Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Menjemput Geshka


__ADS_3

Valesha tertegun untuk beberapa saat, menatapi langkah kaki suaminya yang mulai pergi tanpa meninggalkan jejak di sana.


Dalam pandangan matanya yang kosong itu terlihat begitu jelas ribuan pertanyaan yang bersemayam di sana, bersamaan dengan hatinya yang berdebar begitu kencang seolah menjadi pertanda ada sesuatu yang mengganjal di dalam sana.


Dia bertanya-tanya di dalam hatinya, mengenai sikap suaminya yang aneh, aneh sekali untuk hari ini. Apa suaminya sudah mulai merasa terusik dengan perlawanan yang dia berikan?


Entahlah.


Aku tidak tahu apa yang kau pikir salah dariku, tapi aku jelas harus membuat kamu membicarakan segalanya, atau mungkin selamanya aku akan berada di tempat berdiri paling membingungkan.


Bzzzzz Bzzzzz


Mendadak ponselnya bergetar di atas kasur, membuat lamunan asik Valesha pada akhirnya harus segera dia akhiri.


Nampak jelas tangan kanannya yang mulai menyambar ponsel miliknya di atas kasur, kemudian disusul dengan pandangan matanya yang mengarah ke layar ponselnya itu.


Terlihat sang sahabat yang tengah berusaha untuk menghubungi dia. Geshka pasti sudah tiba di bandara.


Bip!


"Hallo, Valesha, apa kau masih tidak berencana untuk menjemput aku?"


"Baiklah, tunggu saja di sana, sebentar lagi aku pasti sampai." Jawab Valesha pada sang sahabat.


Kini dia langsung berlalu, bergegas keluar dari kamarnya dengan sebuah tas kecil yang dia bawa di tangan kanannya, dan ponsel miliknya yang dia genggam di tangan kirinya.


Ia langsung keluar tanpa keraguan setelah mendapat persetujuan dari suaminya. Meski dia sendiri bahkan tidak sanggup menebak apakah ucapan suaminya tentang izin itu benar-benar tulus atau hanya sedang bersikap gengsi semata.


Namun dia sungguh tidak peduli. Selama dia bisa melakukan segala hal tanpa kekangan dari Axelo, juga tanpa membahayakan nyawa ayahnya, lalu apa lagi yang harus dia khawatirkan.


Dia sangat yakin untuk keluar rumah, berjalan kaki sampai di depan, dan memutuskan untuk memakai sopir taksi untuk menjemput Geshka.


"Nyonya, jangan pakai taksi, saya sudah menyiapkan mobil untuk nyonya."


Terlihat Oaklard yang telah bersiap dengan mobil sang tuan untuk membawa Valesha ke bandara sesuai dengan perintah tuannya.


Tapi wanita itu malah mengacuhkannya. Valesha hanya terlihat menoleh sekilas, dan kemudian kembali lagi pada taksi yang sudah berhenti di depannya.

__ADS_1


"Humph! kenapa tidak kalian bawa jalan-jalan saja? tidak perlu repot untuk mengantarkan aku pergi, aku masih punya keberanian keluar rumah sendiri."


Klik!


Blam!


Terdengar suara pintu taksi yang ditutup oleh Valesha. Mobil taksi pun tampak berjalan dengan perlahan, namun cepat sekali mobil itu meninggalkan kediaman Axelo beserta Oaklard dan anak buah Axelo di halaman rumah..


Dalam kebisuan yang terjadi di dalam taksi, otak Valesha terasa panas memikirkan satu hal yang masih saja dia anggap paling tabu di dunia ini.


Tentang kematian Tuan Aeslen, tentang kelumpuhan yang terjadi pada sang ayah, dan tentang perusahaan sang ayah yang sudah berada di ambang kehancuran.


Otaknya sekarang seperti hendak meledak karena begitu beratnya menyimpan semua pemikiran itu.


Ia bahkan tak habis pikir bagaimana dia masih bisa hidup sampai sekarang, sedangkan otaknya rasanya sudah hampir pecah, lebih dari itu, seakan otaknya bisa saja mendadak mati.


