Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Mengakulah!


__ADS_3

"Valesha!!"


Blam!!


"Arkh! Sialan!" Teriak seseorang yang entah siapa, Valesh sendiri tidak tahu.


"Dia berlari keluar! Kejar dia, jangan sampai dia berhasil kabur!" Ucap seorang pria yang disinyalir adalah Axelo.


"Oke, cepat tutup pintu gerbangnya!!"


Dan kemudian disusul oleh suara Ashkan beberapa detik kemudian. Agaknya kedua kakak beradik itu tengah dibuat gusar dengan kehadiran sosok yang masih belum diketahui oleh siapapun, kecuali Valesha.


Valesha bersembunyi di balik selimut tebal miliknya, setelah dia mendengar seseorang yang datang dan kemudian mencoba mengejar pria misterius yang sebenarnya dia sendiri sudah pernah melihatnya.


Tatapan mata itu, senyum dan gigi-giginya, dia tidak akan salah mengenali seseorang meski berada dalam kegelapan. Tapi pertanyaannya, mengapa pria itu bisa masuk ke dalam rumah Axelo, dan mengetahui keberadaannya di sana?


Ia tengah mencoba menata degup jantungnya yang semakin bergemuruh dan terus bertalu-talu dengan gugup. Dia tidak bisa menahan hawa panas dan mencekamnya di dalam balutan selimut tebal, bahkan keringat panas dingin itu juga terus menerus membasahi sekujur tubuhnya yang masih bersembunyi di balik selimut.


Tak lama kemudian, lampu dinyalakan, membuat ruang kamarnya menjadi lebih terang, dan sejujurnya jauh lebih baik dari pada sebelumnya.


Valesha masih tidak bergeming, hanya terlihat dia sedikit membuka selimut tebalnya pada area wajahnya, dan menampilkan kedua matanya yang dipenuhi dengan sorot mata ketakutan.


Dia melihat ke sekeliling, nampak suaminya tengah berjalan mendekat ke arahnya, dan kemudian beralih memeluk tubuhnya.


"Tenang, tidak apa-apa, Ashkan sudah mengejar pria itu, aku jamin dia tidak akan bisa selamat." Ucap Axelo sambil mengusap rambut sang istri, bahkan sesekali dia juga mengecup keningnya.


Sang istri tidak bergeming, tidak juga menolak seperti yang biasa dia lakukan. Dia hanya terus terdiam karena rasa takut itu menghampiri sekujur tubuhnya, terutama pada bagian hati kecilnya.


Dia terus mendekatkan wajahnya di dalam pelukan Axelo, bahkan tidak ingin rasanya dia ditinggalkan oleh suaminya untuk sekarang.


Namun momen romantis itu terpaksa harus berakhir, manakala seorang wanita tampak hadir di tengah-tengah kemesraan itu, dan bahkan tidak segan untuk mengganggu waktu berduaan mereka.


"Axelo!" Panggil Sheilin sambil berkacak pinggang di depan pintu kamar Valesha.


Mendengar panggilan tersebut, Axelo tidak bergeming, jangankan menoleh, melirik saja tidak. Justru malah Valesha yang dibuat menoleh dan menatap dua netra tajam milik Sheilin di sana.


"Axelo!!" Teriak Sheilin lagi, kali ini dia bahkan tidak segan-segan untuk mendekat dan kemudian, mencoba untuk melarak tangan Axelo dari sisi Valesha.


"Kemarilah!" Ucap Sheilin sambil melarak lengan Axelo.


Dan hal itu sontak membuat Valesha harus berhenti bermanja, dan juga berhenti meminta perlindungan pada suaminya.


Dia melepas pelukan suaminya, dan beralih menjauh, pada mulanya, sebelum Axelo dengan kesal mendekap tubuhnya lagi dan harus kembali terjebak dalam pelukan Axelo yang memabukkan.


"Um?"


"Axelo! Lepaskan dia! Kamu sudah janji malam ini akan tidur denganku, kenapa kamu malah peluk dia di sini?" Tanya Sheilin dengan sikap manjanya, seperti biasa, sikap manja itu terlalu memuakkan.


"Siapa yang meminta kamu untuk datang? Siapa juga yang berjanji akan menemani kamu malam ini?" Tanya Axelo berbalik pada Sheilin.


