Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Hukuman Yang Menyedihkan


__ADS_3

**Di Sebuah Restoran**..



Pria itu selalu diam, diam dan membisu ditempatnya, sama seperti setengah jam yang lalu, dan posisi semacam itu masih belum juga berubah hingga kekasihnya merasa bosan.


Dalam otaknya terus berputar bagaimana caranya menjerat perusahaan Fotham dengan sebuah jeratan hutang, namun tiada yang tahu, termasuk juga istri sahnya, Valesha.


Bagaimanapun ini adalah bagian dari rencana besarnya, dia harus segera membuat perusahaan Fotham berada dalam posisi kritis dan membutuhkan bantuan dari perusahaan lain.


Namun tentu saja tidak boleh semudah itu memikirkannya, dia harus memiliki rencana yang sangat matang demi kelancaran rencana yang sudah dia susun selama bertahun-tahun dengan ibunya.


*Keluarga Fotham harus segera hancur, tapi bagaimana caraku membalas dendam selain pada putrinya*?


Di samping kanannya, sang kekasih agaknya mulai jenuh dengan keadaan sepi dan hening yang terjadi di antara mereka berdua.


Ia terlihat merengek dan mulai berlendot di lengan kekasihnya, bahkan tanpa rasa malu sedikitpun.


"Sayang, sejak tadi kau hanya diam saja, katamu akan temani aku makan, apa kamu tidak lapar?" tanya Sheilin dengan nada manjanya, sama seperti yang biasa dia lakukan.


Mendengar rengekan dari kekasihnya, Axelo nampak bergeming setengah senti, dia bergerak mengubah posisinya agak jauh dari Sheilin, karena memang gadis ini selalu membuat dirinya merasa muak.


Muak?


Bukankah selama ini Sheilin adalah gadis yang sangat dia cintai? mengapa sekarang malah berubah muak?


Sama seperti pria brengsek pada umumnya, memiliki banyak wanita, sampai-sampai tak terhitung jumlahnya, namun ada satu wanita yang bisa memuaskan dirinya lebih dari siapapun.


Pada saat itu, dia memang merasa hanya Sheilin yang mampu menaklukkan hasratnya semudah itu, namun ia tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan kelak.


Ya, tiada yang akan tahu.


"Sayang!?" panggil Sheilin dengan nada jengkel.


"Kenapa?" tanya Axelo merasa jenuh.


Wanita di sampingnya itu memang selalu saja ingin merecoki lamunannya, seolah tak sudi jika dirinya terus di acuhkan oleh Axelo. Ya, memang semua wanita pasti pernah merasakannya.


"Kamu diam saja sejak tadi, apa kamu tidak mau makan? atau mau aku yang suapi kamu?" tanya Sheilin dengan penuh cinta, sejujurnya, dia sendiri pun tak pernah tahu apa isi hatinya mengenai Axelo. Bisa saja dia hanya memilih hidup dengan Axelo karena harta, tidak ada yang tahu.


"Aku masih punya urusan, kalau mau makan, cepatlah, aku tidak punya banyak waktu lagi." Jawab Axelo dengan sangat datar.


"Tapi sayang, apa kamu tidak lihat, aku hampir menghabiskan seisi meja dengan waktu setengah jam untuk kamu melamun, kau pikir sejak tadi aku sedang apa?" mendadak wanita itu terlihat marah.

__ADS_1


Ekspresi wajah yang terlihat jengkel pada mulanya, kini seiring detik berjalan, mulai berubah menjadi amarah yang bergejolak.


"Jadi sudah habis?" tanya Axelo dengan suara berat pun juga dalam, "baiklah, itu artinya, kamu bisa pulang ke rumah kamu," sambung Axelo.


"Apa katamu? pulang? ke rumahku?" tanya Sheilin seolah ia tak percaya dengan ucapan kekasihnya.


Apa ini juga bentuk dari pengusiran secara halus?


"Ya, aku masih harus datang ke kantor, kau pulang lah, biarkan Chris yang mengantar kamu pulang," ucap Axelo sambil berdiri dengan perlahan, lalu menata setelan jas khas mafianya menjadi sedikit lebih rapi.


"Tapi, Axelo! masa kamu mau pergi dan tinggalkan aku sendiri di sini? kamu tega?" tanya Sheilin juga membangkitkan tubuhnya dari posisi duduk semula.


"Sayangnya, ya, aku tega!" hanya jawaban itu yang bisa keluar dari mulut Axelo, sebelum pada akhirnya dia harus pergi meninggalkan Sheilin dari tempat itu dengan segera.


Plak!


