Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Suamiku


__ADS_3

Dia terlihat meletakkan tas miliknya di atas meja saat telah tiba di rumah suaminya.


Wajahnya tampak shock dan bahkan terlihat begitu pucat. Agaknya dia baru saja menemui masalah yang sangat besar sebelumnya.


Ia langsung terduduk dan termenung di atas kasurnya, tak peduli dimana kiranya suaminya sekarang, apakah Axelo sudah pulang atau belum, dia sungguh tidak peduli akan hal itu.


Sepertinya dia benar-benar memikirkan satu masalah yang sangat serius.


Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata perusahaan ayah sekacau itu, aku bahkan mengira kalau Neil selama ini bisa kami percaya, tapi perkataan salah satu bawahannya, aku jelas tidak bisa lagi mempercayai Neil.


Tapi jika aku tidak bisa mempercayai pria itu lagi, harus kepada siapa aku menyerahkan perusahan itu untuk sementara waktu, sampai situasi antara aku dan Axelo benar-benar telah berkahir?


Aku yakin jika aku memegang kendali perusahaan itu, Axelo pasti akan mempengaruhi perkembangan perusahaan itu, dan aku takut dia akan berbuat lebih nekad lagi hanya untuk mendapat apa yang dia inginkan..


Tapi kalau sudah begini, sudah tidak ada lagi yang bisa aku percayai, huhh! ini benar-benar masalah yang sangat serius.


Dia kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan melihat laporan keuangan dua bulan terkahir. Lagi dan lagi dia sangat terkejut dibuatnya.


Meski ini bukan pertama kali Valesha melihat laporan tersebut, tapi dia masih saja shock dengan hasil yang dia lihat di dalam laporan tersebut..


"Hahh!"


Dia pun hanya bisa menghela nafasnya dengan sangat berat, rasanya dia benar-benar kesal dengan apa yang dia lihat barusan.


"Bagaimana bisa semuanya jadi serumit ini? kenapa semuanya seakan hancur seperti sampah yang tidak berguna? lalu kenapa bisa ayah malah terus mempercayai mereka selama lebih dari lima tahun lamanya? apa ayah tidak pernah mendapat laporan ini selama beberapa bulan terkahir?" gumam mulutnya terdengar lirih, tapi sayang sekali, seseorang mendengar keluh kesahnya di depan pintu.


Dia tampak berdiri dengan gagahnya dengan setelah jas berwarna hitam pekatnya, tampak menatap ke arah Valesha dengan tatapan yang dingin.


Hemm, bagaimana dia bisa ke sana tanpa memberitahu aku terlebih dulu? apa dia benar-benar mencurigai aku akan merebut perusahaan itu dirinya?


Dia berhenti berpikir, melihat sang istri yang tengah risau dengan keadaan yang mencekik, dia jelas tahu ada hal yang tak beres dari kertas ditangannya, yang bisa dipastikan kalau kertas itu berhubungan dengan perusahaan Valesha.


Dia jelas tahu kalau Valesha baru saja pergi ke perusahaan sang ayah. Dia tahu itu, dari Oaklard dan beberapa anak buah lainnya. Meski dia tahu kalau Valesha datang bersama dengan bodyguard nya siang tadi, tapi dia jelas tidak tahu kalau wanita itu pulang dengan membawa berkas laporan yang terlihat begitu penting.


Kini dia hanya bisa menatapi Valesha di ambang pintu, apa itu benar?


Tentu saja tidak.


Bukan Axelo namanya kalau belum bisa membuat kekacauan pada sang istri.


Dia pun mulai terlihat mendekat ke arah Valesha mengejutkan Valesha dengan tampang mukanya yang terlihat menyeramkan.


"Hemm, ada yang tengah menghadapi masalah serius di perusahaannya."


"A?"


Sontak Valesha merasa terkejut dengan kehadiran Axelo. Dia pun langsung menyembunyikan kertas yang ada di tangannya itu dan mulai mencari alasan di depan pria itu.


