
Ia pun akhirnya memilih untuk bergeming dari tempat dia berdiri semula, berjalan menuju ke arah lantai dua, dan kembali masuk ke dalam kamarnya, bukan kamar Axelo dengan dirinya.
Ya, sejauh ini kamar Axelo hanya dia tempati selama semalam, dan itu pun dia masih harus menggunakan kasur bekas percintaan Axelo dengan Sheilin, apa itu tidak menjijikan.
Dia pun tampak membuka pintu kamarnya, dan kemudian berniat untuk berbaring sejenak. Bukan karena apa, kakinya memang mulai terasa membaik, tapi hatinya tidak, rasanya dia penat sekali harus melalui semua ini di setiap harinya.
Siapapun itu, wanita manapun tentunya pasti akan dibuat kelelahan jika harus menjalani kehidupan seperti ini untuk waktu yang tidak pernah ditentukan.
Lebih baik jika dahulu dia kawin kontrak saja dengan Axelo, setidaknya dia bisa menunggu waktu yang pasti, tapi kalau seperti ini adanya, hanya ada penyesalan yang tak kunjung usai di hatinya.
Ia tampak mulai berbaring di atas kasurnya, hampir terlelap dalam tidurnya setelah mengakhiri perbincangan dengan Geshka.
Namun dia kembali tersadar, manakala dia teringat akan perbincangan yang dia dengar antara Axelo dan Ashkan beberapa saat yang lalu.
Perbincangan tentang penyusup yang entah apa yang dimaksud oleh mereka. Semula dia berpikir kalau mereka mungkin saja berniat untuk mengirim penyusup ke rumah ayahnya.
Dan sekarang agaknya dia masih saja berpikir hal demikian. Bukan tanpa alasan, menurut dirinya, Axelo sangat berambisi ingin mengambil hak pria itu kembali, entah hak yang bagian mana, tapi dia jelas mengetahui kalau Axelo mulai menjalankan rencananya.
Dan sekarang rencana pertama sudah berhasil dia gagalkan. Mungkin saja Axelo telah kehabisan akal, kehabisan pikiran untuk melakukan apa, hingga akhirnya dia pun hanya bisa pasrah saat sang adik berkata kalau dirinya telah mengirim seorang penyusup hebat..
Ia jadi cemas. Cemas kalau saja suaminya akan berontak dan bertindak bodoh terhadap sang ayah.
Secepat kilat dia mengambil ponselnya kembali, padahal semula dia sudah meletakkannya di atas kasur, tapi agaknya kali ini dia benar-benar tidak boleh mengabaikan kekacauan yang mulai Axelo lakukan.
Dia harus menyelamatkan sang ayah sebelum semuanya terlambat.
Dia lekas mengubungi sang ayah, tentunya dengan perasaannya yang sedikit lega pun juga tenang.
Bagaimanapun juga, dia tidak mau membuat ayahnya kembali drop dan masuk rumah sakit. Tak mudah membuat ayahnya bertahan sampai langkah sejauh ini.
Bip!
Tak lama dia menunggu, akhirnya ayahnya mulai mengangkat panggilan darinya. Dia mulai menarik nafas dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya kembali, mencoba lebih tenang menghadapi situasi yang sangat rumit tersebut.
"Hallo, ayah?!" dia tersenyum simpul, pandai sekali dia bersikap berbeda dalam waktu sekejap.
Agaknya dialah yang pantas bersandiwara di banding sahabatnya Geshka.
"*Hua... ha.. ha.... padahal aku sangat mengidolakan Victor, aku ingin sekali berfoto dengannya, tapi kalau sudah terkena berita miring seperti ini, apa aku tidak akan terima skandal juga? karirku kan belum di mulai, huaaaaa*...."
Mendadak mengingat kekonyolan Geshka saat di sambungan beberapa saat yang lalu.
Dia menunggu ayahnya menjawab, kedengarannya sang ayah tengah sibuk di luar sana, entah bagaimana sebabnya.
"*Ah, ya, sayang, apa kau sudah sampai di luar negeri? ayah dengar kau baru saja meninggalkan bandara siang tadi, sayang sekali tidak bisa berpamitan*."