"Axelo? Kamu kenapa jadi begini? Aku hanya minta malam ini saja, bukankah kamu biasa memberikannya padaku? Sudah hampir tiga Minggu kita tidak tidur bersama, apa kamu tidak merasa rindu padaku?" Tanya Sheilin, masih dengan sikap manjanya yang memuakkan, lagi dan lagi terasa memuakkan.


"Axelo, kembali ke kamar kamu, aku juga tidak butuh kamu di sini." Ucap Valesha dengan sangat dingin, dia bahkan tidak menoleh ke arah suaminya sama sekali.


Ia berpikir untuk mengalah. Selama ini dia memang selalu mengalah di antara hubungan yang rumit ini. Dia memang selalu bersikap biasa-biasa saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.


Dia hanya menjalani kehidupannya di rumah Axelo demi menyelamatkan hidup sang ayah dari dendam yang disematkan oleh Axelo pada keluarga kecilnya.


Dibanding hidup tenang tanpa Axelo, tapi harus melihat sang ayah berada dalam kekangan dendam Axelo, bukankah lebih baik baginya jika dirinya saja yang menerima perlakuan buruk itu?


Namun Axelo malah menatap kedua matanya, meski Valesha sesekali hanya bisa memalingkan wajah, dan tidak sanggup menatap balik kedua netra Axelo. Pria itu menatap kedua matanya, dan malah berkahir dengan kecewa.


"Aku akan tidur di sini, kau membutuhkan aku, sampai suatu hari nanti, kau akan slalu membutuhkan aku." Jawab Axelo seketika membuat Valesha menoleh, dan kemudian menatap dengan tajam kedua mata Axelo.


Dia tidak habis pikir, mengapa Axelo begitu sekeras itu, begitu tidak bisa dia tebak, begitu sulit untuk dimengerti.


Jika hari itu Axelo menyiksa dirinya dengan menghadirkan wanita lain, dan membuat malam pertama mereka harus berakhir dengan deraian air mata, maka kali ini Axelo bahkan tidak segan untuk mengekang istrinya dalam pelukannya, dan membuat Valesha tidak bisa melepaskan diri dari jerat tali yang mengikat sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Valesha terdiam membisu, tidak ada gunanya juga dia menolak. Selama ini dia berusaha untuk menolak, tapi lihat saja apa yang dilakukan oleh pria ini untuknya, pria ini selalu memaksa dirinya untuk melakukan apa yang dia minta.


"Axelo, apa-apaan kamu! Mana bisa kamu tinggalin aku demi sama wanita ini!" Rengek Sheilin dengan wajah buruknya itu.


Sekali lagi Axelo tidak menggubrisnya. Dia malah meraba kulit Valesha yang selembut sutra, lalu kemudian mengecup punggung tangan Valesha.


"Istriku lebih berharga dibanding wanita lain."


Tapi wanita lain itu, malah kamu gunakan untuk menyakiti istri kamu sendiri di malam pertama kalian. Entah apa yang tengah di pikirkan oleh Axelo sekarang, namun seperti biasa, dia termasuk pria yang sangat sulit untuk ditebak.


Kedua mata Axelo mengarah pada dua bodyguard di depan pintu kamar Valesha. Seketika dua pria itu langsung bergerak dan kemudian melarak tubuh cantik, jenjang dan tinggi yang dimiliki oleh Sheilin.


"Kalian mau apa? Axelo! Jangan kurang ajar! Teganya kamu, Axelo!! Lepaskan aku!!" Teriak Sheilin, dia sangat berisik hingga membuat telinga semua orang merasa berdenging.


Tubuh itu dilarak dengan sekuat tenaga oleh dua bodyguard milik Axelo. Kedua pria bertubuh tinggi dan tegap, dengan setelan jas hitam pekat, dan jangan lupakan pula untuk rambut rapinya itu tidak segan-segan memberikan kekerasan terhadap Sheilin, sampai akhirnya Sheilin pun dibuat mengalah.


Wanita itu dilempar saja di atas sofa ruang tengah, dan dibiarkan sendirian di sana.


Brukk!


"Arkh!"


