Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Cemas, Apa Itu Salah?


__ADS_3

Tok tok tok!


Suara pintu yang terdengar diketuk dengan nyaring, membuat seluruh penghuni rumah terlihat saling menatap penuh tanda tanya.


Tak berselang lama mereka semua terdiam saling bertatap muka, sampai akhirnya salah seorang pelayan memutuskan untuk menuju ke arah pintu utama dan mulai membukakan pintu.


Pelayan wanita itu begitu terkejut melihat siapa pula yang datang..


Apalagi dengan koper kecil yang ditenteng oleh wanita itu.


"Ah? No-nona? Nona Valesha?" tanya pelayan itu dengan raut muka membiru.


"Um? kenapa kamu begitu terkejut melihat kepulanganku? apa kalian tidak suka melihat aku pulang tanpa lebih dulu memberi kabar?" tanya Valesha pada pelayan wanita itu.


Dan tanpa basa-basi lagi, segera saja Valesha masuk ke dalam kediaman ayahnya dengan meninggalkan koper miliknya di luar pintu utama, membiarkan sang pelayan membawanya masuk.


Semua orang juga terlihat terkejut menyadari seseorang yang datang ke rumah sang tuan besar.


Mereka semua seperti ketakutan saat mendapati siapa pula yang hadir untuk memberi mereka kejutan di tengah malam itu.


Entah kenapa mereka merasa ketakutan seperti itu. Dari penglihatan Valesha, agaknya para pelayan ini menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


Benarkah dugaannya itu?


"No-nona Valesha?" semua orang tampak pucat.


Lagi dan lagi Valesha dibuat kebingungan melihat ekspresi para pelayan yang sangat jauh dari yang dia harapkan.


Dia pun hanya bisa kembali bertanya tentang persoalan yang ada dalam hatinya.


"Um? ada apa ini? kalian juga terkejut? apa kalian tidak berharap aku akan pulang? atau kalian memang belum bersiap untuk menyambut kedatanganku?" tanya Valesha sambil membuka jaket bulu yang dia kenakan sejak turun dari pesawat beberapa jam yang lalu.


"Bu-bukan begitu maksud kami, Nona, tapi.." seorang pelayan tampak gugup mengutarakan hatinya.


"Ah, nona, selamat datang kembali, maaf kedatangan anda membuat kami semua terkejut, maafkan kami yang sudah lalai tidak memberikan sambutan selamat datang pada nona, kami sungguh tidak berharap ini akan terjadi, maafkan kami, nona."


Namun ucapan pelayan pria yang pertama mendadak malah dicegat dan digantikan oleh perkataan pelayan pria yang kedua.


Hal ini semakin memperkuat kecurigaan Valesha tentang satu hal yang mungkin memang tengah mereka sembunyikan dari dirinya.

__ADS_1


Dia lekas melirik ke seluruh sudut rumah ayahnya, lalu akhirnya mulai menemukan sebuah kejanggalan.


"Mana ayahku?" tanya Valesha dengan mendadak, membuat semua pelayan lekas terdiam membisu seperti patung.


Tak hanya diam, masing-masing di wajah mereka menampilkan kecemasan dan kegugupan yang sama, rasa takut dan kacau yang bercampur menjadi satu, membuat Valesha semakin yakin mereka sedang tidak beres.


"Kenapa kalian semua diam? katakan dimana ayah!!"


Teriak Valesha dengan lantang, membuat semua penghuni yang ada di ruangan itu terlihat semakin cemas.


"Kalau kalian tidak ada yang mau mengatakan apapun, semuanya aku pecat!!"


"Jangan, tolong jangan pecat kami, nona."


Ucap salah seorang pelayan wanita dengan wajah ibanya.


Valesha pun akhirnya mendapat satu senjata yang sangat bagus. Dia lekas mendekat ke arah pelayan wanita tadi, dan mulai bertanya dengan baik-baik.


"Katakan padaku dimana ayah? apa yang terjadi?" tanya Valesha dengan wajah datarnya.


Jujur saja, saat Valesha bersikap demikian, dia bahkan lebih mirip seperti Axelo yang sangat dingin dan juga begitu mengerikan.


