
Dia masih diam membisu, hanya langkah kakinya saja yang bergerak bergantian meninggalkan rumah Axelo, dengan tangan yang selalu berada dalam genggaman Axelo.
Ia tak melakukan perlawanan, pasrah saja dengan apa yang dilakukan Axelo padanya, bahkan saat pria itu menggandeng tangannya sampai masuk ke dalam mobil, barulah dia sadar kalau dirinya telah keluar dari rumah Axelo..
"A? Axelo, kenapa kau membawa aku keluar?" Tanya Valesha pada suaminya, namun sang suami tidak membalas apapun atas pertanyaan darinya.
Ia pun hanya bisa memalingkan wajahnya dengan kecewa, apalagi saat mendapati wajah Axelo yang datar saja tanpa ekspresi, seakan sudah tidak ada gunanya lagi bagi dia untuk banyak bertanya, toh, sekali pria ini tidak menyahut pertanyaan darinya, maka selamanya juga tetap tidak akan bisa mendapat jawaban.
"Jalan!"
Ucap Axelo dengan datar pada sang sopir, hingga kemudian mobil pun mulai bergerak maju melalui jalanan umum, lalu menuju entah kemana, Valesha sendiri tidak bisa menebaknya.
Ia hanya bisa terdiam di dalam mobil, memalingkan wajahnya, menghadap ke arah luar jendela, dan melihat matahari yang bersinar terang mengiringi wajahnya yang manis dan anggun.
Ia tak menampilkan sebersih senyuman sama sekali di area bibirnya, agaknya dia menelan kerinduan yang cukup pahit dan juga cukup dalam, sampai-sampai dia tak bisa mengkondisikan wajahnya menjadi lebih baik.
Dia bahkan tampak murung, dengan kedua mata yang sendu dan dalam kilatannya. Tidak seperti biasanya saat dia ceria dan selalu tersenyum menghadapai apapun, kali ini dia benar-benar merasa sangat merindukan sang ayah di kejauhan.
Brak!
"Arkh!"
Seorang wanita terdengar memekik, bersamaan dengan tubuhnya yang didorong dan jatuhlah dia di atas lantai teras rumah Axelo dengan sangat memprihatikan. Wajah wanita itu tampak kacau balau, dia bahkan tidak bisa melakukan apapun lagi, setelah tiga orang pria menyeret tubuhnya keluar dari rumah Axelo.
"Pergilah," ucap salah seorang pria berbadan kekar.
"Tanpa kalian mengusirku pun aku bisa pergi seorang diri, dasar tidak tahu sopan santun!" Umpat Sheilin sambil berdiri dan kemudian pergi saja dari tempat itu dengan kebencian dan membawa dendam.
*Heng! Bisa apa kau tanpa aku? Kalau aku bisa membuat gadis itu berubah hina dalam pandangan matamu, maka kau juga akan kembali melarak lenganku dan menjadikan aku permainan yang mengasikkan sama seperti malam-malam sebelumnya sebelum ada dia*!
Benak Sheilin bergumam kesal.
*Aku tak percaya aku diusir dengan sangat hina dari rumah kamu, hanya karena wanita yang kau gunakan sebagai alat untuk membalas dendam*!
Dia berhenti di sisi jalan, menghentikan taksi yang lewat, dan kemudian segera memasukinya.
Blam!
"Jalan!"
Vroooooommmmmm
Dia berdecak kesal di dalam mobil taksi yang dia tumpangi. Namun dia bukan wanita bodoh yang segera kehabisan ide untuk menghancurkan Valesha dari sisi Axelo. Dia akan selalu punya seribu cara untuk menghabisi wanita itu, termasuk menjebak Valesha lagi untuk lain kali.
Dia menilik ponsel di dalam genggaman tangannya, lalu melihat sebuah foto yang tersebar di media pemberitaan internasional. Dia tidak pernah menduga kalau berita pernikahan Axelo dengan putri nomor satu pengusaha terkenal di kota R akan secepat ini menjadi trending topik nomor satu dalam berita.
*Ck! Kesal sekali aku melihat berita pernikahan mereka berdua*..
Gumamnya dalam hati lagi, masih dengan perasaannya yang sangat kesal.
Ia kemudian menggeser lagi deretan foto-foto kebersamaan Axelo dan Valesha dahulu kala sebelum keduanya menikah. Benar sekali, keduanya tampak sangat bahagia, keduanya bahkan terlihat saling melempar senyuman, hanya saja, mengapa semuanya masih harus tentang Axelo dan Valesha?
