
Tuk! tuk! tuk!
Suara ujung jemarinya yang dia ketukkan di atas permukaan meja kayu di dalam kamarnya. Di depan matanya terlihat layar komputernya yang terus menyala.
Dia tampak tampan saat berada dalam posisi seperti itu, memainkan satu tangannya di atas permukaan meja, sementara tangan yang satunya lagi dia gunakan untuk mengusap dagunya yang tirus.
Ia tampak berpikir keras, entah apa yang dia tatapi di layar komputer miliknya itu sampai terlihat kedua matanya jarang sekali melakukan kedipan.
Agaknya dia masih menyelidiki soal racun yang dia temukan beberapa waktu yang lalu di ruang kerja kakaknya.
Asik dia menatapi hasil pencarian yang dia lakukan pada komputernya, mendadak ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk di sana, dan memberitahu dia akan suatu hal.
Klik!
Dia membuka pesan tersebut, terlihat nama anak buahnya tertera dengan jelas, beserta pesona yang ditulis secara panjang lebar oleh seseorang itu.
"Tuan, aku sudah menemukan hasil pemeriksaan Tuan Wishnu Fotham beberapa tahun yang lalu di rumah sakit kota Z."
"Um?"
Dia tampak tertegun. Dia yang semula tengah disibukkan dengan persoalan di komputer miliknya, akhirnya mulai mengabaikan layar komputernya yang masih menyala.
Ia lebih memilih membaca pesan dari anak buahnya itu.
"Menurut hasil tes laboratorium Tuan Wishnu Fotham beberapa tahun yang lalu, Tuan Wishnu Fotham didiagnosa mengalami kelumpuhan pada sel-sel otaknya, kelumpuhan itu disebabkan oleh virus yang sengaja disuntikan ke dalam tubuhnya."
Ashkan masih terlihat terdiam tak bertanya-tanya di dalam hati kecilnya. Dia terlihat begitu serius membaca kelanjutan dari pesan tersebut, dan akhirnya menemukan sebuah jawaban yang dia tunggu.
Ini?
Dia begitu tercengang, namun hanya sekitar beberapa detik saja sebelum akhirnya dia mendapati komputernya juga memberi peringatan pada dirinya.
Dia lekas meletakkan ponselnya di samping keyboard di atas meja, dan kembali lagi menatap ke arah layar komputer miliknya.
Ia mendapati sesuatu lagi di sana.
"Iya, kau benar, apa ada yang bisa aku bantu?"
Terlihat sebuah pesan dari seseorang yang asing, tapi dia jelas begitu antusias kala membalas pesan tersebut.
__ADS_1
Dia pun mulai mengetik beberapa huruf untuk membalasnya.
"Ya, apa kita bisa bertemu besok?"
Esok harinya..
Dia mendatangi pusat laboratorium di kota R. Dia membawa racun tersebut secara diam-diam dan kemudian menemui seseorang di dalam sana.
Dia menemui orang tersebut secara khusus, tentu saja setelah dia menyelidiki latar belakang orang tersebut.
"Saya ingin bertemu dengan Profesor Chan."
"Anda siapa? punya keperluan apa?" tanya seorang wanita di depan.
"Tidak perlu banyak pertanyaan, katakan saja kawan semalam meminta untuk bertemu, kami sudah membuat jadwal untuk bertemu hari ini." Ucap Ashkan terlihat begitu tajam dan juga sangat mengerikan.
Hal itu jelas membuat wanita dengan pakaian rapi berwarna putih tulang tersebut merasa sedikit tertekan dan juga ketakutan.
Apalagi saat kedua matanya melirik pada bagian pinggang Ashkan, dan menemukan senjata api yang tersembunyi di sana, tubuhnya mendadak bergidik ngeri.
"Ba-baik, tuan, akan saya antar."
Wanita itu terus berjalan dan kemudian berhenti di depan ruangan seseorang. Dia lekas mengetuk pintu ruangan tersebut, sampai muncullah seseorang dari dalam sana.
"Siapa?"
"Profesor? apa anda sedang menunggu seorang tamu?" tanya wanita itu dengan rendah.
