
Tiga pasang mata di sana tampak tertegun, menatap ke arah sesosok pria dengan tinggi badan yang hampir seimbang dengan tinggi badan Deiv, menang lebih tinggi beberapa sentimeter dari Deiv..
Um? apa dia Axelo?
Semua orang tampak tercengang, sebelum akhirnya Deiv mulai tersadar dari lamunannya yang sesaat.
"Haha.. Tuan Axelo, kita berjumpa lagi." Ucap Deiv melepas cengkeraman tangan Axelo darinya.
Kedua wanita di samping Axelo nampak tertegun sejenak, menyadari kalau kedua pria di depan mereka rupanya saling mengenali.
"Tuan Deiv, kita bertemu lagi, padahal aku berharap untuk tidak menemui anda setelah sekian lamanya." Ucap Axelo sedikit mengimbuhkan senyum kebenciannya di depan Deiv.
Kedua pria ini bahkan baru saja bertemu beberapa detik yang lalu, dan sekarang keduanya bahkan berinisiatif untuk bertengkar?
"Valesha, aku pikir kedua pria ini musuh bebuyutan." Gumam Geshka dengan lirih tepat di kuping kiri Valesha.
Valesha hanya tertegun saja, memandangi kedua pria di depannya yang saling bertatap muka kesal dan saling melempar kebencian satu sama lain.
Agaknya benar apa yang dikatakan oleh Geshka, kedua pria ini terlibat dendam lama.
"Baiklah," ucap Deiv setelah beberapa saat bertatap muka dengan Axelo.
Kali ini dia terlihat memalingkan mukanya dengan congkak, dan beralih memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Kita akan berjumpa lagi lain waktu, dengan situasi yang sama, jadi aku harap kau harus mempersiapkan dirimu untuk bertemu denganku." Ucap Deiv seolah tengah menantang Axelo.
"Hem! mimpi saja mau bertemu lagi denganku, aku juga tidak akan mau." Jawab Axelo dengan dingin.
"Oh ya? benarkah? lebih baik kita lihat dulu kenyataan ke depannya."
Pria itu berbicara sambil berjalan menjauh dari tempat dimana Axelo dan kedua wanita itu berdiri di tempat mereka.
Dengan senyum smirk yang khas, terlihat kedua matanya juga memicing dengan sangat mengerikan, mendapati sosok yang entah mengapa dia melihat ada peluang di dirinya..
Agaknya dia sungguh akan melakukan satu hal yang bisa memuaskan dirinya dan bisa menjatuhkan musuh dengan sangat mudah.
Istrimu ini cantik juga, sayang sekali kalau aku tidak ikut mencicipinya.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" tanya Axelo mendadak cemas pada istrinya.
"Um?"
Namun mendengar pertanyaan dari Axelo beberapa saat yang lalu malah membuat Valesha kembali tertegun, merasa heran dan bingung terhadap sikap suaminya itu.
Bukan karena apa, jelas sekali terlihat kalau suaminya begitu mencemaskan dirinya. Sedangkan selama ini, yang dia lihat hanyalah sikap acuh dan dingin, selain itu, tidak ada.
"Dia tidak menyakiti kamu, bukan?" tanya Axelo sekali lagi, memastikan kondisi istrinya benar-benar baik-baik saja.
Namun dia masih belum mendengar jawaban apapun dari istrinya, sampai akhirnya dia mendapati tangan istrinya yang menepis sentuhan lembut darinya, bahkan tanpa berpikir betapa dia mencemaskan Valesha.
"Lepaskan aku!" tolak Valesha dengan keras.
Geshka yang ada di sampingnya tampak terkejut melihat sikap Valesha dan suaminya yang aneh itu.
Dia pun semakin gencar berpikir serta menebak-nebak kiranya kenapa kedua orang itu tampak tidak berhubungan dengan baik.
Apa hanya sekedar marah-marah yang umum terjadi pada setiap pasangan suami istri, atau permasalahan kedua orang itu jauh lebih rumit dari yang dia pikirkan.
"Aku tidak peduli pada diriku, sama seperti kamu yang juga tidak peduli pada siapapun, jadi jangan berpikir aku akan melunak hanya dengan melihat kamu membela aku dari pria itu."
