
Hidup itu terkadang seperti kabut yang tak berujung. Gelap dan seolah tiada jalan keluarnya. Kegelapan yang melanda sampai seakan-akan hati tak punya lagi penerangan untuk melangkah dan terus maju ke depan menyongsong masa depan.
Kesedihan, kepedihan, luka dan air mata nyatanya tak akan pernah menolong kita dari sebuah penyesalan. Menyesal mengapa sejak awal ia tak sanggup berlari menjauh, hingga pada akhirnya takdir kejam ini memang harus membuat dirinya lebih baik mati.
Tangis dan penyesalan menyelimutinya, sepanjang prosesi pemakaman yang hanya dihadiri oleh Valesha dan keluarga terdekat.
Tampak pula keluarga Neil hadir di sana. Namun mereka sama sekali tidak memberi dukungan apapun. Hanya terlihat mata mereka yang sangat berbinar meski mereka berusaha menyembunyikan kebahagiaan mereka sekalipun di depan Valesha.
Nampak pula Ahwei dengan segenap tipu dayanya, mencoba membuat dirinya tampak baik di depan Valesha. Namun tetap saja, apapun yang dia kemukakan di depan umum, nyatanya tak dapat menyembunyikan identitas kebusukannya di depan semua orang.
"Dia hanya manusia biasa, yang kapan saja bisa mati, sama seperti kita, kamu, dan aku, yang bisa saja mati tanpa kita duga." Ucap Nyonya Ahwei pada Valesha.
Matanya menyorotkan kepuasan akan suatu hal. Namun mimik wajahnya tampak mencoba berekspresi sedih.
Valesha hanya bisa menatap pusara sang ayah dengan tatapan kosong. Si Geshka yang sejak kemarin juga selalu menemani Valesha, hari ini pun tampak demikian.
Ia bahkan terus menjadi penopang tubuh Valesha yang hampir tumbang.
"Sudah, lebih baik kita pulang sekarang.." Ujar Geshka mencoba membawa Valesha pergi dari pemakaman.
Hujan pun turut serta mengiringi kesedihan yang dialami Valesha. Payung hitam yang semula dia bawa untuk menghalangi sinar matahari menimpa jasad sang ayahanda, pada saat pulang, nyatanya payung itu menjadi pelindungnya dari derasnya air hujan.
Ia melangkah pergi, menyusuri jalanan setapak hingga tibalah dia di mobilnya. Seorang sopir tampak memberi dia pintu. Masuklah Valesha beserta Geshka ke dalam mobil.
Seketika mobil melaju dengan cukup kencang membelah jalanan sepi. Tampak dari kejauhan mobil suaminya terparkir dengan sangat hati-hati. Seolah ia tengah sibuk mengawasi seseorang dari kejauhan.
"Apa kita sudah bisa pulang?" tanya Oaklard dari jok depan. Kondisinya sudah lebih baik sejak mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Meski begitu, Axelo tetap mengerahkan orang lain untuk mengemudikan mobilnya.
Nyatanya ia masih saja merasa tak tega memperbudak seorang manusia yang tengah kesakitan. Sayang sekali, ia tak pernah menerapkannya pada Valesha.
"Nanti dulu, aku masih belum sanggup menerima semuanya, kalau aku sudah bisa menerimanya, aku akan langsung menuju ke bandara, tanpa perlu pulang ke rumah." Jawab Axelo dengan mantap.
"Baiklah, tuan, terserah apa kata anda."
Mereka masih terdiam sejenak. Rencana memang terkadang harus tidak terduga. Disaat hatinya berpikir ingin meluluhkan hati sang istri, namun ternyata takdir juga berkata lain. Ia harus kembali ke negara asalnya mengingat sebuah bencana yang terjadi di sana.
Ada bukti tes DNA yang tersembunyi di kamar milik Nyonya Armei!
Dan sekarang, mungkin adalah saatnya bagi Axelo untuk mengakhiri segalanya.
Bzzzzz bzzzzzz
__ADS_1
Ponselnya bergetar dengan mengerikan. Apalagi saat Axelo menatapi layarnya, dan menemukan nama sang istri tertera di sana. Jantungnya serasa dipacu dengan sangat cepat, membuat perasaan gugup seketika menguasainya.
Dengan tangan gemetar, ia langsung mengangkat panggilan dari istrinya. Meski rasanya begitu ragu.
"Hallo?"
"Surat perceraian akan segera aku kirim! tolong segera tandatangani, dan setelah itu, aku mohon untuk tidak menganggu aku lagi!"
Bip!
Panggilan segera diakhiri oleh Valesha di seberang sana, membuat hati Axelo yang berkecamuk bertambah lagi rasa tak menentu itu.