"Ka-kau? kenapa kamu bisa masuk?"


"Kamu lupa menutup dan mengunci pintunya," ucap pria itu sambil membuka jas hitamnya dan berlanjut membuka kancing lengan kemeja putih yang dia kenakan itu.


Valesha terus terdiam membisu. Dia tak mau berbicara apapun pada pria ini, bagi dia tak ada gunanya memang terus berbicara dengan pria di depannya, hanya membuang waktunya saja.


Namun Axelo tak kehabisan akal. Dia melihat istrinya malah dengan sigap menyembunyikan kertas di tangannya, hal itu jelas membuat Axelo semakin dihantui rasa penasaran.


Agaknya dia ingin tahu betul apa yang tengah disembunyikan oleh sang istri.

__ADS_1


"Apa yang kau sembunyikan dariku?" tanya Axelo pada sang istri tanpa basa-basi.


"A? tidak, aku tidak menyembunyikan apapun." Jawab Valesha dengan gugup, jelas malah ekspresinya itu memberitahu Axelo kalau dia memang sedang menyembunyikan sesuatu dari pria itu.


Axelo semakin dibuat gila. Dia tak tahan melihat kebohongan di depan kedua matanya. Sekalinya dia tahu kalau seseorang tengah berbohong, maka saat itu juga dia harus membongkar kebohongan orang itu, termasuk juga untuk istrinya.


Dia jelas bukan pria yang mudah untuk dibohongi.


"Berikan padaku!" ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya pada sang istri.


Valesha yang gugup hanya bisa mendongak dan kemudian menatap suaminya masih dengan perasaan gugup di dalam hatinya.


"A? tidak, untuk apa?"


"Berikan saja padaku, aku mau lihat!" ucap pria itu lagi.


Jelas sekali Axelo tengah memaksa sang istri untuk mengabulkan apa yang ia minta.


Sayang sekali Valesha bahkan tidak berani untuk menunjukkan kertas itu pada Axelo.


"Tidak boleh, kamu tidak punya hak untuk melihat kertas ini, jangan mimpi!" jawab Valesha membantah kemauan suaminya.


Namun Axelo yang keras jelas tidak mau begitu saja berlalu dari kebohongan. Dia harus mendapat apa yang dia inginkan.


"Kemarilah."


Sret!!


"A? Axelo? apa yang kau lakukan?" teriak wanita itu sesaat setelah Axelo berhasil merebut kertas di tangannya yang bahkan dia sembunyikan dengan begitu rapi.


Dia terlihat mencoba menggapai kertas di tangan Axelo, namun tubuhnya sangat kecil, bahkan sampai di ketiak Axelo pun tidak.


Tinggi Axelo semakin jelas terlihat hampir mencapai 180 cm, ukuran yang cukup tinggi untuk seorang gadis seperti Valesha yang bertubuh kecil dan mungil.


"Axelo tolong berikan kertas itu padaku, aku mohon."


Meski tak bisa, dan berasa sangat mustahil, wanita itu terus saja mencoba menggapai kertas yang pada saat itu tengah dibaca dengan seksama oleh Axelo.


Hmm, laporan keuangan ini benar-benar kritis, kenapa bisa perusahaan itu mengalami kemerosotan yang sangat pesat?


Jika begini terus, jelas perusahaan butuh suntikan dana.


Dia masih saja sibuk berpikir dan malah mengacuhkan Valesha di sana, agaknya Valesha juga bahkan tidak terlihat oleh dirinya..


"Berikan padaku, Axelo!"


Sret!


Dan setelah perjuangan panjang yang dilakukan oleh Valesha demi untuk menggapai kertas di tangan suaminya itu, akhirnya dia pun bisa mendapatkannya. Satu kemajuan yang bisa dibilang pesat.


