Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Dokter Palsu


__ADS_3

Sekarang bukan hanya terkejut yang dia rasakan, namun dia juga merasa geram dengan pria yang terus menteror dirinya menggunakan video itu.


Bukan tanpa asalan Victor membuat situasi semakin menjadi buruk begini, dia bahkan dengan rela siap kehilangan karir yang selama ini dia impikan. Dan rupa-rupanya yang dia butuhkan hanya sekedar harta.


Dia yang geram dan juga kesal pun hanya bisa menghubungi Victor dengan ponsel satunya.


Ia sendiri merasa bingung mengapa Victor bisa mengetahui tentang nomor ponsel satunya, mengingat dia tidak pernah menggunakan ponsel ini untuk sesuatu yang tidak penting, dan Victor adalah termasuk pria yang tidak penting bagi hidupnya.


Bip!


"Hallo, selamat pagi kesayanganku, apa kau baru saja melihat pengakuanku di konferensi pers pagi ini?"


"Sialan kamu Victor, aku nggak akan pernah membiarkan kamu hidup tenang." Jawab Sheilin dengan muka geramnya. Dia sendiri bahkan sudah pasrah kalau sekarang dia dijatuhkan mati-matian oleh Axelo karena berita yang tersebar dengan cepat itu.


"Ha.. ha.. kau salah, sepertinya malah aku yang tidak akan membuat hidup kamu tenang, kau tahu sayang? butuh waktu yang singkat untuk memikirkan semua ini, dan aku pikir, kau memang membutuhkan sedikit hukuman supaya tidak terus melawan aku."


"Dasar kau! kau tidak akan bisa menghukum aku, aku akan pastikan kalau Axelo akan membantu aku menyelesaikan masalah ini." Tidak ada jawaban lain yang bisa dia lontarkan kah?


"Ha.. ha. ha.."


Pria di seberang terdengar tertawa begitu terbahak-bahak kala mendengar perkataan dari Sheilin barusan.


Semua orang juga pasti akan tertawa saat mendengar ucapan Sheilin barusan, bukan tidak mungkin, jelas saat Sheilin berbicara seperti tadi, dia menampilkan sisi bodohnya sendiri, apa dia sama sekali tidak sadar akan hal tersebut?


"Kamu bilang Axelo akan membantu kamu? kau pikir sekarang dia masih mau melihat mukamu? kau pikir dia masih akan peduli?"


Mendengar perkataan dari Victor barusan, lekas Sheilin terdiam membisu. Benar juga, mana bisa sekarang dia mendekati Axelo untuk membantunya.


Jika Victor saja sudah membuat dia kalah telak, apa gunanya sekarang dia datang ke sisi Axelo untuk meminta perlindungan?


Yang ada malah dia semakin dijatuhkan semakin dalam oleh pria itu. Andaikata dia bisa menemukan orang yang tepat yang bisa menolongnya.


"Victor, aku bilang padamu, ya! jika kamu berpikir aku akan terus membungkam mulut kamu dengan uang, maka kamu adalah pria yang sangat salah! aku tidak akan pernah memberi kamu uang lagi, entah mau karir kamu hancur, atau mungkin kamu akan sekalian mati, aku sudah tidak lagi peduli, kamu benar-benar bodoh, menurut kamu aku sangat dirugikan di sini? tentu saja kau salah besar, sebenernya kaulah yang sangat dirugikan oleh rencana konyol kamu sendiri!" ucap Sheilin pada pria di seberang sana.


Dia bahkan lupa kalau dia juga harus bersiap siaga untuk melihat apa yang bisa saja terjadi pada dirinya.


"Hahaha, baiklah mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan tanpa Axelo!"


Bip!


Segera Sheilin menutup sambungan dengan Victor. Niat hati ingin memarahi dan memakai Victor untuk melampiaskan kekesalan yang ada di dalam hatinya, dia malah pada akhirnya harus menerima kekalahan yang sangat tidak terduga.