Ucap sang ayah di seberang sana, agaknya sang ayah tengah disibukkan dengan urusan lain. Sayang sekali Valesha benar-benar harus mengganggu ayahnya kali ini, dia harus memastikan kalau di sana tidak ada hal yang mencurigakan.
"Umm, ya, Valesha dan Axelo mengundur jadwal bulan madunya, ayah, karena Axelo tengah sibuk, tapi dia bisa mengatur penerbangan semau dia, jadi tidak perlu khawatir, kami pasti akan menggunakan hadiah yang ayah berikan."
*Humph! sibuk apanya? jangankan ke luar negeri, di rumah sendiri dia seakan tidak menganggap aku ada, sial sekali nasibku*!
Mendadak dia curhat pada hatinya sendiri.
"*Oh, begitu, ya? tidak apa-apa, jangan ganggu dia saat sibuk, atau aku tidak akan mendapatkan cucu dari kalian*."
"Aish!" menepuk jidatnya, "ayah ini, oh iya, apa di rumah ayah ada sesuatu yang tidak seperti biasanya? ouh, maksud Valesha, mungkin orang baru, atau orang yang pindah di sekitar rumah ayah?" Tanya Valesha pada sang ayah.
"*Orang baru? aku pikir tidak ada, apa itu termasuk hal penting? jika menurut kamu penting ayah akan mencari tahu informasi apakah ada tetangga baru di sekitar sini atau tidak*."
Jawab sang ayah dari seberang, rupanya dia tengah disibukkan dengan tanda tangan beberapa dokumen di depan meja, seseorang tengah berada di sana, dan agaknya dia lah klien penting yang akan bekerja sama dengan Tuan Wishnu.
*Ouh, tidak ada ya? lalu kenapa Axelo dan Ashkan berbicara tentang penyusup? apa mereka mengirimkan penyusup ke orang lain? apa mereka punya musuh lainnya*?
*Huhh! rumit sekali, aku tidak bisa menebaknya, apa mereka tidak bisa hidup dengan normal meski hanya beberapa saat saja*?
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu, Valesha akan menutupnya, kedengarannya ayah sedang sibuk, sampai jumpa ayah."
Bip!
Tanpa menunggu kata-kata penutup dari ayahnya, dia segera menutup panggilan di ponselnya, dan berpikir kembali tentang penyusup itu.
*Huhh! Axelo seharusnya mengirim penyusup untuk ayahku, kan? atau dia punya musuh yang lain selain ayahku*?
*Jika memang begitu, aku sangat berterima kasih, untunglah ayahku selamat, aku harap Axelo juga lekas berhenti menaruh dendam pada ayahku*.
*Tapi sepertinya aku juga harus mencari tahu sebenarnya siapa yang salah di masa lalu, jika ayahku tidak bersalah, aku bisa membuktikan pada Axelo, tapi jika sebaliknya, aku tidak tahu harus bagaimana pada ayahku*.
*Hahh! tak tahulah, kakiku rasanya mulai membaik, tapi aku masih butuh istirahat yang nyenyak untuk petang ini, aku tidak akan menunggu sampai malam hanya untuk tertidur, kan*.
Dia pun hanya mulai mencoba baik-saja, meski tak bisa dibohongi, hatinya dan juga pikirannya benar-benar kacau, berkecamuk dan berperang dengan sangat rumit, tidak bisa menebak apa-apa antara yang terjadi pada Axelo dan sang ayah.
Meski begitu esok hari mungkin dia tidak akan menolak lagi, jika harus berpikir bagaimana cara dia membuktikan kebenaran kalau sang ayah tidak pernah bersalah.
Cklek!
Saat itu Valesha telah tertidur dengan lelapnya di atas ranjang, dengan wajah yang sangat penat, dengan sekujur tubuh yang hampir remuk tulangnya, dia terlihat sangat anggun saat tenang dalam tidurnya.
Axelo tidak menyunggingkan senyuman di bibirnya sama sekali. Dia hanya terlihat menatap wajah Valesha dan kemudian mendekat terduduk di samping wanita itu.
