Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Kasus Yang Rumit


__ADS_3

Cklek!


Pintu dibuka dari luar, memperlihatkan sosok Ashkan dengan gagahnya masuk ke dalam ruangan Profesor Chan yang tengah terduduk di atas kursinya.


Pria yang mengenakan jas berwarna putih itu terlihat mendongak dan langsung tersenyum saat melihat kedatangan Ashkan di sana.


"Kau lagi? apa kali ini kau meninggalkan sahabat karibmu itu?" tanya Profesor Chan dengan sedikit senyuman di bibirnya.


Ashkan tak menjawab, hanya terlihat wajahnya yang kaku dan berkeringat dingin, pucat serta tak karuan dilihat.


Dia kemudian berjalan masuk, menemui Profesor Chan secara langsung, dan kemudian disusul oleh seseorang di belakang yang membuat Profesor Chan lekas membeku.


Dia mengenali Axelo, agaknya.


"Uhm? Tuan Axelo?" gumamnya dengan keringat dingin yang langsung bercucuran.


Dia lekas bangun dari duduknya dan kemudian menyambut kedatangan Axelo bersama dengan Ashkan di sana, menjabat tangan Axelo dengan keramahan yang dia miliki, meski mungkin itu tak ada gunanya bagi Axelo.


"Aaahh, senang sekali, bisa mendapat kunjungan dari anda, Tuan Axelo." Ucap Profesor Chan mengabaikan Ashkan dan malah menyambut Axelo dengan suka cita.


Melewati seseorang..


Menjabat tangan Axelo dengan ramah.


Seseorang yang tertegun.


Dia bahkan tidak ramah padaku terakhir kali kami bertemu, sungguh tidak adil.


Singkat saja, acara penyambutan kedatangan Axelo yang terhormat sudah selesai. Sekarang ketiga pria muda itu terlihat duduk berhadapan di sebuah kursi, membicarakan satu hal serius di sana, tentu saja masih tentang virus yang akhir-akhir ini menjadi masalah besar.


"Sebenarnya virus ini tergolong virus yang berbahaya, bisa membuat seseorang seketika mati, lebih parah lagi, virus ini juga bisa bermutasi, yang akan membuat saraf seseorang mati dan menyebabkan kematian." Ucap Profesor Chan pada kedua kakak beradik di depannya.

__ADS_1


Tatapan Axelo dan Ashkan tak pernah beralih dari wajah lugu Profesor Chan yang berwajah benar-benar seperti orang China.


Bukankah dia memang orang China?


"Tapi jika seseorang mengalami kelumpuhan dalam waktu yang panjang, atau misal punya penyakit yang menahun disebabkan oleh virus ini, itu artinya ada upaya untuk mengatasi virus ini juga dilakukan, mungkin seperti jika pagi melakukan pengobatan, dan sore harinya virus kembali disuntikan," jelas Chan pada kedua tuan muda yang kini entah mengapa sudah semakin akrab dengannya.


"Tapi akan lebih jelasnya lagi kalau melakukan pemeriksaan pada orang tersebut, setidaknya bisa meyakinkan kalau tubuh orang itu memang sudah disuntik dengan virus itu." Sambung Profesor Chan.


Ketiganya tampak saling bercengkerama mengenai hal tersebut dengan serius. Hanya terlihat Axelo yang lebih sering diam dan mendengarkan penjelasan dari kedua orang di depannya.


Hingga beberapa jam telah berlalu, pada akhirnya dua tuan muda itu terlihat keluar dari ruangan Chan.


"Baiklah, terima kasih untuk waktunya, aku akan datang lagi lain kali," ucap Ashkan pada Chan.


"Ya, tentu saja, kapanpun kau membutuhkan bantuan ku, aku pasti akan selalu ada."


Kata-kata yang terdengar sangat berlebihan.


Oaklard sudah menunggu kedatangan mereka berdua yang langsung duduk di jok belakang.


Keduanya tampak tak baik-baik saja, entah sedang rumit memikirkan masalah yang mana. Namun tentunya Oaklard tahu pasti kedua tuannya ini sedang ditimpa masalah besar.