"Sialan, benar kata dia, aku memang tidak bisa berbuat apapun tanpa Axelo, bahkan toko kosmetik ku juga terancam bangkrut kalau begini caranya, lalu bagaimana aku bisa bertahan hidup?" tanya Sheilin dengan cemasnya entah pada siapa.


Dia terlihat mengigit bibir bawahnya, menatap dengan gemetar lantai keramik dengan kosong, sembari memikirkan bagaimana cara dia untuk bertahan hidup jika semuanya malah berubah menjadi semakin rumit seperti ini.


Tak bisa dipungkiri, hanya Axelo yang sejauh ini membantu dia melakukan banyak hal, namun dia tidak bisa menolak, kalau dia begitu canggung jika harus kembali ke rumah Axelo dan kemudian meminta bantuan Axelo untuk menghidupi dirinya dan menghapus semua berita itu.


Sekian lama dia berpikir, pada akhirnya dia mendapat satu nama yang sejauh ini tidak juga berharga bagi hidupnya, mungkin nama pria itu masih bisa disejajarkan dengan Victor, hanya saja, dilihat dari posisinya, jelas saja pria itu jauh lebih baik dari Victor, tidak seperti Victor yang selalu memanfaatkan dirinya, mengancam dirinya dengan menggunakan video mereka berdua hanya untuk memeras uangnya.


Meski begitu, pria yang dia maksud di sini juga tidak bisa dianggap setara dengan Axelo. Meski dia juga punya kedudukan yang cukup tinggi di keluarganya, mengingat dia telah menjadi penopang keluarganya, agaknya tidak menutup kemungkinan juga kalau pria itu akan menghidupi Sheilin dengan baik jika memberi sedikit sentuhan saja.


Ya! tidak terlalu buruk juga.


Dia memiringkan senyuman di bibirnya pada saat menemukan satu target yang bagi dia sangat tepat untuk dia gunakan selanjutnya. Bagaimanapun juga, pria yang dia maksud ini pasti akan lebih mudah untuk dibujuk, sekali lagi, hanya membutuhkan sedikit sentuhan lembut saja.


Tapi saat dia hendak menghubungi pria itu, sayang sekali, dia lupa kalau semua nomor ponsel orang-orang yang tidak penting ada di ponsel yang telah dia hancurkan.


"Arkh! sialan!"


Sejenak dia terdiam, berpikir apa yang seharusnya dia lakukan.


Dia menatap ke sekeliling, dan kemudian menemukan cara supaya bisa berjumpa dengan pria itu.


Dengan segera dia pun melangkahkan kedua kakinya secara bergantian ke arah kamar, menutup seluruh tubuhnya dengan sangat rapat, melakukan penyamaran yang sudah cukup bisa menutupi dirinya dari media di luar sana.

__ADS_1


Ia tidak punya pilihan lain selain mendekat pada pria itu, sejauh ini, dia memang hidup dalam naungan para pria kaya, ya, sejujurnya memang hanya Victor saja yang miskin dan malah memeras dirinya lebih dari apapun.


Betul-betul nasib yang sangat buruk kalau mengingat mengapa dia bisa percaya pada pria bodoh seperti itu.


Bodoh sekali dia!


Ia kemudian keluar dari rumahnya, dengan jalan kaki dan kemudian menggunakan taksi untuk bisa keluar dari area perumahannya.


Dia mencoba untuk menemui seseorang. Dan orang yang dia maksud pasti akan sangat terkejut melihat kedatangannya.


Aku harap aku bisa membuat kamu takluk padaku.


...----------------...


Tak!


Sudah satu cangkir kopi Ashkan habiskan di meja restoran, sembari menunggu dokter yang dia hubungi semalam tiba.


Huh!


Sudah satu jam lebih dia menunggu di sini, tapi dia bahkan tidak mendapati satu orang pun yang wajahnya mirip dengan seorang dokter.


Ia jadi ragu, selain ragu, dia juga merasa jenuh, tidak tahu apa dia harus tetap menunggu di sini atau dia abaikan saja niat hatinya untuk mengetahui apa yang ingin dia ketahui.