__ADS_1
Bagaimana kalau, dia merubahnya sedikit? Bagaimana kalau dia mengubah gambar itu dengan wajah lain, dan pada akhirnya gambar itu akan dengan sangat cepat membuat nama Valesha berubah menjadi sangat buruk.
Ouh!
Dia menemukan sesuatu yang sangat istimewa di sini. Dia melihat sebuah foto yang akan menjadi senjata ampuhnya kali ini untuk melawan Valesha. Dia pun segera menyunggingkan senyum smirknya.
*Hemm, bagus juga, bagaimana kalau kita saling melawan? Sepertinya aku akan sangat menikmati permainan ini dan aku pasti akan sangat menyukainya*..
Dia kemudian beralih mencari kontak ponsel seseorang, dan setelah berhasil menemukan kontak manusia yang dia cari, akhirnya dia pun memutuskan untuk menghubunginya.
Bip!
"Aku pikir ini bukan kau!" Ucap seseorang dari seberang.
"Victor, jika kau mau, kau bisa membantuku, maka aku jamin, kau akan semakin mudah memiliki Valesha dalam waktu dekat."
"Huh! Benarkah? Kau yakin akan hal itu?" Tanya Victor di seberang, agaknya dia sangat antusias mendengar ucapan Sheilin yang sangat menggodanya itu.
"Aku ingin foto-foto mereka berdua diubah, seharusnya kau tahu bagaimana melakukannya," ucap Sheilin pada Victor di seberang.
"Ugh, baiklah, aku tahu harus berbuat apa."
"Baiklah, aku serahkan semuanya padamu."
Bip!
Sheilin lebih dulu menutup ponselnya. Dia kemudian kembali tersenyum sinis menghadap ke arah jendela, dan berpikir semuanya pasti akan sangat menyenangkan kalau berhasil.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sudah satu jam berlalu, tapi Axelo dan Valesha masih saja sama-sama diam di dalam mobil mereka. Keduanya tidak mengatakan satu atau dua patah katapun meski untuk sekedar mencairkan suasana canggung di antara mereka.
Dan sekarang Valesha mulai mengenali jalan yang mereka lalui. Jalanan ini adalah jalan yang menuju ke arah bandara, kalau tidak salah. Tapi masih menggumpal dalam hatinya ribuan pertanyaan yang tidak bisa dia tanyakan langsung pada Axelo, yaitu kenapa mereka malah pergi ke bandara?
*Um? Seingatku ini jalan menuju ke arah bandara? Apa aku benar*?
Gumam Valesha dalam hati kecilnya, bertanya-tanya sendiri benarkah jalan ini adalah jalan yang mereka lalui untuk menuju ke arah bandara. Mengingat dia memang baru sekali ini masuk ke dalam kota tempat tinggal Axelo.
Sebelumnya dia tinggal di negara R. Kata sang ayah, dia memang pernah tinggal di sini, entah mengapa akhirnya dia harus meninggalkan tempat ini pada saat kecil dan lebih memilih untuk memboyongnya ke negara R.
Namun sekarang, agaknya Axelo dan tragedi kelam masa lalunya lah yang menjadi salah satu jawaban dari teka-teki itu.
Cittt!
Lama mereka berada di jalanan, akhirnya benar saja, mereka memang berhenti di bandara.
Valesha hanya bisa tertegun di tempat duduknya, dan tidak bergerak sama sekali, apalagi saat dia benar-benar tidak salah menebak kalau Axelo membawanya ke bandara. Apa mungkin, Axelo berniat untuk memulangkan dirinya ke rumah sang ayah?
__ADS_1
Ah!
Mana mungkin, pria sedingin dan sekejam ini, mana mungkin akan semudah itu memulangkan dirinya ke tempat sang ayah. Kecuali hanya angan-angan dan bayangan Valesha saja.
"Ayo kita turun." Ajak Axelo dengan datar pada sang istri.
"Um? Turun? Turun kemana?" Tanya Valesha agak basa-basi, dia pura-pura untuk tidak memiliki pemikiran apapun di sini. Entahlah, padahal dia sendiri tidak yakin apa benar dugaannya itu.
"Mari kita lihat kondisi ayah kamu, aku sudah menghubungi dia, katanya dia juga merindukan kamu," ucap Axelo kali ini sungguh menggetarkan hati Valesha.
Wanita di depannya tertegun, tidak berekspresi sama sekali di wajahnya, namun jujur saja, hatinya sangat bahagia saat suaminya mengatakan hal itu padanya, semuanya bak seperti mimpi.
