
"Sialan!!!"
Prak!
Pria itu terlihat begitu murka. Semua benda yang ada di sekelilingnya bahkan dibuang begitu saja tanpa berpikir dia telah membuat rumahnya seperti kapal pecah.
Semua orang di sekelilingnya hanya terlihat menatap kemarahannya itu dengan tatapan berbeda-beda. Ada yang muak, ada yang ketakutan, ada juga yang biasa-biasa saja.
"Bagaimana bisa mereka semua dikalahkan oleh dua orang saja?! kenapa bisa mereka begitu ceroboh?" tanyanya merasa heran dengan apa yang terjadi pada semua orang bawahannya.
Tapi dari banyaknya orang di sana, terlihat satu wajah yang sangat pandai menyembunyikan kekesalannya di antara mereka semua.
Ia terlihat biasa-biasa saja seolah semuanya sudah membuat dirinya puas. Padahal, dia sama sekali tidak mendapat kepuasan tersebut.
"Neil, kau sudah berusaha semampu yang kau bisa, kalau sekarang kau belum bisa membalas dendam untuk Sheilin, kita bisa mencobanya lain kali."
Tapi itu bukan kemauan aku yang sesungguhnya. Yang aku mau, dia dibawa kemari dan sebelum kalian mengambil alih tugasku, aku sudah lebih dulu menyelesaikan semuanya.
Gumam Nyonya Lucy ( ibunda Sheilin ).
"Tapi aku tidak bisa terima semua ini! aku sudah mengerahkan pasukan terbesar yang aku miliki, aku bahkan menyewa anak buah dari Nyonya Armei untuk membantuku, tapi semuanya benar-benar sia-sia." Jelas Neil tak sengaja mengatakan sebuah nama, nama yang selama ini menjadi incaran keras Axelo.
...----------------...
"Jadi benar kalau ibu juga mengerahkan anak buahnya untuk membantu seseorang ini menculik Valesha?" tanya Ashkan setelah keduanya tiba di kediaman Axelo.
Axelo terlihat mengeluarkan asap rokok dari mulutnya, dan melirik istrinya yang tengah tertidur lelap.
Sejenak dia ingat kejadian sebelum istrinya itu tertidur. Dia bahkan tidak bisa melupakan wajah cemas Valesha saat menanyakan kabar tentang Tuan Wishnu.
Entah mengapa dia begitu kasihan dan terluka melihat Valesha merasa sesedih itu.
Namun buru-buru dia tepis perasaan di dalam hati kecilnya. Ia kemudian terlihat mengalihkan kedua matanya menuju ke arah meja kaca di depan tempat dia terduduk.
"Aku mendengar suaranya saat aku menemukan ponsel milik salah seorang pria itu berbunyi, aku jelas mendengar itu adalah suara ibu." Ucap Axelo pada sang adik.
Ashkan terlihat mulai mendudukkan bokongnya di atas sofa, lalu mulai bercakap dengan serius bersama kakak kandungnya.
__ADS_1
"Sesuai dugaan kita, ada yang disembunyikan oleh ibu selama bertahun-tahun, dan kau juga tidak bisa menolak kalau pembunuhan itu, sudah direncanakan sebelumnya."
"Aku tidak tahu, aku juga masih belum dapat memastikan, semuanya terlalu rumit." Ucap Axelo pada sang adik.
"Lalu bagaimana selanjutnya? kau masih mau melanjutkan pembalasan dendam ini atau sudah berhenti dan menyerah karena ketidakjelasan dalam tragedi itu?" tanya Ashkan pada sang Kaka.
Axelo terlihat diam. Tak ada satu patah katapun terlontar dari mulutnya. Hanya sekilas matanya kembali menatap ke arah sang istri di atas ranjang kamarnya masih dalam posisi yang sama.
Ia kemudian menatap ke arah adiknya lagi. Seketika Ashkan mengangkat satu alisnya. Dia juga tak lupa membubuhi ekspresi penuh pertanyaan di sana.
"Kau tahu sejak awal aku juga sedang mencari kejelasan, akan aku pikirkan lagi jika semuanya sudah jelas, tapi saat itu, asal kau tahu saja, aku menyaksikan sendiri pembunuhan yang dilakukan oleh Tuan Wishnu pada ayah, selebihnya, tidak mungkin juga akan mempengaruhi aku dalam pembalasan ini!"
