Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Mengejar Valesha


__ADS_3

Mobil terus dipacu dengan kecepatan tinggi di jalan bebas hambatan, tengah malam sekitar pukul satu dini hari.


Tampak kedua pria di dalam mobil terus memelototi mobil di depan mereka tanpa melepas pandangan satu inci pun dari sana.


Wajah geram Axelo juga terlihat semakin jelas manakala si sopir mobil di depan tampak mulai mencoba membawa kabur Valesha dengan kecepatan yang lumayan tinggi, membuat nyali Axelo semakin tertantang.


Ia menyunggingkan senyuman. Bukan berarti dia tidak cemas pada keadaan istrinya, hanya saja dengan senyuman di bibirnya, dia bisa berpikir dan bersikap tenang.


"Heng! mau menculik istriku rupanya? lihat saja apa yang kau bisa lakukan!"


Gumam Axelo dengan lirih. Bahkan Ashkan yang sejak tadi terduduk di sampingnya pun tidak mendengar kata-kata lirih dari mulut Axelo itu.


Wajah Ashkan tampak lebih tegang dibanding dengan kakaknya. Wajah yang sudah mulai terlihat pucat, dengan hawa takut yang terlihat agak jelas di sana.


Dia bahkan tidak pantas merasa takut. Tapi apa boleh buat, kakaknya melajukan kendaraan dengan sangat cepat membuat jantungnya tak punya kesempatan untuk mencoba tenang.


"Huhh! aku bahkan tidak pernah melajukan mobil sekencang ini, meski aku begitu ahli menyetir."


"Kalau kau ahli menyetir, seharusnya kamu tidak merasa takut dengan kecepatan ini," jawab Axelo sembari terus menginjak pedal gas di kakinya.


"Tapi kau tidak beraturan, cara berkendara seperti ini akan memakan korban berapa kalau sampai terus dilakukan? aku juga tidak mau mati, berkendara lah dengan baik, aku masih mau hidup dan menjalin hubungan dengan wanita." Gerutu Ashkan sambil terus berpegangan dengan erat.


Ashkan memang ahlinya menyetir. Karena itulah sebenarnya dia bukan merasa takut pada kecepatan yang dilakukan oleh sang kakak, melainkan takut karena jalannya mobil yang dikendarai oleh kakaknya benar-benar sangat berbahaya.


"Sialan!"


Umpat Axelo saat dia baru menyadari kalau dia terkecoh oleh penculik di depan.


Apa penculik di depan tahu kalau dia sedang dibuntuti oleh Axelo dan Ashkan?


"Sialan!"


Umpat si sopir sekaligus penculik itu saat dia tahu kalau di belakang ada mobil yang terus saja mengikuti dia dan Valesha.


Dia langsung membanting setir ke arah kiri, hingga membuat lukisan ban di atas aspal jalanan.


"Aw!!"


Valesha terlihat memekik, kepalanya terbentur jok depan hingga membuat benjolan merah di sana.


Dia pun hanya bisa mengusap kepalanya dengan lembut dan kembali terus memberontak.


"Turunkan aku sialan! aku bisa melaporkan kamu ke kantor polisi!!" ancam Valesha pada pria di depan.


Namun pria di depan hanya terlihat memiringkan senyuman, sampai terlihat gigi-giginya berderet dengan sangat menjengkelkan.


"Cih! kau mau turun?" pria itu bertanya pada Valesha.

__ADS_1


"Baiklah, akan aku biarkan!"


Sejenak Valesha merasa bingung dengan jawaban dari pria di jok depan barusan. Entah mengapa dia malah jadi berpikiran aneh tentang ucapan pria itu.


Apa mungkin, pria ini punya rencana lain yang lebih mengerikan?


Mendadak kaca jendela di samping Valehsa terbuka, menampilkan pemandangan di luar dengan sangat jelas, memberi ruang udara masuk dengan kencang menyentuh wajahnya.


Valesha mundur ke belakang, mendapati udara yang terus menyerang dirinya sampai tidak bisa berbicara.


Dia tak bisa melakukan apapun selain menutupi bagian wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya terpejam dan bibirnya terkunci dengan rapat, tapi bagian telinganya masih bisa mendengar dengan jelas.


Dia mendengar tawa pria di depan sana dengan sangat memuaskan, membuat hatinya semakin dibuat kesal dan jengkel.


"Ha.. ha.. ha.. mau loncat? loncat saja? paling juga kamu akan mati setelah ini!"