Ia dibiarkan menikmati suasana malam yang dingin itu hanya seorang diri saja, tidak berteman dengan siapapun, kecuali dengan kemarahan dan rasa kesal itu dalam dadanya.


Awas saja kamu, Valesha! Selamanya kamu tidak akan bisa hidup dengan tenang!


Umpatnya dalam hati kecilnya. Mungkin dia tidak terima kalau kekasih hatinya itu malah lebih memilih istri sahnya yang bukan seorang wanita cantik seperti dirinya.


Tubuhnya yang sintal, dengan dua buah kenyal yang berisi dan sangat lembut, dua gundukan pada bagian belakang, menambah keindahan pada tubuhnya itu.


Wajahnya juga tidak kalah saing dengan Valesha, baginya, rambutnya yang dicat dengan warna merah padam, kulitnya yang putih bersih mulus tiada noda yang membekas di sana, bahkan luka koreng pun tidak ada.


Baginya dirinya memang sangat sempurna, dan tentulah dia merasa sombong dan tidak pernah percaya kalau Axelo bahkan jauh lebih memilih gadis yang polos dan bahkan tidak pernah terlihat mengenakan make up sedikitpun di wajahnya.


Entah mengapa dia jadi heran sendiri.




Bukk!


Pufffffff


Darah menyembur dari mulut seseorang yang berhasil ditangkap oleh Ashkan beberapa saat setelah dilakukan pengejaran.


"Katakan siapa yang menyuruh kamu!?" Tanya Ashkan dengan nada marahnya, namun sangat dalam.


Di sekelilingnya anak buahnya juga ikut serta dalam aksi pemukulan yang Ashkan lakukan pada seorang pria yang diduga masuk ke dalam rumah sang kakak dan berusaha untuk meniduri istri sah kakaknya.


"Aku berani bersumpah, tuan! Aku tidak melakukan apapun?" Ucap pria dalam kekangan tangan Ashkan itu.


Sekuat apapun Ashkan berusaha untuk memaksa pria itu mengakui kesalahannya, tapi pria itu tetap memberi jawaban yang sama. Entah benar atau tidak jawaban dari pria ini, semuanya terasa sangatlah meragukan.


Bukk!


Kesal! Siapa pula yang tak kesal saat harus menghadapi pelaku kejahatan yang tidak mau mengakui kesalahannya. Dia memukuli pria itu sampai babak belur dibuatnya. Tapi pria itu masih tidak bisa mengakui perbuatannya.


"Katakan padaku, siapa yang menyuruh kamu!!"


"Tidak, Tuan! Aku berani bersumpah, aku tidak melakukan apapun yang dimaksud oleh Tuan, anda pasti sudah salah orang." Jawab pria itu lagi.


Ashkan dengan kesal melepas jeratan tangannya pada kerah kemeja pria tersebut, setelah memastikan pria ini tidak mengetahui apapun.


Dia terlihat mengumpat sembari mengusap rambutnya dengan sangat kesal.


Lalu dia siapa??

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Ia masih terus mengelus rambut istrinya, dengan belaian mesra penuh kehangatan, juga penuh kasih sayang. Entah, apa benar kasih sayang itu juga dia curahkan pada sang istri saat dalam masa-masa seperti ini.


Namun dia terlihat begitu hangat dibanding hari-hari biasanya. Memang sejak beberapa hari yang lalu, sikap Axelo menjadi berubah sangat berbeda. Dia yang acuh dan dingin, dengan sikap yang sangat menjengkelkan, dengan dendam yang terus menghiasi wajah tampannya, entah mengapa sekarang berubah menjadi sangat halus dan juga lembut, bahkan Valesha pun hampir dibuat buat dengan kelembutan yang diberikan oleh Axelo padanya.


"Sayang, tidurlah, jangan begadang terlalu malam."


Pria itu bahkan mencemaskan Valesha saat wanita itu tidak bisa tertidur atau sekedar memejamkan kedua matanya saja. Dia terlihat tidak baik-baik saja setelah mengalami kejadian mengerikan itu di kamarnya.


*Aku tidak bisa tidur, jujur saja, aku ingin kamu peluk, hanya saja, aku tahu pelukan itu akan sangat menyakiti hatiku, juga akan sangat menyakiti hati ayahku juga tahu, kau hanya menikahi aku karena dendam*..


