
"Dasar sialan!" Ucap pria itu pada seseorang yang berada di seberang sana, "kamu bilang dia tidak akan datang sampai aku selesai pun dia sudah kamu pastikan tidak akan pernah datang, tapi kenapa aku gagal melakukannya?" Tanya pria itu dengan sangat geram.
Ia telah berganti pakaian, masuk ke dalam kedai kopi dan terduduk di sebuah kursi dengan satu cangkir kopi hangat di hadapannya.
Sementara otaknya masih dibuat jenuh, apalagi dia sudah berada dalam pengaruh obat kuat. Sebelumnya dia mengira semua usahanya dan rencananya bersama Sheilin akan berhasil, menggauli Valesha, dan meniduri wanita yang baru saja dicicipi satu kali oleh suaminya sendiri.
Tapi sayang seribu sayang, baru juga dia melemparkan senyuman di hadapan Valesha, teriakan keras Valesha akhirnya berhasil mengundang kedatangan semua orang ke dalam kamar wanita itu.
Dan karena itulah dia pada akhirnya harus gagal sebelum bertindak.
"Mana bisa aku mencegat Axelo, padahal aku juga sudah menyuruhnya untuk mendengarkan lagu, aku juga menyetel musik dengan suara keras untuk dia dengar, tapi ternyata dia punya indera pendengaran yang cukup baik." Jawab Sheilin sembari mondar-mandir di kamar Axelo.
Dia pun tidak bisa menduga, kalau semuanya akan jadi seperti ini. Bukannya dia akan merasa senang dan juga puas bisa menjatuhkan Valesha, dan menunjukkan aib yang sangat buruk tentang Valesha pada Axelo, justru dia malah harus beralih dalam kesendirian di malam ini.
Setelah kejadian barusan, dia akhirnya gagal menikmati malam ini bersama Axelo. Pria itu bahkan sangat mencemaskan Valesha dibanding dengan dirinya. Axelo lebih memilih untuk menemani Valesha tidur malam ini, dan mengabaikan dirinya di dalam kamarnya.
Tak!
Cangkir kopi dia letakkan di atas meja, hingga menimbulkan suara yang agak keras terdengar, bahkan tak jarang orang menoleh ke arahnya, mungkin mereka merasa terkejut akan tingkah pria itu.
Namun dia tidak peduli, tidak bergeming atau bahkan tidak merasa canggung. Dia hanya terus berbicara dengan seseorang melalui sambungan ponselnya, dan tidak menghiraukan puluhan pasang mata yang menatap dengan tatapan aneh terhadap dirinya.
"Aku tidak mau tahu! Kamu sudah berjanji padaku, aku bisa menikmati wanita itu, jika sampai kamu ingkar janji, maka aku akan memberikan bukti pengkhianatan kamu pada Axelo! Ingat itu!"
Bip!
Tanpa berkata-kata lagi, segera saja pria itu menutup sambungan mereka berdua, dan kemudian kembali bergerak mengambil secangkir kopi miliknya di atas meja.
Dia menenggak sisa kopinya sampai habis, lalu kemudian kembali menaruhnya di atas meja.
Tak!
Kali ini dia kembali berulah, membuat suara yang agak lumayan keras, namun dia sama sekali tidak tahu kalau hal tersebut mengganggu orang-orang di sampingnya.
"Untungnya aku bukan pria bodoh!"
Brak!
Sebuah kursi ditendang oleh kaki seseorang, sampai mendarat dengan sempurna di atas permukaan meja di hadapan Victor.
Pria itu pada mulanya terlihat tercengang, namun tak lama setelah itu, wajahnya berubah menjadi amarah yang tidak bisa dia tepis.
"Dasar anak muda zaman sekarang! Tidak tahu sopan santun!" Ucap pria tua di samping kiri tempat Victor terduduk. Pria itu mengumpat sembari melangkahkan kedua kakinya meninggalkan kedai kopi.
Victor hanya diam saja. Dia tidak menggubris kata-kata pria tua itu, karena mungkin saja ucapan pria tua itu bukan ditujukan untuknya, melainkan untuk seseorang yang melempar kursi ini padanya.
"Kalau mau berisik! Berisik saja di luar!" Ucap seorang pria dari arah belakang Victor terduduk.
Semua pengunjung terlihat mulai menjauh dari tempat pertengkaran, mereka tidak mau menjadi korban dalam aksi mereka yang mendadak itu.
Sementara Victor tampak mulai mengeratkan gigi-giginya. Dia tampak memicingkan kedua matanya, dan kemudian.
Brak!
Dia menggebrak meja, membuat semua orang kembali dibuat terkejut. Mereka pada akhirnya mulai menjauh, dan semakin menjauh dari dua pria tangguh di sana.
Pria itu mulai bangkit dari duduknya, berbalik dengan gagah berani, dan kemudian menatap sosok wajah yang mungkin sebelumnya adalah wajah pemilik sepasang tangan yang melempar kursi ke arahnya.
