Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Ayahku


__ADS_3

Akhirnya dengan keterpaksaan yang teramat sangat itu pun Ashkan memberanikan diri untuk menentang sang kakak.


Ia pun nampak mengiyakan permintaan Valesha dan kembali menggenggam tangan Valesha dengan eratnya, melebihi genggaman tangan Axelo padanya.


Entah mengapa perasaan Axelo begitu runtuh saat melihat kejadian itu terjadi.


Sialan!


"Baiklah, aku minta maaf, aku memang sudah berbohong, itu aku lakukan karena aku tidak mau melihat kamu bersedih, jadi aku putuskan untuk tidak memberi izin kamu masuk ke dalam sana." Ucap Ashkan masih dalam posisi menggenggam tangan Valesha, seolah-olah ia tak pernah rela untuk melepas tangan mungil itu.


"Tapi Ashkan, kau tahu aku akan bertambah khawatir jika kau tidak memberi aku izin untuk masuk dan melihat keadaan ayahku, apa kau mau aku terus memohon seperti ini di kakimu? apa kamu tega melihat aku menangis terus menerus karena tak sanggup menahan kecemasan pada ayahku?"


Setelah membuat pertimbangan yang cukup menguras tenaga dan kemampuan pikir Ashkan, akhirnya sekarang Ashkan terlihat membuang nafasnya dengan yakin, dan mencoba untuk memberi keputusan.

__ADS_1


"Baiklah, kau boleh masuk, tapi aku tak mau kau merasa cemas karena ini."


Ucapan Ashkan jelas saja membuat pertanyaan yang mengganjal di dalam benak Valesha dan Axelo makin menyeruak. Mereka berdua jelas saja bertambah khawatirnya kala mendengar ucapan Ashkan barusan.


Namun Valesha tak punya pilihan lain lagi. Dibanding harus menunggu sesuatu yang tidak pasti di luar, apapun resikonya, dia tetap harus masuk ke dalam dan melihat keadaan dari ayah kandungnya.


"Baiklah, apa kau sudah siap?" tanya Ashkan pada kakak iparnya. Ia bahkan melupakan satu orang yang juga agak penting di dalam situasi ini. Atau mungkin, Ashkan juga tak pernah lupa, tapi kali ini ia hanya sedang tidak mau menggubrisnya.


"Ya, aku sudah siap." Jawab Valesha dengan mantap.


Cklek!


Seketika air mata Valesha luruh dan menetes di atas lantai ruangan dingin dan beraroma aneh tersebut.

__ADS_1


Dilihat olehnya sang ayah yang telah dipasang beberapa selang dan juga oksigen, lalu entah alat apalagi yang tersemat pada mulutnya. Sadisnya lagi, kedua tangan dan kedua kaki sang ayah diikat, dijaga dengan sangat rapat dan diperlakukan seperti halnya monster mengerikan yang akan membunuh siapapun.


Valesha hanya bisa menutupi mulutnya yang menganga sebab tak percaya dengan pemandangan yang dia lihat di depannya itu.


Namun dia mencoba untuk lebih gagah dan berani lagi, mencoba untuk seidikit lebih kuat, dan tak mau tumbang begitu saja di ambang pintu.


Berjalan saja kedua kakinya bergantian menuju ke arah ranjang dimana ayahnya beserta alat-alat medis tersemat di sana.


Langkah kedua kakinya bergetar dan mendadak melemas. Limbung saja dia sesaat setelah ia sampai di sisi ranjang ayah kandungnya, lalu kembali lagi dia menangis tersedu-sedu.


Kedua tangannya dikepalkan dengan erat, hingga air mata yang menetes di sana terlihat memantul. Saking kerasnya kepalan tangannya itu, sampai-sampai urat syaraf nya pun keliatan menegang dan memberi lukisan tersendiri di sana.


Entah mengapa dendam di hatinya pun kembali terukir dengan begitu jelas, menggunakan tinta pena permanen, yang sampai kapanpun, tidak akan pernah terhapuskan.

__ADS_1


Ayah, aku janji! siapapun yang membuat ayah jadi begini, maka aku yang akan menghancurkan kehidupannya!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2