Wanita itu membuat Axelo seketika terdiam membisu, merasa perjuangan dia untuk datang ke bandara demi bisa memastikan Valesha aman hanya berkahir sia-sia.
"Ayo, Geshka."
Sekarang dia bahkan bisa melihat istrinya yang pergi meninggalkan dirinya sampai tidak terlihat lagi di pelupuk mata, membuat hatinya yang semula kacau kini menjadi bertambah kacau.
"Tuan, apa perlu saya mencegat nyonya untuk satu mobil dengan tuan?" tanya Oaklard yang sudah berdiri di belakang Axelo.
Namun Axelo terlihat mengangkat tangannya sampai sebatas bahu, menolak usulan dari Oaklard barusan, dan memilih untuk tidak peduli lagi.
"Biar saja dia pergi seorang diri," ucap Axelo dengan datar dan juga sangat lirih, mungkin jika yang mendengar bukan Oaklard, sudah pasti tidak akan ada orang yang mengerti dirinya.
Lagipula aku sendiri juga bingung, kenapa bisa aku datang kesini dan cemas dengan dirinya, sedangkan aku tahu kami tidak pernah menjalani kehidupan pernikahan yang mulus, bodohnya aku.
...----------------...
__ADS_1
Ckrek!
Ckrek!
Ckrek!
Puluhan kamera terlihat memotret dua orang yang kini tengah terduduk di belakang meja konferensi pers, yang dihadiri oleh puluhan wartawan dan beberapa masyarakat.
Wajah wanita di depan sana tampak pucat pasi, dengan keringat dingin yang terus saja bercucuran dengan sangat deras membasahi keningnya, membuat ketegangan dan ekspresi gugup nampak jelas terlihat di wajahnya yang busam.
"*Tuan Victor, bisakah anda menjelaskan lagi pengakuan terkahir anda pada saat konferensi pers waktu itu*?"
"*Anda mengatakan kalau anda telah resmi menikahi wanita di samping anda dan sudah menjalin hubungan sekian lama, apa itu benar*?"
Wajah Sheilin semakin gugup sana manakala mendengar pertanyaan dari semua orang tentang berita yang dibuat-buat oleh Victor pada media beberapa Minggu yang lalu.
*Dasar kau! aku hampir mati membela kamu dan menaikkan popularitas kamu, tapi nyatanya ini balasan untukku? bilang saja kau mau memiliki aku seutuhnya, kenapa masih harus basa-basi*?
Gumam hati Sheilin berdecak kesal dengan tragedi yang menimpa dirinya kini.
Namun dia sungguh tidak punya alasan lain lagi untuk mengelak, bahkan jika pun dia menolak, dia hanya akan dipermalukan di depan umum saja.
Lebih baik sekarang dia menyelamatkan nama baiknya demi kelangsungan hidupnya di masa depan.
Tapi lain kali, aku pasti akan kembali untuk Axelo.
"Hemm, ya, kami berdua mengkonfirmasi kalau kami memang sudah menikah, aku harap perusahaan dan awak media tidak mempermasalahkan status kami ini, karena bagaimanapun, kami saling mencintai, dan tidak akan pernah berpisah." Ucap Victor dengan sangat menjijikan, apalagi saat kedua mata pria itu mengarah kepada Sheilin, huh! rasanya ingin sekali memukul wajah Victor yang sialan ini dengan sarung tangan besi.
Huhh! muak sekali aku melihat dia.
Gumam hati Sheilin kembali berdecak kesal.
"Nona Sheilin, apa anda punya tanggapan atas semua ini? mungkin anda bisa menjelaskan tentang perkataan dari Victor sebelumnya."
Seorang wartawan memulai pertanyaan untuk dirinya, membuat dia yang sudah lebih dulu kesal kini mulai bertambah kesal.
"Anda mungkin juga bisa menjelaskan soal hubungan anda dengan Tuan Axelo, perusahaan yang dengar-dengar anda kencani selama satu tahun terkahir, apa saat Tuan Axelo menikah, anda sudah berpisah, atau anda masih memiliki hubungan dengan Tuan Axelo setelah Tuan Axelo menikah dengan istrinya?"
__ADS_1
*Apa ini adalah kesempatan bagiku*?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...