Melihat sosok yang baginya tidak begitu penting itu, membuat Victor hanya bisa tersenyum miring. Dia adalah salah satu penjahat terkenal di kotanya, entahlah, mungkin namanya saja yang terkenal, soal orangnya, mungkin masih banyak yang tidak mengenal pria ini.
__ADS_1
Termasuk pria yang akan dia hadapi pada saat itu juga.
"Heng! Kau ini lulusan apa? Sekolah dasar, atau mungkin, taman kanak-kanak?" Tanya Victor pada pria di depannya itu. Dia melihat sorot mata pria yang berinisiatif untuk membuat keributan dengannya itu hanya sosok biasa yang baginya, tidak terlalu bisa dibanggakan.
"Dasar! Kau sudah menggangu ketenangan umum, kau mengganggu ketertiban umum, dan sekarang, kau juga menghina diriku? " Balas pria yang berhadapan dengan Victor.
Pria itu tidak tahu, kalau yang dia tantang itu adalah salah satu pria kaya yang memiliki catatan kriminal terbanyak sepanjang sejarah, meski tidak tertulis dalam kertas kepolisian.
Dia tampak meremehkan sosok Victor, yang sebenarnya pada saat itu hanya sedang bosan dan kemudian keluar rumah seorang diri untuk memenuhi permintaan Sheilin, mengahncurkan wanita Axelo dengan mendatangi dan meniduri Valesha di rumah Axelo.
Hanya saja penyamaran itu membuat dia tidak dikenali oleh semua orang, agaknya jika dia menjadi dirinya sendiri pun masih tidak banyak yang mengenali dirinya, dia tidak seperti sosok Axelo yang terkenal dimanapun.
"Heh, kamu! Kalau kamu bukan pengecut, kemarilah! Kita buat keributan saja di tempat ini!"
"Ck, aku pikir kau adalah dewa, rupanya kau hanya tidak lebih dari pria dewasa yang bertingkah seperti bayi!" Balas Axelo dengan nada dalam, tapi nada dalam itulah yang berhasil membuat pria di depannya terlihat semakin marah.
"Dasar bocah tengil! Sini kau! Akan aku buat kau menyesal!"
"Baiklah, aku terima tawaran kamu.."
Hiyaaaaaaaaaa!!
Bukk!
Bom!!
Duashh!
Perkelahian terjadi. Hanya karena suara berisik yang Victor lakukan dan berhasil membuat semua orang merasa terganggu, pada akhirnya harus berakhir dengan pertempuran.
Keduanya berkelahi, menimbulkan ketakutan dan juga momen seru yang sangat mengasikkan bagi sebagian orang.
"Arkh!"
Sayang sekali, kemenangan memang sudah jelas akan diraih oleh Victor, sang juara bertahan, melawan penjahat jalanan, sejauh ini.
Dia memang remahan.
Prok Prok Prok!
Wohooooooo!!!
Semua orang bersorak dengan sangat gembira di atas penderitaan pria malang di bawah tumpuan Victor itu. Mereka semua tampak sangat berbahagia dengan kemenangan Victor.
Tak berbeda juga dengan Victor yang tampak berdiri di atas tubuh lawannya yang telah tumbang di atas arena pertandingan. Dia berdiri dan kemudian tersenyum dengan congkaknya.
"Ck, ck, nyali kamu besar juga tikus kecil." Ucap Victor dengan senyum miring di bibirnya.
Pria itu pun kemudian terlihat mulai bergerak mengenakan cindung di atas kepalanya, dan terlihat meninggalkan uang di atas meja tempat duduknya.
Prak!
Lalu setelah itu dia terlihat pergi meninggalkan kafe tersebut dengan sangat puas.
Meski sebelumnya dia bukan termasuk pria yang beruntung karena harus gagal mengambil alih Valesha dari Axelo malam ini, tapi dia begitu puas, karena akhirnya kemarahannya terlampiaskan juga.
Sementara di dalam kamar Axelo, wanita itu tengah dibuat mondar-mandir tidak karuan. Antara cemas dan juga marah, dua perasaan itu bercampur menjadi satu, dan sekarang benar-benar hanya dua perasaan itu yang mengacaukan hatinya.
"Kenapa harus gagal? Kenapa wanita itu selalu bisa lolos dari rencanaku? Dasar Victor bocah sialan! Bisa-bisanya dia juga tidak langsung meniduri Valesha, kalau saja dia berhasil melakukannya..."
__ADS_1
"Hmm.."
"A?"
Sontak Sheilin merasa terkejut, saat mendengar suara orang di belakang tubuhnya, membuat suara yang sangat menakutkan, dan kemudian membuat jantungnya bergemuruh lebih cepat dari sebelumnya.
Sheilin menoleh, menatap ke arah dua netra yang saat itu tengah menatap dengan tajam ke arahnya.
"Ash-Ashkan!?" Tanya Sheilin dengan suara yang bergetar.
"Hum, aku tidak pernah menduganya.."
