
Valesha tak berkutik dari tempat berdirinya manakala suaminya mendekap dirinya dari belakang. Entah harus bagaimana dia menyikapi situasi pada saat itu. Ia bahkan tak bisa bergerak dari tempat berdirinya, dan hanya terlihat terpaku mematung tanpa mengeluarkan kata-kata.
Jantung di dalam dadanya sudah bergemuruh begitu kencang, seolah tengah berpacu dan berburu di alam liar, penuh ketegangan, dan rasa gugup pula di dalam sana.
"Aku minta maaf, semua ini salahku, aku hanya tidak suka dia menyentuh kamu, dia terlalu dekat dengan kamu, dan aku tidak menyukainya." Bisik Axelo di telinga Valesha, membuat bulu kuduk Valesha meremang sempurna.
Bisikan mesra dan membunuh semacam ini biasanya dilakukan Axelo hanya saat ingin bertarung di atas ranjang, lalu kenapa sekarang pria ini dengan begitu lemahnya berkata seperti itu?
Seseorang terdengar membuang nafas dengan jenuh, juga membuang pandangan matanya menuju ke lain sisi, dimana tidak ada satu benda pun yang bisa untuk dia tatap.
Aku jenuh berada dalam ruangan ini! hahh! kapan kiranya aku tidak lagi menjadi nyamuk?
Seseorang yang tertekan di tengah-tengah situasi mencekam.
Di sisi lain, tampak Axelo yang dengan perlahan membalikkan tubuh Valesha menjadi berhadapan dengan dirinya, dan kemudian ditatap saja olehnya wajah Valesha yang halus, dan juga memancarkan aura keindahan dan keluguan di sana.
Tanpa keraguan, dia belai saja pipi Valesha dengan lembut, dibelai olehnya, diusap dan kemudian dikecup olehnya dengan hangat, membuat Valesha yang semula seidikit membaik dan tidak lagi merasa merinding pun hanya harus kembali merasakan keguncangan di dalam lubuk hatinya.
Cup!
Ugh!
__ADS_1
Tak hanya itu, tanpa rasa malu yang tersisa, Axelo langsung mengecup dan melahap habis-habisan sepasang bibir ranum berwarna peach milik Valesha, tanpa berpikir masih ada adik kandungnya yang juga tertekan dengan sikap dan tingkahnya tersebut.
"Benar-benar tidak sopan!"
Seseorang pun hanya bisa bergumam dengan lirih, sembari mengalihkan pandangan kedua matanya lurus ke arah pintu, dan kemudian tanpa menoleh kanan kiri, ia pun langsung keluar dari ruangan tersebut, kemudian mengunci ruangan itu dari luar.
"Huff!!"
"Aku juga pria normal, bagaimana bisa mereka tidak mengingat hal itu?"
Ia bergumam lagi setelah berhasil keluar dari ruangan tersebut. Namun kemudian dia hanya berlalu pergi dan menyerahkan keamanan ruangan tersebut pada kedua anak buah Axelo.
Ia tahu, setelah pemanasan yang dia lihat di depan kedua matanya, seharusnya kedua manusia itu tak lagi bisa menahan diri dan pastinya, tanpa berpikir dimana kiranya mereka berada sekarang, mereka sudah pasti tengah melakukan acara intinya.
Wajah pucat dan seketika membiru nampak menghiasi kedua anak buah Axelo setelah Ashkan memberi mereka perintah.
Bagaimana tidak, leher mereka lah yang akan menjadi jaminannya.
"Baik!"
Dan pada akhirnya mereka berdua pun tampak menjawab dengan tegas, juga diselimuti kecemasan.
__ADS_1
Setelah memastikan kedua anak buah kakaknya itu menurut apa katanya, ia pun lantas pergi meninggalkan tempat tersebut, dan kembali lagi menuju ke arah ruangan dimana Tuan Wishnu Fotham tengah dilakukan perawatan serius.
"Berikan saja obat penenang! dosis paling besar!"
Baru saja Ashkan tiba di sana, ia langsung disuguhi dengan keributan yang rupanya masih saja terjadi meski Profesor Chan sudah tiba di sana dan tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi di sini? kenapa aku merasa aneh dengan semua rentetan kejadian ini?
Bzzzz Bzzzzz
Di tengah kesibukannya dengan otaknya sendiri, mendadak ponselnya bergetar, memberitahu dia ada seseorang yang berusaha menghubungi dirinya.
Ia menatapi layar ponselnya, dan melihat nomor ponsel Oaklard yang mengubungi dirinya. Merasa ada sesuatu yang penting, tanpa berpikir panjang, Ashkan pun segera mengangkat panggilan dari Oaklard.
Bip!
"Hallo!"
"Tuan! tolong aku! semua orang tewas! kita dijebak oleh wanita itu!!"
"Apa??"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...