Dia menilik jam di tangannya lagi, rupanya sudah jam satu lebih, dia bahkan hampir beranjak dari meja tempat duduknya, bersiap untuk segera pergi dari sana setelah membayar tagihan.


Tapi saat dia beranjak dari meja, bersiap untuk pergi, mendadak seseorang berkacamata datang dengan wajah ramahnya.


Wajah yang sudah sedikit tua, dengan kerutan-kerutan halus di dahi tuanya. Dia terlihat sangat bersih dan juga memiliki kulit yang cukup bersinar, apa dia sehabis melahap lampu LED?


"Wah, Tuan yang semalam, ya?" tanya pria tua itu mengarah kepada Ashkan.


"Siapa anda?" tanya Ashkan ada pria di depannya sekarang.


"Ah? aku yang semalam kau hubungi, soal benda yang kau tunjukkan padaku, apa kau lupa? tentu saja aku yang seharusnya pikun, aku lebih tua darimu." Ucap dokter tua itu pada Ashkan.


Bukan dia menghina, hanya saja dia hanya berpikir kalau semula dia berbicara dengan dokter muda berusia tiga puluh tahunan, setidaknya hanya beda empat tahun lebih tua dari dirinya.


Mengapa yang datang malah hampir dari dua kali lipat atas umurnya?


"Ouh? jadi kau dokter yang semalam?" tanya Ashkan pada dokter tersebut.


"A, iya, kau benar, aku yang semalam kau hubungi," ucap pria tua itu pada Ashkan.


Setelah mencoba meyakinkan dirinya kalau ucapan dokter di depannya itu mungkin memang benar adanya, dia pun lekas terduduk, tak lupa juga dia menawarkan pria tua di depannya itu untuk duduk di kursinya.


"Ah, bagaimana? apa kau sudah menemukan sebuah petunjuk atas benda yang aku tunjukkan semalam?" tanya Ashkan pada sang dokter.


"Aku hanya menduga sedikit, tidak pasti juga apa dugaanku itu benar, aku harus melihat benda itu sekali lagi," ucap dokter itu, "apa kau membawanya?"


Ashkan hanya menatap dengan aneh ke arah dokter tua itu. Dia terlihat mencurigai dokter tua itu. Hanya saja, dia tak ingin gegabah untuk melakukan hal seperti ini.


Dia menatap ke sekeliling, lebih tepatnya hanya terlihat kedua mata Ashkan yang bergerak mengawasi pergerakan di sekeliling dia.


Memang ada beberapa orang yang sangat aneh di sana, meski pandangan mereka tidak tertuju ke arahnya, namun dia bisa memastikan kalau sesekali mereka semua menatap ke arahnya.


Bukan hanya kebetulan, bahasa yang semalam digunakan oleh dokter yang dia hubungi seperti bahasa pria muda, mengapa sekarang yang datang justru malah pria tua seperti ini.


Dia menghela nafasnya dengan sangat berat. Dia tahu kalau semuanya tidak ada yang kebetulan, kedatangan pria yang tidak dia sangka sebelumnya, lalu para manusia yang mengawasi dirinya selama beberapa waktu terakhir, jelas sekali di sini tidak akan aman untuk dirinya dan untuk benda yang ada di tangannya.


Ia pun berusaha untuk tenang. Dia mengambil sisa kopi yang masih ada di dalam cangkir kopi di atas meja, dan kemudiaan meminumnya sampai habis.


Slurp!


Tak!

__ADS_1


Meletakkan cangkir kembali di atas meja.


"Tuan dokter, aku tidak membawa benda yang kau maksud, aku pikir kau seorang dokter yang canggih yang bisa menebak kandungannya walau hanya dalam foto yang aku kirim, rupanya kau tidak lebih bodoh dariku." Ucap Ashkan dengan hawa tenang dan tidak tergesa-gesa.


Seorang pria di sisi yang lain langsung menoleh dan menatap dengan tajam ke arahnya. Mendadak Ashkan jadi benar-sadar sepenuhnya.