"Huhh! jangan sampai kamu merusaknya, jika kau merusaknya aku tidak akan tinggal diam." Ucap Valesha sambil meletakkan kertas itu dengan rapi di dalam tas miliknya.


"Kenapa begitu peduli? apa laporan seperti itu sangat penting bagi kamu?" tanya Axelo, seakan benar-benar merendahkan Valesha, ya, itu yang dirasakan oleh Valesha memang.


"Apa kamu bilang? apa menurut kamu itu bukan satu hal yang penting?" tanya Valesha pada suaminya.


"Tentu saja, kenapa hal seperti itu kau simpan saja?"

__ADS_1


"Sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan dirimu, tidak penting sama sekali!" ucap wanita itu sambil bergerak menjauh dari Axelo berdiri.


Namun..


Hap!


Mendadak tangan Axelo malah meraih pinggulnya dengan sangat mesra, memeluknya dengan penuh kehangatan, hingga membuat Valesha tidak bisa lagi bergerak pergi.


"Kau tidak suka kau pergi saat aku berbicara."


"Kau slalu saja tidak suka akan apa yang aku lakukan, apa aku pernah mendengar kamu suka?" tanya Valesha pada suaminya, agaknya dia mulai dibuat kesal oleh sang suami, ya, sejak awal dia memang tak pernah tak kesal dengan pria itu.


Namun agaknya jawaban menjengkelkan dari Valesha untuknya sama sekali tidak mendapat respon darinya. Dia malah tampak semakin mendekap erat tubuh Valesha tanpa berpikir kalau wanita itu jelas sangat kesal pada dirinya.


Dia mulai terlihat membeku, apalagi dengan kondisi Axelo yang semakin erat mendekap tubuhnya tanpa rasa bersalah, entah mengapa dia malah semakin dibuat mematung dengan keadaan semacam ini.


"Aku memang tak pernah suka, sama sekali tidak pernah menyukai apa yang kamu lakukan, apalagi saat kamu ketahuan berbohong, kecuali, saat kamu bermain dengan keindahan tubuh kamu di atas ranjang, dan memuaskan aku dengan sikap lembut kami itu," ucap Axelo berbisik manja di telinga Valesha.


Cup!


"Ugh.. Axelo.."


Dan kemudian terlihat mulai berbuat nakal pada istrinya, meraba bagian paha istrinya dengan sangat halus, dengan jari jemari tangannya yang sudah terkenal lihai memainkan peran sebagai seorang pria penggoda, tentu saja hanya membuai wanita lemah seperti Valesha tidak akan terasa sulit bagi dirinya.


"Jangan nakal Axelo, jangan lakukan!" tolak Valesha berusaha untuk lepas dari pria ini.


Tapi pria itu tak bisa dia hentikan dengan mudah, bahkan dia begitu kesulitan hanya untuk bergerak dari dekapan tangan Axelo yang memaksa itu, sampai akhirnya, seperti biasanya, dia harus kembali kalah dengan kegagalan.


Bruk!


Tubuh Valesha dijatuhkan di atas kasur, dengan posisi suaminya yang langsung menindih tubuh Valesha yang mungil.


Dada Valesha semakin terasa sesak, tapi mau bagaimana lagi, hanya mengalah saja yang bisa dia lakukan saat berada di depan pria ini.


Dengan penuh ambisi pria ini mel*mat bibirnya, melahap semua yang ada di pada tubuhnya tanpa ampun, bahkan mereka lupa menutup pintu kamar.


"Axelo, aku tidak mau, lepaskan aku.."


Cup!


Pria itu tak memberi Valesha sedikit saja kesempatan untuk berbicara, bahkan mengambil nafas saja tidak. Dia benar-benar ingin membalas dendam pada wanita ini karena telah membohongi dia dan menyembunyikan rahasia dari dirinya.


"Lihat saja hukuman yang akan aku berikan, aku pastikan kamu akan merasa jera."


Cup!


"Uhm.."


Ax...


Se..


Lo...


Kamu jahat! juga egois!!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2