
Pertengkaran di pagi hari itu ternyata masih tidak membuat Valesha keluar dari rumah suaminya. Ia malah mendapat cegatan dari suaminya secara langsung.
Ya, jika kemarin Ashkan yang berusaha keras mencegat langkah kakinya pergi, maka hari ini, pagi ini, ia malah melihat wajah memelas dari suaminya yang berusaha mencegat kepergiannya.
Entah mengapa. Hatinya juga mendadak luluh menatap wajah iba itu memohon padanya sebelum akhirnya dia melangkah pergi ke rumah sakit.
Bahkan wajah itu selalu menghantui otaknya, dengan segudang perasaan yang berkecamuk di dalam hati kecil Valesha.
Antara perasaan senang, namun juga tersadar ternyata dia terlalu bodoh untuk terus melangkah bersama dengan suaminya, sementara dia sendiri telah tahu apa yang diinginkan keluarga Wicaksono pada keluarganya, terutama sang ayah.
Di tengah-tengah perasaan kalutnya, mendadak ponselnya berdering dengan nyaring, tepat saat dia berhasil tiba di bibir pintu masuk rumah sakit.
Ia pun akhirnya memilih untuk mengangkat panggilan sambil terus berjalan menuju ke arah tangga darurat, dan lanjut lagi naik ke lantai dua puluh, tempat dimana ayahnya dirawat dengan intensif di sana.
Langkah kakinya bahkan sangat mantap menaiki tangga darurat yang jarang sekali dilalui orang-orang. Padahal kala itu dia sendiri dan tidak ada Axelo di sampingnya. Entah mengapa otaknya malah memilih untuk menaiki tangga dari pada menggunakan lift.
Terkadang manusia memang suka menyulitkan diri sendiri.
Sengaja dia tidak mengajak Axelo pergi ke rumah sakit. Meski dia sempat mengalami kendala karena suaminya itu tentu saja tidak akan mudah untuk menuruti apa katanya. Padahal luka lebam disertai darah sudah menghiasi wajahnya, membuat sedikit lukisan mengenaskan tercoreng di sana.
__ADS_1
Suara wanita terdengar agak jelas di telinganya, membuat dia yang semula terlihat suntuk mengingat kejadian pagi ini bersama Axelo pada akhirnya harus tertegun. Wanita di seberang sana agaknya telah sukses membuat jantungnya meloncat riang.
"Apa katamu? kau sudah menemukan seseorang yang mungkin saja berhubungan dengan kejadian itu? apa kau yakin?"
Padahal berita dari seberang agaknya masih belum diketahui kejelasannya. Namun Valesha dengan girang memberi respon lebay pada berita tersebut.
"Ya, aku sudah berusaha menyelidiki semuanya, dan ternyata, bibi nyonya dan anaknya juga diketahui memiliki hubungan dalam kejadian hari itu."
"Apa kau yakin untuk informasi ini?" tanya Valesha pada akhirnya merasa ragu juga.
Langkah kakinya terus menuju ke arah lantai dua puluh. Menaiki tangga sampai lantai dua puluh mungkin tak beza dengan berjalan menyusuri trotoar di ibu kota. Melelahkan.
"Kejadian hari itu, memang benar Tuan Wishnu yang memegang senjata di tangannya, saat itu darah juga berceceran di bajunya, namun ada satu hal ganjil yang saya dapatkan."
"Apa itu?"
Dia sibuk mendengar perkataan seseorang di seberang, hingga membuat dia tak sadar telah berpapasan dengan seseorang dengan setelan jas kedokteran dan tak lupa kacamata serta masker medisnya.
Dokter berperawakan tinggi sekitar 180 cm itu juga sempat menabrak dirinya karena terlalu terburu-buru.
__ADS_1
Bruk!
"Ouh!"
"UPS! maaf, saya yang bersalah."
Ucap dokter laki-laki itu meminta maaf pada Valesha tanpa menunjukkan raut mukanya pada Valesha sama sekali.
Namun Valesha hanya bisa tersenyum membalasnya dan berbalas merunduk meminta maaf pada si dokter tersebut. Tanpa berpikir aneh-aneh, langkah kakinya pun kembali menaiki tangga.
Secepat kilat mendadak dia sampai di lantai dua puluh. Segera saja dia berjalan masuk menuju ke arah ruangan tempat ayahnya dirawat.
"Berikan alat kejutnya! jantungnya mendadak berhenti!!!"
"Tuan Wishnu dalam keadaan kritis!!"
Brak!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1