*Jika saja sejak awal kamu tidak lebih dulu mengatakan tidak pernah mencintai aku dan hanya menikahi aku sebatas dendam, aku mungkin masih mencintai kamu begitu dalam, tidak membenci kamu, atau bahkan ingin meninggalkan kamu*..


*Sayang sekali, kau terlanjur membuat aku benci padamu, meski aku pun masih merasa, masih ada seberkas rasa cinta yang tumbuh di hatiku untuk kamu, sayangnya, aku tahu aku menaruh cintaku pada pria yang salah*..


*Lalu pria yang tadi, mengapa dia begitu mirip dengan pria yang aku temui di kafe? Aku jadi merasa, kedua orang ini punya hubungan yang sangat rumit, lalu bagaimana dia bisa tahu rumah Axelo, dan mengetahui kalau aku juga tinggal di sini*?


*Kecuali ada seseorang yang mengatakan keberadaan kami berdua, entah mengapa aku menebak demikian*.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Blam!


Pukulan itu kembali mendarat di pipi kanan pria tersebut. Sudah setengah hari dia ditahan di kediaman Axelo yang sangat tidak biasa itu. Dia terlihat berdarah-darah, dengan wajah yang sudah lebam sana dan sini, namun dia tetap saja tidak mau mengakui kesalahannya.


"Katakan padaku siapa yang menyuruh kamu!!" teriak Ashkan tepat di depan wajah pria tersebut.


Namun kondisi sang pria makin lemah. Dia pun hanya bisa mencoba mengatur sisa-sisa nafasnya yang memburu sehabis dipukuli oleh Ashkan tiada ampun.


Tidak ada pengakuan, maka tidak ada ampunan, sayang sekali, Ashkan memang sudah salah orang.


"Aku, aku tidak melakukannya.."


"Sialan!!!"


Bukkk!


Satu tendangan keras berhasil mengenai perut pria muda tersebut. Ashkan yang marah memang tidak bisa dianggap remeh, agaknya sang kakak pun akan dibuat kalah oleh adik kandungnya itu.


Namun aksi Ashkan itu harus berhenti, sesaat setelah melihat kedatangan sang kakak ke dalam ruang gelap tersebut, sembari memasang wajah dingin dan menakutkannya.


"Pria seperti dia tidak bisa dihukum dengan keras," ucap Axelo pada sang adik, tanpa menoleh sedikit saja, pandangan matanya selalu tepat di hadapan pria yang tengah diikat kedua tangan dan kedua kakinya itu dengan sangat keji.


Ia berjalan mendekat ke arah sang pria muda yang disinyalir adalah pelaku yang akan meniduri Valesha di rumah Axelo.


Pria itu melakukan beberapa kesalahan sekaligus, kesalahan pertama, dia mencoba untuk merenggut apa yang seharusnya menjadi milik tuan Axelo, King Of Mafia, juga termasuk salah seorang yang terpandang dan orang yang disegani oleh banyak orang.


Kesalahan kedua olehnya adalah, dia melakukan aksinya tepat di dalam kediaman besar Axelo, yang dari dua kesalahan itu saja, tidak ada satu pun yang akan Axelo maafkan.


Kini dia hanya bisa menatap ke arah depan dengan tatapan mata penuh ketakutan. Apalagi saat dia melihat sendiri saat Axelo mulai mengusap pistolnya dengan sebuah tisu, agaknya pria itu juga telah bersiap untuk menembak kepalanya kapanpun dia mau.


"Tuan, jangan?!" teriak pria itu pada Axelo.


Melihat ketakutan itu di wajah sang tahanan, Axelo pun lantas terkekeh. Dia terlihat tidak baik-baik saja. Ida nampak kasihan melihat wajah pria muda itu bersimbah darah, bercampur dengan peluh, namun masih bisa juga menangis menolak pada kematian.


Axelo terhenti dari aktivitasnya. Dia meletakkan kembali pistol miliknya di atas tangan sang bawahan, dan kemudian berjalan lagi saja dia mendekat ke sana.


"Katakan padaku siapa yang menyuruh kamu melakukannya!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2