Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Kapal Pesiar


__ADS_3

Kecupan itu sangat mesra terlihat dari sisi manapun. Dan sekarang bahkan keduanya tidak lain terlihat seperti pasangan serasi yang sedang saling merasa jatuh cinta dan dimabuk asmara dengan sangat menggelora.


Ombak pantai mulai menghantam badan kapal, angin juga meniup dengan kencang rok mini yang dikenakan oleh Valesha hingga membuat paha mulusnya terlihat oleh mata dengan seketika.


Dan sekarang dia masih hanyut dalam ciuman mesra yang dilakukan oleh Axelo padanya. Dia tidak bergerak sama sekali, hanya mengimbangi bagaimanapun gerakan pria itu padanya.


Meski dalam bayangan pikirannya tidak pernah bisa lepas dari dendam yang disematkan oleh Axelo padanya, tapi nyatanya sekarang dia terlihat sangat menikmati ciuman maut itu. Bukankah dia sangat pandai bersandiwara?


*Ya! aku lah ratu sandiwara! aku pandai berbohong, tapi siapakah aku, yang malah terjatuh dan tidak bisa lepas dari jeratan ini? bukankah dia sendiri yang memaksa aku untuk pandai bersandiwara*?


Tangan nakal Axelo mulai menggerayangi pangkal paha istrinya yang memang terasa sangat lembut di telapak tangan. Agak sedikit berbeda dengan kulit tubuh Sheilin, punya Valesha sedikit lebih gembul dan padat, rupanya inilah spot favorit Axelo saat menggoda istrinya sendiri.


Ia melepas ciuman dari bibir Valesha, lalu menatap kedua mata Valesha dengan tatapannya yang menusuk. Anehnya lagi, meski Valesha tahu dia sangat membenci pria ini, begitupun dengan Axelo yang tak kalah membenci dirinya, tapi wanita itu seketika diam seperti patung saat Axelo mengunci wajahnya dengan belaian satu tangan kanannya.


"Sayangku, aku tidak tahan.." ucap Axelo membuyarkan kesedihan yang dialami oleh Valesha pada saat itu.


Mata wanita itu seketika membola, menatap dengan tajam kedua mata Axelo, mungkin dia memang berniat untuk membalas tatapan Axelo yang dingin itu.


"Apa kau bilang!"


Mendorong tubuh Axelo tanpa ampun sampai tubuh pria itu tersungkur satu meter dari tubuhnya. Dan itu menjadikan angin semakin terasa dingin menusuk pori-pori kulitnya.


"Dasar tidak tahu malu! ini di kapal, semua orang bisa saja melihat kita!" ucap Valesha sambil memasang ekspresi dewasanya.


Tring!


"Terima kasih," ucap Axelo dengan sangat lirih.


Seseorang terlihat tersenyum sambil menerima sebuah tip tersembunyi dari tangan Axelo. Dan dengan senyum smirknya, pria pelayan itu pun segera pergi dari depan pintu kamar khusus pengantin baru.


Valesha masih dibuat tertegun di tempat berdirinya pada saat itu. Dia bahkan tidak menyangka kalau pria ini akan dengan sangat mudahnya mencari kamar khusus hanya untuk sekedar bercinta.


Padahal yang dia dengar beberapa saat yang lalu saat Axelo menanyakan kamar adalah semua kamar sudah disewa, bahkan pasangan pengantin baru yang berbulan madu di kapal yang sama pun juga sudah merogoh kocek yang lumayan dalam hanya untuk berbulan madu di kapal ini, sayang sekali, acara bulan madu mereka harus gagal karena kamarnya telah diambil alih oleh Axelo dan Valesha.


*Sungguh pria yang sialan! bisa-bisanya dia menyewa kamar yang sudah dipesan pengantin baru*!


Gumam benak Valesha berkata-kata, benar-benar tidak habis pikir dengan sikap suaminya yang di luar batas pemikirannya itu.

__ADS_1


"Kau mau disitu saja?" tanya Axelo benar-benar membuyarkan lamunan Valesha di tempatnya.


Dan saat Valesha terbangun dari lamunannya, rupanya Axelo sudah bersandar di pintu, bersiap menyambutnya dengan penuh kehangatan.


