Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Sheilin Yang Kacau


__ADS_3

Dia tampak berjalan mengendap-endap menuju ke dalam rumah seseorang. Dia lekas mengetuk pintu rumah itu dengan kondisi dia yang masih tertutup rapat dengan penyamarannya yang sangat sempurna.


Tok! tok! tok!


Topi loreng dan masker hitam miliknya masih tersemat dengan rapi pada tempatnya. Ia pun lekas mengetuk pintu untuk kdua kalinya setelah merasakan ketukan pintu pertama yang dia lakukan diacuhkan oleh sang pemilik rumah begitu saja, atau mungkin seseorang di dalam rumah memang tidak mendengar ketukan pintu darinya.


Tok! tok! tok!


"Sialan! kemana wanita itu!"


Umpatnya dengan kesal, meski dia sangat kesal, tapi dia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak didengar orang lain. Dia menatapi ke sekelilingnya, mencoba memastikan kalau semuanya aman.


Bukan apa-apa, dia adalah seorang publik figur, bisa saja seseorang menguntitnya dimana saja meski dia sudah mengenakan penyamaran yang cukup menipu itu.


Tak lama setelah itu, seseorang terlihat membukakan pintu untuknya. Rupanya wanita yang dia tunggu yang membukanya.


Ia pun tampak bisa menyembulkan wajahnya sedikit saja, tidak mau ada satu orang pun yang bisa mengekspos wajahnya.


"Kamu? kenapa bisa datang?" tanya Sheilin dengan lirih, namun juga sangat geram.


"Biarkan aku masuk! biarkan aku masuk!" ucap Victor memaksa Sheilin untuk memberinya pintu.


Tidak ada jalan lain, Sheilin pun hanya bisa menurut dengan memberikan pintu masuk untuk Victor. Selain dia tidak mau terlalu lama berada di luar, dia juga ingin mendengar penjelasan langsung dari Victor.


Sama seperti Victor yang mencurigai dirinya berbuat curang, Sheilin juga berpikir demikian, karena memang hanya mereka berdua yang memiliki foto tersebut.


Blam!


Pintu pun segera ditutup, kemudian juga dikunci dengan rapatnya oleh Sheilin, tidak akan memberikan celah untuk siapapun melihat kedatangan pria ini ke dalam rumahnya, karena jika tidak, mereka berdua pasti akan semakin dikenal buruk oleh orang-orang di luar sana.


Hahh!


Victor terlihat melepas semua benda-benda yang menutupi tubuhnya. Sementara Sheilin malah terlihat menutup seluruh jendela rumahnya dengan menggunakan tirai, tidak bisa saja jika ada seseorang yang sampai melihat kedatangan pria ini ke rumahnya.


"Heng! kenapa bisa foto-foto itu tersebar luas di jejaring sosial? kau pasti sengaja menyebarnya, kan?" tanya Victor tanpa berbasa-basi lagi, sudah cukup dirinya menunggu dengan sabar selama satu jam di perjalanan, dia tidak mau lagi menunggu apapun selain jawaban dari Sheilin untuknya.


"Apa-apaan kamu! siapa juga yang menyebarkan foto itu? kamu menuduh aku? heh! kalau kamu tidak banyak bertingkah waktu itu, tidak memotret kita dan menggunakan foto itu untuk memerasku, semua ini tidak akan pernah terjadi, dasar kau bodoh!" balas Sheilin tidak kalah ganasnya dari Victor.


"Bodoh kau bilang? kau membocorkan semua ini, lalu apa yang kau lakukan? kau sudah membuat nama kita berdua hancur, setelah ini, karirku pasti akan langsung hancur." Jawab Victor, dia terlihat duduk di sofa, di tengah ruangan yang menjadi gelap karena Sheilin sengaja menutup semua jendela, dan tidak membiarkan cahaya apapun menerangi mereka.


Mereka pun hanya bisa berbicara di tengah-tengah cahaya remang-remang yang menghiasi ruangan itu. Semua itu demi keamanan yang tidak bisa dijamin.


"Itu terserah kamu, aku membantu kamu sejak awal, sampai aku menyerahkan tubuh aku untuk kamu, sekarang aku sudah tidak punya urusan lagi dengan karir kamu," jawab Sheilin.