Dan karena itulah dia tahu, kalau pria tua ini mungkin saja menggunakan alat penyadap suara supaya mereka semua tahu kapan mereka akan mulai bertindak.


Terlihat secara tersembunyi tangan dokter itu membuka kelima jari tangan kanannya, dan kemudian memberi arahan pada beberapa orang di sekitarnya untuk tidak terpancang.


Benar saja, mereka bukan orang sembarangan.


"Ah?" dokter palsu itu mendadak tersenyum dengan sangat lebar, membuat Ashkan seketika mengangkat alisnya dengan tinggi, "ya, aku perlu melihatnya lebih jelas lagi, untuk mengetahui apa yang akan terjadi jika seseorang terjangkiti oleh virus ini," jawab dokter palsu itu dengan sangat pandai.


Ashkan terlihat membangkitkan tubuhnya, berpikir untuk meninggalkan pria tua berkerut halus di dahinya itu seorang diri, atau mungkin, dengan beberapa anak buahnya.


Hap!


Namun saat dia bangun, tangan laki-laki tua itu langsung mencegat langkah kakinya, dan kemudian menatap ke arah wajah Ashkan dengan sangat tajam.


Merasa dia sedang ditekan dan juga ditantang oleh pria tua di depannya, dia pun lantas berbalik menatap ke arah dokter itu dengan tatapan yang sama, namun lebih terasa dingin dan menusuk.


"Serahkan benda itu padaku!" ucap pria dokter palsu itu dengan lirih, sembari bergumam.


Mendengar perkataan dari pria di depannya, jelas saja Ashkan tidak akan tinggal diam.


Dia kemudian menatap semakin tajam kedua mata pria di depannya, dan kemudian menjawab permintaan pria itu dengan jawaban yang sangat dingin.


"Tidak ada seorang dokter yang memaksa pelanggannya sendiri," jawab Ashkan mengarah pada pria tua di depannya itu.


Klak!


Secara serentak semua anak buah milik pria tua yang tersebar kemana-mana itu terlihat memperlihatkan senjata yang mereka sembunyikan di balik baju mereka.


Namun lagi dan lagi dokter tua itu terlihat membuka kelima jarinya, untuk yang kedua kali memberi kode pada para bawahannya supaya tidak bermain secara gegabah.


"Lebih baik urus saja keperluan kamu sendiri! aku bukan seseorang yang tidak sibuk." Ucap Ashkan yang pada saat itu akhirnya lekas pergi dari restoran.


Ia terlihat meletakkan satu lembar uang untuk membayar kopi yang telah dia pesan sebelumnya, dan meninggalkan pria tua bersama anak buahnya itu.


Hemm, penyamaran ku saja sudah tidak berhasil, aku harus bagaimana sekarang?


Dia kemudian menatap ke salah satu anggota kelompoknya, memberi tanda hanya dengan tatapan matanya yang sangat tajam, dan kemudian beberapa anak buahnya terlihat keluar membuntuti Ashkan sampai ke tempat parkir mobil.


Namun sayang sekali, saat mereka tiba di area sana, mobil Ashkan mendadak melaju dengan begitu kencang dari arah belakang mereka, dan hendak menabrak mereka semua.


"Ugh!!"


"Sialan!"


"Brengsek!"


Umpat para pria itu setelah mereka hampir diterjang dan dihabisi oleh Ashkan dengan mobilnya yang juga gagah berani.


Namun di dalam mobil, Ashkan malah terlihat sangat senang dengan pencapaian ini. Setidaknya dia tidak membuat mereka merasa tenang.


"Heng! dasar kutu!"


Umpat Ashkan di dalam mobil, dia mendadak suka melihat kehancuran.


Sementara semua pria anak buah dokter palsu itu terlihat membawa mobil menyusul kepergian Ashkan.


Aksi kejar-kejaran di jalan raya pun akhirnya terjadi.


"Aku tidak mau bermain, tapi kalian malah mengajak aku bermain, asal jangan menyesal bermain denganku, ya."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2