
Dua manusia tampak datang dari luar, dengan wajah takut yang begitu luar biasanya. Ia bahkan terus gemetar sembari menggandeng tangan Victor dengan erat. Sayang sekali, Victor bahkan tak akan sanggup memberi dia pembelaan. Karena sejatinya, Victor juga bersalah di sini.
"Kalian semua bersekongkol untuk menjatuhkan aku, iya, kan?"
Axelo merasa bersedih, terluka, namun lebih dari itu, semua perasaan tersebut sanggup tersingkirkan hanya oleh emosinya yang meluap-luap seperti iblis kerasukan.
"Axelo, maafkan aku! Nyonya Armei dan Nyonya Ahwei mengiming-imingi aku agar mendapat beberapa persen dari uangmu! wanita mana yang sanggup menolaknya?" Sheilin buru-buru berbicara.
Bruk!
Ia bahkan tampak tersungkur di hadapan Axelo, seolah dia benar-benar menyesal akan semua yang dia lakukan.
"Maafkan aku, Axelo! aku tahu kamu bukan pria yang jahat, kau pasti akan memaafkan aku!"
"Aku mungkin memang bukan pria jahat! tapi ingat satu hal, aku pria yang selalu dalam hidupku tersemat ribuan dendam! jika kau berani menyentuh hidupku, maka jangan sekali-kali berpikir bisa lepas!"
"Axelo, jangan berkata seperti itu! aku tahu aku bersalah! aku minta maaf!!" wanita itu terus merengek ketakutan memohon belas kasihan.
Sayang sekali Axelo yang terlanjur kecewa tak akan semudah itu memberi maaf pada sembarang orang. Ia hanya kelihatan marah dalam diamnya. Namun jangan salah menduga, dibalik diamnya itu, dia adalah seorang pria yang sanggup melakukan apapun hanya dengan lirikan kedua matanya saja.
Tampak kedua anak buahnya mulai melangkah mendekat ke arah Sheilin dan dengan segera melarak wanita itu menjauh dari hadapan Axelo.
"Axelo, apa yang mereka lakukan! tolong lepaskan aku! Axelo! aku mohon, maafkan aku!?!"
__ADS_1
Wanita itu pergi bersamaan dengan ketakutan yang luar biasa takutnya.
Jika Axelo sudah terlanjur kecewa, maka balasannya hanya satu, yaitu nyawa.
"Aku mau dia merasakan apa yang istriku rasakan!!"
Blam!
Pintu ditutup. Sekarang yang ada di dalam ruangan tersebut hanya tinggal Armei dan Neil yang diakui sebagai putranya.
Ya, hasil tes DNA yang ditemukan di kamar Nyonya Armei pada akhirnya membuka kedok yang selama ini disembunyikan dengan sangat rapi.
Dan ini adalah waktu emas bagi Axelo untuk membalas dendam.
"Jangan!"
Suara Neil kembali terdengar setelah sekian lamanya ia membisu, "aku mohon jangan sakiti aku! aku juga tidak tahu benar tentang semua ini! semuanya hanya ibu yang tahu, aku tidak tahu apapun, sungguh!!"
"Heng! jadi kau sendiri tidak mau membela ibumu? tapi sayang sekali, bukankah kau juga harus memberi tanggung jawab atas aksimu menyamar sebagai dokter palsu?"
"Axelo!! aku mohon, jangan lakukan apapun padaku, semua yang aku lakukan, sepenuhnya aku menyesalinya, maafkan aku!!" ucap Neil tersedu-sedu.
"Tidak! untuk apa kau minta maaf pada pria ini! gara-gara dia kau tidak pernah lagi mendapat kasih sayang dari ayahmu! jangan sekali-kali kau minta maaf padanya! sampai kapanpun, ibu tidak akan pernah rela kau mengucapkannya!!"
__ADS_1
"Asal kau tahu saja, Neil! sejujurnya, entah di posisi kamu, atau di posisi aku, kita sama-sama hanya sebagai alat, alat untuk membalas dendam, juga alat untuk memuaskan keinginan wanita ini!" ucap Axelo masih saja kelihatan geram.
"Kalau saja sejak awal aku tahu kaulah putra kandungnya, mungkin aku yang akan lebih dulu menyadarkan kamu akan semua kesalahan ini, namun sayang sekali, terkadang mata seseorang menjadi buta sebab uang!" ucap Axelo mulai kelihatan mengerikan, "jadi, apa gunanya punya mata, kalau mata ini hanya akan melihat jika dalam keadaan terdesak!!"
Tangannya diam-diam meraih pistol dari balik kemeja hitamnya. Neil dan Armei sama sekali tak sadar dengan tindakannya yang begitu samar tersebut.
"Maka lebih baik..."
Dan saat Axelo berkata demikian, barulah Armei dan Neil melihat benda di tangan Axelo.
"Jangan sakiti aku!! jangan! aku mohon!!"
"Berhenti, Axelo! aku mohon berhentilah menggila!!"
"Asal kau tahu saja, sebab dirimu lah aku jadi gila!!! Nyonya Armei!!!"
Dor!
Dor!
Dor!!
Dor!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...