"Apa maksud kamu? kalau sampai Axelo melihat foto itu, apa yang akan terjadi padamu? kau bukan hanya akan kehilangan dia selamanya, tapi kau juga tidak akan mendapatkan apapun darinya! rencana kita sejak awal adalah untuk mengambil semua aset milik Axelo dengan menggunakan kamu sebagai alat, sekarang alatnya saja sudah rusak, bagaimana bisa melanjutkan rencana kita?" tanya Victor pada Sheilin, rupanya mereka memang sejak awal sudah saling mengenal, bahkan lebih dekat dibanding antara Sheilin dan Axelo.


Ternyata semua manusia tidak ada yang bisa dipercaya.


Tapi mendadak Sheilin tertegun mendengar kata-kata dari Victor barusan. Bukan tanpa alasan, saat Victor mengatakan tentang Axelo, dia malah memusatkan otaknya pada pria itu, dan semua kekuasaan yang dimiliki oleh pria tersebut.


Bukan tidak mungkin dengan segala fasilitas canggih yang Axelo miliki, dengan banyaknya kaki tangan yang dia miliki juga, bisa jadi kan, pria itu yang terlibat dalam masalah serius ini?


"Bagaimana kalau ternyata dia yang melakukannya?" tanya Sheilin pada dirinya sendiri, bahkan bukan pada Victor.


Namun Victor menyadari itu. Dia mendongak menatapi Sheilin yang masih asik berdiri di tempat semula, dia pun ikut bertanya-tanya.


"Maksud kamu?" sahut Victor merespon.


Dan hal itu lekas membuat Sheilin merasa muak. Dia tidak mau disibukkan dengan pria bodoh ini. Selama ini dia sudah cukup memberikan segalanya untuk pria ini, hanya demi aksinya lancar menjadi wanita Axelo.


Tapi sekarang, lihat saja siapa dirinya, selain sampah, maka tidak ada kata lain lagi yang bisa menggambarkan dirinya sekarang.


"Ck, tutup mulut kamu itu! sejak awal kamu sudah tidak berguna bagiku, sekarang kau tak perlu ikut campur dengan urusanku! pulang saja sana ke rumahmu, aku tidak lagi merasa peduli!"


Ucap Sheilin tampak jenuh dengan kehadiran pria ini.


Tapi pria di depannya tak kehabisan akal liciknya. Sejak awal dia tidak mau menyia-nyiakan bantuan awalnya, yang akhirnya melahirkan senjata yang cukup tajam untuk membuat Sheilin bertekuk lutut.

__ADS_1


Tentu saja dia tidak akan semudah itu dijatuhkan apalagi sampai diusir dari sini oleh wanita itu.


Dia tersenyum miring, lalu terdengar dirinya yang terkekeh sembari menatapi wajah Sheilin yang merah padam karena marah.


"He.. he.. he..."


Mendengar kekehan maut dari sosok Victor barusan, lantas membuat Sheilin bergeming, melirik sekilas wajah Victor dengan kedua matanya, dan kemudian menatap pria itu dengan tatapan anehnya.


"Kamu bilang sudah tidak berguna lagi, ya? baiklah, kalau begitu, aku yakin akan bisa bertindak di belakang kamu, tunggu saja sampai karirku kembali melejit, dan namamu yang akan jatuh!"


Ucapan pria itu terdengar sangat dalam, pun juga sangat menakutkan, agaknya di dalam perkataan pria itu barusan, terdapat ancaman yang mungkin saja akan membahayakan masa depan Sheilin selanjutnya.


Tapi pada saat itu, Sheilin benar-benar merasa tidak peduli. Hawa takut yang saat itu dia rasakan saya mendapat ancaman dari Victor, nyatanya hanya bertahan beberapa menit saja, sampai akhirnya dia melupakan semua rasa takutnya, pun juga semua ancaman yang dilontarkan oleh Victor padanya.


"Lakukan saja apa yang kau mau! aku hanya peduli pada nasibku dan Axelo," jawab Sheilin dengan sombongnya.


"Heng!" pria itu kemudian terlihat beranjak dari duduknya, dan kemudian menatap kembali wajah Sheilin dengan tatapan menakutkan, "baiklah kalau begitu, mari kita lihat apa yang bisa kau banggakan setelah ini."


