
Di dalam situasi yang menegangkan tersebut, terdengar berulang kali suara tembakan yang dilesatkan oleh Axelo pada mobil di depannya.
Pria itu berniat untuk membidik si sopir yang mengemudikan mobil di depan sana. Namun dia mengalami sedikit kendala. Sang istri yang terus saja memberontak dan mencoba loncat dari mobil benar-benar menghalanginya.
Dia pun terus mencoba, meski jalanan juga sama sekali tidak mendukung dirinya untuk melakukan tembakan tepat di kepala si penculik.
Padahal penculik di depan sana sudah terlihat terluka begitu parah. Tinggal satu tembakan saja yang mengenai kepalanya, dan dia akan berhasil membawa Valesha kembali.
"Bagaimana? kau masih tidak berhasil juga? hah?" tanya Ashkan bahkan sama sekali tidak mengerti keadaan sulit yang dialami oleh kakaknya tersebut.
"Ck, diam saja lah kau! aku sedang sibuk!"
"Bidik yang benar! jangan sampai melukai istrimu sendiri!" ucap Ashkan meledek pada sang Kakak.
Dia bahkan terlihat santai meski jalur yang dia hadapi di depan sana benar-benar jalur tikus yang sangat sulit untuk dilalui. Namun jangan sekali-kali meremehkan pria yang satu ini.
Keahlian mengemudinya memang begitu handal. Meski pada awalnya dia terlihat kesulitan menghadapi jalur yang sulit di depan mata, tapi semakin lama dia juga semakin menikmati keadaan menegangkan tersebut.
Dan sekarang, dia sudah tidak terkejut lagi dengan jalanan di depan sana.
Berbeda dengan Ashkan yang sudah mulai menikmati perannya sebagai sopir, Axelo justru tidak terlihat baik-baik saja dengan berulang kali bidikan yang selalu saja gagal. Ia bahkan berdecak kesal sesaat setelah kembali gagal melesatkan peluru.
Dor!
"Ck, apa-apaan ini, aku jadi geram!!"
Dia kembali mencobanya, kali ini asal saja dia menembak. Padahal di mobil depan ada sang istri yang bisa saja mati terkena tembakan darinya.
Tapi apa boleh buat, jika dia tak begitu berani mengambil keputusan tersebut, maka dia juga tidak akan pernah mengakhiri semua ini dengan baik.
Dor!!
Dor!
"Apa yang kau lakukan? kakak ipar bisa mati karena kamu!" teriak Ashkan setelah mendapati sang kakak yang menembak ke sembarang arah.
"Aku tidak punya pilihan lain, setidaknya tidak harus membuat pria itu mati, melumpuhkannya di bagian lengan juga sangat membantuku!!"
"Terserah kau saja!" Tampak Ashkan yang berdecak kesal dengan tingkah kakaknya itu.
Entah sudah berapa ratus kali dia menemukan kakaknya berada dalam kebodohan yang amat nyata. Tapi dia sama sekali tidak sanggup membuat kakaknya itu sadar. Terlebih lagi, Axelo adalah satu sosok yang tak juga mau kalah meski dia salah.
Mungkin karena itulah Ashkan lebih memilih untuk diam, bahkan untuk waktu yang lumayan lama.
"Lepaskan aku! sialan! dasar brengsek!" teriakan Valesha jelas terdengar dari mobil depan saat tengah mencoba untuk memberi perlawanan pada penculik yang bersama dengan dirinya.
"Mimpi saja kamu!"
__ADS_1
Balas penculik itu tanpa sedikitpun melepas pegangan tangannya pada rambut Valesha. Dalam posisi semacam ini, Valesha jelas kelihatan begitu tertekan.
Bahkan pria penculik itu sangat lihai dalam mengemudikan mobilnya hanya dengan menggunakan satu tangan saja.
Di sisi lain, Axelo terus menembak dengan asal ke arah mobil depan. Meski Axelo tahu ini akan sangat berbahaya bagi nyawanya, dan juga nyawa istrinya, tapi dia tetap bersikukuh untuk melakukannya.
Dia pasti sudah punya alasan untuk melakukannya. Axelo memang selalu percaya pada dirinya sendiri, apalagi kalau untuk melakukan hal semacam ini, dia tahu sekurang-kurangnya dia, dia masih jauh lebih hebat dari apa yang dipikirkan oleh orang lain tentang dirinya..
