
"Kau gila!!"
Prak!
Seseorang membuang ponsel yang tengah digunakan oleh Sheilin untuk menghubungi seseorang.
Ponsel yang digenggam Sheilin bahkan harus terjatuh dan mati di atas lantai. Sheilin membolakan kedua matanya, menatap dengan tatapan mengerikan ponselnya yang sudah menjadi bangkai tidak tertolong lagi.
Dia lekas menoleh, amarahnya memuncak, wajahnya memerah dengan riasan kedua mata yang sudah tersulut api emosi.
Namun seketika dia menutup wajah amarahnya itu manakala yang dia dapati di sebelahnya adalah sang ibunda.
"Ah? ibu? kenapa kau melakukannya?" tanya Sheilin seolah tak menduga kalau ibunya begitu bersikeras menentang apa yang barusan dia inginkan.
"Dasar ceroboh! ibu hanya mau dia datang secara hidup-hidup, jika mati, kita tidak bisa mengambil semua yang kita mau, ingat, Sheilin, perusahaan Wishnu semuanya sudah atas nama Valesha, bagaimana kalau dia mati? siapa yang akan memberikan harta warisan itu pada kita?" tegas ibunda Sheilin, yang rupanya juga terlibat dalam acara penculikan ini.
"Tapi ibu, yang aku mau cuma menyingkirkan Valesha dan Victor, kalau Valesha tidak mati, bagaimana aku bisa mendapatkan Axelo kembali?" tanya Sheilin sudah mulai mencemaskan nasibnya di masa depan.
"Dasar bodoh! kalau kamu sudah berhasil mendapat harta warisan Wishnu dari Valesha, buat apa kamu menikahi Axelo? tidak berguna juga! harta warisan mendiang istrinya Tuan Wishnu masih menjadi teka-teki, banyak yang bilang jumlahnya bahkan jauh lebih banyak dari yang dimiliki oleh Axelo sekarang, bagaimana jika hal itu memang benar?" tanya Ibunda Sheilin benar-benar ingin mempengaruhi anaknya sendiri untuk melakukan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Sejenak Sheilin pun pada akhirnya berpikir kembali. Dia yang memang sejak awal mendekati Axelo karena kekayaan pria itu, lalu kemudian Axelo mengiming-imingi dia dengan pembagian harta warisan yang ingin Axelo ambil kembali dari Tuan Wishnu Fotham, mungkin semuanya akan menjadi lebih baik jika dia mendapatkan semuanya sendirian, tanpa adanya campur tangan Axelo.
Dia pun menyunggingkan senyuman tipis-tipis di depan ibunya, setelah akhirnya mendapat kesimpulan atas apa yang dia pikirkan sebelum ini..
"Ibu benar, untuk apa aku terus menerus mengejar Axelo, jika melalui Valesha saja, aku sudah bisa mendapatkan segalanya yang kita mau."
Kedua orang itu tampak tersenyum licik di dalam sebuah ruangan yang letaknya masih berada di rumah Neil.
Mereka bahkan dengan sengaja mengendalikan situasinya dengan Serapi mungkin. Mereka semua rela menyusul Valesha dan Axelo ke negara Z hanya untuk melancarkan aksi mereka itu.
Terkadang berbuat jahat memang perlu satu kata, nekad.
Keduanya akhirnya tersenyum puas dengan keputusan mereka.
Bip!
"Hallo, nyonya?"
"Perubahan rencana, jangan biarkan Valesha mati! bala bantuan yang dikerahkan oleh Neil sudah hampir tiba, jangan sampai kamu tidak membawa Valesha kemari!"
__ADS_1
"Tap, tapi, masalahnya nyonya.."
"Masalah apa lagi?" ketus Sheilin tak suka anak buahnya berkata tentang permasalahan yang tidak ingin dia dengar.
"Wanita gila ini, benar-benar mau membuka pintunya!! jangan harap kamu!!"
"Apa?"
Raut muka kesal penuh keterkejutan.
"Lepaskan aku! kau bilang turun saja kalau berani, kenapa sekarang tidak boleh?"
Terdengar suara Valesha berteriak di seberang. Agaknya Valesha benar-benar tidak takut mati meskipun harus loncat dari mobil tersebut.
"Aku tidak mau tahu! dia harus dibawa kemari hidup-hidup! aku menunggu kamu di rumah Neil!!"
"Ba, baik!"
Bip!
__ADS_1
"Sialan!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...