"Tolong jangan katakan apapun pada Axelo, aku mohon.." ucap Sheilin terlihat mulai mendekat dan memohon dengan sangat di depan wajah Ashkan. Dia bahkan tidak segan untuk berlutut di depan Ashkan untuk tidak memberitahukan hal ini pada kekasihnya itu.
"Ashkan, aku hanya ingin Axelo ku kembali, aku hanya ingin dia kembali mencintai aku, dan hanya aku yang akan menjadi wanita satu-satunya dalam hidupnya, Ashkan, aku pikir kakak kamu mulai berubah, dia mulai mencemaskan Valesha, dan kemudian mengacuhkan aku, hanya saja, aku juga merasa takut, kalau.." mulai meraba dada bidang milik Ashkan, dan kemudian mencoba menggoda pria itu, "Axelo menggunakan cara halus itu untuk mengelabui Valesha, bukankah sejak awal dia tidak pernah jatuh cinta pada Valesha, dan hanya ingin menikahi Valesha karena balas dendam? Kenapa sekarang mendadak dia jadi sangat halus dan lembut, dan bahkan mengacuhkan aku? Kecuali kalau, dia memang ingin menghancurkan Valesha menggunakan perasaannya..."
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Ugh, uhm..."
Suara itu terdengar dengan sangat syahdu, beriring dengan malam yang berselimut kabut dan juga hujan rintik-rintik bercampur dengan angin yang mendadak meniup dengan kencang, membuat hawa dingin itu sangat menusuk pada bagian tulang rusuk siapapun, kecuali dua insan yang tengah dimabuk cinta di dalam kamar berukuran besar tersebut.
Keduanya bermandikan peluh, dengan dua mata yang tidak bisa berbohong, sama-sama menikmati indahnya mereguk kenikmatan cinta di atas ranjang yang semula begitu terasa dingin.
Sebelumnya Axelo telah terjebak pada sebuah obat yang sengaja Sheilin bawakan untuknya, mencoba untuk membuat Axelo kembali tergiur dengan tubuhnya meski hanya untuk malam ini saja. Namun ternyata semuanya tidak berjalan sesuai rencana.
Rencana Sheilin pada akhirnya harus berakhir gagal, dan dirinya malah menjadi tawanan seorang Ashkan di dalam kamar milik Axelo.
Sementara sepasang suami istri itu masih terlihat menikmati desiran ombak yang bergejolak menguasai jiwa mereka, termasuk juga Valesha, yang entah mengapa semakin dibuat mabuk pada sentuhan dan si biang rusuh milik Axelo di bawah sana. Meski dia tahu ada kebencian di antara mereka, tapi dia juga tidak bisa melawan, entahlah, semuanya serba menyulitkan.
Dia terus memejamkan kedua matanya, pada saat bercinta seperti ini, jika dia menatap dua mata Axelo yang memuakkan itu, agaknya dia akan dengan mudah kehilangan seleranya, karena itulah dia memilih untuk tidak membuka kedua matanya, dan hanya bisa merasakan betapa luapan hasrat Axelo padanya sangatlah memuaskan.
"Ughm.."
Ia melenguh lagi, seakan sentuhan Axelo padanya memang seperti anggur merah yang menyesatkan. Dia tidak bisa menampik, sentuhan itu memang tidak bisa dia tolak.
*Aku benci pada diriku sendiri! aku benci*..
Umpatnya dalam hati, bersamaan dengan kedua tangannya yang mencakar punggung Axelo sampai meninggalkan bekasnya di sana, membuat sang pria yang masih terbuai dalam kehangatan dan kenikmatan itu mulai merasakan sesuatu yang membuat dirinya kesal.
Ia membuka kedua matanya, dan mulai menatap dua netra milik istrinya yang masih terpejam dengan sempurna.
*Kenapa kau melukai aku? apa kau sedang marah padaku*?
Alih-alih dia kehilangan hasratnya karena menyadari kebencian dalam hati Valesha padanya, dia justru semakin ingin menghancurkan Valesha dengan kekuatannya.
Dia hujamkan semakin dalam lagi benda pusaka miliknya pada liang milik Valesha, dia percepat lagi aksinya dan kemudian dia mainkan juga bibir istrinya menggunakan bibirnya.
Ia terlihat semakin beringas, terlihat sangat gagah dan melakukannya dengan sangat ganas. Dia terlihat sangat menguasai pertandingan kali ini, dan bahkan membuat Valesha bertekuk lutut dalam kendalinya.
Valesha pun mulai merasakan ganasnya permainan dan juga sentuhan yang dilakukan Axelo padanya. Dia memang tidak melihat kemarahan pada diri Axelo, tapi dia tahu, pria ini tidak akan melakukannya dengan cara seperti ini jika bukan tanpa sebab. Agaknya Axelo sudah mulai tahu apa yang terjadi pada Valesha saat itu. Begitulah pikirnya.
*Dia tidak* **mungkin melenyapkan aku dengan pistolnya, tapi dia pasti akan membunuhku dengan cinta**.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1