Tanpa mengulas senyuman sama sekali dia terlihat begitu dingin, namun ada kesedihan pula yang tertera pada sorot matanya.
Beberapa saat yang lalu, dia yang keras kepala dan tidak mau mengalah didatangi oleh adiknya di halaman belakang, tepatnya saat dia tengah menikmati suasana hening dan tenang di pinggir kolam.
\*\*\*\*\*\*Flashback on\*\*\*\*\*\*\*
Dia tengah bergelut dengan pikirannya yang rumit, antara kesal dan juga marah, namun bercampur dengan rasa sakit yang entah apa sebabnya.
Namun di tengah kekacauan dalam pikirannya, mendadak seseorang datang dengan wajah yang sudah dipenuhi dengan kain perban.
Seperti mumi pada zaman dahulu, wajah Ashkan bahkan tidak terlihat sama sekali, tertutup di semua sisi, dan hanya menyisakan kedua mata dan lubang hidung serta sedikit lubang di bibirnya saja untuk beraktivitas.
Ia tertegun, melihat sang adik yang mendadak terduduk di sampingnya, dan kemudian mengambil nafas panjang.
Dia masih terdiam, tidak mau berkata apapun sebelum adiknya mengeluarkan satu kalimat. Prinsipnya, dia tidak pernah salah, tidak ada kata maaf duluan baginya.
Agaknya dia memang sangat keras kepala.
"Hahh! kak, apa kau tidak mau melihat keadaan kakak ipar?" tanya Ashkan dengan gerakan bibir seadanya, dia bahkan tidak melafalkan kalimat dengan begitu jelas.
Mendengar pertanyaan dari Ashkan, lekas saja Axelo bergeming, sejujurnya hanya kedua matanya saja yang sedikit memicing.
"Kenapa dengan dia?" tanya Axelo pada sang adik, dia bahkan tidak berniat untuk minta maaf pada Ashkan meski dia sudah hampir membunuh adiknya dengan pukulan dan tendangan kerasnya.
"Itulah kau, selalu salah paham, kau memukuli aku karena kau pikir aku berbuat macam-macam pada istrimu, apa kau sedang cemburu?" tanya Ashkan mengalihkan keseriusan di wajah Axelo.
Axelo pun dengan gugup hanya terlihat memalingkan mukanya canggung, mencoba datar saja menghadapi perkataan *cemburu* yang keluar begitu saja dari mulut Ashkan.
"Aku tidak suka basa-basi, ada yang penting katakan saja padaku." Ucap pria itu pada sang adik.
"Dia terkena telur panas saat memasak tadi, karena itulah aku mengobati luka di kakinya, tapi kau tidak mau mendengarkan apa kata dia, sama seperti kau yang tidak akan pernah mau mendengar kata-kata dariku." Ucap Ashkan entah bagaimana ekspresinya sekarang, wajahnya tertutup rapat.
Mendengar perkataan dari Ashkan barusan, lekas Axelo tertegun di tempat berdirinya saat itu. Dia tidak tahu harus berekspresi bagaimana, entah karena dia merasa bersalah, atau dia yang mendadak memikirkan keadaan Valesha.
"Aku sudah memesan makanan untuk kita semua, dia pasti sangat kelaparan, aku harap kau tidak menyiksanya dengan tidak memberi makan sampai dia mati." Ucap Ashkan tidak tanggung-tanggung.
"Hahh! apa urusannya denganku? mati ya mati saja, biar aku pikirkan cara lain untuk membalas dendam kepada Wishnu!" ucap Axelo sembari bergeming dari tempat duduknya, mencoba pergi dengan bergegas, dan kemudian naik ke lantai dua.
__ADS_1
Apa yang akan dia lakukan?
Apa dia akan tidur di jam segini? itu bukan sosok Axelo yang dikenal. Agaknya pria itu terlalu munafik.
Ya, karena sekarang dia sudah berada di depan kamar Valesha, tengah berdiri mematung sembari menimba pilihannya sendiri.
*Apa aku pantas masuk ke dalam kamarnya dan minta maaf lebih dulu*?
