
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam lamanya, mobil hitam pekat yang dikendarai oleh Ashkan pun akhirnya tiba di rumah sakit.
Situasi mendadak berubah lucu. Dia dan sang kakak yang punya ratusan anak buah yang siap menerima tugas apapun darinya, kala itu hanya tiba di rumah sakit berdua, tanpa kawalan atau bantuan dari siapapun.
Entah sedang terjadi sesuatu yang bagaimana saat ini, hingga Ashkan pun seolah lupa bahwa dirinya memiliki segalanya, termasuk kaki tangan yang siap melayani dia kapanpun dia membutuhkannya.
Ia buru-buru turun dari mobil dan beralih memapah langkah kaki Oaklard dari dalam mobil. Setelah ia berhasil mengeluarkan Oaklard dari mobil, barulah beberapa anak buah yang semula berjaga di bangsal tempat Wishnu Fotham dirawat akhirnya menghampiri dirinya dan mencoba membantunya.
"Tuan, anda pergi seorang diri tanpa memberitahu kami semua, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan tuan?"
Tanya salah seorang anak buah, merasa jengkel dan juga khawatir dengan kondisi majikannya.
"Itu semua tidak penting, kalian sudah melihat aku baik-baik saja.."
Greeeetttt!!
Mendadak suara ranjang pasien terdengar didorong oleh beberapa perawat, hingga mendekat saja beberapa perawat itu ke arah Oaklard.
Mereka membawa Oaklard masuk dan segera menangani Oaklard dengan serius, melihat kondisi Oaklard yang sudah termasuk parah dan gawat darurat.
Sementara di luar, Ashkan masih tengah sibuk berbincang dengan beberapa anak buahnya. Ia mulai mencoba menelisik semua yang terjadi malam ini bersama anak buahnya.
__ADS_1
"Aku tidak terlalu yakin, tapi aku merasa semua ini sudah direncanakan, kita kehilangan tim dalam jumlah besar, dan kita juga kecolongan, seseorang telah menyuntikkan kembali virus itu di tubuh Wishnu Fotham, semua ini seolah sudah terencana dengan baik."
Ucap Ashkan sambil berkacak pinggang dengan kesal, pun juga bingung harus bagaimana.
"Tapi tuan, kami selalu berjaga di depan bangsal, kalau ada yang masuk ke ruangan selain dokter, pasti hanyalah anda dan Tuan Axelo, selain kalian berdua, kami berani menjamin tidak akan ada yang bisa masuk." Jawab anak buah Ashkan dan Axelo dengan sangat yakin.
Ya, memang dia begitu yakin bawah tidak mungkin ada seorang penyusup masuk ke dalam ruangan itu, karena dia sendiri yang menjaganya, dan memastikan tidak ada orang asing yang masuk.
"Entahlah, aku perlu mengatakan semuanya pada kakak," Ashkan kemudian terlihat mendekat ke arah anak buahnya, kemudian segera berbisik, "aku curiga orang itu adalah orang dalam, cari tahu semua kecurigaanku ini, dan setelah kau tahu jawabannya, sebelum orang lain mendengar, aku harus lebih dulu mendengar dari mulutmu." Ucap Ashkan sembari sesekali melihat situasi di sekitarnya.
"Baik tuan."
Setelah mendapat jawaban memuaskan dari anak buahnya, Ashkan pun lekas masuk ke dalam rumah sakit, dan segera menemui sang kakak.
Kebetulan pada saat itu, tampan Profesor Chan yang baru saja keluar dari ruangan tersebut, membuat Ashkan pada akhirnya langsung menanyakan keadaan Tuan Wishnu Fotham pada Profesor Chan.
"Halo, kau darimana saja? Aku mencari kamu sejak tadi, dan akhirnya setelah setengah jam berlalu, aku bisa menemukan kamu."
Tanya Profesor Chan pada Ashkan.
Ashkan tak menjawab pertanyaan dari Chan tersebut. Entah apa alasan dia untuk tidak menjawab, atau mungkin, dia sudah tahu andaikata ia menjelaskan tentang apa yang telah terjadi pada dirinya, sudah pasti Chan tidak akan percaya, juga tidak akan merasa peduli.
__ADS_1
Ashkan pun hanya memutuskan untuk tidak menjawabnya. Justru sebaliknya, dia malah memberi pertanyaan pada si Chan yang tengah membuka sarung tangannya.
"Bagaimana? Apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Ashkan pada Chan.
Seketika raut muka Chan seidikit terkejut, dengan mulut yang seolah terkunci, dan dal keadaan seperti berada di dalam mimpi.
Tak berselang lama sejak dia mulai melamun, dia pun akhirnya lekas terbangun, "ck, sejak kapan kamu begitu peduli? Entah ini firasat atau bukan, tapi sepertinya anda akan jadi lebih baik setelah ini, entahlah, hanya sedikit tebakan saat luang." Jawab Profesor Chan.
"Ck, aku ini sedang bertanya apakah dia baik-baik saja atau tidak, karena bagi kakak, musuh yang mati ditangan musuh bukanlah suatu kemenangan, tapi penjatuhan harga diri yang teramat memalukan, karena itulah aku hanya sekedar mengundur waktu kematian dia karena aku begitu ingin membuat dia mati tersiksa." Jawab Ashkan tak kalah pedasnya.
Sementara Chan hanya terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Sejenak suasana pun menjadi agak diam, sampai akhirnya Chan mengauatakan satu hal pada Ashkan.
"Kau tahu? Virus ini bermutasi jauh lebih cepat dari yang aku pikirkan, dan sekarang Tuan Wishnu harus beristirahat total, tangannya juga harus diikat, kita tidak pernah tahu kapan virus ini akan mulai menguasai sekujur tubuhnya, dan lebih menakutkan dari apapun itu, orang yang terinfeksi virus ini, dia akan lebih susah mengendalikan dirinya sendiri." ucap Chan panjang kali lebar.
"Apa kau sudah selesai? Jika sudah, maka tolong beri aku waktu sebentar untuk masuk dan melihat keadaan Tuan Wishnu." ucap Ashkan dengan begitu sopannya.
Itu memang agak terkesan lucu, tapi lebih dari itu, sebenarnya nada bicara Ashkan yang sopan mengandung ancaman dan ketakutan tersendiri, hingga membuat Chan pun hanya bisa berlalu dan meninggalkan Ashkan di depan ruangan.
"Baiklah, aku akan pergi, asal simpan saja kawan sejatimu itu." Ucap Chan sambil mengangkat kedua tangannya dan berjalan pergi.
__ADS_1
"Huhh! aku tidak tahu semuanya akan jadi semakin rumit seperti ini."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...