Huh!


Apa boleh buat, semua yang serba teka-teki ini masih belum jelas kenyataannya. Dia masih belum bisa mengumpulkan informasi-informasi yang bersangkutan dengan persoalan ayahnya dan mendiang Tuan Aeslen puluhan tahun silam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana? apa dia mau?" tanya Axelo pada Oaklard yang kini sudah menghadap ke ruangan kerjanya.


Kali ini Axelo terlihat sibuk memainkan bolpoin di tangannya dengan lihai, sembari menghadap seleberan kertas-kertas yang berserakan di atas meja bidangnya.


Dia tampak asik bermain bolpoin itu sampai dia lupa kalau dia harus membubuhi tanda tangannya di atas kertas tersebut.


Sementara pria bertubuh sekitar 168 cm di depannya itu terlihat menunduk tak karuan. Dia jelas tahu sang tuan pastilah akan marah besar jika sampai dia memberitahu kalau Valesha kejar seorang diri tanpa ditemani oleh siapapun.


Jika sudah tahu konsekuensinya, apa dia masih sanggup untuk banyak bicara pada tuan?


Tapi sayang sekali, karena dia termasuk pria yang jujur, tidak suka berbohong, dan anehnya lagi, mendadak dia berubah lebih berani.


"Maaf tuan," ucap Oaklard memulai.


Satu tangan milik Axelo yang pada saat itu tengah asik bermain bolpoin dengan lihai itu mendadak berhenti secara tiba-tiba, tatkala dia mendengar kata maaf yang keluar dari mulut Oaklard.

__ADS_1


"Nyonya tidak mau diantar oleh kami, nyonya memutuskan untuk ke bandara seorang diri."


"Apa? dia bukan sudah bertahun-tahun tinggal di sini, bagaimana kalau sampai dia tidak bisa pulang? atau mungkin diculik, atau hal lainnya seperti dibegal?"


Mendadak emosi Axelo memuncak dan berkobar menyala-nyala dengan sangat gahar.


Hal itu jelas membuat Oaklard di depannya terlihat semakin bingung dibuatnya. Ia yang tak pernah mendapati kekhawatiran dari sang tuan, namun kali ini dia benar-benar terkejut melihat sikap tuannya itu berubah menjadi sangat ganas, bahkan hanya untuk seorang wanita.


"Aku tidak mau tahu? kau harus antar aku ke bandara saat ini juga."


"Ba-baik, tuan!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Prak!


"Arkh!! bodoh! sialan! dasar tidak berguna!!"


Umpat seorang pria muda di ruang kerjanya sesaat setelah dia dengan kesal membanting ponsel senilai lima puluh juta itu ke lantai. Sekarang ponsel mahal itu akhirnya hanya meninggalkan serpihan-serpihan kecil dengan hancur.


"Bagaimana hal sekecil ini mereka bahkan tidak bisa melakukannya? dasar tidak berguna! kalau sampai benda itu diketahui oleh orang lain, tentu saja aku akan terancam."


Dia mengeluh kesal, dengan perasaan yang kacau balau tidak berbanding dengan apapun itu. Antara cemas, risau bercampur amarah dan kekesalan yang amat sangat.


Ia bahkan lupa kalau dirinya sekarang masih muda, jika mengalami keriput dan penuaan di usia muda, apalagi karena sebab kemarahan yang tidak terkontrol itu, bagaimana dia bisa memancarkan aura awet mudanya kelak saat berusia lima puluh tahun.


Aish!


Dia bahkan tak peduli lagi. Kekesalan yang berkecamuk di dalam hatinya ternyata membuat dia buta, tidak lagi peduli pada penampilan, tak lagi peduli pada kulitnya yang bisa saja menua akibat emosi.


"Aku sudah kehilangan segala hal hanya demi harta dari Wishnu Fotham, tapi semuanya akhirnya harus kembali jadi seperti ini? apa takdir sedang mempermainkan aku?"


"Lima tahun aku berjuang untuk mendapatkan hasil maksimal, tapi semua ini sungguh diluar ekspektasi ku."


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2