
"Aku tidak peduli mau bicara apa, yang jelas kita harus pulang sekarang.."
"Tidak bisa Ashkan! sulit bagiku untuk berdiam di rumah, sedangkan setiap sudut rumahku, selalu menampakkan wajah dia.." jawab Axelo sembari mengusap keningnya.
Jatuh cinta dan patah hati adalah dua hal yang begitu tipis keberadaannya. Apalagi jika terdapat bumbu penyesalan di dalam ceritanya. Mungkin takdir yang begitu kejam sehingga kesusahan dalam patah hati sangat begitu terasa.
Namun adakalanya, cinta lah yang membuat hati yang terluka kian bertambah memburuk, seolah semuanya tak akan pernah dapat terselesaikan meski telah meluruhkan air mata darah.
Luka dan penyesalan di hati Axelo saat ini adalah gambaran betapa dahulu Valesha pernah menyesali semua keputusannya untuk menikah dengan Axelo.
Sebuah penyesalan yang tak akan sanggup tergambar dengan jelas, seolah hanya kelabu yang menyelimuti kisah perjalanan cinta mereka.
Sebuah bandara di kota Z.
Sepasang kaki tampak mulai menuruni pesawat dengan sangat yakin, seolah dia bahkan sanggup menerjang apa saja yang akan dilaluinya di kota lama ini.
Sebuah keputusan yang amat berat terasa, seperti halnya dipaksa berjalan di atas duri, yang dahulu bahkan pernah membuat kedua kakinya lumpuh.
Namun dia tak begitu ketakutan. Hanya kata nekad yang sedari dia berangkat telah menguasai hati dan pikirannya.
*Ya! tidak ada yang perlu aku takutkan! semuanya memang perlu ditaklukkan, termasuk masa lalu*!
Benaknya berbicara, bibirnya tersenyum, dan kedua matanya memancarkan keberanian yang begitu terlihat nyata.
__ADS_1
Hap!
"Ibu, aku menangkapmu!!"
Teriak si gadis kecil yang kemudian berhasil menangkap kedua kakinya dari belakang!"
Valesha buru-buru menoleh dan kemudian tertawa riang. Buah hatinya telah tumbuh besar, dan sekarang, dia bahkan dapat melihat senyum anak ini yang begitu riang.
"Apa kau benar menangkap ibu? atau ibu yang berhasil menangkapnya!!"
Hap!
Menangkap dan menahan putrinya dalam dekapan.
"Aduh!! Vivia, kalau kamu berteriak seperti itu di bandara, para petugas bandara pasti akan mengira ibumu dan bibi tengah melakukan aksi penculikan!"
Seseorang yang baru saja selesai membereskan barang-barang.
"Baiklah, Bibi Geshka! aku ingin kau segera punya anak, supaya aku tidak terkekang oleh ibuku yang nakal ini!" ucap gadis kecil bernama Vivia yang kemudian dapat lepas juga dari pelukan sang ibunda.
"Hahh! kau ini! sudah kubilang jangan mengungkit kelemahan bibi, bibi hanya menginginkan kamu sebagai anak angkat bibi!"
Mencolek hidung mancung milik Vivia.
__ADS_1
"Aku tidak suka menjadi anak angkat Bibi Geshka! rasanya sangat menjengkelkan!"
Bibirnya dimanyunkan dua senti ke depan, membuat wajah lucunya makin bertambah menggemaskan.
"Baiklah, baiklah, jangan bertengkar sekarang, oke? kita bisa berjalan dan menuju ke apartemen yang telah disiapkan oleh bosnya ibu!" ucap Valesha mencoba melerai perselisihan antara Geshka dan Vivia.
"Yeayy! kita tinggal selama satu bulan di sini, ya,, sepertinya kota ini tidak terlalu buruk.."
Anak kecil itu berlari dengan riang di dalam bandara. Anak ini memang sangat menggemaskan. Apalagi dengan tingkah polosnya itu.
"Hahh! anakmu memang agak mirip ayahnya!" ucap Geshka sedikit berkeluh kesah.
"Jangan katakan hal itu lagi!" sahut Valesha dengan cepat.
Entah mengapa dia selalu saja merasa benci terhadap apa yang dikatakan Geshka tentang masa lalunya tersebut.
"Kenapa? dia memang mirip ayahnya, apa aku salah?"
"Vivia tidak punya ayah, sejak dia berada dalam perutku, sampai lahir dan tumbuh sebesar itu, hanya aku orang tuanya, ingat itu!"
"Tapi kau tidak bisa menolak, kalau suatu hari nanti, bisa saja Vivia akan berjumpa dengan ayahnya! bagaimana menurut kamu jika hal itu sampai terjadi?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1