"Kenapa masih diam?" Tanya Axelo melihat sang istri malah tertegun menatap wajahnya.
"Kenapa? Kenapa kau membawaku ke ayahku? Apa kau ingin melakukan sesuatu pada ayahku?" Tanya Valesha berusaha untuk menyembunyikan kebahagiaannya, karena jujur saja, meski dia merasa bahagia, tapi hatinya juga dibuat cemas, kalau-kalau ternyata niat baik Axelo itu rupanya memiliki alasan yang lain lagi.
Sang suami hanya bisa menatap balik kedua mata Valesha. Dia mendekat ke arah Valesha, dan kemudian mengunci tubuh Valesha dengan dekapan kedua tanganya, dan kemudian mengecup bibirnya.
Cup!
"Ugh.."
Valesha tidak menolak. Seperti biasa, dia hanya bisa menyembunyikan luka di hatinya itu seorang diri, dan sangat rapat, lagipula tidak ada gunanya juga menolak Axelo, dia selalu saja lebih lemah dibandingkan dengan pria ini.
Pria di depan sana hanya bisa tertegun dengan wajah membiru sempurna, menyaksikan ciuman lewat kaca mobil sang tuan. Ciuman ganas yang tidak pernah sang tuan lakukan pada siapapun itu, termasuk Sheilin.
Dan paham betul, bukan sekali atau dua kali ini tuannya itu melakukan ciuman di dalam mobilnya, bahkan pria itu juga sering memuaskan hasratnya di dalam mobil ini. Dialah saksi hidup yang menyaksikan hal seperti itu sekian lama, jadi dia agak terbiasa dengan itu.
Sejujurnya dia masih jomblo, dan agaknya dia belum berniat mencari pasangan, entah bagaimana dia bisa bertahan dari pemandangan seperti ini setiap saat tuannya mau.
Yang sabar untukmu pak supir!
Aku turut merasa iba denganmu..
Namun ciuman Axelo itu tidak bertahan lama. Pria itu juga tahu ini bukan waktu yang tepat untuk melumpuhkan wanita ini dengan pesona ciumannya. Dia pun segera melepas ciuman mautnya itu dari bibir Valesha, dan kemudian menatap dengan lekat kedua mata Valesha.
"Asal jangan katakan apapun, maka aku tidak akan menyakiti ayah kamu." Ucap Axelo dengan dalam pada istrinya, "jadilah istri yang baik saat di depan ayah kamu, dan aku juga akan bersikap demikian."
Sejenak Valesha tertegun di atas jok tempat duduknya. Tidak mungkin juga suaminya ini akan memberikan suatu kebaikan dengan cuma-cuma, bukankah harus selalu ada imbalan dibaliknya? Mana mungkin Axelo akan dengan mudahnya memberinya sebuah kejutan jika tidak ada yang perlu dia lakukan?
Tapi tak apa, sekedar pura-pura seharusnya tidak begitu sulit. Dia pasti bisa mengatasinya, asal bisa berjumpa dengan sang ayah, bukankah sandiwara pun boleh saja dia lakukan?
Jika Axelo selalu bersandiwara di hadapannya dan juga keluarganya di masa lalu, lalu sekarang apa dia juga tidak mau menunjukkan keahliannya dalam berakting?
Tentu saja dia harus melakukannya, dia bukan wanita yang bisa dianggap remeh, bukan?
Kedua manusia itu pun mulai terlihat menuruni mobil, dan berjalan bergandengan tangan menuju ke arah pesawat yang akan mereka tumpangi. Keduanya berjalan mesra bahkan dengan menggandeng tangan tanpa melepas pegangannya sampai pada akhirnya mereka masuk ke dalam pesawat.
"Duduklah di sini, aku tidak mau kau jauh dariku.." Ucap Axelo terlihat bermanja-manja pada sang istri, meski wajahnya dingin dan datar, tapi saat seperti ini, dia tak ubahnya seekor kucing yang minta elusan kehangatan dari sang pemilik.
*Kau sehangat ini, sayang sekali, kau melakukan kesalahan dengan melampiaskan dendam padaku dan keluargaku, Axelo, andai aku bisa mengatakan semua kekacauan dan kebencian di hatiku untukmu, yang bercampur dan beradu menjadi satu dengan perasaan cintaku yang lumayan dalam ini, betapa aku ingin menghancurkan hatiku sendiri karena merasakan perasaan yang sangat rumit dan tidak bisa aku pecahkan*..
__ADS_1
*Dan kaulah pelaku utamanya*..