"Baiklah, aku harus mendapatkan istriku kembali!"
Dor!
Satu tembakan dengan yakin Axelo Lesatkan, dalam kondisi yang fokus, mata yang memicing dengan tajam, dan hati yang begitu yakin.
"Arkh!"
Dan akhirnya tembakan tersebut menembus tengkorak si penculik di mobil depan, hingga membuat pria itu mati dengan seketika.
Namun sialnya, kaki si penculik itu terus menginjak pedal gas hingga membuat mobil itu terus melaju membawa Valesha masuk ke dalam hutan belantara.
"Axelo!! tolong!!! aku takut!!"
Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan berlalu, Valesha meneriakkan nama suaminya dengan rasa takut yang luar biasa.
"Sialan!" umpat Axelo dengan lirih.
Pria itu kemudian terlihat masuk ke dalam mobil dan terduduk dengan gundah di samping adiknya.
"Selain mengejar mobilnya, kita bisa apa? kejar dengan cepat!" teriak Axelo pada adiknya.
Kali ini Ashkan hanya menjadi adik yang penurut. Dia lekas menginjak pedal gas di kakinya dan melakukan kendaraan jauh lebih cepat dari sebelumnya, meski sekarang mereka sudah masuk ke dalam hutan belantara..
Dor!
Sementara itu, dari belakang terdengar suara tembakan yang kemudian menembus kap mobil mereka berdua.
Axelo lekas menoleh. Didapati olehnya serombongan orang-orang bersenjata lengkap.
"Apa lagi ini?" tanya Ashkan dengan kesalnya..
Dia bahkan tidak habis pikir kalau semuanya akan menjadi sangat rumit seperti ini.
Dor!
Dor!
Axelo tak mau tinggal diam. Dia juga melepaskan tembakan ke arah mobil di belakang sana dengan gahar. Meski dia juga berkali-kali sempat mengalami serangan oleh kelompok di belakang sana.
__ADS_1
Dor!
"Kita harus membuat rencana!" teriak Ashkan tak bisa bertahan dengan situasi semacam ini.
Dia melihat di depan sana Valesha tampak berusaha untuk menyingkirkan si penculik di jok kemudi. Namun wanita itu juga mengalami kesulitan.
"Aku akan turun menyerang mereka!" ucap Axelo pada adiknya..
"Tapi mereka ada banyak, satu mobil kau cegat, dua mobil lainnya pasti akan mengejar ku!" jawab Ashkan.
Sejenak Axelo berpikir sembari melesatkan beberapa tembakan lagi.
"Ambil beberapa simpanan di tempat biasa!"
"Apa?" tanya Ashkan berpura-pura bodoh.
"Ambil saja! kamu mau aku yang mati, atau mereka saja yang mati!!"
"Baiklah!"
Ashkan kemudian mengambil sesuatu yang selalu saja tersemat pada mobil kakaknya. Dia ambil tiga buah bola berukuran sekepalan tangan, dan kemudian diberikan saja oleh Ashkan pada kakaknya.
"Ambillah!"
Hap!
Tangan Axelo dengan lihai menerima tiga benda kecil itu dari tangan Ashkan, dan kemudian berbuat sesuatu padanya.
Klik!
Setelah dia melakukan sesuatu pada benda kecil tersebut, dia kemudian melemparnya.
Bom!!
Satu mobil meledak dengan sangat mengerikan di depan Axelo. Axelo bahkan melihat mobil itu terbang layaknya di film-film.
"Wah, kau memudahkan jalan kita!" ucap Ashkan, untuk pertama kalinya dia percaya pada kakaknya sendiri.
"Baiklah, sekarang bagian yang kedua!!"
Axelo kembali berbuat hal yang sama pada benda kecil di tangannya itu, dan kemudian kembali melemparnya pada mobil yang kedua.
Bom!!
Mobil kedua pun tak kalah mengasikkan saat kelihatan meledak dan kemudian menciptakan api yang cukup besar.
Seketika Axelo puas.
__ADS_1
"Heng! aku masih bisa diandalkan rupanya."
Bersambung..