
Kelabu!
Hari-hari milik Axelo sejauh ini hanya sebatas kelabu. Semuanya bahkan terasa pahit dan seolah tak ada waktu untuk berubah terang laksana mentari.
Seorang pria yang dahulu terkenal arogan dan sanggup menaklukkan penjahat hanya dengan satu hentakan kaki, nyatanya sekarang ini, lihatlah dia,, tak ubahnya seperti sampah tidak berguna, yang bahkan juga harus memangku beban berat pula.
Ia masih terus menatapi beberapa dokumen di atas mejanya, meski tatapan kedua matanya sudah lama kosong, tak lagi berpenghuni. Namun anehnya lagi, dia bahkan tak pernah berhenti menatap dokumen-dokumen tersebut.
Jari jemarinya mengetuk muka meja dengan berulangkali, silih berganti seolah membuat irama syahdu pengisi kesunyiannya.
Seorang pria tampak datang dari arah luar dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan aura kebahagiaan, dan lebih dari itu, dia mulai memiliki harapan baru terhadap sang tuan.
Cklek!
"Tuan!"
"Ada apa dengan dirimu? sampai datang dan lupa mengetuk pintu." Jawab Axelo, bahkan kedua matanya tak berpaling sama sekali.
"Tuan, ada berita baik."
"Berita apa?" tanya Axelo masih saja singkat.
"Tuan, anak buah kita melihat kedatangannya di bandara pagi ini! dia juga..."
"Apa??!!" mendengar perkataan dari anak buahnya, lekas Axelo terbangun dari duduknya dengan penuh semangat, "apa kau yakin itu dia?" tanya Axelo masih memiliki sedikit keraguan.
"Kami sudah memastikannya, Tuan! pihak bandara juga sudah mengkonfirmasi kebenarannya!" jawab anak buah Axelo.
"Bagus! cari dia sampai dapat, jangan biarkan dia pergi lagi!!"
__ADS_1
"Dan lagi, tuan..."
"Ada apa?"
"Sepertinya dia juga hadir membawa kejutan.."
"Kejutan?"
*
"Horeeee!!!!!! pantainya bagus sekali, ibu.. apa kau yakin tidak mau berenang?" tanya Vivia dengan gemasnya.
"Ayolah, sayang, jangan ajak ibu berenang, kau tahu sendiri ibu bukan ahlinya menaklukkan pantai.." jawab Valesha dengan senyum manisnya.
"Aaahh, baiklah, Bibi Geshka, tunggu Vivia, jangan meninggalkan aku.."
Valesha lebih memilih bersantai di pinggir pantai. Rasanya menghabiskan sore hari di pantai bersama keluarga kecilnya adalah hal terindah yang dia alami.
Setelah beristirahat sejenak di apartemen yang diberikan oleh bos besarnya, seharusnya dia memang menghabiskan sisa hari ini dengan bersenang senang. Benar begitu, kan?
Ia memakai kacamata hitamnya kembali, dan kemudian berbaring dengan santai, sembari menyeruput jus lemon segar yang dia pesan.
Sejenak dia memejamkan kedua matanya, berharap dapat terlelap tidur walau sebentar saja. Namun mendadak, suara seseorang membangunkan lamunannya.
"Sore, Nyonya.."
"Um?"
Valesha segera membuka kedua matanya, juga kacamata hitamnya. Ia kemudian terlihat bangun dari tidurnya, dan mendapati dua orang pria yang sudah berdiri dengan gagah di depannya.
__ADS_1
"Kalian siapa?"
Kedua pria di depannya sama sekali tidak menjawab, hanya terlihat memberi jalan untuk seseorang, yang kemudian pada detik berikutnya sukses membuat Valesha terkejut.
"Apa kabar mantan istriku?"
"Axelo!?"
Jantung Valesha bergemuruh begitu cepatnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Valesha segera berdiri tegak dan menghadapi mantan suaminya tersebut.
"Kenapa kau bisa tahu aku di sini?"
"Aku yang harus bertanya duluan, kenapa kau memilih pergi dariku lima tahun lalu?"
Dari kejauhan, nampak Geshka mulai menyadari kehadiran Axelo beserta anak buahnya di sana. Ia yang sedang asik bermain dengan Vivia pun memilih untuk segera kabur dari sana.
"Vivia! ayo kita harus segera pergi!" ucap Bibi Geshka pada Vivia.
"Kenapa Bibi?" tanya Vivia dengan polos.
"Bukankah kau mau es krim? Bibi akan mentraktir kamu lagi, bagaimana?"
"Ah, baiklah, bibi memang yang terbaik.."
Dengan bergegas Geshka membawa Vivia pergi dari sana, sehingga kemudian, Axelo tidak bisa menemukan Vivia, ya, semoga saja.
*Sebenarnya aku ingin mempertemukan Vivia dengan Axelo, tapi untuk saat ini, waktunya tidak tepat, lebih baik aku segera pergi dari sini*..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1