Meletakkan kartu miliknya di dada Chris, supir pribadi Axelo.


"Bayar semua tagihannya, bilang padanya untuk dua hari ke depan, jangan dulu mengganggu aku di rumah, mengerti?" ucap Axelo dengan dalam tepat di depan wajah Chris.


"Baik, Tuan!!" jawab Chris akan selalu siap.


Axelo bergerak keluar dari restoran, mengenakan kacamata hitamnya, lalu mulai berjalan menuju ke arah mobil taksi.


Tidak ada pilihan lain selain menggunakan taksi untuk sampai lebih cepat di kantornya, dia tak bisa mengulur terlalu banyak waktu hanya untuk meladeni wanita penghibur itu di restoran.


...----------------...


Dia tertegun. Terdiam di atas ranjang dinginnya, hanya dengan berkawan ponsel yang tidak menampilkan jaringan sama sekali di sana.


Aneh sekali, semalam dia bisa menghubungi Axelo dengan sangat mudah, tanpa adanya hambatan pada jaringan ponselnya. Tapi lihatlah layar ponselnya sekarang, ini bahkan sangat mengkhawatirkan.


*Apa aku juga tidak bisa menghubungi ayahku? apa ini termasuk hukuman yang kamu berikan untukku? dasar pria brengsek*!


Cklek!


Mendadak pintu terbuka, menampilkan sosok Ashkan yang dingin tengah berdiri di depan pintu kamarnya, dan menatapnya dengan sangat menusuk.


Valesha tak bergeming dari tempat duduknya, hanya terus diam dan menatap pula ke arah Ashkan, namun tatapan matanya bergetar ketakutan.


*Pria itu pasti juga datang untuk membunuhku! Ya ampun, masalah apa yang dilakukan oleh ayahku pada mereka, sampai-sampai putrinya juga harus terseret dalam kondisi seperti ini*?


"Saatnya makan!" ucap Ashkan dengan datar.

__ADS_1


"Um?" dan berhasil membuat Valesha terheran-heran pun semakin tertegun.


*Dia bilang apa? saatnya makan? aku pikir dia bahkan sudah tidak lagi peduli*!


Seorang pelayan perempuan masuk ke dalam kamar Valesha, membawa satu nampan besar makanan, dan satu gelas susu hangat.


Jika Axelo mengatakan padanya akan memberi makanan sisa, maka yang dia lihat sekarang, tentu saja ini makanan baru, apa ini semua berkat Ashkan?


Mungkin saja Axelo juga belum pulang dari kencan menjijikannya itu.


"Silahkan dimakan, Nyonya.." ucap pelayan wanita sambil mengundurkan diri.


"Tunggu dulu!"


Namun Valesha malah mencegat langkah kaki perempuan itu, dan membuat sang pelayan seketika berbalik kembali menghadap Valesha.


"Ya, Nyonya!? apa ada yang kurang?" tanya sang pelayan dengan sangat lembut.


"Bawa keluar saja makanan ini, bukankah Tuan bilang aku hanya boleh makan makanan sisa?" tanya Valesha dengan wajah basa-basinya.


Ya, setidaknya dia tidak terlalu murahan dengan menolak makanan tersebut. Padahal sejujurnya, perutnya sangat lapar. Sejak pagi dia memang belum makan apapun, bukankah itu hal yang sangat wajar?


Mendengar penolakan dari Valesha, membuat Ashkan mengernyitkan dahinya, merasa sedikit, kesal dengan penolakan itu.


"Sok jual mahal!" umpat Ashkan dengan sangat dingin, "baiklah, bawa makanan itu keluar, dia akan makan setelah Kakak pulang."


*Apa? haruskah? aku hanya bercanda, aku ini sedang lapar*..


Mendengar keputusan Ashkan padanya, ia jadi menyesal. Seharusnya pria itu akan merasa iba padanya, bukankah perkataan Ashkan sungguh membuat dirinya menyesal hebat?


"Baik, Tuan.."


Dengan menuruti kemauan dan juga perintah sang Tuan, pelayan wanita itu pun akhirnya kembali membawa keluar nampan besar itu, dan kemudian di susul pergi oleh Ashkan.


"Tapi, kau..." ucap Valesha terpotong, mendapati Ashkan yang kemudian akhirnya menutup pintu dan kembali menguncinya.


Klik!


"Huh! teganya kau.."


Di luar kamar..


*Rasakan sendiri apa akibatnya, mau tunggu sampai jam delapan malam? aku yakin kau tidak akan bisa menunggunya*!

__ADS_1


Memiringkan senyuman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2