Tangannya bergetar hebat. Jatuhlah ponselnya di atas pangkuannya, lalu jatuh juga air matanya menimpa punggung tangan.
Rupanya jatuh cinta dan terluka, rasanya memang sangat menyakitkan!
...----------------...
Ia meneguk segelas kopi hangat. Perjalanan selama dua setengah jam di dalam pesawat memang sedikit membuat dirinya lelah.
Namun benarkah dia merasa lelah sebab hal tersebut? nyatanya pernyataan tersebut tak juga sepenuhnya benar.
Tok! tok! tok!
"Masuk!"
Cklek!
"Tuan, anda tidak boleh melewatkan hal ini!!"
Ia bergegas mengambil sesuatu di dalam genggaman tangan Oaklard. Sementara cangkir berisi kopi miliknya dibiarkan saja berada dalam genggaman satu tangannya.
Dibaca saja olehnya tentang beberapa bukti yang tertera di atas kertas tersebut. Seketika ia tercengang.
"Kenapa? kamu terkejut?"
Suara seseorang dengan lirih membuat jantungnya kembali berpacu.
"Aku juga tidak menduganya, rupanya semua ini hanyalah sebuah permainan, dimana kertas di tangan kamu itu, sebagai kuncinya!" Ashkan.
...----------------...
__ADS_1
Sret!!!!
"Lepaskan aku!! lepaskan!!"
Seseorang menarik paksa kerah jas kantor milik Neil dengan sekuat tenaga. Wajah beringas dengan dendam yang tersemat di dalam hati kecilnya membuat ia semakin menggila, seperti harimau yang kelaparan. Begitu mengerikan.
Bukk!
"Dasar pengecut!!!"
Bukk!
Ia terus mendaratkan pukulan-pukulan mematikan pada pria dalam tumpuannya, seolah pria itu adalah makanan yang sangat lezat untuk memuaskan kedua tangannya.
"Semua ini sebab dirimu! dasar manusia tidak tahu diri!!!"
"Cukup, Axelo!!"
Seseorang berteriak menghentikan pukulan Axelo pada pria di bawah kakinya.
Wanita itu lekas mendekat, memeluk Neil dengan sangat iba, juga mengelus luka-luka di wajah Neil.
"Sudah cukup kau menyakiti putraku! aku yang gila harta! aku yang ingin Wishnu dan Aeslen sama-sama saling menyakiti! jangan lampiaskan semua kesalahanku pada putraku!!"
Sejenak Axelo terdiam. Namun amarah di dalam hatinya tetap saja meluap-luap seperti api yang berkobar dengan sangat gagah.
"Kau membohongi aku dan adikku selama puluhan tahun, sejak kami kecil, hingga kami begitu percaya kalau dirimu adalah ibu kandung kami!!! tapi ternyata, kau hanya seorang penipu, yang gila sebab uang!!!!"
Wanita itu bangun dari duduknya, menatap dengan tajam kedua mata Axelo. "Ya! aku memang gila uang! kau tahu betapa aku berusaha untuk berada di titik ini, kau pikir semua ini bukan tanpa alasan?"
"Ibumu menikah dengan suamiku, melahirkan kamu dan juga adikmu, sementara, setelah kematian ibumu, aku yang harus juga merawat kamu, aku dipaksa menelantarkan putraku demi dirimu dan juga adikmu!! kau pikir semua ini adil bagi kami?"
"Aku membuat kamu melihat bahwa Wishnu lah yang membunuh ayah pencundangmu itu! tapi sebenarnya, semua ini hanyalah ulahku! kau ingat, saat kematiannya, Wishnu menatap wajahmu dengan perasaan bersalah, alangkah indahnya saat hari itu, aku yang memerintah istrinya untuk membunuh Aeslen, tapi Wishnu lah yang kena imbas dan dendamnya!"
"Aku berharap istri Wishnu dipenjara dan Wishnu dengan segera mati! tapi ternyata Wishnu malah mendapat sebagian harta dari ayahmu! dan membuat aku miskin dengan kedua anak Aeslen bersama dengan selingkuhannya!!"
"Istrinya mati, dan aku tidak bisa melihat Wishnu terus berbahagia, sebab dia pula yang telah menyakiti aku di masa lalu! aku membesarkan kamu, hanya untuk membuat semua yang seharusnya menjadi milikku, benar-benar kembali padaku! apa itu salah?? sementara sebab kehadiran kamu, hidupku hancur! duniaku hancur! dan anakku, terpaksa harus aku titipkan pada saudaraku! Ahwei!!"
***Seolah seperti mati***!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1