"Jika bukan kau yang mengirim anak buah kesana, apa mungkin dia dikendalikan oleh orang lain? mungkin punya organisasi gelap dengan orang lain, dan salah satu target mereka adalah Tuan Wishnu?" tanya Ashkan menebak-nebak.


"Hahh! aku sangat tidak mengerti, sudah bertahun-tahun lamanya ini terjadi, tapi aku bahkan tidak tahu rupanya aku yang dijadikan sasaran tinju." Ucap Axelo sambil mengelus keningnya lagi.


Entah sudah berapa ratus kali dia menyentuh jidatnya. Memberi pertanda pada semua orang kalau dia benar-benar tak berdaya untuk saat ini. Mungkin salah satu alasannya memang benar kepergian Valesha.


"Oaklard, aku butuh kamu untuk pergi ke negara Z, sekedar menyelidiki orang tersebut, dan apa saja yang dia lakukan di sana, padahal dia juga aku suruh untuk mengawasi ibu, tak kusangka dia juga pergi keluyuran di ke negara Z."


Ucap Axelo seakan menjebak Ashkan untuk mengetahui sesuatu yang dia pikirkan.

__ADS_1


Ashkan yang peka pun langsung membola, membelalakkan kedua matanya dengan lebar, membuat sebuah ekspresi keterkejutan yang luar biasa di sana.


"Apa maksud kamu, kak? dia dan ibu.."


Axelo menyembunyikan tangannya dari keningnya, dan kemudian menatap ke arah adiknya lagi.


"Tentu saja apa yang aku maksud ini, adalah hal yang mungkin saja terjadi, dia tidak melindungi ibu tanpa perintah dariku, dan aku juga tak pernah melihatnya kemari jika ibu datang, kalau benar begitu, apa kamu masih bisa untuk bertanya lagi?" tanya Axelo pada adik kandungnya yang terlihat tengah penasaran.


Sejenak Ashkan terdiam membisu, setelah mendengar kata-kata dari Axelo beberapa saat yang lalu, tentu saja dia menjadi diam, diam yang diotaknya bahkan terasa kacau dan berdebat, berbeda dari wajah luarnya yang seperti batu..


"Jadi, maksud kakak.. ibu?"


"Sudah aku katakan sejak awal, aku juga mencurigai ibu dan ibunya Sheilin, karena itulah aku yang dulu begitu berambisi untuk membalas dendam kematian ayah untuk ibu, akhirnya aku putuskan untuk membalas dendam untuk diriku sendiri, bukan untuk dia, karena aku sendiri belum jelas mengetahui apa ibu juga terlibat di sini atau tidak."


Benarkah? apa ibu, benar ikut terlibat?


...----------------...


*Entah harus sampai kapan aku terus seperti ini, ingin kembali dan melihat kondisi ayah, tapi tetap tidak bisa melakukannya, seolah ada satu hal yang menahan aku untuk bergerak pergi dari sini, tapi sesuatu itu, bukan tentang keselamatan ayah*..


Dia terlihat mengaduk teh dan gula di dalam cangkir dengan pikiran yang kosong dan melamun.


Ia bahkan terlihat begitu dalam, dengan wajah yang kosong dan pucat, seperti sudah semalaman tidak tidur. Dia bahkan terlihat memiliki kantung di bawah kedua matanya.


*Axelo, apa mungkin dia bisa membuktikan kalau semua yang aku dengar ini adalah salah? lalu jika suatu hari nanti dia kemudian datang padaku dan berkata kalau dia benar tidak bersalah, dengan membawa ribuan bukti di tangannya untuk membuat aku percaya, apa aku masih bisa percaya padanya*?


Mendadak dia jenuh berpikir, sampai akhirnya dia mulai menyadari tentang satu hal, satu hal yang sudah pasti dia tak boleh memberi dirinya harapan terlalu berlebih.


Tentang sebuah kepastian, apakah mungkin benar Axelo akan datang suatu hari nanti hanya untuk dirinya, atau semua yang dia pikirkan ini hanyalah sebatas khayalan.


*Apa peduliku? lagi pula aku juga tidak lagi merasa peduli*.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2