Ucap pria itu, lalu setelah itu terlihat dia yang mulai beranjak pergi dari rumah Sheilin, membuat otak Sheilin sejenak merasa lega.


Huhh?


"Kenapa bisa aku bekerja sama dengan pria seperti dia? yang hanya bisa memeras, meminta uangku, dengan ancaman kunonya itu, aku menyesal telah meminta bantuan darinya dulu."


Wanita itu lekas berjalan ke dalam kamar, berniat untuk melakukan sesuatu yang bisa membantu menyelamatkan nyawanya.


"Kalau saja dia bukan pria di pihak musuh Axelo, kalau saja dia bukan pria yang saat itu aku temui dan sangat berguna bagiku, mana mau aku tidur dan melayani pria seperti dia? dasar brengsek!" umpatnya begitu kesal.


Dia terlihat menyambar ponsel miliknya di atas kasur, dan mencoba untuk menghubungi seseorang di kontak ponselnya.


Tut.. tut.. Tut...


Tapi panggilan darinya sama sekali tidak berbalas, hanya kekecewaan saja yang melanda hatinya sedalam ini, dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semuanya pada Axelo.


Atau mungkin, mencari tahu apakah benar Axelo yang melakukan semua ini.


Mendadak otaknya berputar-putar dengan sangat pintar, mengingat balik seseorang yang mungkin saja berada di balik semua ini.


Dia teringat kalau Axelo tidak pernah mengotori kedua tangannya hanya untuk mengurus masalah sekecil ini.


Sejak awal dia memang mencurigai Axelo. Semua ini bukan tanpa alasan. Semuanya tidak terjadi secara kebetulan. Hilangnya semua foto-foto hasil editan dari Victor, semua pemberitaan miring antara Valesha dan Victor, lalu kemudian muncul foto-foto dirinya bersama Victor, semuanya pasti bukan sebuah kebetulan, bukan?


Pasti ada yang sengaja menghapus foto-foto mesra antara Valesha dan Victor, dan itu semua pasti pihak Axelo yang menghapusnya.


Tapi mengapa bisa Axelo menyadari semua itu begitu cepat?


Hei, Sheilin! kau mungkin melupakan sesuatu, tentang Axelo yang tidak akan mudah dibodohi, apalagi foto mesra Valesha itu Sheilin ambil dari foto lawan Axelo dan Valesha, mana mungkin Axelo melupakan itu.


Dia pun akhirnya yakin, pasti sebelumnya Axelo sudah tahu tentang berita Valesha dan Victor itu, lalu kemudian dia bertindak.


Jika sudah begini, lalu apa yang bisa dia lakukan?


Dia berpikir keras, tidak tahu harus melakukan apa. Tapi sejauh ini, dia masih berpikir tentang satu hal, yaitu meminta maaf.


Benarkah demikian? apa dia benar-benar akan minta maaf pada Axelo? oh tidak, rasanya semua itu hanya lelucon.


Ah!


Tapi apa artinya lelucon itu, jika dia bisa kembali mengambil hati Axelo untuk dirinya. Bukankah asalkan dia mendapat kembali hati Axelo, maka semuanya sudah lebih dari cukup?


Ya!


Mungkin minta maaf, dan memperlihatkan wajah menyesal yang sangat dalam adalah jalan terbaik. Demi bisa berada di samping Axelo dan menikmati seluruh harta kekayaannya, apapun pasti akan dia lakukan.


Dia pun kembali mengutak-atik ponsel di dalam genggaman tangannya, dan kembali mencoba untuk menghubungi Axelo.


Entah mengapa sejak kemarin ponsel Axelo selalu tidak bisa dihubungi. Meski dia memang sudah tidak bisa lagi dengan enaknya keluar masuk di rumah Axelo, tapi dia juga bukan tidak diperbolehkan untuk menghubungi Axelo, kan?

__ADS_1


Tut.. Tut.. Tut..


Berulang-ulang kali dia mencoba menghubungi Axelo, tapi lagi dan lagi nomor Axelo selalu berada di luar jangkauan. Kenapa kiranya? kemana pria itu pergi?