Pria itu terlihat mematikan puntung rokoknya di atas asbak, dan kemudian beralih bangkit menuju ke arah kamarnya berada.
Ia bahkan meninggalkan Ashkan masih dengan perasaan kacaunya. Sejauh ini dia memang selalu berhasil membuat orang lain merasa kebingungan.
Kreb!
Dengan perlahan dia menutup pintunya, lalu terlihat membuang nafasnya pelan. Ia tak mau mengganggu istrinya beristirahat. Entah mengapa dia menjadi peduli pada Valesha.
Ia berjalan mendekat ke arah Valesha, dan kemudian tertidur di sampingnya. Selimut dia balutkan ke sekujur tubuhnya, selimut yang sama seperti yang Valesha kenakan.
Ia juga tak lupa memeluk istrinya itu, mendekap Valesha dari belakang, seolah dia begitu merindu, rindu yang tak kunjung berakhir, malah justru semakin besar dan bertahan cukup menyakitkan.
Aku bahkan tak pernah menyadari kalau sekarang aku mungkin sudah mulai jatuh cinta, lalu bagaimana kalau kau tidak mau memberi aku kesempatan kedua?
Sedangkan aku sendiri masih belum jelas harus bagaimana, salahku yang menikahi kamu terlalu awal, tanpa berpikir kalau semuanya, mungkin tidak sama seperti yang aku pikirkan.
...****************...
Ia melihat pintu kamar Neil yang masih terbuka dan lampunya juga masih menyala. Sementara keadaan di dalam rumah sudah benar-benar sepi.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, dan ini adalah waktu yang sangat lama bagi dirinya untuk mencapai pagi yang menyebalkan.
Ia menatap dengan tajam ke arah kamar Neil, dan mendapati Neil yang sedang sibuk berbincang-bincang dengan seseorang melalui sambungan.
Mendengar percakapan yang sepertinya begitu rahasia itu, Sheilin akhirnya memilih untuk berhenti berjalan.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? kau sudah berjanji akan melunasi seluruh hutang keluargaku kalau aku berhasil membawa Valesha ke hadapan kamu, tapi aku gagal, aku sungguh tidak bisa melakukan apapun lagi sekarang!"
Apa dia sedang bicara dengan Nyonya Armei?
Benak Sheilin bertanya-tanya.
"Iya aku tahu, aku juga tidak bisa lagi mengandalkan diriku sekarang, aku sudah ditendang keluar dari perusahaan Tuan Wishnu, jadi aku tidak bisa berbuat apapun lagi."
Sebentar Neil terdiam mendengar seseorang di seberang sana berbicara, sampai akhirnya dia kemudian mengatakan satu kalimat terakhir sebelum dia menutup sambungannya.
"Hahh! baiklah, aku mengerti, terima kasih, nyonya!"
Uhm? jadi keluarga Neil punya hutang? lalu apa dia akan berguna untukku sementara waktu? lebih baik nanti saja aku memikirkannya, dia sangat menyayangi aku, dia pasti mau melakukan berbagai macam cara untuk hidupku.
Setelah sibuk dengan pemikirannya sendiri, Sheilin akhirnya mulai terlihat berjalan masuk, membuat Neil yang saat itu tengah dilanda kebingungan pun harus beralih pandangan.
Dua kaki jenjang yang polos, tidak tertutup satu helai benang pun.
Kreb!
Klik!
Pintu kamar yang kemudian ditutup dan dikunci dengan begitu rapatnya. Lalu senyum merekah yang menebar wangi serta aroma yang amat menggoda.
Wanita itu kemudian terlihat melingkarkan kedua tangannya tanpa pamit di leher Neil, membuat sesuatu yang semula tertidur karena penat itu pun mulai bergerak tak terkendali.
"Mendadak aku rindu, kau selalu ada di saat aku membutuhkan dirimu, Neil." Meraba dada Neil dan membuka kancing bajunya.
Si pria yang hanya bisa mematung tak berdaya.
"Kau rindu?" tanya Neil mulai nakal.
"Kenapa masih bertanya, tentu saja aku rindu, kau yang selalu memberi aku sentuhan, kau juga yang selalu membuat aku..." mendekat ke arah telinga Neil dan berbisik satu kata, "tertipu.."
Cup!
Bersambung...
__ADS_1