Valesha menatap tajam pelayan wanita yang tengah gugup dalam posisi menunduknya itu.


Ia tahu ada yang tidak beres dari semua ini. Tapi dia bahkan tidak menemukan satu ucapan pun dari semua orang, termasuk wanita yang dia tanya beberapa detik yang lalu.


"Apa kamu masih tidak mau memberitahu aku?" tanya Valesha lagi.


Tak ada sahutan dari siapapun, bahkan angin malam pun terasa ketakutan melihat amarah Valesha yang semakin menjadi-jadi.


"Baiklah, mari kita patahkan hidup kalian semua!!"


Valesha begitu gagah dan berani, mengambil ponsel dan berpura-pura menghubungi polisi.


"Hallo, Pak polisi, bagaimana aku harus membereskan puluhan tikus di rumahku? aku pikir kalian juga harus turun tangan untuk memberi mereka pelajaran."


Sontak wajah semua orang di depan Valesha langsung berubah ketakutan, semakin ketakutan, dan akhirnya mulai merasa cemas.


"Nona, jangan undang polisi kemari, jangan undang polusi," ucap salah satu pelayan, kali ini pria muda dengan usia yang tak jauh berbeda dari Valesha, mungkin agak sedikit lebih muda dari Valesha.

__ADS_1


Valesha mengalihkan perhatian kedua matanya ke arah pria muda yang sempat berbicara.


Tak lupa juga dia membubuhi tatapan sinis bak pembunuh yang sangat menakutkan.


Pria itu mulai merasa takut. Seperti hampir dicekik dan dibunuh secara brutal oleh Valesha, dia bahkan seperti tawanan yang tinggal pasrah saja menentukan nasibnya.


"Apa yang kamu ketahui?" tanya Valesha pada pemuda itu.


"Jawab aku! jangan membuang waktuku!!" teriak Valesha dengan lantangnya, seperti tengah berteriak di atas panggung dalam acara konser.


"Ba-baiklah, Tu-tuan Wishnu, Tuan Wishnu, dia dilarikan ke-ke rumah sakit."


"Apa?"


Mendengar perkataan dari pemuda barusan, Valesha akhirnya mulai melunak. Hati yang semula kaku dan terasa penuh itu perlahan mulai terasa lemah, dan akhirnya jatuh terpuruk juga.


"Ayah? di rumah sakit?"


...----------------...


"Um? jadi dia sudah memilih pergi ke kota Z? apa dia tidak pergi bersama sahabatnya itu?" tanya Axelo mendadak dia peduli.


"Sejak kapan kau mengurus istrimu dengan baik? kau bahkan tidak pernah peduli dia sudah makan atau belum." Ucap Ashkan meledek pada sang kakak.


Sejenak Axelo terdiam. Dia memang merasa pusing dengan apa yang barusan terjadi pada dirinya.


Benar kata adiknya, semula dia bukannya selalu cuek pada istrinya? bahkan urusan apapun dari istrinya dia tak pernah merasa peduli. Lalu apa yang terjadi sekarang?


Bukankah dia hanya mendengar kalau istrinya pergi ke negara Z? lalu apa pedulinya?


Dia masih diam, berpikir dan menyerapi dua sumber berbeda yang mempengaruhi hati kecilnya.


Dia tak mau salah mengambil keputusan, antara memilih untuk tidak peduli pada Valesha, meski wanita itu tidak akan kembali sekalipun, atau dia akan tetap peduli, menjemput Valesha untuk pulang, entah itu demi balas dendam yang sempurna, atau lebih dari itu, melampiaskan sebuah perasaan yang bernama Rindu.


"Ngomong-ngomong, kata Profesor Chan virus ini mudah bermutasi, mungkin agak berbahaya juga kalau membiarkan virus ini tumbuh di badan manusia selama bertahun-tahun," ucap Ashkan mendadak membuyarkan lamunan Axelo.


"Karena itulah aku harus tahu bagaimana virus ini bisa terus menerus membuat Tuan Wishnu lumpuh, apa semuanya karena pemberian yang dilakukan secara berkala, atau ada hal lain juga yang mendukung virus ini melumpuhkan Tuan Wishnu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2