Dan akhirnya Sheilin pun bertanya-tanya tentang hal tersebut.


"Kemana si dia? kemana dia pergi? apa aku masih harus menyusul di ke rumahnya? apa dia sedang berada di rumah?" tanyanya dengan sangat kesal.


Dia yang geram pun hanya bisa berhenti berpikir. Buntu sekali rasanya, tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini, kecuali, apa dia bisa menghubungi Ashkan?


Dia segera mencari nomor Ashkan di ponselnya, dan kemudian mencoba untuk menghubungi pria itu.


Tak lama dia menunggu, akhirnya dia mendapat kepastian. Pria yang tak lain adalah adik kandung Axelo itu akhirnya mengangkat panggilan darinya.


Dia jadi lebih lega sekarang, meskipun sebenarnya pria di seberang sana pasti sangat malas mendapat panggilan darinya.


Bip!


"*Kenapa menghubungi aku*?" tanya Ashkan langsung acuh, padahal dia baru saja menerima panggilan dari Sheilin, tapi dia sudah sedingin dan juga seacuh itu, entah bagaimana selanjutnya kalau di awal saja sudah begini.


"Ashkan, dimana Axelo? kenapa dia tidak bisa dihubungi? apa dia benar-benar sudah melupakan aku,?" tanya Sheilin tampak sangat geram.


Bukan hanya Victor yang agaknya akan menjadi pelampiasan amarahnya, bisa juga Ashkan juga akan menjadi korban selanjutnya, tidak ada yang tahu.


"*Heng! kenapa? dia sedang bulan madu di rumah mertuanya, jika sudah tidak punya urusan aku tutup*!"


Pria di seberang benar-benar tidak mau bersabar untuk menunggu. Sial sekali pria seperti itu masih harus di hadapi oleh Sheilin dengan penuh kesabaran.


Sabar yang tiada batas. Harus lebar dan luas seperti Samudera Pasifik.


"Eh, tunggu dulu!"


Huhh!


*Sabar Sheilin, hanya dia yang bisa membantu kamu*!


Dia pun mengusap dadanya, dan membuang nafasnya dengan sangat halus, tidak mau merusak kecantikan paripurna di wajahnya hanya dengan amarah ini.


Tidak, dia harus cantik apapun yang terjadi.


"Kapan dia akan pulang?" tanya Sheilin lagi, berusaha untuk lebih halus lagi menghadapi Ashkan.


Pria dingin yang dinginnya tidak lebih dan juga tidak kurang seperti Axelo. Agaknya kakak beradik itu memang pantas menjadi saudara.


"*Aku tidak tahu, katanya mereka juga mau ke luar negeri, ayah mertua meminta dirinya untuk berjuang lebih keras lagi, tentu saja tempat terbaik adalah tempat yang jauh dari ocehan si pengacau dan pembawa masalah*."


Ucap Ashkan agaknya ia mengimbuhkan kata-kata sebagai pemanasan awal juga di sana. Terbukti Sheilin yang kemudian bertambah geram mendengar kata-kata dari mulut Ashkan itu. Pria itu berhasil membuat Sheilin merasa murka.


Iiiiiiissssshhhhh


Wanita itu mengepalkan tangan kanannya dengan sangat erat, panas sekali mendengar kata-kata dari Ashkan barusan.


"Apa kau sedang membuat aku panas? huhh!" berusaha untuk mengatur nafasnya, dan kesabarannya.


Kecantikan paripurna.


"Huhh! baiklah, aku tidak sepenuhnya percaya dengan kata-kata kamu, jika dia sudah kembali, beritahu aku, aku harus berbicara dengan dia."


"*Heng! tidak ada waktu untuk bicara denganmu! kau bukan lagi orang yang penting baginya*!"


"Dasar tidak tahu diri!!!"


Bip!


Panggilan segera diakhiri oleh Ashkan, agaknya dia tidak mau membiarkan nenek lampir itu mengoceh terlalu banyak perkataan, sudah cukup telinganya dibuat berdenging dengan panggilan dari Sheilin, mendengar banyak ocehan dari Sheilin, bisa jadi dia akan bertambah pening.


*Hahh! geram sekali aku*!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2