Sejenak dia berpikir untuk maju, tapi lagi dan lagi, dia begitu arogan, begitu angkuh, dan punya gengsi yang terlalu tinggi.
*Ah, tidak, ini bukan diriku, biar saja dia mati, bukankah aku menginginkan Wishnu membayar semua kesedihan dan kematian ayahku*?
Dia pun mencoba berbalik, tapi entah mengapa dia sendiri merasa bingung bagaimana bisa dia malah berdiri saja mematung di depan kamar Valesha, sedangkan sebelumnya dia sendiri berniat untuk tidak peduli apa yang terjadi pada wanita itu.
Dan anehnya lagi, entah dia sadar atau tidak, yang pasti sebelumnya dia melangkahkan kedua kakinya untuk naik ke lantai atas, menemui Valesha.
Itu hal terbodoh yang pernah Axelo lakukan.
Tapi entah bagaimana sekarang, hingga pria itu kemudian malah membuka pintu kamar Valesha, dan sekarang dia sudah berada di sisi Valesha.
\*\*\*\*\*\*\*
Ia tampak mengusap rambut Valesha yang semula menutupi sebagian wajahnya. Selimut dia ambil dari sisi yang lain, lalu dia balutan ke sekujur tubuh Valesha, kecuali kaki wanita itu.
Kaki jenjang yang kini terlihat terluka dan berwarna merah padam.
Ia mencari salep yang mungkin saja disimpan oleh Valesha di kamar ini, atau mungkin, dia pernah menyimpannya di sini.
Ah! tapi dia terlalu bodoh, mana mungkin dia pernah peduli pada benda sekecil salep?
Huhh!
Dia pun hanya membuka ponselnya, mengirim pesan pada Wellin untuk segera mengirim salep luka bakar menuju ke dalam kamar Valesha.
Ia bahkan tidak tahu apa yang dia lakukan, agaknya dia sudah kehilangan separuh dari dirinya.
Selesai dia mengetik pesan, dan akhirnya beberapa saat kemudian, Wellin pun terlihat masuk ke dalam kamar yang kebetulan pintunya tidak ditutup oleh Axelo.
"Permisi, tuan, ini salep yang tuan minta." Ucap Wellin, pelayan muda yang sejauh ini adalah pelayan paling dekat dengan Valesha.
Axelo hanya menerima salep pemberian dari Wellin, dan kemudian memberi kode pada Wellin untuk segera keluar dari kamar Valesha.
Wellin hanya menurut, dia bungkukkan badannya ke depan, sekedar memberi hormat pada sang tuan sebelum pada akhirnya dia pergi dari tempat itu.
*Tuan Axelo sangat berubah, aku tidak pernah melihat pria itu sehangat ini dengan seorang wanita, agaknya Nyonya Valesha benar-benar sudah merubah watak dari pria ini*.
Hanya sekelebat perkataan dalam benak Wellin untuk menggambarkan kekagumannya pada sosok Axelo di malam itu, dan setelah itu dia pun berlalu saja meninggalkan Axelo dan Valesha di dalam kamar.
Sementara itu, Axelo yang pada dasarnya adalah pria kaku dan dingin, terlihat tengah membuka tutup salep di tangannya, dan kemudian mengoleskan salep itu pada luka bakar di kaki Valesha.
Entah mengapa hatinya begitu terluka, manakala mendapati luka seperti ini pada kaki istrinya, bagaimana tidak, dia baru saja memukuli Ashkan karena dia anggap terlalu dekat dengan Valesha, tanpa dia ketahui ternyata Valesha mengalami luka yang cukup serius di kakinya.
Padahal Ashkan begitu perhatian dan menjadi orang pertama yang menolong luka di kaki Valesha, lalu apa kabar dengan dirinya yang menjadi suaminya?
Aish!
Dia jadi merasa bersalah, entahlah, sedikit, mungkin.
Bagaimanapun dia telah menyebabkan adiknya terluka, pun tidak memberi perhatian saat Valesha terluka.
Lalu apa mungkin dia merasa menyesal?
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...