Pria itu bahkan menyimpulkan senyuman yang sangat hangat di bibirnya. Sedangkan pada saat itu Valesha merasa dirinya akan segera menjadi daging cincang yang amat lezat.


Dia pun hanya bisa melangkah masuk menuju ke dalam kamar, meski wajahnya terlihat cemas dan juga cemberut hebat. Tentu saja dia terlihat demikian, jika pria ini sudah berkata '*ingin*' maka artinya, kali ini akan sangat ganas.


*Akan dihabisi berapa ronde aku kali ini*?


Gumam benak Valesha lagi pasrah dengan keadaan.


Dia berhenti, saat Axelo hendak menutup pintunya. Dia tidak berbalik ke arah Axelo, hanya menunggu pria itu datang kepadanya, dan dia baru akan bertanya.


Hap!


Dan benar saja, baru selang beberapa detik yang lalu dia menyeletuk di dalam hati, sekarang dia sudah bisa merasakan pelukan hangat yang Axelo berikan padanya.


"Humm!! baunya harum sekali, kamar pengantin yang sangat nyaman." Ucap Axelo persis di cuping telinga Valesha, memberikan sedikit sentuhan menggelikan sekaligus sangat lezat. Sepertinya pria ini memang sengaja melakukannya, bukankah dia paling ahli menggoda wanita?


"Axelo, kenapa kamu menyewa kamar ini? bagaimana dengan pasangan pengantin yang telah menyewanya?" tanya Valesha di tengah-tengah acaranya menahan sesuatu yang mulai berdesir dengan hebat pada sekujur tubuhnya.


"Tidak apa-apa, aku sudah membicarakan semuanya, sekarang tidak ada lagi masalah serius yang harus dipikirkan." Ucap Axelo, dia makin terlihat nakal dengan sentuhan tangannya yang mulai menggerayangi sekujur tubuh Valesha.


"Ugh..." lenguh Valesha agaknya mulai tidak tahan lagi.


Dia bahkan menyingkap sedikit baju Valesha yang tipis, hingga terasa oleh telapak tangannya sebuah gundukan yang sangat menonjol dan mulai terasa kencang.


Agaknya di area tersebut juga mulai mengeras. Dan sekarang Valesha sudah mulai memejamkan kedua matanya, lalu mengerang dengan suara kecil mungilnya.


"Ugh.. Axelo! kita hanya punya sedikit waktu, kalau tidak... Arkh!" pekik wanita itu rasanya sudah tidak kuat lagi menahan sesuatu yang semakin terasa panas pada bagian sensitifnya.


"Tidak sayang, mari kita berlayar satu mal di sini, dan hadiahkan ayah kamu seorang cucu.." bisik Axelo dengan lirih di telinga Valesha, membuat wanita itu tertegun dalam kenikmatan yang dia rasakan.


*Apa? satu malam? oh, tidak! apa aku akan segera mati setelah ini*?


Benak Valesha bertanya-tanya, merintih dan tidak tahu harus bagaimana. Jika satu jam saja berada dalam permainan Axelo rasanya sudah seperti hampir meregang nyawa, apa yang akan terjadi jika mereka melakukannya satu malam penuh?

__ADS_1


"Tidak, Axelo, bagaimana dengan tiket pesawat ke luar negerinya? kau akan membuangnya dengan percuma?" tanya Valesha lagi dan lagi mencoba untuk mengalihkan perhatian Axelo.


Cup!


Benar saja, kecupan di leher jenjang Valesha akhirnya membuat Axelo dengan seketika berhenti.


Namun mata pria itu menatap ke arah Valesha dengan sangat tajam, seakan dia tahu kalau Valesha hanya sedang berusaha untuk menjauh, dan dia benar-benar tidak menyukai hal tersebut.


"Sayang," membelai rambut lurus Valesha.


Keringat dingin mulai bercucuran.


Membutuhkan kipas angin!


Air satu ember!


Siramkan!


Byur!!


Pemikiran Valesha.


*Andai benar seperti itu*.


"Aku sudah mengatur ulang jadwalnya, jadi berangkat satu Minggu lagi pun tidak masalah.."


*A? kenapa aku lupa kalau dia pria yang berkuasa*?


Mengangkat paha molek Valesha.


"Ugh!" pekik Valesha lagi, suaranya sangat candu.


"Mari kita berbulan madu!"


Cup!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2