Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Dalangnya


__ADS_3

Keadaan di jalan raya semakin terasa menegangkan. Apalagi sekarang keduanya mulai melalui jalanan sulit menuju ke arah pegunungan, dengan medan yang cukup terjal dan mengerikan..


Entah kemana penculik itu mau membawa Valesha pergi, mungkin saja dia tengah mencoba mengecoh pergerakan Axelo dan Ashkan di belakang..


Hanya saja, dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Selain si pengemudi handal di mobil belakang, ada juga pria pemberani yang selalu berlatih menembak setiap tiga hari dalam satu Minggu.


Tentunya dia sedang mencari mati. Dia mencoba menjebak Ashkan untuk melalui jalanan sulit dan sempit seperti ini, tapi dia tak pernah tahu, kalau Ashkan juga pernah menaklukkan beberapa musuh dalam tempat yang hampir sama persis seperti ini.


Meski begitu, nampak wajah Ashkan yang ketar-ketir dan sedikit kewalahan mengikuti mobil di depannya.


Terlihat sekali rasa gugup itu mulai menguasai wajah Ashkan sampai menjalar ke sekujur tubuhnya, membuat pergerakan kedua tangannya dan fokus di dalam otaknya terasa menurun.


Axelo pun merasakannya. Kemudi setir yang dikendalikan oleh Ashkan nampak membuat mobil oleng ke kanan dan ke kiri, membuat dia yang hendak berusaha menembak ke depan pun harus berulang kali merasakan kegagalan.


"Ck, kau ini sedang apa? fokuskan otakmu!" ucap Axelo mulai merasa geram.


"Apa yang kau bicarakan, aku baru saja melalui jalanan ini seumur hidupku, meski aku ahlinya menyetir, tapi saat dihadapkan oleh jalanan semacam baru aku juga merasa gugup." Jawab Ashkan sambil terus mengawasi di depan dan berusaha untuk lebih baik lagi mengendalikan mobilnya.


"Aku tidak tahu kau tidak pernah lewat kemari, baguslah, artinya aku juga dalam bahaya!"


"Bertahanlah anak pintar, merunduklah ke bawah dan jangan tunjukkan bagian kepalamu." Gumam Axelo sambil terus memandang ke arah kaca belakang mobil si penculik tersebut.


Sementara dari mobil di bagian depan Valesha seolah dapat merasakan dan mengerti apa yang tengah dimaksud oleh tatapan suaminya itu.


Dia pun lekas menunduk, menyembunyikan kepalanya dengan sangat aman di ruang sempit yang memisahkan antara jok depan dan belakang.


"Anak pintar!"


Gumam Axelo lagi setelah menyadari istrinya menunduk dan menyembunyikan kepalanya.


Dor!


Tembakan kembali dilepaskan oleh Axelo ke arah mobil si penculik, hingga kali ini nampak mengenai kaca belakang mobil tersebut..


"Arkh!"


Valesha terlihat memekik. Memekik bukan karena merasa takut akan mati, melainkan karena terkejut mendengar tembakan yang terasa memekakkan telinga tersebut.


Kaca mobil mulai retak, pecah, dan kemudian berhamburan menimpa jok bagian belakang yang untung saja tidak sedang diduduki oleh Valesha.

__ADS_1


"Sialan!!"


Si penculik itu kemudian terlihat memukul setirnya lagi, merasa geram dengan keadaan yang tak kunjung berpihak kepadanya, bahkan terasa semakin menyudutkan padanya.


Dia kemudian tampak membanting setirnya lagi ke arah kiri, berbelok menuju ke arah jalanan yang lebih sempit dan tentu saja semakin tidak mudah untuk dilalui.


Dalam keadaan tersebut, Ashkan pun tampak terkejut dengan kejutan yang diberikan oleh si penculik di depan.


Dalam kondisi gelap gulita dan hanya mengandalkan pada lampu mobilnya, dia terus mencoba untuk mengejar penculik di depan dengan keadaan yang semakin gugup.


"Sialan, jalan ini bahkan tidak seharusnya di lalui oleh mobil, apalagi sampai dibuat aksi kejar-kejaran, apa mereka tidak membangun jalanan sampai ke pelosok?" gumam Ashkan dengan kesalnya karena harus melalui jalanan seperti itu.


