah sakit. Saking diamnya dia, ia sampai tak sadar terlelap tidur di samping Valesha.


Mungkin dia terlalu kelelahan karena kejadian semalam. Siapa pula yang tak merasa lelah setelah aksi kejar-kejaran dengan anggota penjahat itu?


Namun di tengah-tengah baringnya yang penuh kenikmatan, mendadak terlihat pintu ruangan terbuka secara perlahan, dan menampilkan sosok Axelo di ambang pintu.


Matanya yang semula diselimuti kecemasan mendadak dengan cepat berubah menjadi pandangan tajam penuh luka dan penuh kebencian.


Tentu saja pemandangan yang dia dapati di depan sana sungguh menusuk dan merontokkan hati kecilnya.


Ia tak pernah menduga kalau Ashkan rupanya juga tergiur untuk menjadi seperti dirinya. Benarkah yang dia pikirkan?


Dia terlarut dalam amarah yang berkecamuk. Tangannya yang semula lemah pun perlahan mulai terlihat mengepal dengan erat, menjadi semakin kuat dan kokoh setelah ia terlihat maju ke depan, dan kemudian langsung menarik kerah baju adik kandungnya tersebut.

__ADS_1


"Bocah sialan!!!"


Buk!!


Ashkan yang belum tersadar sepenuhnya pun hanya bisa pasrah manakala sang kakak menghujani dirinya dengan ribuan pukulan di bagian wajah, perut, dan sekujur tubuhnya.


Tak hanya pukulan yang dilayangkan oleh Axelo padanya, bahkan tendangan dan berbagai serangan lainnya juga tampak dia hujankan pada Ashkan tanpa alasan.


"Siapa yang mendidik kamu seperti ini? aku tidak pernah mengajari kamu untuk merebut wanita milikku! dasar tak tahu diri!!"


Bukk!


Serangan itu dilakukan sampai berulang-ulang kali, hingga membuat Ashkan tampak tak berdaya dibuatnya.


Samar-samar terdengar suara kegaduhan yang tertangkap oleh kedua telinganya. Ia pun mulai terlihat membuka kedua matanya secara perlahan-lahan, dan bersamaan dengan itu, suara kegaduhan pun semakin jelas terdengar.


"Siapa yang bertengkar?"


Ia bergumam begitu lirih sambil mencoba menyadarkan diri sepenuhnya..

__ADS_1


Namun matanya menjadi terbelalak saat dia menyadari kalau ternyata yang bertengkar di sampingnya adalah Axelo dan Ashkan.


"Kalian!!!"


Ia mendadak tersadar sepenuhnya. Bahkan rasa pusing yang sebelumnya dia rasakan pun menghilang secara tiba-tiba. Bergegaslah dia bangkit dari ranjangnya meski langkah kakinya masih saja tertatih-tatih.


"Cukup! kalian berhenti bertengkar!!"


Ia terus mencoba mendekat ke arah perkelahian itu. Namun setelah dia sampai, kedua kakak beradik itu masih saja bergaduh. Tidak, sebenarnya hanya Axelo saja yang membuat kegaduhan. Karena saat Valesha mulai berada dalam posisi terdekat, dia baru menyadari kalau sejak tadi Ashkan tidak melakukan pembalasan apapun.


Kenapa Ashkan melakukan hal tersebut? kenapa juga Axelo memukuli adiknya sendiri?


Semua pertanyaan itu memenuhi otaknya. Namun dia tak mau memikirkannya sekarang. Yang lebih penting bagi dia adalah, dia bisa melerai pertengkaran dua anak nakal di depannya itu.


"Dasar kalian berdua!! apa tidak bisa berhenti berkelahi?? pecundang!!"


Plak!


Plak!!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2