Profesor berwajah China dengan perpaduan kulit berwarna putih bersih dan juga mata yang sipit, tak lupa dengan rambut panjang sebatas bahu, yang diikat dan membuat tampilannya menjadi lebih keren, apalagi dengan kacamata yang dia kenakan, kacamata berwarna bening itu nyatanya telah berhasil membuat dirinya tampak lebih bergaya.
Padahal tujuan dia memakai kacamata itu jelas bukan untuk gaya-gayaan.
Dia kemudian menatapi seorang pria muda yang berdiri di samping wanita yang menjadi bawahannya itu, menatapi dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, dan mendapati sebuah senjata yang terselip dengan aman di balik baju Ashkan.
Dia terkekeh singkat, "heh! kau mau bertarung denganku, atau mau berkonsultasi? kenapa harus bawa pistol segala?" tanya pria itu dengan sindiran yang cukup halus.
Namun Ashkan malah terdiam di tempat dia berdiri. Wajahnya hanya menampilkan sebuah ekspresi aneh yang tak bisa ditebak.
Kemarin yang aku kira dokter muda malah sudah tua bangka, dan ini, aku pikir semalam mengirim pesan pada kakek tua berusia tujuh puluh tahunan, ternyata yang aku temui malah pemuda berusia lebih muda dariku?
__ADS_1
Aish! aku tidak menyangka kalau dunia juga bisa terbalik.
"Tuan muda yang terhormat, di sini dilarang membawa senjata masuk, bahaya, kau bisa meletakkan senjata milik kamu itu di tempat yang seharusnya sebelum masuk ke ruanganku." Ucap Profesor muda nan tampan itu pada Ashkan.
"Heng! kenapa? kau takut dengan anak buahku ini? sejauh ini dia masih sangat kehausan, dia juga butuh teman, mengingat hanya aku yang jadi teman setianya, jadi jika aku masuk, dia juga masuk." Jawab Ashkan dengan percaya dirinya.
Rupanya Ashkan juga tipe pria yang punya kepercayaan diri begitu tinggi.
Sesaat wanita yang menjadi bawahan pria muda itu terlihat melirik ke arah Chan, sebelum akhirnya dia mendapati jawaban melalui kode dari Chan.
Chan hanya terlihat menggerakkan kepalanya dengan singkat, dan kemudian wanita itu segera pergi dari tempat tersebut.
Bagaimanapun dia merasa cemas pada kondisi atasannya yang mungkin saja berada dalam ancaman besar, tapi perintah atasan tak bisa dia bantah.
Mungkin memang lebih baik dia keluar dan meminta petugas jaga untuk mengawasi sekitar ruangan Profesor Chan.
Sementara itu, terlihat dengan jelas Profesor Chan membuka pintunya lebar-lebar hanya untuk memberi jalan masuk pada Ashkan.
Agaknya pria itu juga tahu kalau Ashkan bukanlah pria biasa yang begitu mudah untuk diabaikan. Pria ini dari luarnya saja sudah kelihatan berbahaya, mungkin dia juga harus was-was kalau saja terjadi sesuatu di luar dugaannya.
"Selamat datang tuan muda, saya sangat senang menjadi orang yang anda cari semalam," ucap Profesor Chan dengan basa-basi.
Dia terlihat terduduk di atas kursinya, dan sekarang posisi keduanya sudah saling berhadapan.
"Boleh saya tahu siapa nama anda?" tanya Profesor Chan pada Ashkan, dia sudah menyiapkan sebuah buku untuk menulis nama orang di depannya.
Tapi lagi dan lagi pria di depannya kembali membuat dia tercengang.
"Apa itu perlu?"
Ashkan malah berbalik tanya, membuat Profesor Chan terlihat mendongakkan kepalanya dan menatap pria di depannya dengan heran.
Namun Ashkan tak tinggal diam. Dia terlihat menatap ke arah Profesor Chan dengan tajam, seperti halnya menyiratkan aura pembunuh yang begitu kental.
Chan mulai bergidik ngeri. Tentu saja dia berpikir kalau pria di depannya ini bukan orang baik-baik.
Apa dia seorang pembunuh?
.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...