
"Apa?"
Dan ucapan dari Axelo barusan sontak membuat Valesha terkejut setengah mati.
"Axelo, kau pasti sudah salah paham, mana mungkin ibu bekerja sama dengan para penculik itu? justru saat ibu mendengar kabar kalau Valesha diculik ibu sangat cemas!" ucap Armei mencoba meraih hati anak sulungnya.
Namun hanya sejenak saja dia menatap ke arah putranya, sampai pada detik berikutnya ia memutuskan untuk menatap ke arah Valesha, tentunya dengan tatapan kebenciannya.
"Tapi ibu bahkan tidak menduga kalau dia sudah membuat kedua anak ibu bertengkar!" ucap Armei dengan mengerikan.
"Tidak! kaulah yang membuat antara aku dan kakak seperti bukan saudara kandung!"
Namun Ashkan mendadak bangkit dari duduknya, dan menyela perkataan Armei.
Semua orang jelas berhenti dari aktivitas mereka, dan mencoba memusatkan perhatian mereka ke arah Ashkan berada.
__ADS_1
"Jika saja ibu tahu kalau aku sudah bukan lagi anak kecil yang bisa kalian bodohi! aku tahu sejak awal kalian hanya berusaha untuk memanfaatkan aku, kalian selalu saja menyembunyikan semuanya dariku, dan menjadikan aku kaki tangan yang sempurna yang kalian gunakan untuk menghancurkan lawan kalian! termasuk juga keluarga Valesha!"
Deg!
Jantung seseorang serasa berhenti berdetak. Dalam keterkejutan yang amat nyata tesebut, menitih saja air mata di pipi kanan dan kirinya dengan menyakitkan.
Rupanya, setelah sekian lama semuanya diam, akhirnya sekarang ini Valesha benar-benar telah mendengar apa yang terjadi dalam keluarga besar ini.
"Ashkan jaga bicara kamu!" ucap Armei mencegat putra keduanya, "ibu datang kemari bukan untuk membuat masalah, tapi kalian malah memojokkan ibu dengan perkataan- perkataan kalian yang sangat menyakitkan! terutama kamu Axelo!" menunjuk ke arah Axelo berada, "kau juga tahu sejak awal kau berencana menikahi wanita itu untuk membalas dendam! namun apa yang kita dapat sekarang, kau malah mengundur-undur waktu untuk menghancurkan keluarga Fotham!"
Setelah itu, tanpa basa-basi segera saja Axelo pergi ke arah Valesha berada, dan kemudian menggapai tangan mungil Valesha di sana.
Air mata kembali luruh dan menetes di pipi Valesha manakala dia menatap kedua mata suaminya.
Ia bahkan tak punya lagi kesanggupan untuk sekedar berkata-kata pada suaminya tersebut. Semuanya terlalu sulit untuk dia ungkapkan. Atau mungkin, dia hanya tidak punya sisa kekuatan untuk menggerakkan bibirnya.
__ADS_1
"Valesha, ada satu hal yang tak pernah bisa aku ungkapkan padamu, tapi aku yakin, kamu sudah lebih dulu mengetahuinya."
Axelo berucap di hadapan Valesha, membuat kedua orang yang berdiri menjadi saksi di sisi lainnya tampak memaku dan hanya bisa menatap ke arah Axelo dengan tatapan tak karuan.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi aku tahu kau tidak akan pernah sanggup meninggalkan aku."
"Siapa bilang? kamu bilang aku tidak bisa pergi meninggalkan kamu? kamu salah! aku bisa saja pergi dengan mudahnya dari sisi kamu, tapi aku memang sengaja bertahan di sini."
Ucapan dari Valesha tentu saja membuat Axelo berhenti berkata-kata.
"Kamu tahu apa yang membuat aku bertahan? karena aku hanya ingin membuktikan, kalau ayahku tidak pernah bersalah! dan kalian yang telah menyebut ayahku adalah pelakunya, maka kalian semua yang akan menjadi orang pertama, yang akan mengetahui semua kebenarannya!! aku janji, Axelo! aku janji pada kalian semua! aku janji akan membuktikan kalau ayahku tidak bersalah!!"
Lalu apakah aku masih punya kesempatan untuk mendapat kepercayaan darimu, Valesha!? sayang...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1