"Jangan mengomel terus, ayo kendarai lebih cepat lagi, mereka sudah hampir tidak terlihat."


Namun sang kakak tidak mau mengerti akan kesusahannya. Justru sebaliknya, Axelo malah terus memaksa Ashkan untuk melaju lebih kencang lagi, tak peduli seberapa bahaya jalanan di depan sana.


"Kau bahkan mengacuhkan aku!"


Sementara di mobil depan tampak Valesha yang masih terus merunduk ketakutan dengan sekujur tubuh yang semakin gemetar dengan hebat.


Dalam situasi menegangkan tersebut, terdengar dengan jelas si penculik di depan terdengar tengah berusaha untuk menghubungi seseorang.


"Hallo, nyonya, aku sudah berhasil menculik dia, tapi aku sama sekali tidak aman sekarang, dua pria mengejarku, dan aku butuh bantuan segera."


"Dimana kamu sekarang?"


Klik!


Valesha memiliki ide yang cukup cemerlang. Dia segera memotret wajah pria itu dari belakang, sampai terlihat agak jelas pada bagian pipi kiri pria itu, dan kemudian dengan segera mengirim pada Axelo.


Entah mengapa, padahal dia tengah marah dan memang terus merasa jengkel pada Axelo. Namun di saat-saat seperti ini, justru Axelo lah yang dia berikan petunjuk tentang penculik itu.


Dring!


Tak lama setelah Valesha mengirim pesan tersebut pada Axelo, Axelo pun menerima pesannya. Dia lekas membukanya setelah mengetahui kalau pesan itu dari sang istri.


Dia kemudian segera mengirimkan foto tersebut pada Oaklard di sela-sela pengejaran mobil penculik di depan.


Sebentar dia berusaha mengetik, mengirim beberapa kata untuk Oaklard.

__ADS_1


"Cari tahu siapa pria itu, dan apakah dia punya kerja sama dengan seseorang."


Sent!


Di sisi lain, tampak wajah Ashkan yang terus menatap ke depan namun arah fokusnya malah tertuju pada Axelo yang mendadak menerima dan mengirim pesan pada seseorang.


Tentu saja sikap lumrah dari semua orang adalah merasa penasaran pada siapa kiranya Axelo mengirim pesan tersebut.


"Siapa yang mengirim kamu pesan? siapa juga yang kamu kirimi pesan? apa dia wanita? apa dia Sheilin?"


"Cerewet!"


"Heng! kau juga sangat berlebihan mengkhawatirkan wanita itu, awas saja kalau sampai aku dengar kau mulai jatuh cinta, aku harus makan di restoran mahal dengan uang kamu itu."


"Coba saja kalau berani, mau sampai kapan akan menungguku, setidaknya kamu harus berlatih untuk tidak bosan."


*Sheilin? Heng! dia bahkan jauh lebih buruk dari Valesha, apa aku bahkan tidak punya harga diri sampai memikirkannya*?


...----------------...


Tak tak tak tak tak tak!


Langkah kaki seseorang terdengar menggaung di seluruh ruangan rumah yang tak seberapa besarnya tersebut.


Dia tampak berjalan mendekat ke arah sang tuan dan beberapa orang lainnya di ruang tengah, tepatnya saat semua orang tengah bersama-sama meminum teh tawar mereka di atas meja.


Dia menghadap ke depan seorang wanita yang tampak elegan dengan bibir yang sengaja dilukis merah mempesona.


"Ya, nyonya Ahwei?" ucap pria yang baru saja masuk tersebut.


"Dia sedang dalam perjalanan kemari, tolong bantu dia untuk segera tiba, dia punya kendala, dua pria dengan satu pandai mengemudi, dan satunya lagi pandai menembak, aku mau dia dibawa kemari dengan selamat, biar aku saja yang menyiksanya sampai mati! lebih cepat dia mati, maka itu artinya semuanya akan menjadi lebih baik!"


"Baik, nyonya!"


"Terima kasih Bibi sudah mau membantu aku menyingkirkan dia, balas dendam ini, aku harus segera menuntaskannya, terima kasih atas kebaikan keluarga kamu, Neil, kalian sangat berjasa bagi aku dan ibuku." Tersenyum dan melirik ibunya di sampingnya.


Dan akhirnya aku mungkin bisa menyingkirkan kalian berdua sekaligus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2