Ucap pria itu berusaha menantang Valesha.


Tentu saja Valesha tak mau ceroboh dalam mengambil sebuah keputusan. Bagaimanapun juga, dia masih sayang pada nyawanya.


Jika dia loncat keluar, maka artinya dia harus sudah siap bertaruh nyawa. Tapi jika dia terus bertahan di dalam mobil, sama artinya dia menyerah telak di depan pria ini.


"Anak sialan! jangan berani mengganggu istriku!!"


Axelo melihat kejadian tersebut dari mobil yang dia tumpangi. Dia yang geram dan juga marah pun hanya terlihat memukul kemudi setir, dan kemudian lekas menyimpulkan keputusannya.


Ucap Axelo pada sang adik, membuat adiknya yang tengah terduduk gemetar pun hanya bisa mengangguk dan mengiyakan ucapan dari kakaknya.


Dengan cepat Ashkan beralih posisi dengan Axelo, bertukar tempat duduk dengan gesit, dan kemudian kembali melaju ke depan mengejar mobil si penculik itu.


Di sisi kaca jendela yang lain, tampak Axelo yang sudah terlanjur geram mulai mengeluarkan alat mematikan yang dia bawa dan telah menjadi sahabat karibnya selama puluhan tahun.


"Awas saja kalau sampai aku dapat, aku akan pastikan kamu mati mengenaskan!"


Gumam pria itu lagi, hingga kemudian terlihat dia mulai membuka kaca jendela dan memulai aksi koboinya di jalanan.


Dor!!


Satu tembakan berhasil mengenai bagian kap mobil bagian belakang, namun sama sekali tidak membuat lecet di sana.


Meski begitu, suara tembakan pertama itu berhasil membuat Valesha yang ketakutan akhirnya beralih menoleh ke belakang.


"Axelo!"


Gumam Valesha dengan lirih, hampir tak bersuara.


Sekujur tubuh Valehsa memang sudah gemetar hebat. Apalagi ditambah dengan aksi koboi jalanan ini, mengapa dia jadi tidak bisa mengendalikan hawa takutnya.

__ADS_1


Namun di sisi lain, dia tampak terpukau, dengan kedatangan Axelo yang bertaruh nyawa bersama adiknya di jok kemudi, hanya untuk menyelamatkan dirinya.


Sedikit senyum terbersit dengan indah di wajah Valesha.


"Anak sialan!" umpat si sopir di depan membuat Valesha yang tengah dibuat terkesima dengan aksi Axelo pun akhirnya harus beralih topik.


"Jangan panggil dia anak sialan! asal kau tahu saja, dibandingkan dengan dirimu, dia jelas lebih unggul, dia bukan seseorang yang pantas untuk melawan kamu, dasar tikus got!!"


Bukk!


"Arkh!"


Mendadak Valesha punya sedikit kekuatan, kekuatan yang entah hadir darimana asalnya, namun dengan kekuatan itu, akhirnya dia bisa menemukan celah kelemahan dari pria di depan sana.


Dia memukul kepala pria itu menggunakan sepatu hak tinggi yang dia kenakan pada saat itu, memukulnya sampai habis-habisan, bahkan sampai terlihat kewalahan mengendari mobilnya.


"Aw! hentikan, dasar wanita gila!!"


Bukk!


Bukk!


"Sekali lagi bilang aku wanita gila, aku jamin kau akan langsung masuk ke dalam neraka!!" teriak Valesha yang sangat gagah berani.


"Aw! dasar wanita temperamen!!"


Keributan di mobil depan juga terlihat semakin ribut saat Axelo kembali menembakkan peluru yang kedua, hingga kali ini terlihat mengenai bagian kaca spion di bagian kiri.


Dor!!


Prak!


"Arkh!"


Valesha memekik ketakutan, dan mulai menghentikan serangan yang dia lakukan pada penculik itu, hingga tanpa sadar, dia telah memberi celah bagi penculik itu untuk segera kabur.


"He.. he.. hee.. dengan peluru saja takut, nekad mau menghabisi aku? ck, aku pikir mimpimu terlalu indah!"


Vroooooommmmmm


Melaju lebih kencang lagi.


"Arkh! dasar sialan! aku tidak mau kehilangan mereka, kejar sampai dapat, jangan biarkan penculik itu menyentuh istriku sampai lecet!"


"Heng! telingaku terasa aneh mendengar kata-kata darimu barusan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2